
Kebutuhan rumah mulai menipis, Dinda mencatat apa saja yang perlu dibeli setelah itu pergi berbelanja.
"Tumben banyak amat yang habis, efek terlalu terlena pada masalah ya gini nih, kebutuhan rumah terbengkalai," gumam Dinda yang mencatat apa saja yang habis hingga satu kertas penuh.
Mengendarai mobil ke sebuah supermarket dengan kecepatan rendah membuat Dinda bisa merilekskan diri sejenak.
Tiba di supermarket, Dinda memarkirkan mobil dengan leluasa karena supermarket tak begitu ramai.
Ketika Dinda sedang memilih buah yang segar dan akan menimbang, tak sengaja dia menabrak seorang pria bertubuh tinggi dan memakai masker.
"Aduh.. Maaf mas aku gak sengaja," ucap Dinda menelungkup kan tangan.
"Ya.. Eh bentar deh, mbaknya itu bukannya yang beberapa waktu lalu ada di hotel daerah Sukabumi?" tanya pria itu memastikan.
"Luxurious hotel maksudnya?" tanya Dinda memperjelas.
"Iya.. Yang suaminya terkena skandal itu kan?" tanya pria itu yang kembali membuka luka Dinda.
"Iya.." jawab Dinda lirih karena malu.
"Mbak gak inget siapa saya?" tanya pria itu membuka maskernya.
"Masnya itu bukannya.." jawab Dinda tertahan sambil berpikir keras.
"Saya calon suaminya Vika, mantan pacar dari suami mbak," jawab pria yang ternyata Dito.
"Ohh.. Yaya aku baru ingat, maaf ya saya lupa soalnya anda pakai masker," jawab Dinda.
"Gak papa.. Lagi belanja mbak?" tanya Dito ramah.
"I..iya, btw kok kamu sendirian, Vika mana?" tanya Dinda mulai risih karena mereka sama-sama tak membawa pasangan.
"Vika ada di rumah, boleh gak mbak setelah berbelanja kita berbincang sebentar?" tanya Dito.
"Mau membahas apa mas?" tanya Dinda memastikan.
__ADS_1
"Nanti tau sendiri mbak, setelah selesai saya tunggu di resto deket sini ya," ucap Dito.
"Bentar lagi aku selesai kok mas, tunggu aja, kita kesana bersama ketimbang nantinya nyasar," ucap Dinda dan Dito setuju.
Setelah menunggu Dinda selesai berbelanja, mereka menuju restoran cepat saji yang dekat dari tempat berbelanja kebutuhan. Sebelum memulai pembicaraan, terlebih dahulu Dito meminta Dinda untuk memesan makanan terlebih dahulu, awalnya Dinda menolak namun akibat desakan Dito akhirnya Dinda setuju.
"Gini kan enak mbak, ngobrol sambil makan, biar gak terlalu tegang," ucap Dito sambil menyantap makanannya.
"Ada pembahasan apa memangnya?" tanya Dinda.
"Mengenai pasangan kita mbak, apa sampai sekarang anda sudah bisa memaafkan suami anda?" tanya Dito dengan hati-hati.
"Untuk itu.. Entahlah aku pun juga gak tau," jawab Dinda bingung.
"Anda saja yang sudah berumah tangga bingung mau memaafkan atau tidak, apalagi dengan saya mbak? Kurang 2 minggu lagi kami menikah," ucap Dito pilu.
"Berarti anda sudah bisa memaafkan Vika, nyatanya kalian tetap melanjutkan pernikahan," ucap Dinda.
"Ini semua bukan kemauan ku, berhubung mamahku terkena struk ringan dan ingin segera melihat aku menikah dengan Vika, makanya dengan terpaksa aku melanjutkan ini," jawab Dito tak bahagia.
"Aku gak sampai hati mengatakan kebenarannya pada keluargaku," ucap Dito.
"Memang lebih baik jangan mengumbar aib, tapi kalian kan mau menikah, jika semua dilakukan karena terpaksa lebih baik jangan," ucap Dinda.
"Aku gak tau harus bilang apa sama keluargaku, terlalu malu untuk mengatakan semua," ucap Dito.
"Sudah bicara dari hati ke hati dengan Vika?" tanya Dinda.
"Belum.. Semenjak kejadian itu, hubunganku dengan Vika buruk, memang sih Vika selalu berusaha untuk membujukku agar memaafkannya tapi jika melihat betapa menjijikkannya mereka, rasanya gak sanggup," jawab Dito.
"Cobalah berbicara pada Vika dan tanyakan apa yang ia mau, jika dia mau melanjutkan hubungan ya coba saja beri kesempatan, siapa tau Vika beneran berubah, nyatanya setelah membuat surat pernyataan itu, baik suamiku maupun Vika tak lagi saling komunikasi, sepertinya Vika memang memblokir nomor suami saya," jawab Dinda.
"Ya semoga saja mbak, tapi namanya orang selingkuh mustahil untuk sembuh," ucap Dito.
"Itu semua tergantung kepribadiannya," jawab Dinda yang melihat secara langsung atas kejadian yang menimpanya dimasa lalu, bagaimana perubahan besar yang dilakukan Rio sekarang. Dinda yakin orang berselingkuh jika memang berniat untuk berubah pasti akan berubah.
__ADS_1
"Apa yang membuat anda belum bisa memaafkan suami anda? Karena perbuatannya kan?" tanya Dito.
"Benar.. Karena perbuatan yang diluar batas dan kata-kata ingin mengajak Vika menikah," jawab Dinda.
"Tapi kalian masih satu rumah?" tanya Dito yang dijawab anggukan kepala Dinda.
"Apa yang membuat anda bersedia menerima kepulangan suami anda padahal sudah jelas dia berselingkuh?" tanya Dito penasaran.
"Karena anak.. Anak-anak tidak bersalah dan tidak terlibat dalam masalah ini, jadi aku gak mau menjadikan anak-anak korban," jawab Dinda.
"Jika anda masih memikirkan anak-anak dan menerima kehadiran suami anda di keluarga kecil anda, kenapa anda tidak memaafkan kesalahannya?" tanya Dito masih penasaran.
"Itu yang membuatku bingung, memang benar sampai sekarang aku belum bisa memaafkannya tapi disatu sisi ada anak-anak yang butuh sosok ayah, mau bagaimana pun jika kami nantinya berpisah, tak ada yang namanya mantan anak," jawab Dinda berusaha menahan air matanya agar tak tumpah.
"Jika dilihat sebenarnya kami berdua ini korban, kami yang tersakiti tapi kami yang harus berusaha untuk memaafkan kesalahan mereka, saya melanjutkan pernikahan karena mamah saya yang sedang sakit sedangkan anda karena figur ayah, terasa rumit tapi harus dihadapi" ucap Dito.
"Ya begitulah.. Namanya juga hidup, tak bisa selamanya sesuai keinginan kita," jawab Dinda.
"Benar.. Benar sekali, ya semoga saja aku bisa menerima Vika dengan baik dan semoga saja nantinya dia benar sudah berubah," harapan Dito.
"Aamiin.. Kalian masih muda, jalannya masih panjang apalagi kalian belum ada anak, mudah bagi kalian mengambil keputusan yang terbaik, memang kami berdua pihak yang disakiti dan dipaksa untuk menerima itu, meskipun sulit tapi ya mau bagaimana lagi, saya harus mempertahankan suami karena anak sedangkan kamu karena mamah kamu, mungkin memang sudah takdirnya perjalanan cinta penuh drama seperti itu, siapa tau dibalik semua ini bisa sama-sama saling menguatkan," ucap Dinda.
"Bahagia sekali pria yang bisa menjadi pendamping anda, kenapa dia bo-doh sekali dengan mempermainkan sebuah pernikahan," ucap Dito.
"Semua manusia terkadang ada salahnya, tak semua orang bisa selalu baik, namanya juga manusia kan tak luput dari salah," ucap Dinda.
"Pemikiran anda luas sekali, saya pun tak sampai kepikiran ke arah sana," ucap Dito kagum.
"Besok kamu juga akan bisa, pengalaman adalah guru terbaik dan setiap pengalaman memiliki kesan pesan tersendiri," ucap Dinda.
"Jika nanti undangan pernikahan saya sudah jadi, tak lupa saya akan mengundang anda," ucap Dito.
"Oke.. Saya akan usahakan datang, saya rasa cukup ya pertemuan kita ini, saya pamit dulu, permisi," pamit Dinda.
"Cantik, pintar, memiliki kepribadian baik dan pandai dalam situasi apapun, sebenarnya paket komplit tapi sayang sekali suaminya konslet!" umpat Dito yang juga berjalan pulang.
__ADS_1