
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit akhirnya ia sampai di tempat tujuan dan tanpa rasa ragu ia masuk ke rumah mewah itu. Berbekal informasi di internet yang secara transparan menunjukkan dimana rumah Rio, suami Sisil.
"Mau cari siapa tuan?" tanya satpam di rumah Rio.
"Cari nyonya Sisil, apakah ada di rumah?" tanya balik Ronald ramah.
"Oh ada tuan tetapi apakah sebelumnya sudah ada janji?" tanya satpam.
"Kebetulan belum soalnya saya barusan kembali ke sini dan mau memberikan hadiah ini untuk kado pernikahannya karena waktu itu tidak bisa hadir," jawab Ronald yang sangat menyakinkan satpam.
"Baiklah mari masuk tuan," jawab satpam yang langsung membuka gerbang besar itu dengan lebar. Setelah berhasil masuk kini Ronald berada di ruang tamu sembari pembantunya memanggil kan Sisil.
"Hai girl.." sapa Ronald dengan senyum menawannya namun Sisil tidak membalasnya dengan baik, justru dia syok akan kedatangan temannya itu.
"Loh ngapain sampai disini? Udah gila ya, gimana kalau nanti mertua sampai tau?" ucap Sisil penuh penekanan dan merasa tidak nyaman akan kehadiran Ronald.
"Hanya main saja memangnya gak boleh?" tanya Ronald dengan tenang. Lalu tanpa mereka sadari Rio berjalan menghampiri mereka berdua.
"Siapa dia, Sil?" tanya Rio yang membuat Sisil ketakutan.
"Mas.. mas Rio?" gumam Sisil kaget dan gugup.
"Siapa dia? Kenapa berani sekali kamu membawa pria asing ke rumah," tanya Rio ketus.
"Ehem.. Perkenalkan saya Ronald dan saya adalah temannya Sisil dulu ketika kuliah lalu tidak sengaja bertemu lagi di kantor," ucap Ronald memperkenalkan diri.
"Oh jadi ini teman kantormu itu?" sindir Rio.
"Teman Sisil di kantor tidak hanya saya saja," jawab Ronald semakin memancing emosi Rio.
"SAYA TIDAK BERTANYA DENGAN ANDA, PAHAM?!" gertak Rio murka dan Sisil semakin ketakutan.
"Dan saya hanya menjawab apa yang seharusnya dijawab," jawab Ronald menanggapi santai.
"Jangan ikut campur urusan kami," gertak Rio.
"Kebetulan saya ada disini dan tidak sengaja mendengar jadi ya mau gak mau saya ikut," jawab Ronald santai.
"Anda..." ucap Rio hampir saja memukul Ronald namun berhasil dicekal Sisil.
"Mas jangan langsung emosi gitu," bela Sisil.
"KAMU LEBIH MEMBELA DIA?" tanya Rio.
"Bukan membela namun hanya menghindari kegaduhan saja," jawab Sisil berusaha sabar.
__ADS_1
"KAMU MEMBAWA PRIA LAIN DI RUMAH INI SAMA SAJA MEMANCING API DALAM RUMAH TANGGA KITA," pekik Rio.
"Tapi aku gak tau kalau dia akan datang mas," sanggah Sisil.
"Cih.. Alasan apalagi itu," ejek Rio.
"Betul apa yang dikatakan oleh istri anda, saya datang kesini atas inisiatif saya sendiri, Sisil memang tidak tau jika saya akan kesini," jawab Ronald meluruskan.
"Lantas apa tujuan anda datang kemari?" tanya Rio penasaran.
"Ingin bersilaturahmi juga memberikan ini kepada kalian berdua," jawab Ronald lalu memberikan kotak kecil.
"Ini untuk apa, Nal?" tanya Sisil menerima kotak itu.
"Hadiah pernikahan kalian, maaf waktu itu gak hadir," ucap Ronald memberi kode lewat mata.
"Tapi kan.." jawab Sisil yang langsung berhenti melihat kedipan mata dari Ronald.
"Ini orang nekat banget sih, mana ada gue undang dia waktu pernikahan? Ah gak beres.." batin Sisil kesal.
"Hadiah sudah kami terima dan saya sebagai suami dari Sisil menerima hadiahnya dengan baik, sekarang semuanya sudah beres kan?" ucap Rio menyindir.
"Iya sudah beres namun bolehkah saya berbicara hanya empat mata dengan Sisil?" tanya Ronald yang membuat Rio terbelalak tak percaya.
"Anda sadar bicara seperti itu pada saya?" tanya Rio kaget.
"Jangan gila deh, Nal," tolak Sisil.
"Baiklah saya berikan waktu tapi hanya 5 menit, jika lebih maka saya akan suruh satpam mengusir anda," jawab Rio yang membuat Sisil tak percaya, dengan mudahnya sang suami memberikan ruang baginya mengobrol dengan Ronald didalam rumahnya.
"Katakan ada apa? Waktu kita gak banyak," tanya Sisil mendesak.
"Mari pergi," ajak Ronald sambil mengulurkan tangan.
"Apa? Jangan gila dong jadi orang," pekik Sisil kaget.
"Kamu yang membuatku jadi gila, Sil," jawab Ronald membuat Sisil kaget.
"Apa maksudmu?" tanya Sisil tak mengerti.
"Aku tau kamu disini tidak bahagia bahkan cenderung tertekan, daripada kamu tertekan semakin lama lebih baik kabur denganku, akan aku bawa kamu ke tempat yang aman," ajak Ronald yang membuat Sisil tak habis pikir.
"Kata siapa aku disini gak bahagia? Kata siapa aku disini tertekan? Ha? Kata siapa??" tanya Sisil kesal.
"Kamu sendiri pernah mengatakannya," jawab Ronald.
__ADS_1
"Oke oke itu dulu tapi sekarang posisinya kan beda Nal.. Gimana nanti kondisi kesehatan papah mertuaku kalau tau aku kabur?" tanya Sisil bimbang.
"Itu bakal kita bicarakan nanti, sekarang pikirkan kebahagiaanmu," ucap Ronald meyakinkan Sisil.
"Maaf sepertinya gak bisa," jawab Sisil menolak.
"Kenapa? Sampai kapan kamu bakalan bertahan?" tanya Ronald heran.
"I don't know.. Maaf keputusanmu mengajakku kabur itu bukan jalan keluar yang baik," jawab Sisil sedih.
"Ingat kebahagiaanmu dong Sil," ucap Ronald kembali memprovokasi.
"Kebahagiaanku melihat papah mertua sembuh dan bisa beraktivitas normal, belum lagi kalau nanti papah mertua bisa hidup panjang dalam perawatan ku," jawab Sisil semakin membuat Ronald kagum dengannya.
"Kamu wanita hebat.. Wanita kuat tapi sayangnya kamu terlalu naif akan takdir hidupmu, ayolah Sil jangan terus memikirkan orang lain, pikirkan dirimu sendiri demi kebahagiaanmu, lagian sekarang kamu sudah bekerja kan dan kamu sudah bisa memiliki penghasilan sendiri," ucap Ronald memprovokasi.
"Maaf Nal, ini bukan keputusan yang mudah, tidak semua bisa sesuai dengan keinginanmu," ucap Sisil sedih.
"Pikirkan lagi dengan baik agar kamu lebih bisa menghargai dirimu sendiri, ingat Sil kalau bukan kamu yang membahagiakan dirimu maka siapa lagi?" tanya Ronald.
"I know.. Thanks nal," jawab Sisil terharu, karena baru kali ini ada yang memperdulikan nya sampai segitunya. Sisil merasa dihargai sebagai perempuan juga sebagai manusia.
"Sama-sama.. Kalau kamu berubah pikiran kabari, aku ada untukmu kapanpun itu," jawab Ronald menepuk bahu Sisil.
"Ok.. Waktunya gue rasa udah habis, lebih baik pergilah," usir Sisil.
"Iya habis ini gue mau balik, take care Sil," pinta Ronald berlalu pergi.
"Hati-hati dijalan," ucap Sisil membuat hati Ronald bahagia. Ya meskipun belum bisa memiliki Sisil seutuhnya namun setidaknya ada perhatian-perhatian yang Sisil berikan padanya hingga membuat dirinya merasa bahagia.
Setelah memastikan Ronald pulang kini Sisil masuk ke rumah dan disambut oleh suaminya.
"Bagus.. Bagus sekali," sindir Rio mengagetkan Sisil.
"Bagus apanya mas?" tanya Sisil tak mengerti.
"Sudah mulai berani membawa pria lain di rumah ini bahkan dengan beraninya pria mu itu memintaku untuk memberi ruang kalian ngobrol, apa saja yang kalian bahas? Mau bernostalgia?" sindir Rio.
"Sudah aku katakan berulang kali kalau aku tidak tau jika Ronald mau kesini, kalau gak percaya ya silahkan mas aku sudah muak terus menerus berdebat denganmu," protes Sisil berlalu ke kamar.
"SISIL.. BERANI YA KAMU MENGABAIKAN AKU," teriak Rio yang hanya dicueki oleh Sisil.
"Kenapa sih Rio? Udah bagus kemarin-kemarin adem ayem sekarang kumat lagi," protes Mayang keluar dari kamar.
"Sisil yang mulai mah, beraninya bawa pria ke rumah," jawab Rio membuat Mayang murka.
__ADS_1
"Apa? Berani sekali dia.. Mamah pikir dia sudah berubah ternyata sama saja, dasar wanita tak tau diri, mana dia?" tanya Mayang emosi.