RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Gagal


__ADS_3

"Kok kita hanya berdua saja? Dimana yang lainnya? Kata anda ini acara hanya kolega terdekat anda saja?" cecar Ryan penasaran.


"Oh mereka belum datang pak," jawab Rio santai.


"Tapi ini sudah jam setengah sepuluh malam, tidak mungkin mereka belum datang, atau jangan-jangan anda hanya mengundang saya saja?" tuduh Ryan.


"Benar sekali pak.. Anda ternyata cerdas, jujur saja saya memang hanya mengajak anda di sini sebagai rasa syukur atas kesembuhan ku, kalau nantinya aku bilang hanya berdua saja mana mungkin anda bersedia datang? Pasti menolaknya kan?" tanya Rio dengan enteng dan tenangnya.


"Kenapa anda harus berbohong dan kenapa juga tempatnya harus di sini? Masih banyak tempat lain yang layak dijadikan tempat syukuran," sindir Ryan mulai emosi.


"Maaf Pak ya mau bagaimana lagi? Di sini tempatku menghilangkan semua penat," ucap Rio apa adanya.


"Lebih baik saya pergi dari sini, saya tidak mau nama baik saya tercoreng," ucap Ryan ketus dan ingin beranjak pergi.


"Tunggu dulu Pak, setidaknya minumlah sedikit sebagai rasa ikhlas saya melepas Dinda," ucap Rio meminta.


"Apa hubungan semua ini dengan Dinda? Anda sudah menalaknya dari lama jadi mau anda ikhlas atau pun tidak maka tidak ada pengaruhnya pada saya, jadi jangan menahan saya lagi untuk pergi dari sini," ucap Ryan kesal.


"Ada Pak. Selama ini saya masih mencintai Dinda dan saya ingin merebut Dinda kembali, namun melihat penolakan demi penolakan dari Dinda membuat saya sadar bahwa hati Dinda sudah tertutup untuk saya, dia sudah membuka hatinya kepada anda, makanya itu saya sadar kalau saya lebih baik melepaskan Dinda agar dia bisa lebih bahagia, meskipun kebahagiaan dia bukan dengan saya," ucap Rio sendu.


"Ah lagu lama.. Dulu saja dia segitu menghina Dinda, kenapa sekarang seperti sangat menyesal, dasar bermuka dua," batin Ryan kesal dan mencari celah untuk menukar minumannya.


"Ah gimana ini.. Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini? Sia-sia rencana gue, pokoknya gue gak mau kalau Dinda nikah sama dia.. Hari ini harus berhasil," batin Rio memutar otak untuk menjebak Ryan.


Kebetulan sekali Rio tidak sengaja bertemu dengan teman sesama pebisnis nya, kesempatan ini tidak akan di sia-siakan oleh Ryan begitu saja, sesegera mungkin ia harus menukar minumannya.. Dia yakin kalau Rio ingin menjebaknya.


"Pak Rio? Anda juga kesini? Kenapa gak kabar-kabar dengan saya kan kita bisa join," sapa Adit-kolega Rio.


"Oh Hai Pak Adit, yah saya ingin menghabiskan waktu dengan kawanku ini, sudah lama gak jumpa," alibi Rio terlihat tenang.


"Oh.. Bukankah ini Pak Ryan Hadiningrat? Pengacara yang sedang naik daun itu kan?" tanya Adit yang mengenali Ryan di sebelah Rio.


"Ya benar.. Kamu juga kenal?" tanya Rio pada Adit dengan ekspresi kaget.

__ADS_1


"Halo selamat malam.. Senang sekali anda mengenali saya, suatu kebanggan buat saya karena di kenal orang hebat seperti anda dan juga Pak Rio," ucap Ryan merendah sambil berjabat tangan.


"Saya juga senang sekali bisa bertemu dengan anda, next time kalau saya butuh jasa anda akan segera saya hubungi," ucap Adit ramah.


"Dengan senang hati akan saya bantu pak," jawab Ryan mantap.


"Loh memang perusahaan mu sedang ada konflik?" tanya Rio pemasaran.


"Ada dan saya rasa masalah ini akan melebar, makanya suatu kebetulan yang baik sekali saya bisa bertemu dengan pak Ryan secara tidak sengaja seperti ini apalagi beliau teman anda juga pak Rio, saya jadi merasa aman," ucap Adit dengan lega.


"Memang masalah apa sepertinya serius sekali? Ya kebetulan saya dan pak Ryan kenal cukup dekat," tanya Rio penasaran.


"Ada yang ingin mengakusisi perusahaan ku, makanya sebelum itu terjadi harus siap payung sebelum hujan," ucap Adit sedih.


"Baiklah sepertinya memang masalah yang anda hadapi cukup sulit, kalau anda butuh bantuan dan jasa saya bisa hubungi saya dan akan saya usahakan membantu anda semampu saya," ucap Ryan menyerahkan kartu namanya.


"Terima kasih sekali pak Ryan, akan saya simpan dengan baik," ucap Adit lalu menyimpannya dalam saku celananya.


"Baik.." jawab Ryan sambil mengangguk.


"Biar saya yang menuangkan pak," ucap Ryan lalu menuangkan minuman untuk pak Adit.


"Baiklah.. Makasih pak Ryan, oh iya pak Adit bagaimana perkembangan usaha anda?" tanya Rio pada Adit dan mereka berbincang dengan riang, kebetulan yang sangat emas bagi Ryan untuk menukarkan minumannya ke minuman Rio.


"Setelah ini gue akan melihat bagaimana reaksi tubuh anda ketika meminum ini, kalau memang tidak terjadi apa-apa berarti gue yang terlalu berpikir buruk tentang anda, namun jika terbukti anda nantinya mengalami suatu keanehan berarti anda berencana ingin menjebak gue lagi," batin Ryan yang tanpa di sadari Rio dan Adit jika minuman miliknya sudah di tukar dengan milik Rio.


"Sudah pak.. Namun sebelumnya saya minta maaf jika nanti saya hanya meminum sedikit, saya tidak pernah minum sebelumnya," ucap Ryan tak enak hati.


"It's okay pak Ryan.. Yang penting minum sedikit," ucap Rio tersenyum licik lalu mereka minum.


"Anda masuk dalam jebakan saya pak Ryan, lets see.. Bagaimana nanti Dinda tahu bagaimana anda di belakangnya?" batin Rio tersenyum licik.


"Mari kita lihat bagaimana rekasi anda setelah ini, tapi supaya tidak menimbulkan kecurigaan gue akan akting sedikit untuk meyakinkan Rio," batin Ryan.

__ADS_1


"Aduh.. Kenapa malah tubuh gue panas begini," batin Rio gusar.


"Anda kenapa pak?" tanya Adit kebingungan.


"Gak tau nih tiba-tiba saja rasanya panas," ucap Rio sangat gusar dan mengeluarkan banyak keringat.


"Gak kok.. Pak Ryan apakah juga kepanasan?" tanya Adit pada Ryan.


"Tidak pak tapi kepala saya agak pusing aja mungkin efek pertama kali minum," ucap Ryan pura-pura pusing dan memegang kepalanya.


"Aduh ada apa dengan kalian ini? Minumannya pun sama loh kenapa hanya saya yang baik-baik saja?" tanya Adit kebingungan.


"Pak Adit tolong anda lebih baik pulang dulu, biarkan saya dan pak Ryan menyelesaikan sisanya," ucap Rio mengusir halus.


"Baiklah tapi kalian beneran gak papa kan?" tanya Adit memastikan.


"Iya.. Semuanya akan baik-baik saja," jawab Rio.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," pamit Adit dan langsung bergegas pergi.


"Anda tidak merasakan apapun pak?" tanya Rio penasaran sambil menahan gejolak di tubuhnya.


"Merasakan pusing pak," jawab Ryan sembari memegang kepala.


"Kok jadi gue yang kayak gini? Apa tadi gue salah kasih minuman ya? Jangan bilang kalau ketukar," batin Rio semakin gusar.


"Biar saya bantu anda pak, mari berdiri," ucap Ryan ingin membantu Rio namun ada seseorang yang sudah terlebih dahulu mendekati mereka.


"Biarkan ini menjadi urusan saya pak, tadi beliau sudah mem booking saya beserta kamarnya," ucap ladies yang langsung memapah Rio ke kamar.


"Mbak tunggu dulu.. Berarti pak Rio sudah memesan anda sebelum kedatangan saya?" tanya Ryan terkejut.


"Benar sekali.. Dia menyuruh saya jika nanti salah satu dari kalian sudah oleng maka segera bawa ke kamar," ucap Ladies yang tanpa di sadari direkam oleh Ryan.

__ADS_1


"Oh begitu.. Baiklah, berarti saya pulang dulu," ucap Ryan yang dijawab anggukan oleh ladies nya. Lalu Rio dan ladies tadi sudah berada di kamar dan ya sudah tak perlu ditanya di sana mereka ngapain.. Orang dewasa dalam satu ruangan tertutup sudah jelas melakukan hal yang mengandung unsur dewasa.


__ADS_2