
Hari berganti hari, bulan berganti bulan.. Begitulah kehidupan, hari bahagia pernikahan Dinda dan Ryan tinggal menghitung bulan lagi, tepatnya 1 bulan lagi keduanya akan resmi menjadi suami istri, sudah menjadi hal yang lumrah bahwa ketika mempersiapkan pernikahan selalu saja ada konflik yang memicu keduanya saling bersitegang. Banyak orang yang menganggapnya sebagai kapal pecah, karena ujian seseorang yang akan menikah memang sangat besar.
Seperti halnya hari ini, Dinda begitu kesal dengan Ryan karena desain undangan dan sovenir tidak sesuai ekpetasi Dinda.
"Mas.. Ini desain undangannya?" tanya Dinda.
"Iya sayang, bagus kan?" tanya Ryan bangga.
"Bagus apanya, ini norak dan terkesan jadul mas.. Kan aku udah pilihin undangannya waktu itu, kenapa di rubah sih?" tanya Dinda kesal.
"Setelah di pikir pilihanmu terlalu muda sayang, terlalu seperti anak muda nah begitu maksudnya.. Kita kan sudah berumur," ucap Ryan menjelaskan.
"Ah ya gak ada namanya desain seperti anak muda, semua desain undangan formal dan universal mas," jawab Dinda kesal.
"Ada sayang nyatanya pilihanmu tuh, udahlah pakai ini aja bagus kok," ucap Ryan tak mau mengalah.
"Mas.. Jangan begitu dong, harus sesuai kesepakatan awal, ini harinya udah mepet malah kamu ubah seenaknya," ucap Dinda geram.
"Ya gimana lagi aku gak suka," jawab Ryan dengan entengnya.
"Kalau gak suka itu ya bilang dari awal," sindir Dinda.
"Kan memang udah bilang dari awal kalau aku gak suka sama desainnya tapi kamu tetap aja kekeh," sindir Ryan.
"Tapi kenapa sekarang kamu ubah sesuai keinginanmu sendiri mas? Mikirin aku juga dong," pekik Dinda.
"Sudahlah lagian undangannya sudah jadi, jangan di perdebatkan lagi, toh nantinya juga berakhir di tong sampah," jawab Ryan enteng.
"Kamu menghancurkan pernikahan impianku mas," ucap Dinda sedih.
"Semua dekorasi, gaun, venue bahkan sampai catering pun sesuai request mu semua.. Ini hanya karena undangan kamu mengatakan itu," ucap Ryan marah.
"Apapun ya di musyawarahkan berdua mas," jawab Dinda sedih.
__ADS_1
"Waktu memesan catering dan venue adalah kamu memusyawarahkan padaku? Gak kan.. Kamu putuskan semuanya sendiri," sindir Ryan.
"Ya waktu itu katamu terserah.. Yang penting terlihat bagus," sindir Dinda.
"Tetap saja kamu langsung memutuskannya sendiri, harusnya video call atau di diskusikan dulu biar aku juga tau, sekarang kita impas," jawab Ryan kesal.
"Mas.." pekik Dinda.
"Kenapa?" tanya Ryan ketus.
"Kenapa kamu sekarang berubah? Mana mas Ryan yang dulu?" tanya Dinda sedih hati.
"Aku masih sama seperti yang dulu, gak ada yang berubah dan tidak akan pernah berubah, mungkin itu hanya persepsi mu saja, aku melakukan apa yang memang aku lakukan dan demi kebaikan kami semua," ucap Ryan ketus.
Sri yang sedari mendengarkan perdebatan keduanya dari dalam rumah merasa terpanggil hatinya untuk menengahi mereka.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdebat?" tanya Sri sembari memandang keduanya bergantian.
"Ya mau gimana lagi bu saya tidak suka desainnya lagian apa salah saya bu kalau saya ingin yang terbaik untuk pernikahan saya? Ini pernikahan pertama saya jadinya saya mau semuanya terbaik dan indah," ucap Ryan membela diri.
"Tidak ada yang salah dengan keinginanmu tapi alangkah baiknya semua hal mengenai pernikahan kalian diskusikan bersama agar tidak ada perselisihan paham seperti ini," tegur Sri dengan lembut.
"Bu.. Bukannya saya membantah atau apa, tapi saya hanya ingin menyalurkan keinginan saya dengan membuat desain undangan sesuai ekspetasi saya, selama ini saya selalu mengalah dengan Dinda dan dia yang mendominasi keinginan pernikahan, saya hanya undangan saja respon Dinda seperti sangat tidak terima dan kecewa sekali, padahal saya selalu menuruti kemauan dia bu, urusan catering dan venue saja Dinda tidak mendiskusikannya pada saya, dia langsung memutuskannya sendiri, andai waktu itu saya juga marah dan kecewa apakah dinda akan mengerti? Tidak bu.. Dia memiliki pernikahan impian versi dia tanpa memikirkan saya sebagai pasangannya," ucap Ryan kecewa.
"Nah kalau kalian saling mengungkapkan isi hati kan enak jadinya, kalian ini hampir menikah jadi jangan ada yang di sembunyikan, untuk Dinda.. Biarlah urusan undangan di handel Ryan, kan kamu sudah handel banyak hal.. Biarlah calon mu menyalurkan keinginannya," tegur Sri dengan bijaksana.
"Nah ini maksud saya bu, saya juga ingin menyalurkan keinginan saya meskipun hanya satu saja, tapi bagi Dinda ini adalah suatu permasalahan yang besar, saya sedikit kecewa dengan perkataan Dinda bu," ucap Ryan mengeluh.
"Sudahlah kalian jangan memperbesar masalah yang seharusnya bisa langsung terselesaikan, resiko ingin menikah ya begini.. Akan ada ujian yang membuat kalian saling bertengkar dan ya perasaan kalian akan di uji sampai hari pernikahan tiba, jadi janganlah terlalu terpancing akan masalah yang ada," tegur Sri pada keduanya.
"Lah iya saya sependapat dengan ibu, dengerin tuh.." sindir Ryan melihat Dinda.
"Mas.." pekik Dinda kesal.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" tanya Ryan heran.
"Sudah Dinda jangan memperkeruh suasana lagi, ibu harap ini permasalahan kalian yang terakhir," harap Sri.
Mendengar ungkapan hati calon suaminya Dinda merasa bersalah karena memang benar semua ini persiapan pernikahan di dominasi oleh keinginan Dinda tanpa perlu tau bagaimana pemikiran Ryan.
"Hanya masalah undangan saja aku sampai segitunya dengan mas Ryan padahal selama ini dia sudah banyak mengalah demi aku bisa mewujudkan pernikahan impian yang aku idamkan sejak dulu, aku memang egois dan tidak pernah memikirkan perasaan calon suami aku," batin Dinda merasa bersalah dan sedih.
"Apa memang ini ya rasanya seseorang yang mau menikah? Apa ini alasan mereka banyak yang menyerah di tengah jalan dan membatalkan pernikahan mereka, aku hanya berharap semoga setelah resmi menikahi Dinda kehidupan kami di penuhi kebahagiaan, kedamaian, kesehatan dan rezeki yang lancar," batin Ryan optimis.
Keduanya lalu saling diam untuk beberapa saat sampai akhirnya Dinda yang memulai obrolan.
"Mas untuk sovenirnya?" tanya Dinda mengawali obrolan.
"Untuk sovenir aku membawa beberapa sampel pilihanku," jawab Ryan mengeluarkan sampel sovenir.
"Pilihanmu?" tanya Dinda kaget.
"Iya.. Aku sangat menginginkan dua model ini, tapi kalau kamu keberatan yasudah pakai pilihanmu saja," ucap Ryan pasrah.
"Dari awal kita sudah mempersiapkan semuanya dengan baik kan mas, mengapa pas di waktu yang hampir dekat kamu ubah? Ada apa ini?" tanya Dinda menahan kesal.
"Gak ada apa-apa, ini pernikahan kita berdua jadi setidaknya aku juga boleh ikut turut adil menyalurkan keinginanku," ucap Ryan.
"Mas.. Astaga kita ini baru saja di tegur ibu, bisa-bisanya kamu memancing amarahku lagi," ucap Dinda kesal.
"Tidak ada yang memancing, kalau kamu tidak setuju yasudah gak jadi aja, beres kan.. Ingat kata ibu, jangan memperkeruh permasalahan yang seharusnya bisa dengan mudah di selesaikan," ucap Ryan memperingatkan.
"Sepertinya ibu tidak menyatakan itu," jawab Dinda sambil memikir.
"Intinya seperti itu, sudah sekarang bagaimana perihal sovenir?" tanya Ryan tak mau memperpanjang masalah.
"Sesuai kesepakatan awal saja mas, lagian nanti aku juga mau memberikan krim pagi dan malam secara cuma-cuma pada tamu undangan perempuan, jadi biar serasi dengan sovenirnya," ucap Dinda lalu Ryan pun hanya pasrah.
__ADS_1