RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Boy Menemui Rio


__ADS_3

"Katakan ada hal apa yang membuatmu bertemu denganku?" tanya boy.


"Ada kerjaan seru dan gue yakin lo bakal suka," ucap Ryan membuat boy penasaran.


"Apa itu?" tanya boy.


"Tolong persulit setiap langkah orang ini dan selalu buat hidupnya dalam kesulitan, entah itu dalam hal bisnis atau pun lainnya tapi gue utamakan soal bisnis dia.. Tolong buat dia menderita," perintah Ryan sambil menunjukkan foto Rio.


"Ini Rio Suganda kan?" tanya boy yang membuat Ryan kaget.


"Lo kenal man?" tanya Ryan kaget.


"Of course.. Dia pernah ada bisnis denganku namun ditengah jalan berhenti karena dulunya usaha dia hampir gulung tikar, sampai sekarang modal yang udah gue tanam belum balik," ucap boy.


"Oh.. Gue pikir kalian teman akrab," jawab Ryan lega.


"No.. Just bussiness, memang apa yang mendasari lo buat hancurin dia?" tanya boy penasaran.


"Tadi dia berani mengancam istri gue sampai mengalami pendarahan hebat, untung saja segera di tolongin dan keduanya selamat, andai terlambat sedikit saja.. Gak bisa bayangin bagaimana gue hidup tanpa mereka," ucap Ryan sedih.


"Ha? Memang istrimu kenal dengan Rio Suganda?" tanya boy kaget.


"Kenal bahkan sangat kenal, Rio Suganda adalah mantan suami dari istriku," jawab Ryan semakin membuat boy terkejut.


"Oh wow.. Ini berita yang sangat fenomenal man, lo dapat singel parent? Udah ada anak berapa?" tanya boy.


"Dia sudah beranak dua dan itu kembar, ditambah nanti anak dariku jadinya tiga," jawab Ryan.


"Amazing.. Oke gue akan bantu, tapi gue minta waktu karena gak mungkin semuanya dikerjakan dalam waktu satu hari," ucap boy menyanggupi.


"Ok.. Gue bakal tunggu kabar baiknya, kalau istri gue gak hamil udah gue kerjain sendiri man, sorry gue repotin lo," ucap Ryan sungkan.


"Its okay.. We are friend, waktu gue susah dulu juga lo siap siaga bantuin gue tanpa pamrih," ucap boy dan Ryan senang mendengarnya.


"Malah ceritanya seperti balas budi dong," jawab Ryan tertawa.


"Bisa dibilang seperti itu, apapun masalahmu dengan Rio Suganda aku gak akan ikut campur terlalu jauh, yang jelas yang gue tangkap adalah lo merasa emosi karena istrimu mengalami pendarahan akibat pesan kaleng Rio Suganda kan?" tanya boy memastikan.


"Benar sekali.. Coba kalau lo ada di posisi gue man? Pasti lo bakal emosi kan bahkan tak segan menghabisinya, untung istri dan calon anak gue segera dapat pertolongan," ucap Ryan emosi.


"I know.. Jika gue ada di posisimu juga akan melakukan hal yang sama, baiklah gue akan bantu semampu gue man.. Semoga ini bisa meringankan rasa dendam mu," ucap boy.

__ADS_1


"I hope so, thanks man kalau gitu gue balik dulu, istri gue udah nungguin obat ini," pamit Ryan.


"Ok.. Kalau ada waktu luang gue bakal mampir, see you bro," jawab boy lalu mereka berpisah. Ryan kembali ke vila sedangkan boy kembali ke rumahnya sambil menyusun rencana dengan beberapa anak buahnya.


"Gue bakal balas dendam namun bukan melalui kedua tangan gue ini, gak sudi gue mengotori tangan gue untuk mencelakai mu Rio Suganda.. Biarkan boy dan para gangster yang maju, saatnya lo tau bagaimana menakutkannya berurusan dengan gue, kekayaan yang lo banggakan hanyalah secuil yang gue punya," batin Ryan merasa puas.


***


Sesampainya di rumah kini boy mengumpulkan semua anak buahnya untuk membalas dendam.


"Semua kumpul," seru boy dan langsung saja semua anak buahnya berkumpul di ruangan yang cukup besar.


"Kalian lihat baik-baik target kita kali ini, dia adalah Rio Suganda.. Putra mahkota dan pewaris tunggal Suganda grup, sebuah perusahaan raksasa yang ada di Indonesia.. Lihat dan perhatikan baik-baik, buat hidupnya hancur dan juga menderita.. Sebelum itu gue sendiri yang akan turun tangan untuk menemuinya, di sana akan gue buat awal pertarungan ini," ucap boy dengan menggema.


"Baik bos.." jawab anak buahnya paham dan mengamati betul foto Rio Suganda.


"Besok gue akan terbang ke Indonesia dan nantinya akan gue info kapan kalian harus terbang, sebelum itu gue perintahkan lo dan lo untuk mempersiapkan segala kebutuhan gue ketika nanti di sana juga tiket pesawatnya," perintah boy menunjuk tiga anak buahnya.


"Baik bos," jawab anak buah yang di tunjuk sembari bergegas menyiapkan beberapa keperluan big bosnya.


***


Boy berniat akan menjalankan aksinya esok hari karena badannya sangat merasa lelah, ia ingin seharian ini dihabiskan dengan mengistirahatkan tubuh.


"Capek banget perjalanan Singapura ke Indonesia.. Letih," gumam boy langsung rebahan di kasur empuk.


"Udah lama gue gak menginjakkan kaki disini, rasanya semua sudah banyak yang berubah dan semakin modern," gumam boy lalu tertidur pulas.


***


Pagi harinya boy sudah bersiap dengan sangat rapi untuk menuju kantor Suganda grup. Setibanya di kantor, boy di sambut cukup baik oleh satpam yang menjaga are bawah namun ketika ingin di atas ada beberapa penjaga yang menahannya.


"Selamat pagi pak, maaf sebelumnya saya belum pernah melihat anda, disini anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya penjaga.


"Saya ingin bertemu Rio Suganda, dia ada di kantor kan," jawab boy dengan santai.


"Apakah sudah ada janji temu?" tanya penjaga memastikan.


"Tidak perlu karena saya akan membahas bisnis dengan beliau, seharusnya malah beliau yang mendatangi saya," ucap boy.


"Kalau begitu saya konfirmasi dulu pak silahkan duduk," ucap petugas mempersilahkan duduk.

__ADS_1


"Maaf dengan bapak siapa?" tanya petugas ditengah pembicaraan via telepon.


"Katakan saja dengan boy, dia akan langsung kenal," jawab boy dengan enteng.


"Baik Pak.." jawab petugas lalu kembali bertelepon. Beberapa menit kemudian boy di izinkan masuk oleh Rio.


"Mari pak silahkan," ucap petugas ramah.


"Hmm.." jawab boy malas. Ia paling tidak suka di suruh menunggu, apalagi yang ditunggu adalah rivalnya.


Ketika sampai di ruangan, Rio menyambut boy dengan hangat ya meskipun dihatinya tersimpan perasaan cemas.


"Good morning boy.. How are you?" sapa Rio.


"Morning too.. Very well," jawab boy.


"I'm happy to hear that," jawab Rio senang. Lalu mereka berdua duduk bersebelahan.


"Langsung saja ya tuan Rio Suganda yang terhormat karena waktu saya tidak banyak dan saya sempatkan datang kesini menemui anda, sudah pasti anda tau apa tujuan saya sampai datang kemari?" sindir boy.


"Suatu kebanggan bagi saya karena dikunjungi langsung oleh anda, namun untuk perihal urusan bisnis kita sepertinya saya tidak bisa melanjutkannya, maafkan saya," ucap Rio.


"Jika memang anda tidak menyanggupi maka kabari saya dari dulu, mengapa harus saya turun gunung dulu? Saya bukan pebisnis sembarangan dan anda tau itu, saya disini merasa dipermainkan oleh anda.. Bukan saya yang datang pada anda melainkan anda sendiri yang datang ke saya waktu dulu," sindir boy.


"Maafkan saya tuan bukan maksud saya mempermainkan anda namun memang saya ingin sekali menyampaikan ini tapi sayang waktunya belum ada, perusahaan saya baru saja mengalami kemajuan yang cukup baik dan saya masih terus menerus mengejar ketertinggalan," ucap Rio merasa bersalah.


"Saya tidak peduli bagaimana perusahaan anda dan nasib anda, yang saya tau anda mengajukan kerja sama dengan saya dan akhirnya terjadilah kesepakatan lalu saya mengeluarkan dana yang cukup dibilang besar namu di tengah jalan anda membatalkannya secara sepihak, anda mencari perkara dengan saya?" tanya boy mulai geram.


"Bukan pak.. Bukan maksud saya seperti itu, tolong mengertilah saya, jujur perusahaan ini baru saja bangkit," pinta Rio mulai ketakutan.


"Dan saya tidak peduli akan hal itu, sekali anda mempermainkan saya maka bersiaplah dengan pembalasan yang akan saya lakukan, ingat tuan Rio Suganda.. Anda yang memulai peperangan dengan saya, jangan sok melebarkan sayap ke luar negeri jika mental anda masih mentah," sindir boy.


"Maafkan saya pak sekali lagi saya minta maaf, tolong jangan membalas dendam, saya janji akan membalikkan dana anda secepatnya namun beri saya tempo," pinta Rio.


"Tempo yang saya berikan saya rasa sudah cukup lama dan saya merasa kebaikan saya sungguh sangat banyak pada anda, jadi kesabaran manusia ada batasnya dan anda sudah membuat saya melewati itu..bersiaplah pak Rio Suganda yang terhormat," ancam boy tersenyum smirk lalu bergegas keluar kantor Rio.


"Duh gimana nih? Gue gak mau berurusan sama gengster macam dia, bisa habis perusahaan ini di tangannya.. Dapat duit darimana ya buat balikin semua dana yang sudah ia tanam, ahhh anda Sisil gak maling duit perusahaan suaminya mana mungkin gue dan keluarga kembang kempis begini, sial gue harus siap badan dan tenaga nih, ancaman boy gak main-main, gue lihat dia datang kesini seorang diri setidaknya masih aman lah, kalau nanti anak buahnya sudah turun.. Hii gak bisa bayangin gue gimana perusahaan ini menahannya," batin Rio bergidik ngeri dengan perasaan cemas.


Merasa puas sudah memberikan syok terapi pada Rio Suganda kini boy menelpon Ryan.


"Hai, man.. Gue mau kasih kabar baik nih kalau Rio Suganda sedang kalang kabut, bersiaplah dapat berita menggembirakan," ucap boy.

__ADS_1


__ADS_2