
Setelah dibawa ke klinik kini Sisil masih saja terbaring lemah, wajah dan tubuh yang dulunya cantik jelita kini penuh akan lebam.
Hingga seminggu sudah Sisil dirawat dan tidak ada kemajuan yang signifikan. Pihak kepolisian akhirnya membawa Sisil ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
Karena terus menerus di kabari pihak kepolisian, Rio merasa gerah dan akhirnya terpaksa datang ke rumah sakit. Mau bagaimana pun Sisil masih istrinya.
Di rumah sakit kepolisian.
"Selamat siang Pak Rio, akhirnya anda datang juga.. Senang sekali ada perwakilan dari pihak keluarga saudari Sisil yang datang menjenguk," ucap pak polisi ramah dan saling berjabat tangan.
"Siang Pak.. Maaf karena saya ada keperluan yang tidak bisa di tinggal dan baru bisa kesini sekarang," ucap Rio tersenyum ramah.
"Baik.. Silahkan bapak ke ruangan administrasi karena ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani, semakin cepat anda mengurusnya maka semakin cepat pula perawatan yang diberikan pada istri anda, kalau begitu saya permisi dulu," ucap pak polisi lalu bergegas pergi.
"Sisil.. Sisil.. Buat onar apa sih sampai dibawa ke rumah sakit segala, jadi orang kok ngrepotin terus," batin Rio kesal lalu menuju ruang administrasi.
Setelah selesai kini Rio ke kamar inap Sisil. Rasanya Rio tidak percaya kalau yang ada di depan matanya itu Sisil, penampilan istrinya sangat berubah 180 derajat apalagi ditambah luka lebam di sekujur tubuhnya membuat penampilan Sisil semakin memprihatinkan.
"Sisil? Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Ini sungguh luka yang parah," ucap Rio terkejut.
Tak kuasa melihat Sisil terbaring lemah seperti itu kini Rio menghubungi keluarga Sisil dan memberitahu yang sebenarnya.
"Halo mah?" ucap Rio mengawali obrolan.
"Hai Rio.. Tumben telpon mamah, ada apa?" tanya mamah Sisil.
"Ada yang ingin Rio katakan mah dan ini mengenai Sisil, Rio harap mamah jangan langsung emosi ya, dengarkan sampai Rio selesai bicara," pinta Rio harap cemas.
__ADS_1
"Memang Sisil kenapa? Ada apa dengan anakku? Jangan membuat mamah khawatir," tanya mamah Sisil panik.
"Mah Sisil sekarang berada di rumah sakit kepolisian karena Sisil bertengkar dengan sesama narapidana, maafin Rio tidak memberitahu mamah kalau Sisil masuk penjara," ucap Rio hati-hati.
"APA?? JANGAN BERCANDA RIO, KENAPA SISIL BISA MASUK PENJARA? KESALAHAN APA YANG ANAKKU LAKUKAN?" pekik mamah Sisil terkejut.
"Sisil terbukti dalang di balik manipulasi orderan kosmetik dari usahanya Dinda mah, dia juga terbukti dalang dibalik pengalihan setengah harta perusahaan ku dengan bantuan sepupunya," ucap Rio.
"Gak.. Mana mungkin Sisil sampai melakukan hal itu, kamu jangan mengarang ya Rio.. Mamah tau hartamu banyak tapi jangan menimbulkan anak mamah dong, lagian sepupu siapa yang kamu maksud itu ha?" tanya mamah Sisil tak terima.
"Mana ada Rio mengarang ini semua, semua sudah terbukti dengan jelas dan pihak kepolisian mengakuinya makanya itu Sisil menjadi tahanan, untuk sepupu yang Rio maksud namanya Meta," ucap Rio kesal.
"Kalau memang Sisil bersalah kenapa kamu baru mengabarinya sekarang? Mencurigakan.. Dan untuk Meta, memang dia sepupu Sisil lebih tepatnya sepupu jauh, dia tinggal di luar kota bagaimana bisa membantu Sisil melakukan ini semua?" cecar mamah Sisil.
"Rio sengaja menyembunyikan kabar Sisil masuk penjara atas permintaan Sisil mah, dia tidak mau kalian semua khawatir dan banyak yang mengunjungi Sisil, untuk urusan Meta ya Rio gak tau bagaimana awalnya mereka bertemu.. Yang jelas Meta di rekomendasikan oleh Sisil menjadi sekretaris ku dan ternyata Meta yang menjadi tangannya Sisil untuk mengambil setengah harta perusahaan, untung segera terungkap, coba kalau masih aman-aman saja mungkin sampai sekarang harta perusahaan udah habis mah.. Perusahaan juga sempat pailit gara-gara ulah Sisil dan Meta," ucap Rio sedikit geram.
"Mah kalau posisi Rio sedang baik-baik saja mungkin Rio akan membantah permintaan Sisil.. Tapi waktu itu keadaan sedang kacau balau mah, Rio hampir gila menghadapi semuanya seorang diri sedangkan Sisil enak-enakan menikmati uang perusahaan," ucap Rio geram.
"Tetap saja posisinya kamu yang salah.." sindir mamah Sisil dan Rio hanya bisa menghela nafas kasar.
"Mamah akan segera datang ke sana, dimana ruangannya Sisil?" tanya mamah Sisil ketus.
"Baik mah.. Sisil ada di ruang khusus narapidana, nanti bilang saja sama petugas rumah sakit," jawab Rio ketus.
"RIO.. KAMU KEBANGETAN SEKALI SIH, BISA-BISANYA SISIL DI TEMPATKAN DI SANA, HARUSNYA DI RUANG VIP DONG.. GIMANA SIH KAMU, CEPAT RESERVASI KAMAR," pekik mamah Sisil kecewa.
"Mah Sisil sekarang sebagai tahanan, mana bisa asal reservasi tempat, udah ya mah Rio capek terus menerus di salahkan terus.. Segeralah mamah kesini karena Rio ada pekerjaan yang menumpuk," ucap Rio memilih mengalah.
__ADS_1
"Ok mamah ke sana," jawab mamah Sisil lalu mematikan panggilan.
"Huft.. Mamah dan anak kenapa bikin emosi, anaknya yang salah kenapa gue yang kena, nanti setelah Sisil siuman pokoknya harus menandatangani surat gugatan cerai, bisa gila gue memiliki istri dan mertua seperti mereka," gumam Rio bergidik ngeri.
Lalu setengah jam kemudian mamahnya Sisil sudah tiba di rumah sakit dan lagi-lagi membuat Rio kesal.
"Rio.. Haduh ruangannya kenapa jauh sekali sih, oh iya kamu lagi nungguin siapa? Mana Sisil?" tanya mamah Sisil celingukan mencari anaknya.
"Namanya aja ruangan khusus narapidana ya wajar dong mah kalau jauh, kan ruangannya gak satu gedung sama pasien lainnya," ucap Rio malas.
"Ah pokoknya ini semua gak adil, mana Sisil?" tanya mamah Sisil sekali lagi.
"Mamah ini udah amnesia atau memang lagi ngajak bercanda sih, ya ini Sisil.. Yang sedang ada di sebelah Rio, dia itu Sisil," ucap Rio kesal.
"Ha? Dia Sisil? Drama apalagi yang mau kamu buat Rio, ini bukan Sisil.. Mamah tau betul bagaimana anak mamah," tolak mamah Sisil.
"Mah udah ya Rio capek banget terus meladeni celotehan mamah, ini beneran Sisil dan kalau mamah tidak percaya silahkan lihat nama pasien di tempat tidur, tengok mah," ucap Rio, mengusap wajahnya kasar lalu menunjuk nama pasien di tempat tidur Sisil.
"Gak.. Ini bukan Sisil.. Kenapa mukanya babak kayak gini sih," protes mamah Sisil.
"Lihat dengan jelas mah," ucap Rio penuh penekanan dan mamahnya Sisil mengikut saran Rio, dia mendekati Sisil dan langsung terkejut melihat kondisi anaknya sangat memprihatinkan seperti itu.
"SISIL..." pekik mamahnya histeris.
"Sudah jelas kan mah? Maaf Rio harus pamit dulu karena ada meeting penting," pamit Rio dan bergegas pergi.
"Sisil... Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa kondisimu sangat menyedihkan begini, mengapa semuanya jadi seperti ini? Apa yang udah kamu lakukan?" gumam mamah Sisil berlinang air mata.
__ADS_1