RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Perang (2)


__ADS_3

"Ini gak bisa dibiarkan.. Jangan sampai anak-anak jatuh ke tangan mereka, bapak gak yakin mereka bakal mendidik anak-anak dengan baik, soal finansial memang mereka menang dan bisa saja memberikan apapun yang di inginkan anak-anak namun untuk urusan akhlak dan budi pekerti bapak yakin tidak akan mereka ajarkan, kamu tau sendiri kan bagaimana mereka berperilaku pada kita selama ini?" ucap Tono tak terima.


"Dinda juga gak bakal tinggal diam pak, besok Dinda akan penuhi panggilan ini," ucap Dinda.


"Kamu serius mau datang? Nanti kamu kecapekan sayang," tolak Ryan.


"Gak bakal mas.. Aku gak bisa diam saja dan membiarkan mas Rio menang, kalau aku gak datang ya mereka merasa menang dong mas malah nantinya yang ada mereka bisa leluasa memberi keputusan," bantah Dinda.


"Baiklah akan aku temani, aku pastikan mantan suamimu kalah," ucap Ryan sangat yakin.


"Aamiin mas.. Tolong bantu aku memperjuangkan anak-anak," pinta Dinda.


"Pasti.. Tanpa kamu minta bakal aku lakukan," jawab Ryan penuh pengertian.


"Makasih mas," jawab Dinda lega.


"Ibu juga mau ikut, ibu mau lihat bagaimana mantan suamimu nanti di persidangan," ucap Sri.


"Baiklah bapak akan temani, kita langsung saja bertemu di sana supaya tidak mondar-mandir," ucap Tono mengiyakan kemauan istrinya.


"Jangan pak, bu, kalian di rumah saja, Dinda gak mau kalian nantinya tersulut emosi," tolak Dinda.


"Ini demi cucu.. Sudah cukup sabar selama ini kita diam dan mengalah, kita sudah sangat berbaik hati tidak menuntut apapun darinya," ucap Sri.


"Baiklah nanti biar kami jemput aja bu, pak," jawab Dinda pasrah.


"Gak usah.. Kamu langsung ke sana saja karena kamu adalah yang terpenting di persidangan," tolak Tono.


"Gak pak.. Jika bapak dan ibu ikut maka Dinda akan jemput kalian," ucap Dinda dan kedua orang tuanya hanya bisa pasrah.


"Yasudah kalau begitu ibu dan bapak permisi dulu biar besok bisa bangun lebih awal," pamit keduanya dan Dinda juga Ryan mengantarkan kedua orang tua Dinda sampai teras.


"Hati-hati ya bu, pak, kalau sudah sampai segera kabari," ucap Dinda sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


"Iya.." teriak Sri dan Dinda juga Ryan terus mengamati sampai kedua orang tuanya tak terlihat lagi.


"Mas.. Ternyata mas Rio yang berulah," ucap Dinda sedih.


"Iya.. Kenapa aku bisa sampai lupa kalau tempo hari mantan suamimu sempat menggertak mu," ucap Ryan menepuk jidat.


"Bagaimana ini mas? Gimana kalau nanti mas Rio yang menang?" tanya Dinda gelisah.


"Tenang sayang tenang.. Yang penting kamu jangan anggap ini panik ya, ingat sekarang kamu sedang hamil, biarkan aku yang handel semuanya," ucap Ryan menenangkan Dinda.


"Tapi aku takut mas, takut anak-anak nantinya bersama mas Rio.. Aku gak bisa bayangin bagaimana hampa nya hidupku," ucap Dinda terus gelisah.


"Ssst.. Sudah ah jangan gini dong nanti aku juga ikutan sedih, rileks ya sayang, ada aku disini," bujuk Ryan.


"Sialan bener nih orang.. Udah gertak istri gue sampai pendarahan sekarang beneran mengajukan ini semua di persidangan, siapa sih yang mempermudah urusan Rio? Bukannya gue udah suruh boy buat mempersulit Rio," batin Ryan menerka-nerka.


***


Esok harinya Dinda dan Ryan sudah bersiap untuk hadir di persidangan, mengingat jarak rumahnya ke rumah orang tua Dinda cukup jauh jadinya mereka berangkat lebih pagi dan anak-anak diantarkan ke sekolah bersama kakaknya Dinda.


"Akhirnya datang juga.. Bagaimana liburannya?" sapa Rio tersenyum smirk.


"Ya sudah jelas membahagiakan dong, memang apa untungnya bagi anda mengetahui bagaimana kehidupan pribadi kami?" tanya Ryan.


"Oh tidak apa-apa.. Saya hanya bertanya saja, kebetulan liburan anda menyenangkan maka bersiaplah kali ini akan menegangkan," sindir Rio.


"Lets see.." jawab Ryan singkat namun membuat Rio kesal.


"Sialan.. Gue niatnya mau memperkeruh suasana namun malah pihak sana gak terpancing," batin Rio kesal.


"Rio.." panggil Sri dan Rio merasa terkejut.


"Ibu? Ibu dan bapak juga ikut?" tanya Rio.

__ADS_1


"Tentu saja karena kamu sudah merusak kebahagian dan ketenangan anak saya, mau sampai kapan kamu bakal mengusik kehidupan Dinda? Apa kamu kurang puas melihat anakku menderita, kini Dinda sudah hidup bahagia masih saja kamu usik, mau kamu apa Rio?" tanya Tono geram.


"Saya tidak akan mengusik Dinda jika bukan dia duluan yang lalai menjaga anak-anak," ucap Rio tak mau di salahkan.


"Ingat ya Rio.. Tidak pernah sekalipun Dinda dan juga Ryan lalai dalam hal menjaga anak-anak, mereka sangat peduli bahkan sangat perhatian pada mereka, ingat Rio.. Kejadian penculikan itu bukan murni kelalaian Dinda, jangan jadikan itu sebagai alasanmu mengambil anak-anak, bapak kecewa padamu dan karena kasus ini bapak semakin kecewa padamu.. Bapak gak habis pikir bisa-bisanya kamu gak pernah puas membuat Dinda sedih," gertak Tono geram.


"Ingat juga Rio.. Karena mu Dinda hampir saja kehilangan nyawa, jika waktu itu Dinda sampai kritis dan masuk rumah sakit maka sudah bisa di pastikan kamu yang akan di tuntut oleh Ryan," gertak Sri mengejutkan Rio.


"Kok jadi Rio semua yang salah bu? Lagian apa yang sudah Rio lakukan sampai Dinda hampir kehilangan nyawa?" tanya Rio tak terima.


"Kamu ingat pesan kaleng mu pada Dinda waktu mereka liburan? Karena pesan mu itu Dinda sampai terpleset dan mengalami pendarahan yang hebat, Dinda sempat tak sadarkan diri.. Kejadian itu yang membuat kami murka padamu," ucap Sri sangat emosi sambil menunjuk-nunjuk Rio.


"Apa? Dinda pendarahan? Jadi Dinda sedang hamil?" tanya Rio kaget dan mereka semua hanya mengangguk saja.


"Duh.. Gue gak ada maksud buat Dinda seperti itu, pantas saja Dinda seperti sangat dendam padaku, maafkan gue din," batin Rio merasa bersalah lalu acara persidangan dimulai.


"Selamat siang saudara semuanya, sidang hari ini saya nyatakan mulai," ucap pak Hakim.


"Untuk saudara penggugat, Rio Putra Suganda silahkan masuk ke ruangan," perintah pak Hakim lalu Rio masuk dan duduk.


"Untuk saudara tergugat, Dinda Safitri silahkan masuk ke ruangan," ucap pak Hakim dan Dinda pun masuk dengan perasaan cemas.


"Baik.. Sidang bisa dimulai dengan saudara penggugat, Rio Putra Suganda.. Apa tujuan anda menggugat saudari Dinda Safitri?" tanya pak Hakim.


"Terima kasih pak Hakim, akan saya jawab pertanyaan anda dengan detail.. Semuanya berawal ketika kedua anak kami pulang sekolah, Dinda belum tiba di lokasi sehingga menyebabkan kedua anak kami di culik dan sampai sekarang anak kami yang perempuan bernama Vanessa Putri Suganda mengalami trauma," ucap Ryan.


"Baik.. Lalu apa yang ingin anda gugat?" tanya pak Hakim.


"Saya menggugat hak asuh anak pak Hakim, disini sudah terlihat jelas jika mantan istri saya, Dinda Safitri lalai dalam hal menjaga keselamatan dan keamanan anak-anak," ucap Ryan dengan mantap dan tenang.


"Kenapa dia terlihat tenang dan percaya diri sekali? Ada yang mencurigakan," batin Ryan terus memperlihatkan gerak gerik Rio.


"Baik.. Sekarang untuk saudari tergugat, Dinda Safitri.. Apa yang ingin anda sampaikan dan juga apa pembelaan anda?" tanya pak Hakim.

__ADS_1


"Baik pak Hakim terima kasih banyak waktunya, saya menyatakan keberatan atas tuduhan yang dilontarkan saudara Rio, disini tidak ada unsur kelalaian saya dalam menjaga anak-anak karena ini adalah sebuah musibah, mana ada yang mau pak kalau anak kita di culik? Pasti semua orang gak akan mau dan tidak akan mau.. Begitu juga dengan saya, tapi dalam waktu kurang dari 24 jam kedua anak saya berhasil di temukan malah penculiknya sendiri yang menunjukkan alamatnya, jadi saya tidak seratus persen salah pak Hakim.. Untuk hak asuh anak-anak saya mohon pertimbangkan kembali keinginan saudara Rio karena saya tidak yakin anak-anak akan nyaman di dekat ayahnya.. Dulu saja saya memenangkan gugatan hak asuh anak karena memang terbukti saudara Rio melakukan kecurangan dengan menculik anaknya sendiri bahkan sampai di sana anak saya yang bernama Farel Putra Suganda tidak mendapat perlakuan yang baik dari istri saudara Rio, jadi mohon di pertimbangkan pak, saya masih ada rekaman suara anak saya ketika mengeluh bagaimana buruknya perilaku istri saudara Rio Putra Suganda," ucap Dinda dengan tenang namun menohok Rio. Ryan merasa bangga memiliki istri seperti Dinda, di situasi sulit seperti ini ia masih bisa menunjukkan sikap tenangnya di depan banyak orang.


__ADS_2