
"Mau kemana?" teriak Dito.
"Balik kerja, selera makanku hilang," jawab Vika menoleh sekilas.
"Tunggu dulu!" pekik Dito namun tak dihiraukan Vika.
"Pak satpam, tangkap wanita itu, dia belum bayar," teriak Dito yang membuat satpam segera mencengkeram tangan Vika dengan erat.
"Eh apa-apaan sih ini!!!" pekik Vika kesal.
"Makanya dibilangin bos suruh tunggu ya tunggu dulu, main nyelonong aja gini akibatnya," jawab Dito dengan santai sambil tersenyum puas.
"Tapi gak gini juga dong, bikin malu!" protes Vika.
"Jadi mbaknya ini gimana mas?" tanya satpam kebingungan.
"Eh sampai lupa saya, lepasin pak, dia gak salah kok," jawab Dito dengan entengnya.
"Loh kalau gak salah kenapa masnya teriak mbaknya ini belum bayar?" tanya satpam keheranan.
"Maaf ya pak sekali lagi maaf, lepasin teman saya, tadi iseng aja kok," jawab Dito.
"Lain kali jangan diulangi mas, kasihan mbaknya," tegur satpam lalu melepas cengkraman tangan Vika.
"Sorry Vika," ucap Dito merasa sangat bersalah namun hati Vika sudah terlanjur kesal mana hari ini sukses dibuat malu lagi, kesialan yang bertubi-tubi. Tak mau lagi meladeni bosnya itu, Vika berjalan menuju kantornya dan segera menyelesaikan tugas. Ia tak menolah sedikitpun pada Dito, itu menandakan jika Vika memang benar-benar marah.
Jam kantor telah usai, pekerjaan Vika belum juga kelar jadi ia harus lembur dalam beberapa jam. Rasa capek yang sudah ia rasakan kini semakin bertambah, hari ini sungguh hari sial baginya selama bekerja disini dan ia berharap ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Melihat Vika masih berada di meja kerjanya membuat Dito bergegas menghampiri.
"Kok belum pulang? Yang lain sudah pulang loh," tanya Dito berjalan mendekat. Respon yang diberikan Vika hanyalah diam dan tetap fokus pada layar laptop kerjanya.
"Belum kelar kerjaan mu? Sini tak bantu," ucap Dito menawarkan diri.
"Gak usah dan terima kasih atas perhatiannya, lebih baik anda pulang saja bapak Dito Maulana Bramantyo," jawab Vika ketus.
__ADS_1
"Masih marah?" tanya Dito memastikan namun lagi-lagi Vika tak menggubris.
Hatinya menjadi merasa bersalah karena sudah berbuat yang sangat keterlaluan pada Vika, untuk menebus rasa bersalahnya, Dito menemani Vika lembur dan membantu sedikit pekerjaan Vika meskipun awalnya Vika menolak. Ditengah jam lembur mereka tiba-tiba saja lampu di kantor padam serentak, alhasil suasana di kantor menjadi mencekam mana sama sekali tak ada penerangan.
"Huaaa..." teriak Vika ketakutan.
"Tenang Vika tenang, ada aku disini, aku telpon bagian keamanan dulu," ucap Dito menenangkan lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.
"Aku.. A.. Aku ta..takut," ucap Vika lirih dan badannya gemetar.
"Astaga.. Anak ini beneran ketakutan ketika di kegelapan, gue harus gimana dong? Tumben banget sih, kantor bisa mati listrik gini, mana satpam ditelpon gak diangkat," batin Dito mulai panik namun sebisa mungkin tak ia tunjukkan pada Vika.
"Kita jalan pelan-pelan sampai depan ya, satpam udah aku telpon beberapa kali tapi tak diangkat juga, entah kemana perginya," bujuk Dito dengan lembut.
"Tolong aku.. Siapapun tolong, aku takut huhuhu," rengek Vika sangat ketakutan.
"Vika.. Tenang Vika, ada aku disini, aku akan menolong mu," jawab Dito penuh keyakinan lalu Dito menggandeng tangan Vika untuk menuntun berjalan sambil tangan yang satunya menyalakan senter hp.
"Tenang Vika mungkin dia satpam, lihat saja pakaiannya putih gitu," bujuk Dito.
"Ta.. Takut," hanya itu jawaban yang terus keluar dari mulut Vika. Benar saja, satpam yang sedang mengecek seluruh ruangan berjalan mendekat dan terkejut melihat bosnya juga salah satu karyawan masih disini.
"Pak.. Pak Dito belum pulang?" tanya satpam kaget.
"Belum.. Ini mau pulang eh malah mati listrik, gimana sih kok bisa kayak gini?" tanya Dito.
"Itu dia pak, saya sedang cek satu persatu ruangan untuk memastikan, soalnya ada salah satu sambungan kabel yang terputus, sepertinya disengaja," jawab satpam membuat Dito kaget.
"Jadi ada yang sabotase kejadian ini? Berarti ini bukan murni listrik mati?" tanya Dito memastikan.
"Sepertinya begitu pak makanya saya mau cek lebih dulu sebelum membuat laporan," jawab satpam.
"Gak perlu.. Langsung saja lapor kantor polisi, biar nanti saya panggilkan petugas PLN untuk memeriksa, saya pulang dulu," pamit Dito dengan perasaan marah. Baru sehari dia menjabat sebagai CEO sudah ada orang yang terang-terangan ingin menjadi musuhnya.
__ADS_1
"Baik Pak, hati-hati" jawab satpam sambil menyoroti tangga yang akan dilalui bosnya agar tidak tersandung.
Akhirnya Dito dan Vika sudah tiba didepan kantor, cahaya lampu jalan menjadi penerang bagi mereka dan Dito baru sadar jika sedari tadi Vika terus memeluknya sangat erat, entah kenapa kejadian ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Dito meskipun ia harus mengorbankan ketakutan Vika namun ini bukanlah kejadian yang disengaja.
Ditengah pikiran Dito tentang siapa dalang dibalik semua ini ada setengah pikiran tentang Vika yang sampai saat ini masih enggan melepas pelukannya, tentu saja semua pria akan merasakan senang ketika dipeluk dengan sangat erat apalagi Vika tipe Dito banget.
"Vika.. Kita udah sampai didepan kantor, itu sudah ada cahaya berasal dari jalan," ucap Dito membalikkan badan sehingga terlihat dengan jelas Vika memeluk Dito. Badan Vika masih terasa gemetar mana pelupuk matanya membentuk bekas tangisan, sudah pasti Vika sangatlah ketakutan.
"Vika.. Apa kamu mendengar ku?" tanya Dito dengan lembut, "Tarik nafas dan buang, lakukan beberapa kali agar kamu tenang," ucap Dito lagi.
Setelah menuruti perintah Dito, kondisi Vika sudah lebih membaik dan kini ia baru menyadari jika sedang memeluk bosnya. "Ma..maaf," ucap Vika malu dan lirih sambil melepas pelukannya.
"Gak papa, peluk sampai tiba di rumah juga gak masalah," goda Dito mencairkan suasana.
"Gak lucu! Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan ya!" protes Vika kesal.
"Siapa? Aku? Bukannya kebalik ya? Daritadi kamu meluk aku erat banget seperti lama tak jumpa," goda Dito.
"Jangan mulai ya bapak Dito!" tegur Vika.
"Buat apa bohong? Tanya tuh sama pak satpam," jawab Dito yang membuat Vika mati kutu.
"Makasih udah nolongin saya pak, kalau begitu saya pulang dulu, permisi," pamit Vika yang dicekal oleh Dito.
"Mau kemana? Pulang bareng aja kan kita searah malah satu komplek," tanya Dito.
"Mau pesan taksi aja pak, makasih tawarannya," tolak halus Vika. Kejadian tadi saja sudah membuatnya kesal bercampur malu, bagaimana jadinya jika nanti mereka satu mobil? Bisa tambah mati kutu dibuat oleh bosnya itu.
"Gak ada taksi online jam segini, bahaya! Ayo bareng aja emangnya kenapa sih? Cowokmu marah?" tanya Dito memastikan dan Vika menggeleng.
"Yasudah ayok bareng, sini.." desak Dito menggandeng tangan Vika menuju mobil lalu mereka pulang bersama.
"Dasar wanita sukanya kok dipaksa, andai aku biarkan dia beneran pesan taksi online, yakin deh dia bakal mengumpat aku dengan sumpah serapahnya, ya dibilang gak peka lah inilah itulah, wanita wanita," batin Dito geli.
__ADS_1