
Setelah kepergian Rio kini Sisil merasa sangat sedih, ia tidak menyangka kalau akhirnya akan berakhir seperti ini.
"Gue di penjara dan mas Rio gugat cerai, apalagi yang harus gue harapin? Buat apa gue hidup? Semuanya sudah tidak berguna lagi bukan? Siapa yang akan peduli denganku?" gumam Sisil frustasi.
Meta yang melihat Sisil terus bergumam seorang diri merasa kasihan, sepupu yang dulunya terlihat cantik, mempesona dan hidup bergelimang harta namun keadaan seolah berbalik dengan cepat.. Roda berputar terlalu cepat hingga Sisil tidak bisa menerima ini semua..
"Sebenarnya gue kasihan lihat Sisil seperti ini, dia bukan Sisil yang dulu lagi, sekarang penampilannya dekil, lusuh, kulit kusam, rambut awut-awutan, ah tapi mau gimana lagi ini semua kan karma yang harus ia terima, dia sudah terlalu menyakiti Dinda tetapi yang bersangkutan tidak pernah membalas, mungkin ini pembalasan yang langsung di datangkan oleh Tuhan untuk Sisil.. Ah andai saja gue gak ikut dalam masalahnya pasti hidup gue sekarang tenang dan bisa kerja dengan baik, waktu itu gue terlalu bodoh hanya karena di iming-imingi uang gue gak pernah memikirkan bagaimana dampak ke belakangnya, memang sih Sisil membayar sesuai perjanjian tapi kalau akhirnya masuk bui buat apa gue punya duit sebanyak itu," batin Meta merutuki dirinya.
Sisil yang melihat Meta terus memperhatikannya merasa risih, apalagi tatapan yang diberikan oleh Meta adalah tatapan penuh kasihan.
"Ngapain loe lihatin gue segitunya? Senang? Puas?" tanya Sisil emosi.
"Gue kasihan dengan nasibmu yang sekarang, andai kabar ini sampai ke telinga banyak orang dan mereka semua menjengukmu, gue gak bisa bayangin bagaimana ekpresi mereka nantinya.. Urusan gue bangga atau pun puas, justru salah besar.. Sekarang yang gue rasa adalah penyesalan, sangat menyesal.. Buat apa gue banyak duit kalau gak bisa menikmatinya?" cibir Meta kesal.
"Jangan macam-macam atau bahkan menyebarkan ini ke semua orang, awas saja lo.." ancam Sisil.
"Haha kamu itu bo doh apa gimana Sil? Kita sama-sama seorang narapidana dan bagaimana cara gue menyebarkan berita kalau lo masuk bui? Mikir dong.." ejek Meta tersenyum kecut.
"Ya siapa tau ketika ada yang mengunjungi mu trus lo bilang kalau gue juga ikut terseret kesini," terka Sisil.
"Gak ada yang mengetahui kalau gue masuk bui, nyatanya sampai sekarang yang menjenguk gue hanya Dinda itu pun di hari pertama gue ditetapkan sebagai tersangka, jadi ya gue setidaknya gak begitu sedih karena tidak menjadi beban keluarga," ucap Meta sedih.
"Dari dulu mana ada yang peduli denganmu? Keluargamu saja acuh, jadi ya wajar aja kalau gak ada yang mengetahui posisimu di sel," ejek Sisil.
__ADS_1
"Ya itu memang benar, setidaknya gue bangga karena gue bisa berdiri seperti ini karena kedua tangan dan usaha gue ya meskipun sekarang gue masih apes karena jadi tahanan, tapi setidaknya setelah bebas dari sini gue akan menjalani hidup dengan baik dan tidak akan membuat hidup seseorang hancur lagi, cukup Dinda yang menjadi korban keegoisan dan keserakahanku," ucap Meta dengan rasa menyesal.
"Ah gak asik.. Mana bisa hidupmu maju kalau lo punya pemikiran seperti itu? Gue aja bakal mengupayakan segala cara agar bisa bebas dan membalas dendamku," ucap Sisil penuh dendam.
"Gue udah kapok mendapat musibah seperti ini, kalau lo masih mau berlanjut ya silahkan tapi gue angkat tangan," ucap Meta pasrah.
"Tanpa bantuan darimu gue pun bisa melakukannya sendiri," ucap Sisil angkuh.
"Terserah.. " jawab Meta kesal dan lebih memilih mengalah ketimbang beradu argumen dengan Sisil.
Waktu makan siang pun tiba, Sisil dan Meta sedang berbaris untuk antre makanan. Setelah mendapat giliran dan memilih tempat duduk, Sisil merasa tidak terima karena makanan yang disajikan sangat tidak enak.
Brak... (Sisil menggebrak meja cukup keras hingga banyak orang sesama tahanan menoleh kaget) "INI MAKANAN APAAN, YANG BENAR SAJA DONG KALAU KASIH MAKAN ORANG.. RASANYA PUN GAK ADA ENAKNYA SAMA SEKALI, NIAT KASIH MAKAN GAK SIH, HA?!!" pekik Sisil tak terima dan melempar makananya ke lantai, kebetulan sekali sebelah mejanya adalah tahanan yang paling ditakuti disana, Sisil melempar makanan dan tidak sengaja mengenai kaki orang itu.
"WOY.. SINI LOE," Teriak Nur dengan raut wajah galak.
"Ogah banget.. Siapa lo nyuruh-nyuruh gue," jawab Sisil dengan sombongnya.
"Oh lo nantangin gue rupanya, baik," ucap Nur tersenyum sinis dan berjalan menuju meja Sisil dan Meta.
"Semua sudah mendapatkan tempat duduknya jadi jangan asal serobot aja," sindir Sisil kesal.
"Makin lama lo makin kurang ajar ya, perlu diberi tau bagaimana caranya sopan santun dengan yang lebih senior," ucap Nur dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Cih.. Lebih senior? Situ merasa hebat karena sudah lama berada disini? Kok bangga banget sih, harusnya malu dong," cibir Sisil tersenyum kecut.
*plak*(Nur menampar pipi Sisil sangat keras hingga menimbulkan warna kemerahan) "GUE UDAH MEMBERIMU KESEMPATAN NAMUN SIKAPMU SEMAKIN LAMA MAKIN MEMBUAT GUE KESAL!! LO ORANGNYA SUKA CARI RIBUT," pekik Nur.
"WOY BAGAIMANA BISA LO ASAL TAMPAR, JANGAN PIKIR GUE AKAN TAKUT!!!" pekik Sisil lalu menampar balik.
"KURANG AJAR!! DASAR JA LA NG!!" pekik Nur lalu memukul wajah Sisil dengan keras hingga mengeluarkan darah di hidungnya. Tak sampai disitu saja, rambut Sisil dijambak sampai tengahnya botak, Nur lalu memanggil geng nya dan menghajar Sisil habis-habisan.
Tak ada narapidana yang berani menolong Sisil karena semuanya takut akan amukan Nur dan kawannya. Sebenarnya mereka tidak tega melihat Sisil merintih kesakitan dan meminta tolong namun apalah daya, jika ada yang berani menolong maka ia juga akan dihajar bahkan lebih sadis.
"Sil.. Maafin gue gak bisa menolongmu, lo sih pakai cara nantangin segala, jadi gini kan," batin Meta berlinang air mata karena tidak tega melihat Sisil babak belur seperti itu.
Melihat ada keributan, petugas keamanan pun segera merelai mereka dan Sisil dibawa ke klinik karena kondisinya yang memprihatinkan.
"ADA APA INI? WAKTUNYA MAKAN SIANG MALAH BERTENGKAR, UDAH JAGOAN?" pekik petugas dengan tegas.
"Dia duluan yang memulai jadinya gue hanya menyeimbangi saja sekaligus memberikan salam kenal agar nantinya semakin akrab," ucap Nur tanpa merasa takut dan bersalah.
"Sudah.. Sudah kau selalu saja berbuat ulah, hukuman mu nantinya akan bertambah berat dan bisa saja kamu di tempatkan di ruang isolasi," ucap petugas dengan serius.
Lalu petugas kepolisian segera membawa Sisil ke klinik untuk mendapatkan penanganan sesegera mungkin.
"Sil maafin gue.. Semoga kamu kuat dan bisa menjalani sisa hukuman dengan baik," gumam Meta melihat Sisil dibawa ke klinik dengan kondisi mengenaskan.
__ADS_1