
Setelah membaca chat suaminya, Dinda seperti orang yang kehilangan arah tujuan, biasanya setiap hari ada goal yang ingin ia wujudkan namun akhir-akhir ini masalah rumah tangganya dan kepergian Ryan diluar kota mampu membuat Dinda tak fokus.
Ponsel Dinda bergetar, menandakan ada seseorang yang menghubungi, setelah dilihat siapa orangnya, Dinda merasa perasaannya tiba-tiba gak enak hati, padahal di satu sisi ia sangat ingin mengangkat panggilan dari suaminya itu.
"Siapa mah kok gak diangkat?" tanya Vanessa mengagetkan Dinda.
"Hei sayang.. Mamah sampai kaget nih lihat kamu tiba-tiba muncul, ini yang telepon papah Ryan," jawab Dinda berusaha tenang.
"Kenapa gak diangkat mah? Lagi marahan?" tebak Vanessa.
"Eh ya enggak dong sayang.. Ini mamah mah angkat kok," bantah Dinda yang tak mau anak-anak nya tau jika orang tuanya sedang ada masalah.
"Hai sayang.. Kenapa lama sekali angkatnya? Lagi ngapain sih?" tanya Ryan.
"Hai pah.. Tadi mamah ngobrol dulu sama Vanessa, video call yuk pah," jawab Vanessa yang mengambil alih ponsel Dinda.
"Next time gak boleh gitu ya Vanessa, gak baik langsung ambil ponsel orang lain apalagi itu orang tua, jadi besok minta izin dulu," tegur Dinda.
"Ya mah.. Maaf," jawab Vanessa memasang wajah sedih.
"Oke mamah maafin, sana kalau mau video Call sama papah," jawab Dinda tersenyum.
"Hai Vanessa sayangnya papah, apa kabar cantik?" tanya Ryan dengan ramah.
"Kabar baik pah, gimana kabar papah?" tanya balik Vanessa.
"Always fine.. Oh iya apa kamu gak sekolah?" tanya Ryan.
"Gak pah.. Sekolahnya libur 2 hari karena lagi dipakai penataran," jawab Vanessa.
"Sayang sekali ya ketika kalian libur malah papah diluar kota, andai papah disana, udah pasti papah ikutan libur dan ajak kalian liburan," ucap Ryan sedih.
"Memang papah pulangnya masih lama? Bukannya hari ini ya?" tanya Vanessa.
__ADS_1
"Gak sayang.. Maafin papah ya karena harus beberapa hari lagi disini, papah janji akan mengusahakan semua pekerjaan secepat mungkin agar segera pulang," jawab Ryan.
"Gak asyik dong pah," protes Vanessa.
"Maafin papah ya sayang.. Papah janji akan menyelesaikan semuanya dengan cepat, jangan sedih gitu dong kalau lihat anak cantik papah sedih gini malah buat papah gak semangat kerja," ucap Ryan.
"Ya habisnya papah gitu, bohong!" protes Vanessa.
"Siapa mas yang bohong? Lagi vc sama siapa sih kok kayaknya seru banget?" tanya Frida yang mendadak muncul ditengah mereka.
"Dia siapa pah?" tanya Vanessa mengintimidasi.
"Halo sayang.. Kenalin nama tante Frida," jawab Frida ramah.
"Tante siapanya papahku ya? Ngapain kalian hanya berduaan?" tanya Vanessa yang sukses membuat Dinda penasaran. Siapa yang dimaksud tante dan kenapa Vanessa berbicara seperti itu.
Melihat wanita yang sempat ia bahas dengan Fitri kemarin membuat dada Dinda terasa panas, jelas sekali jika keduanya tengah berada di hotel tempat suaminya menginap, ngapain ada wanita lain disana? Ini kan masih terlalu pagi bagi orang bertamu, apa jangan-jangan semalam mereka berada dalam satu kamar?
"Ini masih pagi mas kenapa kamu membuat aku dan Vanessa berpikir buruk tentangmu, apa yang kalian lakukan? Masalah wanita bernama Indah saja belum beres ini ada lagi wanita baru namanya Frida," batin Dinda sesak dan terpaksa Dinda mengambil alih vc.
"Ini istrinya mas Ryan ya? Cantik juga ternyata pantas anaknya juga cantik," puji Frida yang terasa memuakkan ditelinga Dinda.
"Sini hp gue jangan main serobot aja," ucap Ryan yang kembali mengambil alih ponselnya.
"Sayang.. Jangan negatif thingking dulu ya, dia namanya Frida orang yang akan aku bantu masalahnya, dia customerku sayang," ucap Ryan tak mau Dinda salah paham.
"Customer dalam ranjang kan maksudmu mas? Cih.. Bilangnya belum bisa pulang selama beberapa hari karena ada urusan nyatanya urusan ini toh," sindir Dinda.
"Sayang jangan ngomong gitu ah, ini gak seperti yang kamu pikirin," ucap Ryan penuh penekanan.
"Gak seperti yang aku pikirkan tapi kenyataannya mengatakan apa yang aku pikirkan itu benar mas," jawab Dinda emosi.
"Gak sayang.. Sumpah ini gak seburuk yang kamu kira," pinta Ryan agar Dinda percaya.
__ADS_1
"Kenyataannya beberapa hari ini memang aku sedang berpikir buruk tentangmu mas," jawab Dinda.
"Ada apa sih mas Ryan? Istrimu ngambek?" tanya Frida yang terdengar jelas dalam panggilan.
"Jelas.. Istri mana yang gak marah kalau tau ada wanita lain disana," jawab Dinda cukup keras.
"Astaga.. Istrimu baperan amat sih mas!" ejek Frida.
"Maaf Bu Frida, ini masalah rumah tangga saya jadi anda jangan ikut campur," tegur Ryan.
"Halah istri kayak gitu kok diterusin," cibir Frida.
"Gimana kelanjutannya mas Ryan? Belum tuntas loh ini," rengek Frida.
"KELANJUTAN APA MAS? APANYA YANG BELUM TUNTAS? HA? SANA TUNTASKAN DULU SAMPAI PUAS!!! GAK USAH PULANG SEKALIAN!" pekik Dinda yang mengira hal belum tuntas mengacu ke arah negatif.
"Jangan asal tuduh bisa gak? Memang dipikiran mu apa? Aku main gila dengan bu Frida gitu?" tanya Ryan kesal.
"PIKIR AJA SENDIRI!!" bentak Dinda.
"Udahlah.. Jangan urusin istrimu dulu yang ada malah gak kelar urusannya, emang istrimu belum tau ya tentang ini?" tanya Frida yang semakin memancing emosi Dinda. Gak mau mendengar hal aneh lagi, Dinda lantas mengakhiri vc dan berkemas untuk menyusul suaminya. Ia harus tau dengan mata kepalanya sendiri apa yang sedang terjadi di sana, sejauh apa hubungan suaminya dengan wanita itu, kenapa harus memanggil dengan panggilan yang sama dengannya, mas Ryan. Hal yang membuat Dinda gak suka!
Setelah berkemas dan memesan tiket pesawat via online, Dinda kebetulan mendapat jam keberangkatan awal, hanya selisih satu jam dari sekarang. Lebih cepat maka lebih baik, tak puas rasanya jika berdebat hanya lewat telepon, lebih baik bertemu langsung agar semuanya jelas.
"Mah.. Mamah mau kemana?" tanya Vanessa yang melihat Dinda membawa tas cukup besar.
"Mamah ada urusan diluar kota sebentar sayang, mamah udah telepon nenek supaya menjaga kalian selama mamah pergi jadi Vanessa jangan nakal ys," jawab Dinda membelai rambut Vanessa.
"Mamah mau nyusul papah?" tebak Vanessa.
"Enggak sayang... Mamah menang ada pekerjaan di luar kota, baru pagi ini tante Fio kabari mamah," bantah Dinda. Ia tak mau anaknya tau jika Dinda menyusul Ryan untuk menyelesaikan masalah.
Ingin rasanya mengajak semua anaknya untuk menemui Ryan, tapi Dinda terlalu takut jika pertengkaran di sana nanti mengguncang psikis mereka.
__ADS_1
"Aku mendatangimu mas, akan aku lihat seberapa beraninya wanita itu jika ada aku di sana," batin Dinda sudah tak sabar.