RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Sisil Menyamar (2)


__ADS_3

Kabar kehebohan Sisil kabur dari rumah sakit sampai ke telinga mamahnya. Setidaknya Sisil ada di posisi aman, itu sudah cukup untuk mamahnya.


"Semoga saja keberuntungan selalu berpihak padamu Sil," gumam mamahnya penuh harap lalu menelpon Sisil.


"Halo mah?" sapa Sisil.


"Kamu baik-baik saja kan? Tadi mamah mendapat kabar dari kepolisian bahwa kamu kabur dan sekarang dalam proses pengejaran sembari mendalami motif mu bisa kabur," ucap mamahnya khawatir.


"Baik kok mah, lalu mamah bilang apa?" tanya Sisil penasaran.


"Ya mamah terkejut dan menyalahkan pihak polisi yang lalai menjaga napi, setidaknya mamah akting kooperatif supaya tidak di curigai siapapun, ketika mamah ingin pergi memang mamah disuruh menunjukkan bukti bahwa kamu masih berada di ruangan, untung saja pak polisinya tidak menyadari kalau yang tertidur itu bukan kamu jadinya mamah bisa lolos dengan mulus," ucap mamahnya.


"Syukurlah Sisil lega mendengarnya mah, maafkan Sisil ya sudah melibatkan mamah dalam masalah ini," rengek Sisil namun mamahnya berhasil meyakinkan bahwa semua ini memang tugas seorang ibu untuk melindungi anaknya.


***


Satu bulan sudah berlalu hingga sampai detik ini pihak polisi tidak bisa mengetahui dimana posisi Sisil dan berencana akan menaikkan ini menjadi buronan, agar Sisil tidak leluasa bergerak di luar sana.


Sisil mendatangi kantor Dinda dengan penampilan barunya yang hitam dekil, rambut keriting, ada tahi lalat di pipi serta memakai kacamata.. Penampilannya sukses membuat siapapun tidak mengenali Sisil.


"Halo ada yang bisa saya bantu?" tanya Fio.


"Ada mbak, disini ada lowongan pekerjaan gak ya mbak? Saya sedang membutuhkan pekerjaan untuk kebutuhan hidup," pinta Sisil memelas.


"Maaf tapi disini sedang tidak membutuhkan karyawan, silahkan kumpulkan cv anda kalau sewaktu-waktu ada lowongan yang kosong nanti kami kabari," ucap Fio menolak secara halus.


"Saya tidak ada CV karena saya baru saja kemalingan makanya itu saya bingung sekali, kalau tidak bekerja nantinya darimana uang untuk membayar kontrakan dan makan," ucap Sisil memelas dengan logat jawanya.


"Maaf kak tapi memang belum ada lowongan pekerjaan disini," ucap Fio dengan sopan.

__ADS_1


Kebetulan Dinda baru saja keluar karena ada urusan, melihat Fio berbincang cukup serius dengan seseorang membuat Dinda menjadi penasaran lalu mendekati mereka.


"Fio.. Ada apa ini?" tanya Dinda penasaran sambil melihat Fio dan Sisil bergantian.


"Ini bu.. Kakak ini kekeh ingin bekerja disini padahal sudah saya sampaikan kalau belum ada lowongan," ucap Fio tak enak hati.


"Selamat siang mbak cantik perkenalkan saya ini Astutik, saya dari Jawa.. Sebenarnya saya ini mau bekerja sebagai pembantu namun sayang ketika turun dari terminal saya di rampok, uang, hp dan pakaian semuanya kandas...saya bingung harus mencari kerja dimana lagi bu, saya butuh makan dan pekerjaan untuk bertahan hidup disini, sudah melamar ke sana sini namun semuanya di tolak..mereka mengira kalau saya ini gelandangan bu, jujur saya butuh pekerjaan untuk makan dan bertahan hidup, setelah mempunyai cukup uang saya bakal balik lagi ke Jawa bu..tolong kasihanilah saya, berikan saya pekerjaan hiks..hiks..." ucap Sisil dengan akting yang sangat apik hingga mampu membuat Dinda beserta Fio tersentuh hatinya.


"Memang anda tidak menulis alamat lengkapnya di kertas?" tanya Dinda penasaran.


"Tidak bu.. Saya hanya menyimpan alamatnya di hp, ketika saya turun dari terminal dan tanya sama seseorang katanya dia mengetahui dan bersedia mengantarkan ke alamat tersebut, namun sayangnya di pertengahan jalan malah saya di rampok bu.. Saya di turunkan di jalan lalu di tinggal, semua barang bawaan saya raib," ucap Sisil menangis terisak.


"Kasihan sekali nasibmu, masih ingat dengan alamat calon majikan mu itu? Biar saya antar," ucap Dinda menawarkan.


"Ti.. tidak bu kebetulan alamat nya sulit sekali jadi saya susah mengingatnya, hanya di hp itu satu-satunya petunjuk hiks.. hiks.. hiks.." ucap Sisil sesenggukan.


"Dilihat dari penampilannya sih memang iya kalau dia datang kesini sebagai pembantu namun kok rasanya ada yang janggal ya, kayak pernah bertemu dengan dia dan seperti sudah lama kenal, tapi mana mungkin.." batin Dinda melihat Sisil dengan tatapan bingung.


"Kamu kenapa menggelengkan kepala seperti itu? Saya saja tidak mengajakmu berbicara," tanya Dinda heran.


"Sa..Saya takut bu, saya berpikir apa mungkin saya ini di tolak lagi.. Jujur saja saya sudah capek berjalan sangat jauh demi sebuah pekerjaan," alibi Sisil dengan wajah sedih.


"Ohh.. Berikan saya waktu untuk memikirkan ini, mengingat kamu tidak memiliki identitas apapun jadinya saya minta maaf kalau saya ini lebih berhati-hati," ucap Dinda.


"Baik bu saya mengerti itu," jawab Sisil lirih.


"Fio... Berikan mbaknya makanan dan minuman ya, ada stok di belakang kan? Kasihan dia.. Siapa tau haus dan lapar mengingat musibah yang terjadi membuatnya syok," ucap Dinda lalu Fio mengambilkan sebungkus Roti coklat dan sebotol air mineral.


"Terima kasih banyak mbak, anda dan bos anda sungguh baik hati sekali," ucap Sisil sembari menerima pemberian Fio dan memakannya dengan lahap. Kebetulan memang Sisil sedang lapar dan karena statusnya sebagai buron, ia harus hati-hati ketika keluar hotel.

__ADS_1


"Dia memang sedang tertimpa musibah, nyatanya diberikan roti dan air mineral langsung di makannya dengan lahap dan berlinang air mata, apa aku harus menerimanya kerja disini? Apa dia orang baik? Apa dia nantinya mampu bekerja dengan baik? Kenapa hatiku bimbang begini, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hati tapi apa.." batin Dinda sambil memegangi dadanya.


"Bu.. Bagaimana keputusannya?" tanya Fio memastikan.


"Jujur saja saya juga bingung, dia tidak membawa identitas apapun tapi dia sangat membutuhkan pekerjaan, terlihat sekali dari raut wajahnya," ucap Dinda bimbang.


"Saya awalnya sedikit curiga dengan dia bu tapi setelah mengetahui alasannya saya langsung simpati," ucap Fio semakin membuat Dinda bingung.


"Apakah dia nantinya bisa bekerja dengan baik?" tanya Dinda pada Fio.


"Sepertinya bu, karena tadi dia bilang kalau niatnya mau bekerja sebagai ART, Rata-rata kalau jadi ART pekerjaannya cekatan bu," ucap Fio memberi usul.


"Baiklah makasih.. Akan saya pertimbangkan segera, setelah dia selesai makan coba tawarkan lagi mau tambah atau tidak, kalau sudah kabari saya ya.. Akan saya beri jawabannya," ucap Dinda lalu Fio paham dan menghampiri Sisil.


"Mbak mau tambah lagi gak?" tanya Fio lembut.


"Tidak usah mbak ini sudah cukup, makasih banyak, saya sudah kenyang," jawab Sisil.


"Baiklah.. Tunggu sebentar ya mbak saya panggilkan bu Dinda dulu," ucap Fio lalu memanggil bosnya.


"Semoga saja Dinda mau menerima gue bekerja disini, gue yakin mas Rio sering berkunjung disini.. Kalau bukan melalui Dinda lewat siapa lagi?" batin Sisil khawatir.


"Sudah kenyang?" tanya Dinda lembut dan Sisil mengangguk cepat sambil tersenyum.


"Baiklah kamu boleh bekerja disini tapi sebagai marketing penjualan, apakah bersedia?" tanya Dinda setelah menimang keputusan.


"Bersedia bu.. Saya bersedia, jadi pesuruh pun saya mau bu asalkan saya dapat pekerjaan," ucap Sisil antusias dan bahagia.


"Baiklah kamu boleh mulai bekerja hari ini, semoga kamu bisa bekerja dengan baik ya," ucap Dinda berjabat tangan dengan Sisil lalu kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"Terima kasih bu, saya akan berkerja dengan sungguh-sungguh," jawab Sisil antusias.


__ADS_2