
Untuk lebih meyakinkan lagi, Rio kembali menekan bel sebanyak tiga kali dan berulang, ada suara yang terdengar dari dalam sana dan itu suara perempuan, hati Rio mendadak memanas.
Ceklek... Suara pintu terbuka dan terpampang seorang wanita yang sedang menggunakan piyama dan rambutnya di gelung dengan handuk, habis keramas.
"Cari siapa ya mas? Kenapa daritadi anda menekan bel terus menerus?" tanya wanita yang sangat asing bagi Rio, didalam sana bukan Sisil, lalu dimana istrinya??
"Hei mas.. Kenapa malah diem?" tanya wanita itu agak meninggikan suaranya.
"Siapa sih sayang?" tanya pria yang sedang berada satu ruangan dengan wanita itu.
"Gak tau nih, aku gak kenal, mana tau temanmu," jawab wanita ini kesal.
"Gak.. Aku gak kenal, cari siapa ya mas? Kalau anda gak mau mengaku saya panggilkan sekuriti," gertak pria itu.
"Maaf saya salah orang dan sepertinya salah kamar, saya sedang mencari seseorang, maaf sudah menganggu waktunya," ucap Rio sangat malu.
"Lain kali pastiin dulu mas, jangan asal pencet bel berulang kayak tadi, ganggu tau gak!" protes wanita itu lalu menutup pintu dengan kasar. Menandakan bahwa penghuni kamar terganggu dan tak nyaman dengan ulah Rio.
Malu semalu-malunya, itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan keadaan Rio saat ini, sudah menganggu waktu seseorang, kena omelan lagi. Untung mereka tidak memanggil sekuriti, bisa makin malu kalau nantinya Rio diseret paksa oleh sekuriti apartemen yang badannya tinggi tegap dan gagah itu.
Ia kembali membaca pesan dari Hans untuk memastikan jika dirinya tidak salah kamar, chat dari Hans memang benar adanya jika Sisil di apartemen dan kamar yang ia datangi tadi, tapi kenapa sampai di sana malah yang didalam itu orang lain? Rasa penasaran campur malu menjadi satu, antara Hans yang salah memberi info atau memang Sisil sudah keluar terlebih dahulu sebelum dia datang, kata pria yang tak sengaja ia tabrak tadi kan bilang jika kamar 8A sering disewakan, fixs Sisil sudah keluar sebelum ia datang, ia kurang cepat.
***
Kejadian sebelum Sisil keluar kamar apartemen.
Ting.. Notifikasi dari Ronald, sebenarnya Sisil malas membuka karena baru saja dia datang kesini, belum ada 5 menit sudah menghubungi. Takut nantinya ada yang penting, akhirnya Sisil membuka pesan temannya itu.
"Sil.. Ada suamimu disini, dia sedang menuju kesana, kebetulan tadi aku tabrakan dengannya, untung dia gak mengenaliku, jadi aku bisa leluasa bertanya, katanya dia mau bertemu seseorang dan nomor kamarnya adalah nomor kamar yang kamu tempati sekarang, kalau bukan untuk mencari mu, lantas mencari siapa lagi?? Kalau kamu mau menemuinya ya silahkan tapi kalau gak mau, ikuti caraku," isi chat Ronald membuat Sisil kaget bukan main. Tak mau terlalu lama mengetik, akhirnya Sisil menelpon Ronald agar semuanya jelas.
"Halo.. Gimana bisa Rio tau aku ada disini?" tanya Sisil panik.
"Itu pikir nanti, sekarang jawabanmu menentukan langkah selanjutnya, mau menemuinya atau tidak?" tanya Ronald.
"Gak.. Aku masih malas bertemu dengannya, help me," rengek Sisil.
__ADS_1
"Oke.. Kamu sebentar lagi keluar kamar dan tukeran dengan penghuni kamar sebelah, dia sudah aku calling, kebetulan dia temanku," ucap Ronald.
"Tukeran kamar? Kamu yakin dia mau?" tanya Sisil.
"Seratus persen yakin, dia sudah setuju, sekarang keluarlah dan segera pindah kamar, mungkin Rio hampir sampai," ucap Ronald tergesa dan Sisil langsung keluar kamar, benar saja, teman Ronald sudah ada didepan pintu kamar.
"Eh maaf mbak, hampir saja mau aku ketuk pintunya tapi anda keburu keluar," ucap pria itu.
"Iya mas gak papa, Ronald menyuruh aku keluar secepatnya," jawab Sisil kikuk.
"Iya mbak, ayo buruan masuk," pinta pria itu lalu mereka dalam hitungan detik sudah berpindah kamar.
Untung saja mereka cepat berpindah, selang beberapa menit Rio sudah mengetuk pintu kamar Ronald. Perasaan Sisil jadi cemas, takut ketahuan.
Hingga 20 menit kemudian tak ada kabar juga dari temannya Rio, hati Sisil semakin panik dan gelisah, lalu Sisil menghubungi Rio. "Hei Ronald, gimana nih? Kenapa temanmu lama sekali? Apa ketahuan?"
"Santai saja.. Temanku mengkonfirmasi jika semuanya aman, tadi Rio sangat malu, berulang kali meminta maaf," jawab Ronald santai.
"Serius? Kenapa temanmu gak balik juga ke kamarnya? Disini pengap, berantakan, jijik aku," tanya Sisil bergidik ngeri.
"Gak.. Aku kenal suamiku, kalau sekali dia salah sasaran maka tidak akan kembali lagi, yang ada dia akan menutupi wajahnya," ucap Sisil mantap.
"Iya.. Iya.. Yang sangat tahu suaminya," sindir Ronald.
"Bukan begitu" jawab Sisil tak enak hati.
"Kamu boleh ganti kamar sekarang, temanku sudah keluar," ucap Ronald tak seriang barusan.
Sisil keluar dari kamar temannya Ronald dan kebetulan temannya juga keluar dari kamar Ronald, mereka saling melempar senyum, tak lupa Sisil mengucapkan terima kasih.
"Makasih mas dan mbak sudah mau menolong saya," ucap Sisil tersenyum manis.
"Sama-sama, ini bukan perkara yang sulit, maaf ya lama, soalnya kami memang sengaja membuat pria tadi penasaran dulu, bermain sedikit boleh lah mbak hehe," ucap temannya Ronald terkekeh.
"I..iya gak papa mas, tadi saya kira kalian ketahuan," jawab Sisil kikuk.
__ADS_1
"Gak.. Ini hanya masalah kecil saja bagi kami," jawab temannya Ronald dan Sisil hanya tersenyum saja.
"Perkenalkan mbak nama saya Dinar, nama mbak siapa?" tanya Dinar-kekasih temannya Ronald.
"Nama saya Sisil, salam kenal mbak Dinar dan terima kasih sudah menolong saya," jawab Sisil tersenyum.
"Nama saya Doni, mbak," ucap Doni-teman Ronald.
"Sisil.." jawab Sisil tersenyum lalu pamit masuk.
Cerita Pindah Kamar selesai
***
Rio sungguh dibuat bingung dan kembali menghubungi temannya, Hans untuk meminta pertanggung jawaban.
"Halo Hans, maksudmu apaan, ha? Kasih info tuh yang akurat dong, malu nih gue," protes Rio.
"Wait.. Wait.. Wait.. Malu? Why?" tanya Hans bingung.
"Info yang lo kasih salah kaprah, yang ada gue seperti sidak kasus prostitusi di apartemen tau gak," protes Rio.
"Gimana sih gimana? Gue gak paham sumpah, katanya lo sedang cari si Sisil, udah gue kasih tau lokasinya kenapa lo malah bilang gitu? Dia kan masih istrimu, masak iya lu samain dengan sidak sampah masyarakat, gila lu," ucap Hans tak habis pikir.
"Iya, gue emang lagi cari keberadaan istri gue bukan keberadaan orang lain yang sedang having fun, lo sudah gak bisa baca apa gimana? Tadi yang gue samperin orang lain Hans, orang lain, mana mereka habis keramas lagi, bukain pintu lama banget," keluh Rio yang dijawab tawa keras Hans.
"Haha serius lo habis gerbek orang? Mungkin lo yang salah kamar, disini bener kok kalau istrimu ada disana, lu kali yang rabun," protes Hans.
"Rabun mata lu! Jelas-jelas kamar nomor 8A dan lantainya di lantai 9, tapi sayangnya di dalam sana bukan Sisil, istri gue, melainkan orang lain yang gue pun gak kenal, mereka juga gak kenal gue, mana gue mau dipanggiin sekuriti lagi, apa nantinya gue gak tambah malu?" keluh Rio.
"Tapi memang disini tertuju nya di sana, mana pernah gue salah kasih info? Mungkin istrimu lebih pandai darimu jadinya dia lebih lihai," ejek Hans.
Tak tau lagi Rio harus bagaimana, semuanya kacau bahkan nama baiknya yang jadi taruhannya.
Apakah langkah yang akan dilakukan Sisil lagi ya? Yuk simak terus episodenya.
__ADS_1