
Tepat jam makan siang dan jadwal bertemu klien serta pekerjaan yang tak menumpuk membuat Ryan ingin makan siang bersama istrinya tercinta, sudah lama momen makan siang bersama jarang dilakukan apalagi semenjak bisnis Dinda semakin sukses dan sudah resmi memakai produknya sendiri, kesibukan Dinda semakin bertambah. Untung saja sesibuk apapun Dinda tapi tidak pernah ia lupakan kodratnya sebagai ibu dan istri, hal itulah yang membuat Ryan semakin jatuh cinta dan tak salah memilih istri.
Tiba di kantor Dinda, tak ada Fio disana dan hanya ada karyawan biasa yang sibuk dengan job desk masing-masing, Ryan kebingungan mau bertanya pada siapa hingga akhirnya ia memilih menelpon Dinda, istrinya. Hingga deringan ketiga tak juga Dinda angkat teleponnya, Ryan semakin bingung kemana perginya Dinda, lalu Ryan memutuskan untuk menelpon Fio. Untung saja pada deringan kedua Fio sudah mengangkat telepon suami bosnya itu.
"Duh.. Kenapa pak Ryan telepon ya? Apa jangan-jangan beliau ada di kantor dan mencari istrinya? Duh jawab apa ini??" batin Fio panik.
Melihat Fio gelisah seperti itu membuat Dinda penasaran dan menanyakan apa yang terjadi. "Ada apa Fio?"
"Pak Ryan bu, beliau telepon saya, apa jangan-jangan pak Ryan ada di kantor?" jawab Fio.
"Angkat saja dan dengarkan tujuan menelponnya," pinta Dinda dan Fio menurut.
"Halo pak, selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Fio berusaha tenang.
"Tentu saja ada makanya saya sampai telepon, dimana Dinda?" tanya Ryan to the point.
Benar kan dugaan Fio jika suami bosnya ada di sana, Fio lalu memberitahu Dinda jika Ryan mencarinya dan jawaban apa yang harus dikatakan Fio.
"Katakan saja kita sedang keluar bertemu klien," ucap Dinda dan Fio mengatakan hal yang sama. Untung saja Ryan percaya dan tak menanyakan lebih, mereka berdua langsung bergegas menuju kantor agar Ryan tak curiga.
Tiba di kantor, baik Dinda maupun Fio bersikap seolah tak terjadi apa-apa agar tak ada yang khawatir juga penasaran. Padahal tanpa mereka sadari, banyak pasang mata yang memandang mereka karena keduanya basah kuyub padahal cuaca diluar sedang panas sekali. Karyawan yang melihat pun ingin bertanya namun segan, alhasil mereka memilih diam dan kembali melanjutkan pekerjaan.
Orang yang ditunggu sudah tiba namun penampilan istrinya kenapa berantakan begini? Apa yang barusan terjadi?? Banyak pertanyaan yang menumpuk di otak Ryan melihat penampilan istrinya yang basah kuyup begini. Fio pun juga sama namun penampilannya lebih parah Dinda.
"Maaf mas sudah lama menunggu, Fio.. Kamu boleh lanjutkan pekerjaanmu," ucap Dinda lalu Fio bergegas pergi.
"Kalian habis darimana?" tanya Ryan penasaran.
__ADS_1
"Habis ketemu klien mas, bukannya tadi udah dikasih tau sama Fio ya?" tanya balik Dinda.
"Seriusan habis bertemu klien?" tanya Ryan membuat Dinda kebingungan, apa maksud suaminya berkata seperti itu? Apakah suaminya tau kemana perginya tadi?? Duh..
"Ya serius mas, memangnya ada apa? Mau lunch bareng? Yuk," ajak Dinda mengalihkan obrolan.
"Aku gak yakin mengajakmu lunch jika penampilanmu berantakan seperti ini, jujurlah, kalian habis darimana? Semua orang disini tau jika cuaca diluar sangatlah panas bukan hujan, tapi kenapa kamu dan Fio pakaiannya basah sekali?" sindir Ryan yang membuat Dinda mati kutu. Ia kemudian melihat pakaiannya dan benar saja, pakaiannya basah sekali, pantas saja tadi banyak yang melihat dengan tatapan aneh, ternyata ini penyebabnya. Baik Dinda maupun Fio sama sekali tak kepikiran untuk membeli pakaian dulu sebelum kembali ke kantor, kalau begini kan Dinda bingung mau memberi penjelasan apa. Gak mungkin dong dia berbicara jujur, bisa berabe nanti.
"Sayang? Are you okay?" tanya Ryan mendekati istrinya.
"I'm okay mas, i'm fine," jawab Dinda tersenyum.
"Lalu kenapa penampilanmu seperti ini? Katakanlah dengan jujur, jangan kamu tutupi," tanya Ryan.
"Gak ada mas, gak ada masalah apa-apa kok," jawab Dinda semakin membuat Ryan curiga lalu menelpon Fio untuk ke ruangan bosnya.
"Bapak memanggil saya?" tanya Fio memastikan.
"Ya.." jawab Ryan singkat.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Fio.
"Ada.. Kenapa kalian berdua penampilannya basah seperti ini, kalian darimana saja? Apa yang sudah terjadi?" cecar Ryan dan Fio menatap Dinda untuk meminta penjelasan namun sayang sekali Dinda tak merespon apapun, sepertinya dia pasrah.
"Itu.. Kami ada janjian dengan klien pak," jawab Fio gugup.
"Jangan berbohong Fio, jika bertemu klien kenapa baju kalian basah? Mau bilang kehujanan? Sedangkan diluar sana sangatlah panas, alasan apa yang mau kalian berikan? Lagian kalau kehujanan jelas gak mungkin, kalian keluar pakai mobil," cecar Ryan yang membuat Fio tak bisa berkata-kata lagi, menghadapi seorang pengacara handal memang sangatlah sulit apalagi jika membuatnya penasaran, duh kalau jawabannya belum memuaskan bisa sampai 7 hari 7 malam nih bertanya tanpa henti.
__ADS_1
"Baiklah pak saya akan jujur, tadi saya dan bu Dinda di pantai dan kebetulan ombaknya sedang pasang jadinya pakaian kami basah seperti ini," jawab Fio semakin membuat Ryan penasaran.
"Ngapain kalian sampai sana? Kalau memang di sana tidak ada apa-apa harusnya kalian jujur dong ketika saya telepon tadi, kan saya bisa langsung kesana, kenapa kalian malah membuat rumit begini?" cecar Ryan.
"Memang tidak ada apa-apa pak, di sana kami hanya melepas penat saja, akhir-akhir ini pekerjaan sangatlah banyak," jawab Fio.
"Kenapa tidak jujur, sayang?" tanya Ryan penuh penekanan.
"Mau jujur bagaimana? Kami hanya ke pantai, kalau mas Ryan susul kesana ya gak bisa bebas dong, kasihan Fio nanti jadi obat nyamuk," kilah Dinda.
"Rasanya masih ada yang janggal, ada yang sengaja kalian tutupi, Fio katakanlah dengan jujur, kalau kamu berbohong maka kamu akan kena SP," gertak Ryan.
"Mas.. Disini kan aku bosnya jadi aku yang lebih berhak," protes Dinda.
"Dan aku adalah suami dari bos pemilik kantor ini, jadi kekuasaan saya dengan kekuasaan istri saya sama, pilih mana Fio? Mau jujur atau kena SP plus potong gaji 20℅?" gertak Ryan membuat nyali Fio ciut, jika di SP dan potong gaji nantinya dia bertahan hidup dengan apa?
"Jangan pak, saya menggantungkan hidup disini, baiklah saya akan jujur, tadi kami memang ke pantai pak bukan untuk bertemu klien, melainkan untuk bertemu teman bu Dinda yang sedang patah hati, bu Dinda kesana untuk memastikan jika temannya bakk-baik saja dan tidak melakukan hal bo-doh seperti terjun dari pantai atau hal mengerikan lainnya, ketika kami sampai kesana, temannya bu Dinda tak ada tetapi mobilnya terparkir, pikiran bu Dinda langsung buruk sehingga bu Dinda turun ke bawah menelusuri dimana temannya berada, tujuan bu Dinda sampai segitunya karena bu Dinda gak mau nantinya ada masalah yang menyangkut kan dirinya, karena temannya terakhir kali terlihat bersama bu Dinda, begitu pak," jawab Fio dengan detail.
"Siapa temannya itu dan apa yang menyebabkan dia patah hati?" tanya Ryan penasaran.
"Lebih baik bu Dinda saja yang mengatakan, ini diluar kontribusi saya pak," tolak Fio membuat Dinda kaget.
"Bagaimana sayang? Bisa dilanjutkan penjelasan nya?" tanya Ryan.
"Bisa.. Teman yang dimaksud Fio adalah Aldo, dia temanku waktu kuliah dulu dan apa yang membuat dia sampai patah hati? Jawabannya adalah aku, karena aku yang sudah membuat hatinya hancur karena ternyata dia baru tau jika aku sudah berkeluarga dan pernah gagal menikah, hal itu ia ketahui langsung karena aku yang mengatakannya ketika dia mengatakan isi hatinya, maaf aku tidak berbicara jujur karena gak mau membuat kamu terbebani," jawab Dinda merasa bersalah.
"Ayo ajak suamimu bertemu dengannya," ajak Ryan yang membuat Dinda juga Fio membelalakkan mata karena kaget.
__ADS_1