RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Perubahanmu, Mas


__ADS_3

Pulang dari rumah, tak biasanya Ryan langsung menuju ke kamar dan rebahan di ranjang, biasanya Ryan mencari dimana istri dan anak-anaknya lalu bermain bersama, perubahan yang sangat besar.


Dinda pergi ke kamar untuk meminta penjelasan suaminya itu.


"Mas..." panggil Dinda sambil duduk di tepi ranjang.


"Oh hei sayang, kamu habis darimana?" tanya Ryan.


"Habis darimana? Kamu amnesia atau gimana mas? Jelas-jelas seharian aku dirumah, yang ada itu kamu, habis darimana mas? Happy jalan-jalannya?" sindir Dinda sinis.


"Bukan gitu maksudnya.. Maksud aku tuh kamu darimana kok aku pulang gak ada kamu di kamar, untuk jalan-jalannya hari ini? Ya menyenangkan sayang apalagi ditemani Vanessa, tumben banget dia gak mau belanja apapun," jawab Ryan terlihat bahagia. Rasa penasaran Dinda langsung naik.


"Kenapa kamu gak nanya apa alasan dia gak mau belanja apapun, tumben banget kamu sedikit abai," sindir Dinda lagi.


"Maksudmu apa sih daritadi mojokin aku terus?" tanya Ryan kesal.


"Bukan memojokkan, hanya aneh saja, biasanya habis dari luar kamu tuh nyariin aku juga anak-anak, lah ini? Kamu langsung masuk ke kamar, yang kedua, Vanessa gak mau belanja gak kamu tanyain apa alasannya, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri mas, egois," cibir Dinda.


"Aku udah tanya sayang tapi Vanessa memang gak mau beli apa-apa, jangan salahin aku dong, lagian aku ini capek habis jalan-jalan mana anak kamu lari-lari lagi, untung gak hilang," protes Ryan.


"Anak kamu? Oh jadi mulai sekarang ada pembagian ya antara anak kandungku dengan anak sambung mu," sindir Dinda dengan wajah menahan amarah.


"Maaf.. Maaf bukan gitu, ah ya sudahlah aku mau istirahat dulu, capek sayang," usir Ryan.


"Ketemu siapa di mall?" tanya Dinda penuh penekanan.

__ADS_1


"Ketemu siapa? Gak ada tuh, kenapa emang?" tanya balik Ryan semakin membuat Dinda emosi.


"Beneran kamu gak ketemu siapa-siapa? Kamu mulai gak jujur mas?" sindir Dinda sinis.


"Oke.. Oke.. Aku jujur, tadi di mall gak sengaja ketemu Vika, tapi semua itu murni gak sengaja ya, aku gak tau kalau dia juga ada disana, Vanessa duluan yang ketemu Vika, dia bantuin Vanessa waktu jatuh," jawab Ryan akhirnya jujur.


"Lalu?" tanya Dinda meminta penjelasan lebih.


"Apanya? Gak ada apa-apa lagi sayang, hanya itu saja," jawab Ryan mulai marah.


"Kalau gak ada apa-apa ngapain kamu marah mas?" tanya Dinda mengintimidasi.


"Habisnya kamu gak percaya banget sama suamimu ini, mana ada aku aneh-aneh di belakang kamu, dapetin kamu aja susahnya minta ampun," ucap Ryan.


"Ya bisa aja setelah itu kalian diam-diam ketemu," tuduh Dinda.


"Ya kalau kamu ketemu di tempat sepi, bukan cowoknya yang mau kamu hajar, tapi kamu yang dihajar sama cowoknya, ngapain juga ke tempat sepi," cibir Dinda.


"Ah sudahlah.. Sana urus anak-anak dulu, aku mau tidur sebentar," usir Ryan tak mau debat lagi dengan istrinya. Baginya Dinda menganggu imajinasinya saja, padahal tadi dia sedang memikirkan hal yang menyenangkan dengan Vika.


Merasa ada yang tak beres dengan suaminya, Dinda memilih mengalah dulu, jika suatu hari terbukti benar apa yang ia rasakan, tak akan ada ampun bagi suaminya. Ia tak mau memaafkan kesalahan yang pernah ia rasakan di pernikahan pertamanya dulu. Biarlah nantinya jadi janda, lagian Dinda mampu menghidupi ketiga anaknya dengan baik, usahanya pun makin berkembang pesat.


***


Hari demi hari telah berlalu, sikap Ryan semakin menunjukkan perubahan yang sangat nyata bahkan anak-anaknya pun ikut merasakan. Dinda tak bisa tinggal diam, nanti setelah anak-anak ke sekolah, Dinda akan mengikuti kemana suaminya pergi, biarlah hari ini ia tak ke kantor, lagian dia kan ownernya, jadi bisa kapanpun libur. Yang penting Dinda sudah mengabari Fio untuk menghandle semuanya hari ini, Dinda izin gak masuk karena ada urusan keluarga, beruntung Fio orang yang tak begitu banyak tanya, jadi Dinda tak pusing memikirkan urusan apa. Biarkan nanti Fio tau jika semuanya sudah terang adanya, ia tak mau menceritakan masalahnya yang masih abu-abu.

__ADS_1


Suaminya sudah berangkat, Dinda bergegas mengikuti suaminya dari belakang menggunakan mobil, namun kali ini ia sengaja tidak memakai mobilnya agar suaminya tak curiga jika ada mobil yang mengikuti. Dinda sengaja menyewa mobil di sebuah rental, semua sudah Dinda rencanakan dengan baik.


"Semoga firasat ku salah mas, jangan membuatku mengulang luka yang sudah sembuh, sakit mas rasanya jika ternyata semuanya terulang untuk kedua kalinya," gumam Dinda berusaha tenang meskipun hatinya berdebar tak karuan.


Untuk pagi ini Ryan memang berangkat ke kantor, terbukti suaminya memarkirkan mobil di kantornya, namun itu tak membuat Dinda puas, ia dengan setia menunggu kemana saja suaminya pergi meskipun rasa boring melanda. Jam 11 siang, Ryan keluar sendirian menuju mobilnya dan segera mengendarai dengan buru-buru, Dinda langsung tancap gas mengikuti kemana suaminya pergi.


"Ini ke arah mana? Bukan arah ke rumah ataupun sekolah anak-anak, bahkan arah ke rumah orang tua mas Ryan maupun orang tuaku juga bukan, kemana perginya?" gumam Dinda penasaran.


Mobil Ryan berhenti di sebuah perumahan elite yang letaknya jauh dari kantor dan rumahnya, Dinda bingung, untuk apa suaminya pergi kesini? Ketemu klien apa harus di rumah? Ini kan termasuk pribadi.


Tak berselang lama Ryan turun dan mengetuk pintu rumah berwarna putih itu, muncul wanita seumuran ibunya Dinda yang membukakan pintu. Mereka terlihat sangat akrab bahkan tak segan wanita itu menyuruh Ryan masuk, anehnya pun Ryan juga tak merasa sungkan untuk masuk ke rumah itu.


"Ngapain mereka berdua didalam rumah? Ada siapa saja didalam sana? Apa jangan-jangan hanya merek berdua saja??" batin Dinda ber kecambuk, pikiran buruk mengotori otaknya dan menyebabkan sebuah dugaan yang takutnya nanti keliru.


Tak mau gegabah, Dinda mencoba menghubungi suaminya untuk menanyakan ada dimana, Dinda mau mengetes apakah suaminya jujur atau tidak.


Cukup lama Ryan mengangkat telepon Dinda, hal itu semakin membuat hati Dinda cemas bukan main.


"Halo sayang? Ada apa?" tanya Ryan setengah berbisik, terlihat sedang menyembunyikan sesuatu. "Kenapa bicaramu seperti itu mas? Kamu lagi dimana?" tanya Dinda curiga.


"Aku dimana? Ya jelas kerja dong memang kemana lagi? Aku lagi ada meeting nih," jawab Ryan membuat hati Dinda merasa nyeri.


"Meeting?" tanya Dinda penuh penekanan.


"Iya.. Kenapa? Gak percaya? Ntar aku kirim fotonya kalau gak percaya, udah dulu ya biar meeting segera selesai," jawab Ryan lalu mematikan panggilan sepihak.

__ADS_1


Air mata Dinda luruh dengan sendirinya, hatinya sungguh sakit ketika suaminya tidak jujur, kenapa sekarang suaminya tega membohongi dirinya? Apakah suaminya sudah mulai bosan? Jika iya.. Kenapa tidak bicara jujur saja, lebih baik jujur di awal dan merasakan sakit daripada bersikap manis namun penuh kepalsuan.


__ADS_2