RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Ternyata (2)


__ADS_3

"Apa yang sudah kamu lakukan? Ngapain kesini!" pekik Dito marah.


"Kamu itu yang ngapain asal masuk kamar orang! Gak sopan!" pekik Vika tak mau kalah.


"Kamu itu yang main api duluan!!! Ngapain berduaan dikamar sama pria asing! Siapa lagi dia! Ada hubungan apa dan apa yang sudah kalian lakukan didalam ini! Jawab!!!" pekik Dito.


"Kamu ngomong apa sih? Pria mana yang kamu maksud?" tanya Vika tak paham.


"Halah gak usah drama! Katakan saja siapa dia!" desak Dito.


"Drama apanya! Pria yang mana!! Bicara yang jelas!" pekik Vika emosi.


"Pria yang baru saja keluar dari kamar ini, siapa dia?" tanya Dito mengintimidasi.


"Tau darimana kalau aku ada disini," ucap Vika.


"Gak penting!! Jawab dulu siapa pria yang bersamamu didalam kamar!" pekik Dito.


Merasa ada kegaduhan didalam kamar, perempuan yang baru saja mandi pun merasa terganggu dan akhirnya keluar. Ceklek... Suara pintu terbuka.


"Aaaaa..." teriak wanita itu yang keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.


"Pergi.. Sana pergi atau saya panggil sekuriti!" usir wanita itu.


"Siapa dia? Kenapa ada dia di kamar? Berarti kalian tadi bertiga? Threesome?" tuduh Dito.


"JAGA MULUTMU!! AKU TIDAK SEMURAHAN ITU!!! PERGI!!!" bentak Vika tak terima dituduh dengan hina.


"Kalau bukan itu lalu apa? Dua wanita dan satu pria dalam satu kamar, mana dia baru keramas lagi," tuduh Dito sinis.


"Gue keramas karena kepanasan!!! Siapa dia Vik? Usir dia dari sini, kalau mas Burhan tau bisa berabe, gue gak mau terjadi salah paham," ucap wanita itu.

__ADS_1


"Ya kak.. Aku juga kaget tiba-tiba dia ada disini, dia bos ku di kantor sekaligus tunangan ku," jawab Vika kesal lalu menarik paksa Dito keluar.


"Gak.. Aku gak mau keluar sebelum kamu jelasin semua ini!!! Jelaskan sejelas mungkin!" tolak Dito.


"Kamu mau tau? Baiklah tapi setelah itu minta maaf sama mereka," ucap Vika mengatur nafas.


"Pria yang baru saja keluar dari kamar ini namanya kak Burhan, dia saudara ku dan wanita yang kamu bilang habis keramas ini namanya Bila, dia saudaraku, Bila dan Burhan suami istri, kenapa aku bisa ada disini? Ya karena kak Bila baru pulang dari honeymoon nya, aku ditelepon kak Bila untuk kesini sambil membuat kejutan untuk suaminya yang kebetulan nanti malam ulang tahun, kedatangan mu merusak mood ku!!! Punya mulut kok gak pernah dijaga! Main ucap aja!!! Cepat minta maaf sama kak Bila!!" pekik Vika yang membuat Dito salah paham besar, ia tak menyangka pikiran buruknya membuat hubungannya dengan Vika semakin gak baik.


"Baru juga jadi tunangan udah overprotective banget, gimana nanti kalau jadi suami coba?" sindir Bila kesal.


"Ma..maaf saya gak tau," jawab Dito malu.


"Keluar sana! Gue mau ganti pakaian nih! Awas lo ya! Urusan kita belum kelar!" gertak Bila lalu Vika menyeret tangan Dito agar segera keluar.


Setelah mereka keluar dari kamar, Vika segera memberi bertubi-tubi pertanyaan yang daritadi ia pendam.


"Darimana tau aku ada disini?" tanya Vika geram.


"Ya adalah pokoknya, lagian kamu ngapain juga ke kamar hotel saudaramu, bikin orang salah paham aja," protes Dito.


"Hei! Semua pria juga bakalan memiliki pikiran yang sama ketika tau calon istrinya berada di hotel apalagi pas mau aku samperin ada pria asing yang keluar, gak ada yang bakalan berpikir positif! Mana tadi tertawa keras didalam sana, makin traveling kemana-mana nih pikiran! Ngerti gak?" protes Dito.


"Ya itu kan pikiranmu saja, nyatanya kamu nyelonong masuk tanpa ketuk pintu dulu!" protes Vika tak mau kalah.


"Siapa yang asal masuk? Aku udah dikasih izin sama suami saudaramu itu kok, tanya aja sana kalau gak percaya," protes Dito.


"Kalian ketemu? Dimana?" tanya Vika penasaran.


"Ya disini.. Aku mau memastikan dimana kamar kamu eh saudaramu itu sempet keluar sebentar buat jawab telepon seseorang dan membahas nama Vika, ya otomatis aku terpancing dong mana tau itu Vika yang aku maksud, makanya aku berani tanya," jawab Dito.


"Ohh..." hanya itu jawaban dari Vika namun sukses membuat Dito kesal sekali.

__ADS_1


"Kamu ini ya, udah asal pergi aja ketika di mall sekarang bikin aku hampir berprasangka buruk karena tiba-tiba ada di hotel eh gak ada itikad baik buat minta maaf, memang bener-bener," ucap Dito geram dan ingin sekali mencubit pipi Vika yang tembem itu.


"Kenapa? Mau apa? Lagian semua ini juga salahmu, ngapain juga main nuduh anak orang sembarangan, di mall nuduh Ryan sekarang disini nuduh aku dan saudaraku lakuin hal yang gak masuk akal, memang otakmu perlu di cuci dulu biar tidak menganggap semua hal pada diriku itu buruk!" cibir Vika.


"Kan aku udah jelasin.. Semua pria bakal memiliki pikiran yang sama denganku," protes Dito.


Merasa bising diluar kamarnya, Bila yang baru selesai berganti pakaian dan sedikit make up pun keluar dengan hati yang kesal. "Masih aja ya kalian ribut, gak didalam gak di luar sama aja!" hardik Bila.


"Habisnya dia bikin kesel kak, mulutnya itu loh minta di ruqyah!" protes Vika menunjuk Dito.


"Ayo masuk, malu didengar orang!" ajak Bila lalu mereka kembali masuk ke kamar.


"Lo.. Beneran lo mau jadiin saudara gue ini istrimu?" tanya Bila mengintimidasi.


"Iya.. Kami sudah tunangan," jawab Dito.


"Serius? Gue gak yakin deh sama sikap lo yang kayak tadi, bisa-bisa nih ya saudara gue lagi keluar bentar lo tuduh aneh-aneh! Setelah menikah itu akan ada kehidupan yang sebenarnya dan masalah tidak akan selesai, selalu akan ada masalah baru dan baru, gue gak yakin lo bakal menyelesaikannya dengan baik," sindir Bila ragu.


"Jangan berdoa yang tidak baik kak, kami sedang mengenal satu sama lain, hatiku mantap pada Vika," tegur Dito tak suka.


"Semua sikapmu hari ini menunjukkan dirimu yang sesungguhnya! Memandang semua orang itu buruk, kayak lo suci aja!" cibir Bila semakin membuat Dito kesal.


"Semua pria bakal melakukan dan memiliki pemikiran yang sama jika tau calon istrinya ada di hotel apalagi sempat ada pria lain didalamnya, ya sebelum aku tau jika itu ternyata saudaranya," jawab Dito.


"Karena lo gak pernah mencari tahu dengan baik, namun lo main nyelonong aja dan asal menyimpulkan!" tegur Bila.


"Karena aku terlanjur marah kak," jawab Dito.


"Apapun itu gak bisa dijadikan alasan! Gue ragu merestui saudara gue ini denganmu," ucap Bila membuat Vika dan Dito saling tatap.


"Beri aku waktu untuk membuktikan jika aku ini pantas bersanding dan menjadi pendamping untuk Vika, jangan langsung menyimpulkan kejadian ini saja kak, gak mungkin Vika mau menerima lamaran ku jika dihatinya tidak ada rasa untukku," pinta Dito.

__ADS_1


"Gak enak kan rasanya jika asal menilai orang dengan pemikiran sendiri tanpa mencari tahu kebenarannya dulu, makanya jangan sok jadi orang!" sindir Bila tersenyum meremehkan.


Sebenarnya Bila hanya ingin menguji saja, sebesar apa rasa cinta calon suaminya Vika ini, jika memang terbukti lebih baik dari mantannya, maka Bila dengan senang hati akan melepaskan Vika. Bila gak mau jika nantinya Vika salah memilih dan merasa sedih lagi, cukup kehilangan kedua orang tuanya saja hal yang membuat saudaranya itu terpuruk.


__ADS_2