
"Gimana pah? Udah dibalas sama mamah?" tanya Farel memastikan.
"Belum, mungkin mamah lagi sibuk, tapi papah udah kirim pesan kok, semoga saja segera dibalas," jawab Rio dan Farel hanya mengangguk saja.
Tiba dirumahnya Rio, mereka disambut suka cita oleh oma dan opanya, rasa rindu yang mereka pendam kini telah tersalurkan juga, cucu yang mereka sayangi kini datang kemari.
"Cucu oma dan opa," sapa Oma sumringah.
"Hei oma, how are you?" tanya Vanessa.
"I'm fine, thanks you, and you?" tanya balik Oma.
"Me too, miss you oma," jawab Vanessa memeluk oma nya erat.
"Oma lebih lebih rindu pada kalian, ngomong-ngomong kalian kesini menginap??" tanya Opa dan keduanya mengangguk.
"Wah.. Benarkah? Boleh sama mamah?" tanya oma memastikan.
"Rio udah kirim pesan sama Dinda, mah.. Soalnya beberapa kali Rio hubungi gak dijawab, lagi sibuk mungkin," jawab Rio.
"Yasudah.. Kalau nanti suaminya buat onar biar papah hadapi, papah gak mau kehilangan momen sama cucu-cucu papah," jawab Opa sigap.
"Thanks pah, Rio ke kamar dulu ya mau mandi, gerah, anak-anak ayo mandi dulu dan ganti pakaian baru kalian boleh main sama oma dan opa," ucap Rio.
"Mana ada baju kami disini pah?" tanya Vanessa.
"Ada dong.. Papah selalu menyimpan pakaian kalian dengan baik, ada dikamar kalian masing-masing, sana buruan mandi dan ganti pakaian, kamarnya juga udah dibersihin bibi," jawab Rio yang membuat keduanya senang. Mereka lalu berlari menuju kamar masing-masing dan segera bebersih.
__ADS_1
"Akhirnya ya pah cucu kita menginap disini," ucap oma senang.
"Iya mah, pokoknya papah mau memanfaatkan momen ini, besok papah libur ke kantor, papah mau full time main sama mereka," jawab Opa.
"Mamah juga mau begitu pah, kapan lagi ketemu cucu," timpal Oma lalu mereka menunggu Farel juga Vanessa selesai bebersih sambil menonton televisi.
***
Di lain sisi ada Dinda yang sangat khawatir karena anaknya belum juga pulang, ponselnya ada di kamarnya sedangkan Dinda saat ini menunggu di ruang tamu sambil menggendong anaknya. Rasa resah juga gelisah hinggap di hati dan pikirannya.
"Kok kamu masih disini?" tanya Ryan penasaran.
"Iya mas soalnya anak-anak belum pulang mana udah jam segini," jawab Dinda gelisah.
"Tuh kan bener omonganku untuk mengajak bodyguard bersama mereka, kalau gini siapa yang pusing?" hardik Ryan.
"Kok kamu malah belain dia?" tanya Ryan kesal.
"Bukan membela tapi siapapun orang tua yang sudah bercerai, ketika ingin bertemu anaknya malah dipersulit seperti tadi mana pakai bodyguard segala, sudah pasti mereka akan kesal mas, mereka gak nyaman," protes Dinda.
"Tapi semuanya demi kebaikan anakmu, coba kalau tadi ada bodyguard sudah pasti posisi mereka terlacak," sindir Ryan dan Dinda memilih diam, bergegas Dinda meninggalkan Ryan ke kamar.
"Aku tau kamu khawatir mas, kamu takut kejadian masa lalu terulang lagi tapi gak begini juga caranya, gak juga mengirimkan bodyguard untuk mengawasi anak-anak, mereka nantinya gak akan nyaman," batin Dinda.
Dinda ingin menelpon Rio namun sudah terlebih dahulu ada pesan masuk dan misscall yang menunjukkan atas nama Rio.
Setelah membaca isi chat mantan suaminya, Dinda seketika lemas. Ia tak bisa membayangkan bagaimana anaknya ketika tinggal bersama keluarga Rio, bukan tidak memperbolehkan untuk bertemu atau menginap namun Dinda takut jika sifat buruk keluarga Rio akan tercopy di pikiran Farel juga Vanessa. Perasaan yang sudah sedari tadi gelisah kini menjadi semakin gelisah bahkan anak yang ada dalam gendongannya menangis kencang, ia seakan merasakan betapa sedih mamahnya saat ini.
__ADS_1
Berulang kali Dinda menghubungi Rio namun tak juga diangkat, padahal di sana Rio sedang bercanda gurau dengan keluarga serta anaknya. Momen hangat dirumahnya mewah Rio kini kembali hadir. Canda tawa terdengar renyah sekali ditelinga siapapun yang mendengar, para pembantu juga supir juga merasa bersyukur karena majikannya dipertemukan lagi dengan anaknya meskipun hanya sekejap.
Dinda yang semakin terlihat cemas apalagi anaknya yang tak kunjung diam membuat Ryan kesal sendiri. Hanya karena anaknya menginap dirumah papahnya sampai membuat Dinda sepanik ini.
"Ada apa denganmu? Tak ada salahnya jika anak-anak bertemu bahkan menginap di rumah papahnya, mungkin ini permintaan nenek dan kakeknya," ucap Ryan dengan santai.
"Tak ada salahnya? Memang gak ada salah apalagi kecurangan dalam hal ini, Farel juga Vanessa mutlak anak mas Rio namun harusnya mas Rio menepati perjanjian yang ada dong, aku kan gak izinin mas Rio ajak anak-anak menginap," protes Dinda.
"Itu kan versimu, apa kamu gak tega jika sewaktu-waktu orang tuamu dilarang bertemu Farel juga Vanessa??" sindir Ryan.
"Kenapa ngomongnya begitu mas?" tanya Dinda kesal.
"Ya wajar aku bicara seperti itu, kamu terlalu mengkhawatirkan mereka seolah-olah Rio bukan ayah yang baik, biarkan saja mereka bersenang-senang, nanti kalau udah bosan bakal balik lagi," jawab Ryan
"Enak sekali mulutmu itu bicara mas!" sindir Dinda.
"Sekarang aku berpikir logis sayang, mau kita seketat apapun menjaga dan menghalangi suamimu supaya jangan mengajak menginap, tak bisa menutup kemungkinan jika suatu saat bakal terjadi disaat kita lengah, lagian apa salahnya mengajak anak-anak buat menginap, ayolah jangan negatif thingking terus!" bujuk Ryan.
"Tumben kamu berpikir seperti itu mas? Biasanya kamu lebih rewel ketika tau anak-anak diajak mas Rio ke rumahnya," tanya Dinda heran.
"Itu dulu.. Karena dulu kelakuan Rio sangatlah keterlaluan, sekarang sudah berbeda sayang apalagi waktu Farel bilang gak melulu menuruti kemauan ku, ya setelah dipikir memang ada benarnya juga, mungkin selama ini aku terlalu mengekang anak-anak sehingga mereka kurang nyaman disini, nyatanya baru tau suara Rio saja anak-anak langsung berhamburan keluar dan kelihatan nyaman banget," jawab Ryan.
"Ah gak tau lah mas! Kamu aneh! Kadang pro kadang juga kontra! Aku jadi bingung menghadapi mu," ucap Dinda meninggalkan Ryan seorang diri.
Dibalik rasa heran Dinda, terbesit rasa kesal dihati Ryan ketika mendapat penolakan serta bantahan langsung dari Farel, memang Ryan sengaja melakukan ini semua dan membiarkan semuanya sesuai keinginan anak tirinya itu. Ryan ingin melihat sejauh apa mereka akan bertahan ditengah keluarga Rio, keluarga yang penuh akan ego dan gengsi yang tinggi.
"Andai kamu tau jika maksud semua ini untuk melihat bagaimana reaksi Rio dan keluarganya ketika diperbolehkan menginap disini serta berapa lama nantinya anak-anak akan di sana, maafkan aku yang nantinya akan membandingkan sikap anak-anak sepulang dari rumah papah kandungnya dibandingkan ketika mereka berada disini, dibawah pengawasan ku, jika berada di sana nantinya berdampak buruk, maka tak akan segan lagi aku membiarkan Rio mengajak anak-anak menginap di rumahnya," batin Ryan.
__ADS_1