
Hari ini Dinda sangat ingin memasak sup daging dan juga jus alpukat, karena Dinda selalu terbiasa bangun pagi jadinya selepas bangun tidur ia langsung berkutat di dapur.
Ryan yang tengah tidur pun menyadari sang istri sudah tidak ada di sebelahnya langsung panik mencari dimana sang istri.. Ryan gak mau terjadi sesuatu sama Dinda.
"Sayang.. Sayang.." panggil Ryan dengan muka bantalnya.
"Tumben jam segini mas Ryan dah bangun sih?" gerutu Dinda acuh dan fokus memotongi sayuran.
"Sayang.. Kamu dimana?" panggil Ryan lagi sambil celingukan.
Mendengar namanya terus menerus dipanggil, Dinda jadi kesal dan menghampiri sang suami dan masih memakai celemek.
"Iya mas.. Kenapa sih teriak-teriak?" tanya Dinda sebal.
"Habisnya kamu dipanggil gak respon sih," protes Ryan.
"Aku ada di dapur mas," jawab Dinda.
"Ngapain?" tanya Ryan heran.
"Adu tinju mas," jawab Dinda asal karena kesal dengan sang suami.
"Ha? Jangan ada-ada deh," jawab Ryan kaget.
"Ya pastinya masak dong mas, mana ada di dapur adu tinju," jawab Dinda sebal.
"Ya bisa aja kamu mau minum.. Lagian kamu ini mau masak apa? Ini masih pagi banget," tanya Ryan heran.
"Aku mau masak sup daging sama buat jus alpukat mas, sepertinya enak.. Hmm.." ucap Dinda sambil membayangkan.
"Biar aku aja yang masak," jawab Ryan sigap.
"No.. Aku mau masak sendiri," tolak Dinda.
"Gak boleh.." tolak Ryan.
"Kenapa?" tanya Dinda.
"Kamu lagi hamil gak baik terlalu banyak kegiatan nanti capek, udah biar aku aja yang masak.." ucap Ryan bergegas ke dapur di susul Dinda.
"Kamu ngapain ikut?" tanya Ryan kaget melihat istrinya ikut ke dapur.
"Wajar dong.. Kan aku yang memulai masak," jawab Dinda santai dan ingin mengupas wortel.
"Eits.. Gak boleh pegang pisau, bahaya," tegur Ryan merampas pisau dapur.
__ADS_1
"Mas.. Aku mau kupas wortel," protes Dinda.
"No.. Duduk aja di sana," perintah Ryan namun Dinda menolak.
"Gak mau.. Biarkan aku membantumu," tolak Dinda dan ingin mencuci alpukat.
"No.. Duduk di sana," ucap Ryan penuh penekanan sambil menunjuk meja makan.
"Gak mau mas.. Aku maunya masak hasil masakan aku sendiri," rengek Dinda.
"Sama aja kalau yang nanti aku yang buat, kamu juga akan doyan," jawab Ryan fokus mengupas beberapa sayuran.
"Gak.. Biar aku yang masak atau nanti aku gak akan makan," ancam Dinda.
"Ya jangan dong.. Udah susah-susah dimasakin malah nanti gak di makan," protes Ryan.
"Makanya biarkan aku bantu," jawab Dinda.
"Yasudah tapi hati-hati," jawab Ryan pasrah.
"Thanks suamiku," jawab Ryan semangat lalu mengambil beberapa sayuran yang sudah dipotong Ryan lalu di cuci.
"Nyucinya hati-hati ntar tanganmu kepleset," ucap Ryan membuat Dinda merasa geli.
"Sayang.. Dengerin gak sih, hati-hati loh," tegur Ryan terus melihat istrinya cuci sayuran.
"Iya mas," jawab Dinda menahan kekesalan.
Setelah selesai mencuci sayuran kini giliran Dinda memotong daging, ia mengambil stok daging yang ada di kulkas.. Ryan yang melihat Dinda mengambil pisau langsung mengambilnya.
"Jangan pegang benda tajam," tegur Ryan merampas pisau daging.
"Terus potong daging pakai apa mas kalau bukan pakai pisau?" tanya Dinda heran.
"Aku aja yang potong," jawab Ryan lalu memotong daging dengan penuh perjuangan.
"Tuh kan gak bisa.. Sok jago sih, sini biar aku aja," jawab Dinda lalu mengambil alih tugas memotong daging.
"Aku bisa.." tolak Ryan.
"Gak bakal.. Kamu cara memotongnya aja salah gitu," jawab Dinda lalu terpaksa mengambil alih tugas memotong daging. Dalam hitungan detik, daging sudah terpotong dengan rapi. Ryan jadi melongo melihatnya.
"Kok cepat banget?" tanya Ryan heran.
"Jelas dong.. Makanya jangan sok jago," sindir Dinda lalu merebus daging.
__ADS_1
"Bukan sok jago.. Tapi aku gak suka lihat kamu pegang benda tajam," jawab Ryan.
"Aku pegang karena ada fungsinya mas, untuk mengupas wortel dan potong sayuran serta daging, kamu pikir aku bakal gunain untuk apa?" tanya Dinda heran.
"Ya namanya juga orang.. Mana tau maksud dan tujuannya lain, intinya aku gak suka lihat kamu pegang benda tajam lagi," ucap Ryan.
"Aneh.." gerutu Dinda.
"Biarin aneh yang penting demi kebaikan," jawab Ryan.
"Terserah..." jawab Dinda lalu fokus mengambil daging alpukat untuk di jus.
"Kamu ngapain?" tanya Ryan mendekat.
"Ambil daging alpukat mas kan gini caranya," jawab Dinda.
"Sini biar aku aja," jawab Ryan lalu mengambil paksa alpukat beserta sendok.
"Mas.. Kamu ini apa-apaan sih, daritadi aku udah berusaha sabar ya setiap apa yang aku pegang selalu kamu larang, aku mau masak apa yang ingin aku makan mas bukan mau bunuh diri," sindir Dinda sudah emosi.
"Ya bukan gitu maksudku, aku cuma gak mau kamu kecapekan aja," jawab Ryan.
"Mana ada hanya melakukan ini jadi kecapekan, kalau kecapekan tu aku angkat galon dari depan rumah ke kamar kita, itu baru kecapekan, jangan dramatis deh mas," cibir Dinda.
"Maaf.. Habisnya aku gak rela kalau kamu nantinya apa-apa melakukan sendiri, aku juga harus siap siaga menolong dan membantumu," jawab Ryan merasa bersalah.
"Makasih mas udah sangat peduli tapi tolong jangan over.. Aku yang jadinya gak nyaman," keluh Dinda.
"Berarti selama ini kamu gak nyaman?" tanya Ryan kaget.
"Kalau boleh jujur, iya mas.. Semenjak hamil kamu terlalu protektif sampai aku gak bebas melakukan apapun, aku bisa menjaga diri dan tau batasan mas, jadi jangan terus menerus melarang ku ini dan itu.. Aku tau ini hal pertama buat kamu dan juga keluarga tapi tolong.. Aku juga butuh kenyamanan," ucap Dinda mengeluarkan keluh kesahnya.
"Maafkan aku.. Bukan maksudku membatasi gerakan mu tapi aku selalu terngiang nasehat dokter supaya kamu jangan terlalu banyak gerak dan kecapekan," jawab Ryan menyesal.
"I know mas makanya itu aku berterima kasih sekali padamu karena sudah memberikan yang terbaik namun kamu jangan terlalu panik mas, percayalah aku tau batasannya kok, kalau capek ya aku istirahat," jawab Dinda dan Ryan mengalah.
"Baiklah.. Kamu boleh melakukan apapun yang membuatmu merasa nyaman dan bahagia asalkan tau batasannya, kalau capek ya langsung udahan.. Jangan dipaksa," ucap Ryan mengalah.
"Makasih mas.. Kamu memang suami terbaik," jawab Dinda bahagia dan mencium pipi Ryan.
"Sama-sama sayang.. Yasudah ini lanjutannya gimana?" tanya Ryan.
"Masukkan bumbu dan bawang-bawangan yang sudah aku siapin itu mas lalu masukkan ke panci, tunggu sampai mendidih baru sayurannya di masukkan dari wortel dan kentang dulu setelah itu tunggu beberapa menit baru dilanjut sayuran sisanya," jawab Dinda memberi instruksi dan Ryan langsung paham, sementara itu Dinda membuat jus alpukat untuknya dan keluarga kecilnya.
Momen pagi hari di dapur terasa menyenangkan bagi Dinda, karena Ryan turut hadir membantunya menyiapkan menu ngidamnya.. Dinda merasa ngidam dan mendapat suami Ryan yang sangat idaman.
__ADS_1