
"Pilih mana? Katakan sejujurnya atau masuk penjara?" sindir Dinda.
"Lo jadi cewek jangan ngeselin ya, gue gak tau apa-apa jadi apa yang harus gue jelasin?" ucap Vika terus berbokong.
"Ok mas telpon kantor polisi sekarang juga," ancam Dinda lalu Ryan mengambil ponselnya.
"Lo mau ngapain?" tanya Vika menatap tajam.
"Gue? Jelas gue ini mengikuti perintah istri gue lah," ucap Ryan dengan entengnya.
"Lo mau telpon polisi? Lo tega memenjarakan gue? Mana janjimu yang bakal selalu bersama gue, nyatanya sekarang lo malah sudah menikah dengan dia," cecar Vika membuat Dinda terkejut.
"Itu benar mas?" tanya Dinda meminta penjelasan.
"Katakan sejujurnya pada istrimu itu biar dia ngerti bagaimana kita dulu," ucap Vika.
"Diam.." gertak Ryan muak.
"Jelaskan semuanya mas, ingat kita sudah berjanji untuk saling terbuka satu sama lain," desak Dinda.
"Ok akan aku jelaskan semuanya tapi aku mohon dengarkan sampai selesai," pinta Ryan dan Dinda hanya mengangguk.
"Memang benar apa yang di katakan oleh Vika kalau aku pernah berjanji padanya untuk selalu bersama, namun itu dulu.. Sangat dulu sekali, sebelum dia meninggalkan aku tanpa kabar, dia tiba-tiba menghilang selama bertahun-tahun tanpa sehari bahkan sedetikpun mengabari aku, hingga akhirnya aku melihat dengan jelas di depan mataku kalau Vika sudah mempunyai pacar baru dan ya waktu itu aku sungguh marah, aku meminta penjelasannya namun yang aku terima adalah sebuah penghinaan, di depan pacar barunya dia menghina bahwa aku ini pria tidak berguna dan juga miskin, memang aku akui waktu itu kondisi keluargaku sedang kolab dan mau gak mau papah harus menjual salah satu perusahaannya.. Namun dari situ aku menyadari bahwa selama ini Vika mendekatiku hanya karena harta saja, setelah aku dan keluargaku terpuruk dia yang seharusnya memberi support malah pergi begitu saja seperti tidak punya hati, Vika menganggap bahwa selama ini hubungan kami tidak berarti apapun..jadi ya aku memilih pergi dan menerima kekalahan.. Lalu perlahan aku dan juga keluarga bangkit sedikit demi sedikit dan sekarang lihatlah.. Perusahaan keluargaku bisa berjaya lagi dan aku bisa meneruskan cita-citaku menjadi pengacara, ketika semuanya sudah kembali membaik malah dia tiba-tiba hadir dan merusak semuanya.." ucap Ryan dengan detail.
"Ryan.. Jangan memutar balikkan fakta ya, ini semua gak benar," sanggah Vika.
"Apanya yang gak benar? Memang begitu adanya kan toh kedua orang tuaku juga mengetahui semuanya, sudahlah gak usah terus menerus mengelak lagi.. Bukan aku yang ingkar janji namun kamu sendiri yang pergi dengan sendirinya di saat aku terpuruk, jadi jangan menagih janji seolah-olah aku ini seorang pembohong," tegur Ryan.
__ADS_1
"Lalu apa motif mu membuat editan foto murahan seperti kemarin?" tanya Dinda.
"sudah gue katakan kalau gue ini bukan pelakunya, kalian lah yang terus menerus menyuruhku untuk mengakui sesuatu yang tidak gue lakuin," sanggah Vika lalu tiba-tiba polisi datang dan langsung membawa Vika.
"Semoga di sana kamu akan berbicara dengan jujur, ingat Vika jika kamu terus mengelak makan hukuman mu semakin berat," gertak Dinda lalu Vika terus meronta.
"LEPAS.. LEPASIN GAK.. GUE INI GAK BERSALAH.. RYAN.. AWAS LO, TUNGGU PEMBALASAN GUE," pekik Vika sambil terus berusaha melepaskan tangannya yang sudah terborgol.
"Besok lagi lihatlah dulu siapa yang akan kau jadikan musuh," tegur Ryan tersenyum senang sambil melihat Vika di paksa masuk ke mobil polisi.
"Mas apa kita perlu ke sana?" tanya Dinda.
"Jujur saja aku sangat capek sayang.. Besok saja lah ya," tolak Ryan.
"Tapi lebih cepat lebih baik mas, aku gak mau menunda masalah yang seharusnya bisa segera selesai," desak Dinda.
"Yasudah kita ke sana sekarang tapi kalau Vika bikin onar lagi atau bikin aku emosi ya jangan salahkan aku untuk pulang, capek aku mencari celah untuk menghancurkannya," ucap Ryan pasrah.
Setibanya di kantor kepolisian, mereka tidak bisa langsung menemui Vika karena sedang dalam proses penyidikan.. Butuh waktu hampir 4 jam untuk mereka menunggu agar bisa bertemu Vika, sebenarnya Ryan sudah mulai malas karena menunggu terlalu lama namun karena tekad sang istri akhirnya ia mengalah.
"Ayolah sayang kita pulang saja, penyidikan memakan waktu lama loh malah bisa sampai 24 jam," ajak Ryan yang sudah malas.
"Tunggu sebentar lagi mas, nanggung," tolak Dinda.
"Apa kamu gak bosan?" tanya Ryan.
"Kalau di bilang bosan ya sudah pasti mas tapi mau gimana lagi ini semua demi keberlangsungan rumah tangga kita, aku mau masalahnya segera selesai sekarang juga," ucap Dinda sangat kekeh.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Ryan pasrah.
"NGAPAIN KALIAN MASIH DISINI? INGIN MENGHINA GUE? ATAU MAU MEMBERATKAN HUKUMAN GUE?" pekik Vika sinis.
"Gue masih penasaran dengan lo, mengapa sebegitu niatnya lo edit foto seperti itu? Apa tujuannya?" tanya Dinda mencoba tenang.
"HAHA HANYA KARENA ITU KALIAN SAMPAI MENUNGGU SELAMA INI? CIH.." sindir Vika.
"Terserah lo mau ngomong apa tapi intinya jelaskan sekarang juga apa tujuanmu melakukan itu semua, jangan menguji kesabaran gue," gertak Dinda serius.
"Lo denger kan apa kata istri gue? Katakan sejujurnya sekarang," ucap Ryan penuh penekanan.
"Untungnya apa? Toh gue juga udah disini kan," tanya Vika tersenyum sinis.
"BRAK... GUE UDAH MENCOBA SABAR TAPI LO SELALU SAJA MEMANCING EMOSI GUE, KATAKAN SEJUJURNYA SEKARANG APA SUSAHNYA SIH? GUE BISA SAJA MEMBUAT HUKUMAN MU SEMAKIN BERAT," gertak Dinda menggebrak meja.
"LO PIKIR DENGAN GEBRAKAN MEJA BISA MEMBUAT GUE CIUT GITU? HAHA.." ejek Vika.
"Oke.. Lo memang ajak ribut, mas urus semua berkas dan pastikan dia di hukum seberat mungkin, jangan sampai manusia seperti dia mendapat celah di bumi ini," ancam Dinda dan Vika seketika murka.
"LO GUNAIN KEKUASAAN SUAMIMU UNTUK MENGHUKUM GUE? COBA PAKAI OTAK DAN OTOT LO SENDIRI DONG, JANGAN ADANYA BERLINDUNG DIBAWAH KETIAK SUAMI.. DIA MEMANG SUAMIMU TAPI JANGAN APA-APA LIBATKAN DIA, CHILDISH BANGET SIH LO, GUE MAKIN LAMA MAKIN ENEG LIHAT MUKA LO.. PERGI DARI SINI SEBELUM GUE BERTINDAK LEBIH JAUH DAN KALAU NANTI HUKUMAN GUE MAKIN BERAT MAKA AKAN GUE PASTIKAN KALAU LO ORANG PERTAMA YANG AKAN GUE HANCURKAN.. GUE AKAN BUAT LO HANCUR SEHANCUR-HANCURNYA," pekik Vika sangat emosi dengan mata memerah.
"Gue gak akan gentar dengan ancaman lo, katakan sejujurnya sekarang maka gue pastikan hukuman lo lebih ringan," ucap Dinda.
"Lebih baik gue disini lama dan sesuai masa hukuman ketimbang bisa bebas lebih cepat karena bantuan kalian, cih gak sudi.. Ntar gue hutang budi, ingat ya gue akan membuat perhitungan dengan kalian karena sudah membuat gue hancur seperti ini, gue hanya melakukan satu jebakan tapi kalian membalasnya dengan sangat merugikan kehidupan gue.. Gue yang sebenarnya rugi banyak akan kejadian ini, gue rugi waktu, umur, finansial dan juga kesehatan.. Sedangkan kalian? Kalian hanya terkena syok terapi sebentar saja setelah itu berbaikan lagi tanpa memikirkan seseorang yang perlahan di hancurkan hidupnya, gue yakin kalau bukan gue saja orang pertama yang lo buat seperti ini, ingat Din.. Doa orang tersakiti lebih mujarab," sindir Vika.
"Sudahlah percuma saja minta dia mengakui hanya membuang waktu saja, lebih baik sekarang kita pulang.. Ada anak-anak yang menanti kita dan lebih membutuhkan kita, biarkan Vika di urus oleh pihak kepolisian," ucap Ryan sudah sangat malas dan memaksa Dinda pulang.
__ADS_1
"INGAT DINDA... LO ORANG PERTAMA YANG AKAN GUE BUAT HANCUR LEBUR.. INGAT ITU HAHA.." pekik Vika sembari tertawa dan Dinda hanya geleng-geleng kepala saja. Benar kata suaminya, tidak ada gunanya memaksa orang macam Vika untuk mengakui kesalahannya, biarkan pihak kepolisian yang memberikan jawabannya.
***