RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Kesedihan Ryan


__ADS_3

Sepulang bertemu dengan Rio kini Ryan kembali ke rumah sakit untuk menemani sang istri tercintanya.. Ryan berharap Dinda bisa menerima semua ini dengan lapang dada dan semuanya bisa kembali seperti dulu kala.


"Sayang..." sapa Ryan sembari mencium kening Dinda dengan lembut.


"Darimana saja mas?" tanya Dinda ketus.


"Tadi ada sedikit urusan jadi maaf ya sudah membuatmu sendirian disini," jawab Ryan berbohong.


"Urusan apa?" tanya Dinda curiga.


"Urusan pekerjaan sayang," jawab Ryan.


"Kamu gak berbohong kan mas?" tanya Dinda.


"Tentu tidak sayang.. Gimana kondisimu? Sudah membaik? Mau makan apa biar aku belikan," tawar Ryan mengalihkan obrolan.


"Aku cuma mau di samping anak kita mas," jawab Dinda sendu.


"Tapi anak kita harus menjalani perawatan intensif dulu sayang, kamu yang sabar ya," ucap Ryan ikut sedih.


"Tapi kasihan dia mas.. Dia sendirian di sana hiks.. hiks.. Nanti kalau anak kita diculik gimana? Siapa yang bertanggung jawab mas," tanya Dinda histeris, ia menjadi trauma dengan peristiwa masa lalunya ketika melahirkan, Farel diculik oleh ayah kandungnya sendiri.


"Sayang.. Sstt.. Gak boleh ngomong gitu, dia anak kita, anak Ryan Hadiningrat dengan Dinda Safitri bukan anak Rio Suganda jadi tidak mungkin kalau anak kita diculik, jangan berpikiran seperti itu sayang.. Jangan mengungkit masa lalu mu, sekarang kamu hidup di masa depan yang jauh lebih baik bersamaku juga anak-anak," bujuk Ryan.


"Aku masih takut mas.. Tolong bawa anak kita kesini saja biar aku bisa mengawasinya," pinta Dinda sembari menangis terisak.


"Mana bisa sayang.. Alatnya saja di sana," tolak Ryan.


"Pokoknya aku mau anak kita dekat dengan aku mas, jangan pisahkan kami.. Aku ibunya dan aku yang mengandung dia, ingat itu mas," gertak Dinda.


"Nanti aku usahakan ya sayang," ucap Ryan mencoba menenangkan.


"Baiklah.. Aku tunggu mas," jawab Dinda penuh harap.

__ADS_1


"Iya sayang.. Sekarang kamu mau makan apa?" tanya Ryan penuh perhatian.


"Aku mau makan kalau ada anak kita disini," jawab Dinda dingin dan tatapannya kosong.


Melihat Dinda sedih seperti itu membuat Ryan tak tega melihatnya.. Ia merasa bersalah karena gagal menjadi suami yang siaga. Rasa menyesal masih saja ada di hati dan pikiran Ryan karena berkat permintaan tolong nya pada boy membuat Dinda menjadi seperti ini ya meskipun ada salah Rio juga yang dengan sembrono nya membicarakan jika anak-anak Dinda ada yang mengawasi.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini Tuhan? Rencananya aku mau membuat perhitungan pada mantan suami Dinda tetapi kenapa berbalik kepada keluargaku rasanya sungguh menyakitkan sekali.. Kenapa harus istri dan anakku yang menjadi getahnya, kenapa bukan aku saja Tuhan?? Jangan korbankan mereka.. Kasihan mereka tidak tau apapun, berikanlah ganjarannya kepadaku saja Tuhan.. Setelah ini aku mohon sembuhkan lah anak dan istriku agar semuanya bisa kembali seperti dulu," batin Ryan berdoa dengan khusyuk.


Dinda yang melihat suaminya berwajah sedih merasa kasihan, karena keinginannya untuk bersama anak bayinya membuat sang suami merasa tertekan.. Namun mau gimana lagi? Dinda memiliki trauma yang dalam dengan peristiwa masa lalu.


"Maafkan aku mas bukan maksudku mempersulit ini semua namun percayalah jika aku gak mau semua ini terjadi, rasa trauma akan masa lalu masih membekas di ingatan mas dan aku gak mau terulang yang kedua kalinya, aku takut mas jika harus kehilangan anakku.. Maafkan aku mas, selama ini aku hanya bisa menyusahkan dirimu saja," batin Dinda berlinang air mata.


Tak diduga orang tua Dinda datang menjenguk dan seketika itu juga Dinda menyeka air matanya.


"Dinda.." panggil Sri dengan lembut setelah membuka pintu kamar inap.


"Ibu.. Bapak.." seru Dinda bahagia.


"Gimana keadaanmu?" tanya Tono.


"Gimana keadaan cucuku?" tanya Sri penasaran.


"Masih dalam pantauan dokter bu, pak," jawab Ryan lirih.


"Kamu sudah tau keadaan anakmu Din?" tanya Sri kaget dan Dinda hanya mengangguk sembari berlinang air mata.


"Sudahlah Din memang ini berat untuk kita semua namun mau bagaimana pun ini yang terbaik untuk kalian berdua, jika kami tidak segera mengambil tindakan cepat maka resikonya tidak hanya padamu namun pada anakmu juga.. Maafkan kami," ucap Sri merasa bersalah.


"Ini juga ada kesalahan Dinda juga kok bu, pak.. Dinda yang tidak bisa menjaga kandungan Dinda dengan lebih hati-hati, Dinda terlalu panik waktu itu ditambah pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya," ucap Dinda merasa menyesal.


"Sudah sudah jangan saling menyalahkan.. Memang ini sudah takdir dari yang maha kuasa, janganlah menyesal atau pun saling menyalahkan lagi.. Kalau tau keadaan akan seperti ini pasti kalian akan antisipasi dulu kan sebelumnya? Makanya itu mari kita mencoba mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dan kembali menjalani hidup dengan lebih baik," ucap Tono berusaha bijak.


"Tapi ini anak pertama dan satu-satunya di keluarga mas Ryan pak, bu.. Dinda gak bisa membayangkan bagaimana kecewanya keluarga mas Ryan pada Dinda," ucap Dinda sedih.

__ADS_1


"Jangan berfikir seperti itu sayang.. Keluarga sudah menerima ini dengan lapang dada kok yang terpenting bagi mereka kalian berdua selamat dan sehat," ucap Ryan menenangkan istrinya.


"Kalau mereka menerima mengapa sampai sekarang tidak ada yang datang menjenguk mas?" cecar Dinda dan Ryan kebingungan menjawabnya.


"Mereka masih ada keperluan yang harus di urus sayang.. Nanti jika sudah selesai mereka akan datang kesini dengan sendirinya, jangan terlalu di pikirkan ya.. Kita fokus dengan kesembuhan mu juga anak kita," ucap Ryan.


"Benar apa kata suamimu.. Sekarang yang terpenting kesembuhan mu dan anakmu," ucap Sri membenarkan.


"Bu coba kupas buah apel itu untuk Dinda agar dia semakin sehat," perintah Tono.


"Oh iya ibu sampai lupa.. Ibu kupas apel dulu ya," ucap Sri lalu mengupas buah apel.


"Kamu beneran gak minta makan apa gitu?" tawar Ryan lagi.


"Aku rasa kamu sudah tau jawabannya kan mas," jawab Dinda sedih.


"Baiklah aku coba konsultasi ke dokter dulu," jawab Ryan mengalah dan menemui dokter.


"Suamimu mau kemana?" tanya Tono penasaran.


"Ke ruangan dokter untuk konsultasi pak," jawab Dinda memasang wajah sedih.


"Konsultasi tentang apa?" tanya Tono.


"Dinda mau kalau anak kami dibawa kesini agar Dinda bisa lebih leluasa mengawasi dan menjaganya, Dinda takut kejadian masa lalu terulang lagi pak," jawab Dinda sedih.


"Astaga Dinda.. Kamu yang benar saja dong itu sama saja kamu menyiksa anakmu sendiri, anakmu masih butuh perawatan khusus, kalau dipaksa dibawa kesini bagaimana nanti anakmu bisa cepat sembuh? Jangan egois Din.. Kasihan anakmu, biarkan dia ditangani oleh dokter dan ibu yakin anakmu tidak akan mungkin diculik karena dia anaknya Ryan bukan anak dari Rio," tegur Sri geram.


"Tapi sama saja Dinda ada rasa trauma bu," jawab Dinda sedih.


Tanpa mereka sadari ada yang mendengar pembicaraan mereka dan dia memiliki niat jahat untuk membawa anak Dinda pergi.


Namun secara kebetulan Ryan melihat ada seseorang yang mencurigakan di pintu kamar rawat inap istrinya, Ryan tidak mengenali siapa orang itu dan mulai bersikap waspada.

__ADS_1


"Siapa dia dan apa urusannya dengan istriku?" gumam Ryan curiga.


__ADS_2