RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Perang


__ADS_3

Setelah puas berlibur di Singapura kini mereka memutuskan untuk pulang..


Sesampainya di rumah tiba-tiba saja ibunya menelpon Dinda.


"Halo bu, ada apa?" tanya Dinda.


"Ada surat panggilan sidang buatmu, apa kamu sudah pulang liburan?" tanya Sri memastikan.


"Surat panggilan apa ya bu? Sudah bu barusan sampai, ini mau beberes," tanya Dinda bingung.


"Ibu gak tau tapi sepertinya dari pengadilan, kamu apa lagi ada masalah?" tanya Sri.


"Dari pengadilan? Gak ada tuh bu.. Dinda gak buat masalah apapun," jawab Dinda.


"Yasudah nanti ibu sama bapak ke rumah ya, kalian bisa beberes dulu, ingat Dinda jangan terlalu capek," tegur Sri.


"Iya bu.. Dinda beberes dulu," jawab Dinda lalu mematikan panggilan.


Ryan yang mendengar obrolan istrinya menjadi penasaran, apa yang sedang dibahas.


"Siapa sayang yang telepon?" tanya Ryan mengejutkan Dinda.


"Mas Ryan? Sejak kapan disitu?" tanya Dinda kaget.


"Sejak kamu mendapatkan telepon," jawab Ryan.


"Oh yang telepon itu ibu mas," jawab Dinda sedih.


"Ibu? Ada apa telepon kamu?" tanya Ryan.


"Tadi ibu bilang kalau ada surat panggilan dari pengadilan mas, ibu dan bapak habis ini mau kesini mengantarkan suratnya sekaligus menengok kita.. Beliin makanan ya mas," ucap Dinda dengan raut wajah sedih.


"Surat panggilan dari siapa? Kamu ada masalah apa sayang kok gak ngomong sama suamimu? Iya kita pesan kan via online aja," jawab Ryan.


"Makanya itu mas aku pun juga gak tau siapa yang membuat berita acara di pengadilan," ucap Dinda kebingungan.


"Yasudah kalau begitu tunggu kedatangan ibu sama bapak saja lalu kita buka suratnya, jadi penasaran siapa yang sudah memulai perang dengan kita," ucap Ryan penasaran.


Setelah beberes dan membersihkan badan, makanan yang di pesan pun juga sudah datang kini Dinda dan Ryan menunggu kedatangan kedua orang tuanya.


Ting tong.. Suara bel rumah Dinda dan Ryan.


"Itu mungkin ibu dan bapak mas, tak bukain dulu ya," ucap Dinda lalu menuju pintu.

__ADS_1


"Ibu.. Bapak.." sapa Dinda lalu memeluk kedua orang tuanya bergantian.


"Dinda.. Gimana kabarmu?" tanya Sri.


"Baik bu, yuk masuk.. masuk pak," ajak Dinda dan mereka menuju ruang makan.


"Anak-anak mana Din?" tanya Tono.


"Udah tidur pak mereka sepertinya kecapekan," ucap Dinda dan Tono hanya ber-oh ria.


"Ibu.. Bapak.. Apa kabar?" sapa Ryan mencium tangan kedua mertuanya.


"Kabar baik.. Kabarmu bagaimana?" tanya Sri.


"Alhamdulillah kami semua baik-baik saja," jawab Tono.


"Syukurlah bu, pak, kami senang mendengarnya.. Kabar kami juga baik dan alhamdulillah bisa liburan dengan lancar dan selamat," ucap Ryan.


"Syukurlah.." jawab keduanya berbarengan.


"Yasudah makan dulu yuk nanti keburu dingin," ajak Dinda dan mereka semua mengangguk setuju.


Dinda merasa bahagia bisa menikmati makan bersama kedua orang tuanya. Namun di satu sisi Dinda merasa penasaran siapa yang sudah memanggilnya di persidangan, setelah selesai makan Dinda akan membahasnya.


"Ini undangan persidangan itu bu?" tanya Dinda dan ibunya hanya mengangguk.


"Buka sayang," suruh Ryan penasaran.


"Ini undangan dari mas Rio.. Dia ingin mengambil alih hak asuh anak-anak," ucap Dinda yang langsung berlinang air mata.


"Rio? Dia tidak cuma menggertak saja rupanya," tanya Ryan geram.


"Kenapa bisa Rio ingin mengambil alih hak asuh anak-anak?" tanya Sri kaget.


"Dinda lupa cerita sama ibu dan bapak, ingat gak kejadian waktu anak-anak diculik? Farel menceritakan itu semua dan mas Rio merasa gak terima karena baginya Dinda sudah lalai menjaga anak-anak makanya mas Rio bersikukuh ingin hak asuh anak-anak jatuh ke tangannya," ucap Dinda berlinang air mata.


"Astaga.. Mereka seperti tidak ada habisnya menindas kita, itu kan murni ketidaksengajaan, kenapa kamu gak melawannya?" tanya Tono.


"Dinda dan mas Ryan pikir ini hanya sebuah gertakan bu, pak," jawab Dinda lirih.


"Ini gak bisa dibiarkan.. Jangan sampai anak-anak jatuh ke tangan mereka, bapak gak yakin mereka bakal mendidik anak-anak dengan baik, soal finansial memang mereka menang dan bisa saja memberikan apapun yang di inginkan anak-anak namun untuk urusan akhlak dan budi pekerti bapak yakin tidak akan mereka ajarkan, kamu tau sendiri kan bagaimana mereka berperilaku pada kita selama ini?" ucap Tono tak terima.


"Dinda juga gak bakal tinggal diam pak, besok Dinda akan penuhi panggilan ini," ucap Dinda.

__ADS_1


"Kamu serius mau datang? Nanti kamu kecapekan sayang," tolak Ryan.


"Gak bakal mas.. Aku gak bisa diam saja dan membiarkan mas Rio menang, kalau aku gak datang ya mereka merasa menang dong mas malah nantinya yang ada mereka bisa leluasa memberi keputusan," bantah Dinda.


"Baiklah akan aku temani, aku pastikan mantan suamimu kalah," ucap Ryan sangat yakin.


"Aamiin mas.. Tolong bantu aku memperjuangkan anak-anak," pinta Dinda.


"Pasti.. Tanpa kamu minta bakal aku lakukan," jawab Ryan penuh pengertian.


"Makasih mas," jawab Dinda lega.


"Ibu juga mau ikut, ibu mau lihat bagaimana mantan suamimu nanti di persidangan," ucap Sri.


"Baiklah bapak akan temani, kita langsung saja bertemu di sana supaya tidak mondar-mandir," ucap Tono mengiyakan kemauan istrinya.


"Jangan pak, bu, kalian di rumah saja, Dinda gak mau kalian nantinya tersulut emosi," tolak Dinda.


"Ini demi cucu.. Sudah cukup sabar selama ini kita diam dan mengalah, kita sudah sangat berbaik hati tidak menuntut apapun darinya," ucap Sri.


"Baiklah nanti biar kami jemput aja bu, pak," jawab Dinda pasrah.


"Gak usah.. Kamu langsung ke sana saja karena kamu adalah yang terpenting di persidangan," tolak Tono.


"Gak pak.. Jika bapak dan ibu ikut maka Dinda akan jemput kalian," ucap Dinda dan kedua orang tuanya hanya bisa pasrah.


"Yasudah kalau begitu ibu dan bapak permisi dulu biar besok bisa bangun lebih awal," pamit keduanya dan Dinda juga Ryan mengantarkan kedua orang tua Dinda sampai teras.


"Hati-hati ya bu, pak, kalau sudah sampai segera kabari," ucap Dinda sambil melambaikan tangan.


"Iya.." teriak Sri dan Dinda juga Ryan terus mengamati sampai kedua orang tuanya tak terlihat lagi.


"Mas.. Ternyata mas Rio yang berulah," ucap Dinda sedih.


"Iya.. Kenapa aku bisa sampai lupa kalau tempo hari mantan suamimu sempat menggertak mu," ucap Ryan menepuk jidat.


"Bagaimana ini mas? Gimana kalau nanti mas Rio yang menang?" tanya Dinda gelisah.


"Tenang sayang tenang.. Yang penting kamu jangan anggap ini panik ya, ingat sekarang kamu sedang hamil, biarkan aku yang handel semuanya," ucap Ryan menenangkan Dinda.


"Tapi aku takut mas, takut anak-anak nantinya bersama mas Rio.. Aku gak bisa bayangin bagaimana hampa nya hidupku," ucap Dinda terus gelisah.


"Ssst.. Sudah ah jangan gini dong nanti aku juga ikutan sedih, rileks ya sayang, ada aku disini," bujuk Ryan.

__ADS_1


"Sialan bener nih orang.. Udah gertak istri gue sampai pendarahan sekarang beneran mengajukan ini semua di persidangan, siapa sih yang mempermudah urusan Rio? Bukannya gue udah suruh boy buat mempersulit Rio," batin Ryan menerka-nerka.


__ADS_2