RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Rio Kecelakaan, Sisil Resign


__ADS_3

Siang hari di jam makan siang Rio datang ke kantor Dinda untuk mengajak makan siang bersama. Ia berharap bisa memulai hubungan baru dengan mantan istrinya itu..


"Selamat siang Pak," sapa Sisil centil.


"Tut.. Mana Dinda? Tolong panggilkan," suruh Rio.


"Maaf Pak ibu Dinda akhir-akhir ini jarang masuk kantor," ucap Sisil membuat penasaran.


"Memang Dinda ada urusan apa?" tanya Rio.


"Ibu Dinda dan pak Ryan akan melangsungkan pernikahan akhir tahun ini pak jadinya kini baik ibu Dinda maupun pak Ryan sibuk mempersiapkan pernikahan mereka," ucap Sisil membuat Rio terkejut.


"Ha? Menikah? Kamu tau tanggalnya?" tanya Rio terkejut.


"Kurang tau pak," jawab Sisil.


"Ini gak boleh terjadi," gumam Rio lalu pergi.


Di perjalanan Rio tidak bisa menerima semua ini, Rio tidak terima kalau akhirnya Dinda serius menikah dengan Ryan.. Rio pikir dari dulu mereka hanya berbual saja namun ternyata benar.. Dinda dan Ryan beneran akan menikah.


Pokoknya ini gak boleh terjadi.. Dinda harus batal menikah dengan Ryan.


Saking emosionalnya Rio sampai tidak menyadari jika ia melawan arah dan di depannya ada truk besar, kecelakaan pun tak dapat di hindari.. Rio terguling beberapa kali di dalam mobil hingga mobilnya mengeluarkan api.


Banyak warga yang coba menolong Rio dan butuh waktu 1 jam kini Rio bisa di selamatkan meskipun ada beberapa luka bakar di tubuhnya.


Rio dibawa ke rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian dan pihak rumah sakit segera menghubungi keluarga pasien.


Tak butuh waktu lama kini Mayang sudah berada di rumah sakit dengan perasaan cemas. Ia takut putra semata wayangnya kenapa-napa.


"Dok bagaimana kondisi anak saya?" tanya Mayang panik.


"Kondisi anak ibu sangat kritis dan mengalami luka bakar 40 persen," ucap dokter prihatin.


"Astaga... Rio.. Bagaimana bisa kamu sampai kayak gini?" pekik Mayang histeris.

__ADS_1


"Anak ibu perlu perawatan yang ekstra jadi saya harap selain pengobatan kami juga berharap doa dari pihak keluarga," ucap dokter.


"Pasti dok.. Saya pasti akan berdoa selalu untuk anak saya, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak saya, berapa pun biayanya saya tidak masalah," pinta Mayang.


"Baik bu saya akan berusaha semaksimal mungkin, kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter dan kini Mayang masuk ke kamar inap anaknya.


"Rio.. Kenapa kamu bisa kayak gini nak? Apa yang menganggu pikiranmu?" gumam Mayang sedih melihat kondisi anaknya.


"Dinda.. Din.. Da.." ucap Rio mengigau dengan suara lirih.


"Dinda? Kamu masih memikirkan Dinda? Apa sekarang kamu sudah jatuh cinta dengannya dan kamu sekarang baru menyesalinya? Sebentar ya mamah coba hubungi Dinda semoga saja dia mau datang menjenguk mu," ucap Mayang lalu menelpon Dinda namun sayang beberapa kali di telpon Dinda tak jua mengangkatnya.


Tanpa disadari oleh Mayang kini Dinda sedang meninjau lokasi pernikahan dan ponsel Dinda tertinggal di mobil Ryan.


***


Keesokan harinya Dinda baru menelpon Mayang untuk menanyakan mengapa dia menelpon sebanyak itu.


"Halo mah? Maaf kemarin Dinda gak tau kalau mamah menelpon sebanyak itu, ponsel Dinda tertinggal," sapa Dinda.


"Iya mah ada apa?" tanya Dinda heran.


"Rio.. Rio mengalami kecelakaan dan luka bakar di tubuhnya 40 persen, mamah gak kuat melihat dia seperti ini din.. Rio selalu mengingau menyebut namamu, tolonglah kemari," bujuk Mayang.


"Astaga mas Rio kecelakaan?" tanya Dinda kaget dan di dengar oleh Sisil. Ia terkejut mengetahui hal itu dan terus menguping pembicaraan Dinda.


"Iya.. Rio kecelakaan dan di rawat di rumah sakit makmur sentosa, datanglah kemari dan jenguk Rio," bujuk Mayang dan Dinda diam beberapa saat, ia menimang apakah baik untuknya dan Ryan jika nanti Dinda menjenguk Rio, namun mau gak mau hati kecilnya ingin sekali menjenguk mantan suaminya itu.


"Dinda.. Mau kan kamu menjenguk Rio?" tanya Mayang penuh harap.


"Saya usahakan ya mah, di ruangan mana?" tanya Dinda bimbang.


"Di ruangan paviliun nomor 4, mamah tunggu kedatangan mu Din," harap Mayang dan kini mereka mengakhiri panggilan.


"Rumah sakit Makmur Sentosa di kamar paviliun nomor 4, lebih baik aku tanyakan dulu dengan mas Ryan, mau bagaimana pun dia calon suamiku jadi aku gak mau menutupi sesuatu darinya," gumam Dinda lalu balik ke ruangannya guna menelpon Ryan.

__ADS_1


Sisil yang mendengar dimana suaminya di rawat ingin sekali segera menjenguk namun Sisil sadar kalau dia menjadi buron, apakah mungkin nantinya Ryan dan mamah mertuanya menerima kehadirannya?


"Mas Rio.. Semoga kamu segera sembuh mas dan bisa beraktivitas kembali, aku ingin sekali menjenguk mu mas tapi apakah nanti kalian menerima ku?" batin Sisil bimbang.


"Ah apa gue resign saja dari sini toh sebentar lagi Dinda bakalan nikah dengan Ryan jadi gak ada yang perlu di khawatirkan lagi, tinggal tugas gue mengambil hati mas Rio beserta keluarganya kembali, apa gue setelah resign nanti langsung datang kemari dan memohon pada Dinda untuk mencabut tuntutannya?" gumam Sisil bingung dan ia bertekad untuk resign.


Tok... Tok...Tok.. Suara ketukan pintu.


"Masuk.." jawab Dinda.


"Siang bu," sapa Sisil.


"Siang.. Ada apa tut?" tanya Dinda.


"Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya bu, saya kesini ingin menyampaikan kalau saya akan resign bu," ucap Sisil pura-pura sedih.


"Kenapa resign? Ada hal yang menganggu kenyamanan mu?" tanya Dinda kaget.


"Ada.. Kedekatan lo dengan suami gue," batin Sisil kesal.


"Tidak ada bu, saya merasa tidak pantas bekerja disini apalagi saya sudah sangat merepotkan anda begitu lama.. Saya kan janjinya setelah mendapat pekerjaan akan mengumpulkan uang dan kembali lagi ke kampung, sekarang saya sudah memiliki cukup pegangan uang bu dan saya memutuskan lebih baik di kampung saja, disini terlalu berat untuk saya bu," ucap Sisil dengan wajah sedih.


"Kamu serius ingin resign?" tanya Dinda memastikan.


"Iya bu.. Saya sudah memikirkan ini matang-matang," ucap Sisil mantap.


"Lalu kapan kamu akan pulang kampung?" tanya Dinda.


"Besok bu.." jawab Sisil.


"Baiklah saya tidak bisa memaksamu, semoga kamu selamat di perjalanan ya Tut dan semoga selamat sampai tujuan," ucap Dinda tulus.


"Terima kasih bu.. Saya sangat bahagia dan bangga sekali bisa berjumpa dengan bos baik hati seperti anda, semoga ibu di lancarkan pernikahannya dan bahagia selalu," ucap Sisil modus.


"Terima kasih banyak tapi tolong sebelum kamu resign, selesaikan dulu job desk mu hari ini ya agar esok hari Fio tidak kerepotan," pinta Dinda dan Sisil mengangguk patuh.

__ADS_1


"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu, semoga kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan ya bu," harap Sisil.


__ADS_2