RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Rencana Sisil


__ADS_3

Pagi hari Sisil sudah bangun dan sesuai janjinya dia akan merubah sifat buruknya supaya tidak di hempas oleh keluarga suaminya. Mau gak mau dia belajar memasak dan menyiapkan semua kebutuhan Rio sebelum berangkat kerja.


"Sialan.. Nyiapin gini aja pakai nyuruh orang, belagu banget sih jadi orang.. Untung kaya coba kalau jatuh miskin ish ogah banget," batin Sisil sambil menyiapkan sarapan di meja.


"Loh Sil kamu menyiapkan ini semua?" tanya Mayang tak percaya.


"Selamat pagi mah, iya mah tapi di bantu bibi kok, Sisil nyoba belajar masak," sapa Sisil tersenyum manis.


"Tumben sekali, ada apa?" tanya Mayang heran.


"Tidak apa apapun mah, ini memang tugas Sisil sebagai istri, selama ini Sisil sudah lalai melayani mas Rio," ucap Sisil memasang wajah sedih.


"Syukurlah kamu sudah menyadarinya, semoga ini tidak sementara saja," ejek Mayang dan Sisil menahan emosi.


"Ayok mah sarapan mau Sisil ambilkan lauk apa?" tawar Sisil mengalihkan obrolan.


"Tidak perlu saya bisa ambil sendiri, yang penting kamu melayani anak saya dengan baik saja sebelum dia berubah pikiran, lagian aturan sarapan di sini kan harus ada seluruh anggota keluarga dan sekarang Rio dan suami saya belum kesini," cibir Mayang sinis.


"Iya mah ini Sisil mau manggil mas Rio," ucap Sisil lalu bergegas ke kamar.


"Dasar nenek lampir sialan! Udah untung gue mau jadi babu masih aja kurang," batin Sisil kesal.


"Kenapa wajahmu masam begitu? Ini masih pagi jadi jangan buat mood ku berantakan," tanya Rio heran.


"Gak ada apa-apa mas hanya capek saja siapin semuanya sendiri, yuk sarapan sudah di tunggu mamah di meja," ajak Sisil lembut.


"Iya padahal aku mau bicarakan ini, tumben sekali kamu melakukan semua ini," sindir Rio.


"Katanya kamu mau melihat perubahan dariku kenapa sekarang malah mengejek gitu sih," protes Sisil kesal.


"Ya syukur deh kalau kamu mau berubah," jawab Rio enteng dan mereka keluar kamar bersama menuju meja makan.


Setelah selesai sarapan dan masing-masing melakukan aktivitasnya, kini waktunya Sisil menemui Dinda.


###


Ting tong.. Suara bel rumah Dinda


"Iya.." jawab Dinda dari dalam rumah dan membukakan pintu.


"Hai Dinda," sapa Sisil tersenyum manis.

__ADS_1


"Si.. Sisil? Ngapain kamu kesini?" tanya Dinda terkejut.


"Ya gue mau menjenguk anak gue lah, Farel kan anak sambung gue," ucap Sisil angkuh.


"Stop halu Sisil, sekarang Farel adalah mutlak anak kandung gue dan hak asuh pun jatuh ke tangan gue jadi jangan lagi mengakui Farel sebagai anakmu lagi," ucap Dinda penuh penekanan.


"Ya memang Farel anak kandung mu tapi kan sama saja gue ini ibu sambung Farel, mana dia? Gue kangen Din," ucap Sisil membuat Dinda kesal.


"Dia sekolah dan ini masih terlalu pagi untukmu menemui dia jadi pulanglah," usir Dinda.


"Yasudah gue tungguin aja di sini," ucap Sisil membuat Dinda melongo tak percaya.


"Gue gak bisa menerima tamu asing, kalau lu mau menunggu Farel tunggu lah di rumah kedua orang tua gue, waktu gue terlalu berharga kalau untuk menjamu tamu sepertimu," sindir Dinda.


"Sombong sekali kamu, hei gue kesini bertamu bukan meminjam uang, kalau lu gak sudi menemani gue ya gak papa tinggal aja disini atau tidak biarkan gue duduk di ruang tamu," ucap Sisil membuat Dinda makin kesal.


"Ruang tamu penuh dengan barang dagangan takutnya nanti ada yang hilang dan gue bingung ganti ruginya, pergilah atau tidak ke rumah orang tua gue, di sana malah lu punya teman ngobrol," usir Dinda.


"Cih jadi orang kok belagu banget sih, gue datang baik-baik malah di usir, jam berapa anakmu pulang? Gue akan ke sini lagi," tanya Sisil kesal.


"Jam 12 siang," jawab Dinda ketus.


"Dasar wanita gak ada akhlak, datang gak di jemput pulang pun gak di antar, bisa-bisanya mas Rio bucin dengan wanita seperti itu," gumam Dinda lalu kembali masuk ke rumah.


Sesuai perkataan Sisil 3 jam yang lalu, ia beneran datang dan sudah menunggu di teras rumah.


"Gila.. Segitu nekat nya dia kesini," batin Dinda.


"Mom kenapa ada mamah Sisil disini?" tanya Farel penasaran.


"Hai Farel sayang.. Sini peluk mamah dong, kangen sekali nih," sapa Sisil lalu melebarkan kedua tangannya dan berharap akan di peluk Farel.


"Gak mau ah," jawab Farel dengan polosnya.


"Ayo dong Farel jangan begitu, mamah capek loh bolak balik kesini," pinta Sisil.


"Ya jangan salahin Farel dong mah," protes Farel kesal.


"Iya maaf sayang ya, ganti baju dulu sana," ucap Sisil penuh perhatian dan Farel langsung bergegas masuk.


"Sil mending katakan sejujurnya apa tujuanmu datang kemari? Sandiwara apalagi yang mau lu buat?" tanya Dinda penuh penekan.

__ADS_1


"Sudah gue katakan jika kedatangan gue kesini pure kangen sama Farel, please jangan halangi gue," pinta Sisil memohon.


"Tumben," sindir Dinda tersenyum kecut.


"Boleh gak kalau gue ajak Farel jalan-jalan? Gak perlu jauh kok, sekitar sini aja.. Ya ke taman atau mall," tanya Sisil penuh harap.


"Lu lagi kesambet apaan?" tanya Dinda terkejut.


"Gak ada.. Boleh ya, gue gak sendirian kok.. Ada mbak juga yang ikut jagain Farel," pinta Sisil dan Dinda menimang-nimang.


"Mommy laper.." rengek Farel.


"Yuk makan sama mamah, kebetulan mamah belum makan siang dan mau cari makan sama Farel," ajak Sisil semangat.


"Mommy belum masak sayang maaf ya, apa mommy masakin dulu?" tanya Dinda.


"Udah lapar banget mommy," rengek Farel.


"Udahlah din biarin Farel gue ajak makan siang, yuk Farel berangkat sekarang ntar malah perutnya sakit," ucap Sisil lalu menggandeng Farel dan mereka melajukan mobil.


"Akhirnya rencana pertama gue mulus, pokoknya gue harus baik-baik ini Farel supaya dia mau balik lagi ke rumah mas Rio, dengan begitu posisi gue aman," batin Sisil bahagia.


Di satu sisi Dinda merasa gelisah karena tidak biasanya Sisil bersikap baik malaikat, untuk mengurangi rasa gelisah nya Dinda bergegas menelpon Ryan.


"Halo bu?" sapa Ryan lembut.


"Halo pak Ryan, apakah saya menganggu waktunya?" tanya Dinda sungkan.


"Oh tidak bu kebetulan ini jam makan siang, ada apa?" tanya Ryan penasaran.


"Farel pak.. Farel..." ucap Dinda tak bisa menahan air matanya.


"Farel kenapa bu? Coba tenang dulu ya, tarik nafas.. Buang nafas.." tanya Ryan khawatir.


"Tadi Sisil datang kemari dan sekarang dia mengajak Farel makan siang, sebenarnya aku tidak setuju pak tapi kebetulan aku belum sempat masak jadinya Sisil dapat celah membawa Farel.. Aku khawatir pak huhuhu.." ucap Dinda menangis tergugu.


"Kok bisa lolos begitu bu? Tadi Sisil bilangnya mau kemana?" tanya Ryan terkejut.


"Iya Pak habisnya aku gak ada pilihan lain, Farel kelaparan dan Sisil terus mendesak Farel.. Dia bilang mau di sekitar rumah saja atau gak di mall," ucap Dinda panik.


"Tenang bu, tunggu sampai nanti sore ya kalau Farel belum juga pulang baru kita samperin rumahnya, jangan terlalu panik bu malah nantinya memperburuk suasana, atau tidak coba ibu telpon Rio.. Siapa tau Rio mengetahui dimana posisinya Sisil dan Farel," usul Ryan dan Dinda langsung menyetujuinya.

__ADS_1


__ADS_2