
"Baiklah saya akan izinkan tapi sebelum itu anda harus tanda tangan di atas materai jika nantinya apapun yang terjadi setelah ini pihak rumah sakit tidak akan ikut terlibat," ucap direktur mengejutkan Mayang.
"Harus sampai segitunya pak?" tanya Mayang.
"Ya.. Ini demi kenyamanan kita bersama, rumah sakit tidak akan terlibat masalah anda begitu pun dengan anda akan kami fasilitasi untuk melihat CCTV, jadi sama-sama menguntungkan," ucap direktur.
"Baiklah yang penting saya bisa melihat rekaman CCTV," jawab Mayang pasrah lalu direktur rumah sakit membuatkan surat pernyataan yang di bubuhi materai.
Setelah menandatangani surat perjanjian kini Mayang di perbolehkan memasuki area kontrol room. Di sana Mayang tidak sendirian, satpam yang tadi bersamanya ikut masuk dan menyaksikan.
"Selamat siang.. Mohon putarkan CCTV hari ini untuk ibu ini," ucap satpam pada petugas jaga.
"Apakah sudah ada izin dari atasan pak?" tanya petugas memastikan.
"Sudah dan bahkan tanda tangan di atas materai," ucap satpam lalu petugas jaga hanya mengangguk saja setelah itu memutarkan rekaman CCTV.
"Kira-kira pukul berapa bu?" tanya petugas sambil fokus melihat layar.
"Sekitar 20-30 menit yang lalu tapi di ruang VVIP ya pak," ucap Mayang tak sabar lalu petugas memutarkan rekaman dan benar saja ada Sisil di sana cukup lama sembari mendengarkan obrolan Mayang dan Rio.
"Stop stop pak.. Nah itu dia, itu menantu saya, benar dugaan anak saya kalau istrinya tadi disini," ucap Mayang.
"Sesuai perjanjian kini ibu sudah melihat rekamannya dan sekarang ibu sudah boleh keluar dari sini," ucap satpam.
"Saya foto ya pak?" pinta Mayang.
"Maaf bu di perjanjian anda hanya mengutarakan bahwa ingin melihat rekamannya saja tanpa ada tindakan untuk mendokumentasikan," tolak satpam dan Mayang hanya mengalah lalu keluar dari ruangan dengan sedikit kecewa. Andai boleh di foto sudah pasti bisa menjadi bukti kuat kalau Sisil ada disini.
"Gimana mah?" tanya Rio tak sabar.
"Dugaan mu benar tadi Sisil ada di sini cukup lama sembari mendengar obrolan kita, sayangnya mamah gak di izinkan untuk memotret hasil rekaman itu," ucap Mayang sedih.
"Sudah mah tidak papa yang penting dugaan Rio benar, sekarang Rio akan telepon polisi," ucap Rio yang langsung menelpon polisi dan menginformasikan posisi istrinya.
"Mungkin sebentar lagi Sisil akan ketangkap," ucap Mayang sedih.
__ADS_1
"Kenapa mamah yang sedih?" tanya Rio heran.
"Mau bagaimana pun Sisil masih menantu mamah dan bagian dari keluarga Suganda, apa nanti kata orang kalau tau menantu mamah masuk penjara, mamah bisa sangat malu apalagi sekarang statusnya buron," ucap Mayang.
"Sudahlah mah nanti mereka juga akan diam dengan sendirinya, yang penting Sisil ketangkap dulu," ucap Rio acuh.
"Mamah heran darimana Sisil tau kalau kamu ada disini?" tanya Mayang heran.
"Darimana lagi kalau bukan mamahnya, benar kan kata Rio kalau mamah Ira itu tau dimana keberadaan Sisil.. Mamah sih pakai acara membela dia segala," protes Rio kesal.
"Masak sih mamahnya Sisil tau keberadaan dan menyembunyikannya?" tanya Mayang ragu.
"Ya terserah mamah aja mau percaya atau tidak tapi Rio yakin seratus persen kalau mamah Ira sangat tahu dimana Sisil dan aksi kaburnya Sisil ada campur tangan mamahnya, mana ada di rumah sakit dengan penjagaan ketat seperti itu bisa lolos," tebak Rio.
"Iya sih ah tapi gak tau deh mamah pusing kalau mikirin Sisil, gak pernah ada baiknya jadi orang," ucap Mayang kesal.
Setelah mendapat telepon dari Rio kini pihak kepolisian mendatangi Rio guna menggali info lebih dalam lagi.
"Selamat siang bapak Rio Suganda," sapa polisi.
"Siang Pak, bagaimana? Sudah di ketahui dimana Sisil?" tanya Rio tak sabar.
"Pak saya kan sudah bilang lewat telepon kalau Sisil tadi ada disini, itu loh di balik pintu.. Kebetulan saya menengok ke arah sana dan seketika itu juga Sisil pergi, kalau kejadiannya ya hari ini di rumah sakit ini kalau waktunya mungkin 1-2 jam yang lalu," ucap Rio geram.
"Baik info dari anda akan kami tambahkan dalam berita acara dan akan segera kami tindak lanjuti, adakah saksi lain yang melihat saudari Sisil disini?" tanya polisi.
"Saya pak.. Saya mengetahuinya dan saya sempat mengejarnya namun kehilangan jejak, dia jalan cepat sekali," ucap Mayang.
"Baik bu terima kasih atas informasi tambahannya, kalau begitu kami permisi dulu dan nantinya akan kami kabari perkembangannya," pamit polisi dan hanya dijawab anggukan kepala.
Di satu sisi Sisil tengah ngos-ngosan karena ia takut kalau kepergok suaminya dan dibawa ke kantor polisi, maka dari itu ia berjalan secepat mungkin dan mencari persembunyian yang aman. Hari itu juga Sisil langsung cek out dari hotel dan mencari penginapan baru,
"Capek juga kalau kayak gini terus huh.. Kalau gini terus menerus uang yang gue ambil dari mas Rio bisa habis tak tersisa," gumam Sisil sambil berpikir keras.
"Apa gue pergi ke luar negeri dan memulai hidup baru? Tapi ketika naik pesawat kan butuh pasport ntar keberadaan gue bisa terlacak dong, duh gimana nih," gumam Sisil kebingungan.
__ADS_1
Tring.. Tring.. Tring.. Dering ponsel Sisil.
"Halo mah?" ucap Sisil.
"Halo Sil gimana keadaanmu? Aman kan?" tanya Ira khawatir.
"Aman mah memang kenapa?" tanya Sisil penasaran.
"Tadi mamah habis jenguk suami kamu eh di sana mamah malah dipojokkan sama dia, mamah di suruh jujur dimana keberadaan mu sekarang" ucap Ira kesal.
"Ngapain mamah jenguk mas Rio? Harusnya gak usah," protes Sisil.
"Ya habisnya mau gimana lagi? Rio masih menantu mamah jadi rasanya gak etis dong kalau mamah gak jenguk dia, niatnya baik malah mamah di usir mamahnya Rio, gini kan mamah kesal," ucap Ira kesal.
"Mamah sampai diusir? Kenapa mah?" tanya Sisil kaget.
"Ya itu mamah terus berkelit ketika ditanya dimana lokasimu, Rio makin lama makin emosi dan mamahnya gak kuat melihat perdebatan mamah jadinya mamahnya Rio memutuskan mengusir mamah dengan dalih demi kesembuhan Rio, mamah seperti gak punya harga diri Sil," keluh Ira.
"Kurang ajar sekali mereka.. Apa mamah tau kalau tadi Sisil juga ke sana dan sialnya ketahuan mas Rio, untung Sisil bisa kabur coba kalau enggak.. Duh mungkin Sisil masuk penjara hari ini juga," ucap Sisil.
"Apa? Kamu nekat sekali sih kan mamah udah bilang jangan jenguk suamimu, kamu ini aneh.. Gak mau masuk penjara tapi nekat ketemu suami," cibir Ira geram.
"Habisnya Sisil gak tega mah Sisil terus kepikiran," jawab Sisil sedih.
"Sekarang kamu fokus dengan keselamatanmu, jangan mikir lainnya termasuk suamimu itu," perintah Ira.
"Mana bisa mah?" tanya Sisil kesal.
"Harus bisa atau kamu mau balik lagi ke penjara, ingat Sil kamu udah melangkah sejauh ini," tegur Ira.
"Gak mau mah.. Sisil gak seharusnya di penjara, yang Sisil lakukan kan aslinya untuk balas dendam sama Dinda.. Coba kalau mas Rio gak cinta sama Dinda mana mungkin Sisil melakukan hal seperti itu," keluh Sisil.
"Dinda lagi.. Tadi mamah bersitegang sama suamimu juga ada membahas tentang Dinda, kata suamimu hidupnya jadi hancur karena sudah menuruti kemauan kita.. Gimana mamah gak marah coba?" ucap Ira membuat Sisil kaget.
"Apa?? Jadi mas Rio masih saja mengungkit Dinda ketika dia sedang sakit? Memang ya Dinda makin hari makin meresahkan, udah punya suami juga masih saja mas Rio memikirkannya," keluh Sisil merasa kesal.
__ADS_1
"Pokoknya gue harus buat perhitungan sama Dinda, besok bakal gue datengin tuh kantornya," batin Sisil sambil mengepalkan tangan.
Tanpa di sadari oleh mereka, ponsel Ira sudah dibajak oleh kepolisian dan percakapan mereka di dengar jelas bahkan di rekam.