
6 bulan sudah kini Ryan dan Dinda menjalani kedekatan, sebenarnya Dinda pun merasa nyaman berada di dekat pengacaranya itu namun ia harus kubur dulu perasaannya sedalam mungkin karena ia masih ingin fokus dengan kedua anaknya dan juga usahanya yang semakin hari semakin ramai.
Dinda yang memulai usahanya menjadi reseller lama kelamaan kini dia sudah menjadi supplier, pencapaian yang sangat luar biasa mengingat permasalahan yang menimpanya cukup menguras energi dan pikiran, untung saja pengacaranya tidak memungut biaya sepersen pun ketika menangani kasusnya, sehingga Dinda merasa bersyukur setidaknya uang yang harusnya ia gunakan untuk membayar pengacara ia putar untuk modal usahanya agar semakin besar.
Seperti minggu ini, jam 9 siang Ryan sudah menyambangi kediaman Dinda untuk mengajak jalan-jalan.
"Dinda," sapa Ryan lembut sambil mengetuk pintu.
"Om pengacara.. Hore om kesini," seru Vanessa kegirangan.
"Hai gadis cantik, mommy kemana? Mau gak jalan-jalan?" rayu Ryan lembut.
"Tentu saja mau dong om, ayo berangkat sekarang," ucap Vanessa antusias.
"Eitss.. Panggilin mommy dan izin dulu sama dia, oke?" ucap Ryan lembut dan Vanessa memanggil Dinda dengan sangat antusias.
"Pak Ryan kok udah sampai disini?" tanya Dinda terkejut.
"Hehe iya bu maaf habisnya ini weekend dan saya ingin mengajak Vanessa dan Farel jalan-jalan, apa boleh?" tanya Ryan penuh harap.
"Mau kemana pak?" tanya Dinda memastikan.
"Berenang mungkin," jawab Ryan sambil berpikir.
"Ayo dong mom izinin.. Udah lama loh kita gak main di luar, ayo mom.." rengek Vanessa.
"Iya deh kalian boleh pergi tapi janji jangan bandel ya," ucap Dinda mengalah dan kedua anaknya bersorak riang.
Kini mereka sudah tiba di sebuah kolam renang di kotanya, kedua anak Dinda sudah tidak sabar dan langsung berenang, Dinda dan Ryan hanya menggeleng kepala heran.
Tak butuh waktu lama, Ryan pun menyusul kedua anak Dinda dan mereka tertawa lepas.
"Kalian seperti keluarga yang utuh padahal kedua anakku bukan anak kandung pak Ryan tapi entah kenapa setiap berdekatan dengannya kedua anakku langsung nempel dan bahagia, memang sih aku tidak menampik bahwa setiap di dekat pak Ryan aku pun juga merasakan nyaman, namun aku harus mengubur perasaan ini dalam-dalam karena aku masih ingin fokus mengurus kedua anakku, aku masih ingin menikmati momen merawat mereka dan menghabiskan waktu hanya bertiga saja, lagian rasa sakit akibat pernikahan yang dulu masih membekas, jadi aku tidak mau membuat pak Ryan sakit hati, aku tidak mau membuatnya sebagai pelarian, dia pria yang baik bahkan sangat baik, seharusnya dia mendapatkan wanita yang baik pula, mengapa kamu malah menambatkan hatimu kepadaku pak?" batin Dinda sambil memandang kedua anaknya dan Pak Ryan yang terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Dengan begini saja perasaanku sudah sangat bahagia, ya meskipun aku belum mendapatkan jawaban dari ibunya tapi setidaknya aku bisa diberi kesempatan dekat dengan kedua anaknya, aku gak mau kedua anaknya kekurangan kasih sayang dan memiliki trauma masa kecil.. Aku janji akan selalu ada untuk kalian karena memang kalian pantas di bahagiakan, bodohnya Rio mencampakkan mu Dinda.." batin Ryan sambil menikmati momen bermain dengan kedua anak Dinda.
Setelah selesai berenang kini mereka sudah mandi dan berganti pakaian, saatnya untuk mengisi perut. Kedua anak Dinda request untuk makan siang di sebuah makanan cepat saji terkenal, tanpa perlu pikir panjang Ryan pun menyetujuinya.
Di sana mereka menikmati makanan dan minuman dengan sangat bahagia dan hangat, banyak pasang mata yang iri melihatnya dan mengira bahwa mereka adalah keluarga harmonis.
"Mommy makan yang banyak dong, jangan diet," perintah Farel dengan polosnya.
"Anda diet bu? Tapi buat apa? badan ibu gak gemuk juga gak kurus," tanya Ryan menatap Dinda lekat.
"Iya om mamah lagi diet, makan aja diatur," gerutu Vanessa sambil mengunyah.
"Anak baik kalau makan gak boleh bicara," ucap Dinda memperingati.
"Iya mom" jawab Vanessa patuh lalu melanjutkan makan.
"Saya tidak diet pak tetapi hanya mengurangi karbohidrat saja," jawab Dinda tersipu malu.
"Itu sama saja bu, sudah jangan diet segala toh saya mencintai dan menyayangi anda apa adanya," bisik Ryan membuat Dinda salah tingkah.
"Jangan malu-malu gitu bu nanti pipinya tambah merah seperti kepiting rebus," rayu Ryan sambil mengedipkan sebelah mata.
"Pak... Ada anak-anak," bisik Dinda.
"Kenapa? Vanessa dan Farel juga anak saya jadi untuk apa saya sungkan, bukan begitu?" kekeh Ryan membuat Dinda gemas.
"Mommy udah habis nih," rengek Farel.
"Farel mau lagi?" tanya Ryan penuh perhatian.
"Mau om tapi burger sama es krim oreo, adik juga mau gak?" tanya Farel melihat Vanessa.
"Mau mau tapi es krim aja ah, nanti kekenyangan kan gak baik bang," jawab Vanessa antusias.
__ADS_1
"Yasudah tunggu saja dulu ya biar om pesankan," ucap Ryan lalu kedua anak Dinda mengangguk patuh setelah itu Ryan memesan kan makanan.
Disaat antri memesan makanan kebetulan Rio dan Sisil juga sedang makan di sana. Rio melihat keberadaan Ryan dan langsung menghampiri.
"Sebentar ya Sil," pamit Rio lalu beranjak dari kursi.
"Mau kemana?" tanya Sisil penasaran namun tak di gubris oleh Rio.
"Pak Ryan?" sapa Rio menepuk bahu Ryan.
"Oh Hai pak Rio apa kabar?" jawab Ryan ramah.
"Kabar baik lalu bagaimana dengan anda?" tanya Rio basa-basi.
"Syukurlah.. Ya saya juga baik-baik saja pak," jawab Ryan tersenyum ramah.
"Oh.. Yasudah kalau begitu saya permisi dulu pak ada istri saya yang menunggu," pamit Rio.
"Ya pak silahkan kebetulan saya juga sudah di tunggu anak-anak," ucap Ryan lalu mereka berpisah di meja masing-masing. Rio penasaran mengapa Ryan memesan makanan menu anak-anak lalu Rio memutuskan untuk mengikuti dari belakang.
"Hai anak-anak om, ini pesanan kalian sudah datang," ucap Ryan dengan riang.
"Hore.. Makasih om," jawab mereka kompak lalu memakan pesanannya.
"Oh iya bu tadi ketika saya sedang antri kebetulan bertemu dengan mantan suami anda, pak Rio... Dia ke sini bersama istrinya," ucap Ryan duduk di sebelah Dinda.
"Iya kah? Yasudah kalau begitu setelah ini kita pulang ya pak," ucap Dinda terkejut.
"Loh memang kenapa bu?" tanya Ryan penasaran.
"Saya tidak mau anak-anak bertemu papahnya dan nanti terjadi hal yang tidak di inginkan," ucap Dinda menahan tangis.
"Tenang saja bu ada saya disini, saya pastikan mantan suami anda tidak bisa mengusik kehidupan anda lagi, jangan tunjukkan kesedihanmu di depan anak-anak," ucap Ryan menepuk bahu Dinda.
__ADS_1
Diam-diam ada yang memantau mereka dan secara refleks orang itu merasa tidak terima jika Dinda disentuh oleh pria lain apalagi bisa leluasa bermain dengan kedua anaknya.
"Ini gak bisa dibiarin, enak sekali Ryan asal sentuh Dinda apalagi dia mengajak kedua anakku, gak...pokoknya ini gak boleh terjadi," gumam Rio mengepalkan kedua tangan.