
"Maaf Nal, ini bukan keputusan yang mudah, tidak semua bisa sesuai dengan keinginanmu," ucap Sisil sedih.
"Pikirkan lagi dengan baik agar kamu lebih bisa menghargai dirimu sendiri, ingat Sil kalau bukan kamu yang membahagiakan dirimu maka siapa lagi?" tanya Ronald.
"I know.. Thanks nal," jawab Sisil terharu, karena baru kali ini ada yang memperdulikan nya sampai segitunya. Sisil merasa dihargai sebagai perempuan juga sebagai manusia.
"Sama-sama.. Kalau kamu berubah pikiran kabari, aku ada untukmu kapanpun itu," jawab Ronald menepuk bahu Sisil.
"Ok.. Waktunya gue rasa udah habis, lebih baik pergilah," usir Sisil.
"Iya habis ini gue mau balik, take care Sil," pinta Ronald berlalu pergi.
"Hati-hati dijalan," ucap Sisil membuat hati Ronald bahagia. Ya meskipun belum bisa memiliki Sisil seutuhnya namun setidaknya ada perhatian-perhatian yang Sisil berikan padanya hingga membuat dirinya merasa bahagia.
Setelah memastikan Ronald pulang kini Sisil masuk ke rumah dan disambut oleh suaminya.
"Bagus.. Bagus sekali," sindir Rio mengagetkan Sisil.
"Bagus apanya mas?" tanya Sisil tak mengerti.
"Sudah mulai berani membawa pria lain di rumah ini bahkan dengan beraninya pria mu itu memintaku untuk memberi ruang kalian ngobrol, apa saja yang kalian bahas? Mau bernostalgia?" sindir Rio.
"Sudah aku katakan berulang kali kalau aku tidak tau jika Ronald mau kesini, kalau gak percaya ya silahkan mas aku sudah muak terus menerus berdebat denganmu," protes Sisil berlalu ke kamar.
"SISIL.. BERANI YA KAMU MENGABAIKAN AKU," teriak Rio yang hanya dicueki oleh Sisil.
__ADS_1
"Kenapa sih Rio? Udah bagus kemarin-kemarin adem ayem sekarang kumat lagi," protes Mayang keluar dari kamar.
"Sisil yang mulai mah, beraninya bawa pria ke rumah," jawab Rio membuat Mayang murka.
"Apa? Berani sekali dia.. Mamah pikir dia sudah berubah ternyata sama saja, dasar wanita tak tau diri, mana dia?" tanya Mayang emosi.
"Ada di kamarnya," jawab Rio ketus.
Mayang bergegas menuju kamar anaknya dan mengetuk pintu sangat keras namun sayang sekali sepertinya Sisil tidak menanggapi hingga membuat Mayang semakin dibuat kesal oleh kelakukan menantunya itu.
"Sil buka pintunyaaaaaa," teriak Mayang sembari menggedor pintu sangat keras.
"Jangan keras-keras mah nanti pintu kamarku rusak," protes Rio menghampiri mamahnya.
"Mah.. Sudah biarin saja dulu, nanti dia juga keluar," perintah Rio dan mamahnya pun setuju.
"Oke kamu mulai berani membantah mamah ya Sil.. Awas kamu," ancam Mayang dan langsung berlalu pergi.
***
Didalam kamar Sisil terus menerus menangis dan membiarkan mamah mertua serta suaminya mencaci maki dirinya, memang apa salah Sisil sampai harus menerima gertakan segini nya? Mana Sisil tau jika Ronald akan datang ke rumah mas Rio dan membuat kegaduhan, andai Sisil tau dari awal sudah pasti dia akan menolaknya dengan keras.. Mana mungkin Sisil bakalan membawa teman prianya di rumah suaminya sendiri, sama saja dia bunuh diri. Seharusnya mas Rio mikir sampai sana dong, bukan malah adanya menghardik Sisil sesuka hatinya apalagi mamahnya tuh.. Gak tau akar masalahnya main emosi aja. "Semua ini gara-gara Ronald.. Apa sih tujuan dia datang kesini? Gak jelas banget, mana mungkin gue kabur? Gila apa.. Enak banget asal ajak kabur anak orang, dia pikir gue kucing apa, hih.. Pokoknya dia harus bertanggung jawab!!!"
Malam harinya perut Sisil sangat lapar karena dari siang dia belum makan satu suapan pun, ingin ke bawah tapi dia takut kena omelan mertuanya tapi kalau dia gak makan bisa-bisa jatuh sakit dan libur kerja, makin jenuh dong dia di rumah. "Ah masa bodoh.. Pokoknya harus makan biar gak mudah sakit, nanti kalau, ketemu mamah yasudah dengerin aja selain itu gak bikin sakit hati,"
Ketika Sisil turun, kebetulan sekali Mayang habis dari dapur mengambil minum. Momen yang pas untuk mencaci maki Sisil, batin Mayang.
__ADS_1
"Enak sekali tuan putri jam segini baru turun dan langsung makan, lapar ya?" sindir Mayang.
"Iya mah Sisil lapar, makan dulu ya mah," jawab Sisil dibuat santai.
"Enak aja asal makan, dengerin dulu mamah ngomong," protes Mayang dan Sisil berusaha untuk tidak terpancing emosi.
"Mah, Sisil lapar bangettt bolehkan kalau Sisil makan dulu? Gak lama kok," pinta Sisil dan Mayang hanya melengos. Tanpa menunggu jawaban dari mamah mertuanya kini Sisil makan dengan lahap dan melupakan sejenak masalah yang sedang menimpanya. "Demi besok bisa berangkat kerja dan jangan sakit, gue harus bersikap muka tebal dihadapan keluarga mas Rio,"
Mayang pun dengan setia menunggu sang menantu sampai selesai makan, hal yang membuat Sisil merasa kurang nyaman. "Dipenjara saja waktu jam makan gak pernah tuh polisi memperhatikan sampai segini nya, disini yang notabene di rumah suami yang seharusnya menjadi tempat ternyaman malah rasanya melebihi penjara,"
"Sudah selesai kan?" tanya Mayang dan Sisil hanya mengangguk saja.
"Katakan dengan jujur, siapa laki-laki yang kamu ajak kesini," ucap Mayang mengintrogasi.
"Dia teman Sisil waktu kuliah sekaligus teman kerja dan Sisil mau meluruskan jika bukan Sisil yang meminta Ronald untuk datang kemari, sama sekali tidak.. Dia datang atas inisiatifnya sendiri, jadi jangan semua kesalahan dilimpahkan ke Sisil," ucap Sisil penuh penekanan.
"Mana bisa teman kamu itu tau rumahmu kalau bukan kamu sendiri yang memberitahu," sindir Mayang dan Sisil pun baru teringat, benar apa yang dikatakan oleh mamah Mayang jika Ronald tau rumahnya mas Rio darimana? Sedangkan dulu setiap jemput kan posisinya di rumah Sisil. Ini benar-benar mencurigakan, apa memang ini sudah bagian dari rencana Ronald?
"Hei kenapa malah diam saja? Bingung mau membuat alasan apalagi? Makanya jadi orang jangan suka drama.. Repot kan jadinya," tanya Mayang sebal karena Sisil hanya diam saja.
"Gak mah.. Sisil juga berpikir darimana Ronald bisa tau alamat rumah ini sedangkan Sisil tidak pernah sekali pun memberikan alamat rumah mas Rio pada siapapun," ucap Sisil yang membuat Mayang tak percaya.
"Ah alasan aja kamu.. Bilang saja dulu kamu pernah pulang bareng sama dia tapi gak sampai depan rumah," sindir Mayang.
"Stop mah.. Sisil daritadi sudah sabar dengan tuduhan demi tuduhan yang mas Rio juga mamah katakan, Sisil tau batasan dalam berteman mah dan Sisil bukan orang yang sembarangan memberi info pribadi, terserah deh mau mamah dan mas Rio percaya omongan Sisil apa enggak yang terpenting Sisil sudah berkata jujur, daripada hanya menuduh satu pihak saja kenapa kalian tidak menanyakan langsung pada Ronald? Kan dia sendiri yang memulai semua ini, kenapa hanya Sisil saja yang disalahkan? Semua yang Sisil lakukan selalu saja salah dimata keluarga ini, ingat mah kalau bukan keinginan papah mana mungkin Sisil mau tinggal serumah lagi dengan mas Rio, malah bagus jika mas Rio waktu itu menceraikan Sisil" ucap Sisil membuat Mayang sangat murka.
__ADS_1