
Setelah diberi semangat dan pencerahan dari sang mamah, kini Sisil kembali menemukan arti hidup yang sesungguhnya, kehidupan yang dulu kini kembali lagi.. Sisil merasakan kebebasan dan kelegaan atas pilihannya sendiri.
Hampir 2 bulan Sisil kabur dari rumah suaminya namun hingga detik ini tak pernah sekalipun sang suami menghubungi atau pun menjemputnya, padahal Sisil sudah mengabari jika posisinya ada di rumah ibunya. Menyadari akan itu membuat Sisil kini lebih menerima keadaan bahwa hati suaminya sudah bukan lagi untuknya, kini yang ada di hati mas Rio adalah Dinda.. Mantan istri yang sampai detik ini selalu ada di pikiran suaminya.
"Benar kata mamah jika aku harus bangkit dan membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa mas Rio.. Tapi kalau untuk bekerja? Dimana aku mencarinya?" batin Sisil terus mencari info lowongan pekerjaan dari teman ke teman namun hasilnya nihil. Malah ada yang menganggap jika Sisil hanya bercanda ketika Sisil tanya ingin meminta pekerjaan, mereka pikir Sisil masih sama seperti yang dulu yang hidupnya penuh akan kemewahan.
Merasa suntuk di rumah kini Sisil memutuskan untuk pergi ke kafe sembari mencari info lowongan pekerjaan.
"Mau kemana Sil?" tanya mamah Ira.
"Keluar bentar mah cari angin," jawab Sisil.
"Cari kerja dulu dong jangan kelayapan terus," cibir Ira.
"Ini Sisil juga sambil cari kerja mah, emang mamah pikir cari pekerjaan itu gampang apa," jawab Sisil kesal.
"Makanya udah tau dapat duit banyak malah sukarela dikembalikan lagi, dasar.." gerutu Ira.
"Mah udah deh Sisil malas bahas itu mulu," ucap Sisil dan langsung berlenggang pergi.
"Dikasih tau yang bener malah protes, dasar.." gerutu Ira menatap kepergian anaknya.
Dulu kemana pun Sisil pergi selalu ada sopir pribadinya yang siap mengantar, kini kemana pun Sisil pergi harus menggunakan taksi online. Hah.. Memang hidup tak selamanya di atas terus.
Setelah tiba di kafe, Sisil pun duduk di meja paling pojok belakang sambil memesan jus alpukat. Ingin sekali Sisil memesan makanan namun uangnya makin lama makin menipis.
Tak di duga di sana Sisil bertemu dengan teman kuliahnya dulu yang bernama Ronald.
"Itu Sisil bukan ya?" gumam Ronald lalu menghampiri Sisil.
"Maaf.. Kamu Sisil bukan?" tanya Ronald memastikan dan Sisil yang sedang main ponsel langsung memandang Ronald.
"Ya benar.. Kamu Ronald kan?" tanya balik Sisil.
"Ya betul sekali.. Udah lama ya kita gak ketemu, daritadi aku perhatiin dari jauh sepertinya kayak kenal ni orang terus aku hampiri ternyata benar.." ucap Ronald.
"Iya lama banget terakhir waktu lulus kuliah ya," jawab Sisil membenarkan.
"Iya mungkin aku juga lupa.. Btw gimana kabarmu?" tanya Ronald.
__ADS_1
"Kabar baik.. Gimana kabarmu?" tanya Sisil.
"Ya baik juga, denger-denger kamu udah menikah ya? Udah punya anak berapa?" tanya Ronald.
"Iya udah.. Sampai sekarang belum ada anak," jawab Sisil sendu.
"Ooo.. Maaf bukan bermaksud menyinggung," ucap Ronald tak enak hati.
"Its okay ini bukan salahmu kok, memang takdirnya begini. Oh ya kamu kerja dimana?" tanya Sisil mengalihkan obrolan.
"Kerja di PT Prakasa Husada, kamu kerja apa di rumah?" tanya balik Ronald.
"Itu perusahaan benefit ya, aku lagi mau cari kerja nih.. Ada loker gak di kantormu?" tanya Sisil.
"Iya benefit dan salah satu perusahaan besar, hmm belum tau aku, coba minta kontak mu sini nanti kalau ada info aku kabari," ucap Ronald memberikan ponselnya agar Sisil mencatatkan nomornya.
"Ah modus deh," ucap Sisil tersenyum dan Ronald hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, beberapa detik kemudian Sisil mencatatkan nomor hpnya.
"Thanks.." jawab Ronald senang dan Sisil hanya mengangguk saja.
"Maaf nih gak bisa nemenin lama-lama soalnya masih ada perlu," ucap Ronald sungkan.
"Next time boleh lah meet up," ajak Ronald.
"Ok.. No problem," jawab Sisil mengiyakan dan Ronald sungguh senang mendengarnya.
Setelah kejadian tak sengaja bertemu di kafe membuat hubungan keduanya semakin intens, Ronald terus mendekati Sisil tanpa mempedulikan status Sisil yang masih istri orang. Begitu pun dengan Sisil yang mulai merasa nyaman berkomunikasi dengan Ronald, perhatian kecil yang diberikan adalah hal yang dibutuhkan Sisil selama ini.
Sisil rindu masa dimana suaminya memberlakukan dan menyayanginya sepenuh hati, kini semua hanyalah khayalan semata.
Keduanya pun memutuskan untuk kembali bertemu di kafe yang sama. Sisil berdandan secantik mungkin agar terlihat menarik di hadapan Ronald.
"Perfect.. Andai mas Rio masih peduli padaku mungkin aku gak bakal mencari kesenangan diluar," batin Sisil sambil bercermin.
Ting.. Sebuah chat masuk di ponsel Sisil.
"Are you ready Sil?" tanya Ronald.
"Ready dong.. Bentar lagi aku otw," jawab Sisil.
__ADS_1
"Biar aku jemput, rumahmu masih yang lama kan?" tanya Ronald.
"Masih dong.. Emangnya kamu masih ingat rumahku?" tanya Sisil.
"Tentu dong.. Rumah orang tercantik sekampus masak gak ingat sih," goda Ronald dan Sisil tersipu malu.
Setelah tiba di kafe keduanya berbincang dengan seru, keduanya pun saling nyambung satu sama lain hingga tak ada lagi kecanggungan diantara keduanya. Suasana cair begitu saja..
"Sil ada info lowongan di kantorku namun bagiannya sebagai pegawai kantor biasa, kamu mau gak?" tanya Ronald.
"Mau dong.. Rezeki masak di tolak sih, kapan aku kirim CV nya," ucap Sisil antusias.
"Secepatnya ya.. Nanti sepulang dari sini juga gak papa biar sekalian aku bawa besok ketika berangkat kerja," ucap Ronald.
"Yee mana bisa mendadak, paling gak ya besok dong.. Nanti aku kirim ke kantormu langsung saja ya biar gak bolak balik," ucap Sisil.
"Hmm baiklah.. Maaf nih bukannya aku ikut campur tapi aku mau nanya ke hal lebih pribadi apakah boleh?" tanya Ronald.
"Hmm boleh apa itu?" tanya Sisil penasaran.
"Kamu kerja apa dibolehin sama suamimu? Kalau gak salah denger nih ya, bukannya suamimu itu CEO?" tanya Ronald hati-hati.
"Ya kamu benar.. Suamiku memang CEO Suganda Grup, tau dong itu perusahaan apa? Namun ya kehidupanku tak selalu mulus seperti yang orang lain pikirkan," ucap Sisil sedih.
"I'm sorry.. Kalau boleh tau memang suamimu gak memberi nafkah?" tanya Ronald.
"Ya memberi tapi itu dulu ketika aku masih tinggal di rumahnya, hampir 2 bulan ini aku memilih tinggal di rumah mamah dan mulai saat itu kami sudah lost kontak," jawab Sisil dan membuat Ronald simpati.
"Memang masalah kalian sangat berat ya sampai kamu memutuskan kabur dari sana?" tanya Ronald penasaran.
"Bukan berat lagi namun lebih ke tertekan, mamah mertua sudah tidak sayang lagi denganku dan meminta anaknya untuk bercerai dariku, itu salah satu penyebab yang membuat aku memilih kabur dari sana, ketika aku kabur pun tak ada tuh suami apa mertua mencegahku," ucap Sisil kesal.
"Kok mereka tega banget sih? Setahu aku ya istri kalau keluar rumah itu suami wajib menjemput istrinya dan pulang ke rumah," ucap Ronald.
"Ya itu suami yang benar dan bertanggung jawab, beda dengan suami ku.. Ah malas banget bahas dia dan keluarganya yang ada aku emosi sendiri, pengorbanan yang aku lakukan tak ada artinya dimata mereka," ucap Sisil hampir berlinang air mata namun berhasil ia tutupi.
"Jika mau menangis maka menangis lah, keluarkan semua beban yang ada di hati dan pikiranmu, aku siap mendengarkan semua curahan hatimu kapanpun kamu mau," ucap Ronald mencoba memahami kondisi Sisil.
"Thanks ya.. Setidaknya sekarang beban ku sedikit berkurang," ucap Sisil lega dan Ronald tersenyum manis.
__ADS_1
"Akhirnya ada kesempatan juga untukku mendekati Sisil, gak papa deh masih suami orang toh suaminya sekarang gak memperdulikan nya kan?" Batin Ronald.