
Rio sebenarnya malas sekali datang menemui istrinya, sudah lega ketika tau suaminya menjadi buron mengapa sekarang muncul lagi di kehidupannya.
"Andai Sisil sekarang ini masih menjadi buron pastinya hidup gue tenang, gak perlu lagi gue susah payah jenguk Sisil," batin Rio kesal sembari masuk ke kantor polisi.
"Selamat pagi pak Rio, senang sekali akhirnya anda hadir," ucap pak polisi ramah dan mereka berjabat tangan.
"Selamat pagi pak.. Bagaimana perkembangan kasus istri saya? Apakah ada hasil?" tanya Rio basa-basi.
"Istri anda sudah kami tangkap dan langsung kami taruh di sel, kini istri anda sudah resmi menjadi tersangka dengan masa hukuman yang lalu gugur, jadi istri anda mengulang dari awal masa hukumannya mulai kemarin," ucap pak polisi dengan lugas.
"Kasihan sekali Sisil harus mengulang masa tahanannya, tapi salah sendiri dia main kabur dan jadi buron," batin Rio kasihan.
"Baiklah.. Boleh saya bertemu istri saya pak?" tanya Rio.
"Boleh.. Silahkan menunggu di sana," ucap pak polisi menunjuk ruang kunjung tamu lalu Rio duduk di sana.
Menunggu beberapa menit kini Rio bertemu dengan Sisil dengan kondisi Sisil yang semakin mengenaskan, bahkan menyedihkan.
"Sisil.. Inikah kamu?" tanya Rio tak percaya.
"I..Iya mas. Kamu malu ya?" tanya Sisil sedih.
"Bukan begitu, aku kaget saja dengan perubahan drastis pada dirimu, padahal kamu kabur cukup lama kan? Apa gak kamu gunain uang yang kamu curi itu untuk perawatan?" tanya Rio heran.
"Uangnya hanya terpakai 100 juta mas sisanya aku bekerja, tidak ada waktu untuk merawat diri dengan statusku sebagai buron," jawab Sisil menunduk sedih.
__ADS_1
"Dalam waktu 3 bulan kamu menghabiskan 100 juta saja? Ini beneran? Ini suatu prestasi loh," tanya Rio tak percaya.
"Cek saja saldonya kalau mas Rio tak percaya," jawab Sisil pasrah.
"Tak perlu.. Tadi hanya kaget saja, oh iya aku mau tanya apa yang mendasari kamu untuk kabur?" tanya Rio penasaran.
"Karena aku.. aku.. aku gak mau pisah dari kamu mas, lagian aku gak kuat hidup di penjara, waktu itu aku hampir mati di keroyok orang banyak mas hiks.. hiks.." ucap Sisil berlinang air mata.
"Itu semua karena ulah kamu sendiri, makanya jangan merusak kebahagiaan orang.. Dinda sudah bahagia dengan semua pencapaiannya dan semua itu tidak pernah dia merepotkan atau bahkan memusuhi mu, mengapa kamu segitu dendam padanya?" tanya Rio heran.
"Karena kamu mas.. Kamu adalah alasan terbesarku melakukan hal gila ini, karena aku takut kamu kembali lagi dengan Dinda.. Karena aku juga takut kalau nanti hartamu sepenuhnya jatuh ke tangan anak-anaknya Dinda.. Aku takut kalau nantinya aku tidak mendapatkan apapun, tidak mendapatkan mu juga hartamu," ucap Sisil tersedu.
"Astaga pikiranmu rakus sekali pantas saja kamu di tegur oleh Tuhan seperti ini, semoga dengan kamu berada di sini nantinya membuka mata dan pikiranmu untuk hidup lebih baik.." tegur Rio.
"Pikiranmu saja sudah jelek seperti itu pasti selamanya kamu akan berpikir buruk," ucap Rio kesal.
"Asalkan mas Rio masih mempertahan ku dan tidak terlalu ikut campur dalam hidup Dinda maka aku berjanji akan hidup damai mas," pinta Sisil.
"Aku tidak bisa berjanji jika itu mengenai tentang Dinda dan kedua anak-anak," ucap Rio sendu.
"Mas aku ini masih istri sah mu dan aku ini kamu nikahi secara sadar tanpa aku memaksa, kenapa sampai sekarang kamu tidak pernah sekalipun tidak memikirkan Dinda, kamu selalu saja memikirkannya dan kamu selalu saja ikut campur dengan apapun mengenai Dinda, aku seperti tidak ada artinya lagi di hidupmu mas," ucap Sisil sakit hati.
"Kamu masih istriku dan maaf jangan melarang ku untuk menghindari Dinda dan kedua anaknya, aku gak bisa," Pinta Rio.
"Untuk kedua anak kalian oke mas aku bisa mengerti karena baik Vanessa maupun Farel itu anak kandung mu, tapi tidak untuk mamahnya," protes Sisil.
__ADS_1
"Ya kenyataannya aku gak bisa jauh dari mereka, gimana dong?" tanya Rio egois.
"Susah ngomong sama kamu mas.. Capek rasanya, aku seperti berjuang sendiri, aku pikir setelah aku masuk di sini bisa membuka pikiranmu bahwa rasa cinta dan sayangku padamu begitu besar," ucap Sisil dengan sepenuh hati.
"Malah yang ada aku kecewa denganmu karena kamu sudah mengusik hidup Dinda dan kamu sudah merusak usaha yang ia bangun dengan penuh perjuangan," ucap Rio.
"Aku melakukan semua itu karena kamu terus menerus mendekati dia," ucap Sisil kesal.
"Karena aku peduli padanya," bantah Rio.
"Dan kamu mengabaikan aku mas, istrimu yang selalu merasa kesepian, kamu mau tau mengapa aku selalu keluar rumah dan pulang sering malam? Semua aku lakukan karena aku kesepian mas, kesepian..." ucap Sisil penuh penekanan.
"Mengapa kamu kesepian? Memang kenyataannya kamu hanya foya-foya saja dan dengan teganya kamu mengambil uang perusahaan suami kamu sendiri, uang perusahaan loh ini," sindir Rio.
"Ya kesepian dong mas, kamu berangkat kerja pagi hari dan sering pulang malam hari, otomatis kalau aku di rumah pasti kesepian, apalagi setelah pulang kerja kamu langsung tertidur dengan alasan capek, mana pernah kamu menganggap aku ini baik? Selalu saja kamu menganggap aku buruk dan tidak becus menjadi istri, coba kalau kamu pulang sore hari dan meluangkan waktu untuk berkomunikasi denganku, sudah pasti aku tidak mencari pelarian di luar sana mas.." ucap Sisil berkeluh kesah.
"Itu akal-akalanmu saja karena ingin terbebas dari tuduhan ku, faktanya memang begitu jadi jangan lagi membantah.. Duk ketika Dinda menjadi istriku mana pernah dia keluyuran dan pulang seenaknya, gak pernah.. Dia lebih memilih di rumah sambil belajar masak supaya bisa memasak makanan untukku, itu baru yang namanya istri.." sindir Rio.
"Tuh kan Dinda lagi Dinda lagi, sudah aku duga mas.. Sampai pegal telingaku mendengar pembelaan mu pada Dinda.. Dia ya dia jangan di bandingkan denganku, Dinda punya cara sendiri menyenangkan suami yaitu dengan masakan sedangkan aku juga punya cara sendiri untuk menyenangkan suami, setiap wanita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.. Jangan kamu menginginkan seseorang yang sempurna jika kamu saja selalu mencari celah kejelekan orang lain," sindir Sisil sudah sangat muak.
"Dinda pandai dalam segala hal dan dia pandai sekali menyenangkan aku, jadi aku tidak pernah mencari celah kesalahan orang lain karena bagiku kesalahan Dinda sangatlah minim bahkan tidak berbekas," ucap Rio sangat membela Dinda.
"Mas apa kamu sadar mengatakan itu semua? Dia sudah menjadi mantan istri sedangkan aku ini yang benar-benar istrimu, seharusnya aku yang kamu bela bukan malah dia.. Gak di rumah gak di penjara kerjaan mu hanya cari ribut saja denganku" ucap Sisil sangat muak.
"Karena kamu dulu yang memulainya dan kamu memang pantas untuk di tegur supaya lebih mengerti dimana kesalahanmu itu," ucap Rio jengah.
__ADS_1