
"Sebentar.." teriak Dinda dari dalam lalu membuka pintu.
"Halo cantik, anda istrinya Ryan Hadiningrat bukan?" sapa seseorang misterius membuat nyali Dinda seketika ciut.
"Si..Siapa kamu? Apa tujuan kamu kemari?" tanya Dinda gemetaran.
"Just for fun.." jawab seseorang misterius sambil terus mendekati Dinda.
"Pergi.. Jangan macam-macam ya," usir Dinda sembari ketakutan.
"Ssst.. Gak usah takut begitu cantik, yang kalem dong masak cantik-cantik galak sih nanti saya jadi gemes," goda orang misterius dengan tawa menyeringai.
"Pergi.. Tolong pergi," pekik Dinda berurai air mata lalu orang misterius menyeka air mata Dinda.
"Jangan sentuh saya," pekik Dinda melengos.
"Aw.. Saya suka penolakan anda," jawab orang misterius dengan tersenyum smirk.
Dinda harus mencari celah agar bisa selamat dari cengkraman pria ini, di sini dia tidak sendirian melainkan ada kedua anaknya yang sedang tertidur lelap, Dinda tidak mau meninggalkan anaknya.. Ia harus segera ke kamar anaknya bagaimana pun caranya.
Lalu Dinda memukul alat vital pria itu cukup keras hingga meringis kesakitan, tak sampai disitu, ketika pria itu tersungkur Dinda kembali memukul alat vitalnya beberapa kali lalu memukul kepala orang misterius itu dengan vas bunga hingga mengeluarkan darah, Dinda langsung berlari ke atas untuk ke kamar Vanessa dan menggendongnya menuju kamar Farel.. Untung sekali di tengah ketakutannya Dinda masih memiliki kekuatan untuk menyelamatkan anaknya. Didalam kamar Farel tak hentinya Dinda menelpon Ryan namun tak kunjung juga di angkat. Dinda lalu memilih menelpon siapa saja yang bisa di hubungi, hampir semua kontak ia telepon termasuk Rio.. Kebetulan pak RT dan tetangga sebelahnya mengangkat telpon Dinda dan segera memberitahu yang lainnya untuk menyelamatkan Dinda, Rio pun juga sama, mendengar rumah mantan istrinya ada orang misterius, Rio langsung menuju rumah Dinda dengan kecepatan tinggi.
Didalam kamar tak hentinya Dinda berdoa untuk keselamatan dirinya juga keluarganya, orang misterius sudah berada di depan pintu kamar Farel dan menggedor dengan sangat keras.
__ADS_1
"BUKA PINTUNYA ATAU SAYA AKAN DOBRAK," ancam orang misterius dengan suara lantangnya yang membuat Farel dan Vanessa bangun dan ketakutan.
"Mommy di luar ada siapa?" tanya Farel ketakutan.
"Mommy.. Takut mom," ucap Vanessa menangis.
"Anak-anak mommy.. Dengar perkataan mommy ya, kalian jangan menangis dan jangan takut, di luar ada orang jahat jadi kita harus melawannya.. Mommy sudah menghubungi pak RT dan lainnya juga kok sebentar lagi mereka akan kesini menolong kita," ucap Dinda menenangkan kedua anaknya.
"Tetap saja mom kami takut, kalau nanti orang itu membawa senjata tajam gimana?" tanya Farel menangis ketakutan.
"Memang dia membawa senjata tajam untung saja belum sampai melukai tubuhku, coba saja kalau ada yang lecet pasti anak-anak tambah panik, sekuriti di kantor mas Ryan saja bisa sampai bersimbah darah apalagi denganku nanti? Siapapun tolong bantu kami.." batin Dinda yang berusaha tetap tenang dan berulang kali mengatur nafas.
"BUKA!!! SAYA HITUNG SAMPAI TIGA," gertak orang misterius membuat kedua anaknya semakin ketakutan dan menangis lebih histeris.
"Ssst.. Sayang jangan takut ya, anak mommy kan pintar, kita buat tangga darurat yuk biar bisa turun ke bawah lewat jendela, kalian mau gak?" tanya Dinda dan kedua anaknya mengangguk setuju. Lalu Dinda mengikat selimut dan sprei milik Farel secara kuat setelah itu ia bentangkan ke bawah, untung saja jendela Farel sangat luas sehingga Dinda dan kedua anaknya tidak kesusahan keluar.
"Nanti mommy gimana? Kami gak mau turun sendiri tanpa mommy," rengek Farel dan Vanessa masih terus menangis.
"Mommy juga turun tapi mommy harus memastikan dulu kalau orang jahat itu jangan sampai membuka pintu, nanti mommy akan menghambat orang jahat itu supaya jangan masuk, ayo kalian cepetan turun," ucap Dinda tergesa-gesa menolong kedua anaknya turun, tak butuh waktu lama kini kedua anaknya sudah ada dibawah.
"Ayo giliran mommy," ucap Farel.
"Iya mommy turun, kalian cepetan lari ke rumah ibu, orang jahat itu jangan sampai tau kalau kita mau lolos," ucap Dinda kemudian kedua anaknya berhasil kabur. Kini hanya tinggal Dinda sendiri di kamar anaknya dengan perasaan cemas, takut dan khawatir, ia tak tahu apakah esok masih bisa melihat matahari terbit dan menikmati hari dengan keluarga kecilnya atau tadi adalah perpisahan terakhir.
__ADS_1
Dinda sudah pasrah sambil berharap ada seseorang yang menolongnya.
"BERANI SEKALI ANDA MENGHIRAUKAN SAYA, JANGAN SALAHKAN SAYA MENDOBRAK KAMAR INI, ANDA SUDAH MEMBUAT SAYA MARAH BESAR" ancam orang misterius dan terus menerus mendobrak pintu. Ketika sudah berhasil orang misterius menyeringai ke arah Dinda yang sedang meringkuk di kursi, Dinda sudah pasrah dengan nasib yang terjadi setelah ini yang terpenting baginya kedua anaknya aman.
"Haha.. Sok-sokan mau menghindar dari saya rupanya? Anda kalah cepat dengan saya, jangan harap anda akan lolos," ucap orang misterius yang mengetahui Dinda memasang tali untuk turun ke bawah.
"APA MAU ANDA DAN APA TUJUAN ANDA DATANG KEMARI? APA SALAH SAYA PADA ANDA PADAHAL SAYA TIDAK MENGENAL ANDA," ucap Dinda dengan lantang.
"Memang permasalahan saya bukan dengan anda melainkan dengan suami anda yang sok sibuk itu dan sok jam terbangnya tinggi, karena dia saya jadi kalah dalam perkara yang seharusnya itu bisa menjadi milik saya, karena suami anda itulah saya rugi besar, rugi..." ucap orang misterius penuh penekanan.
"Yang namanya perdebatan pasti akan ada yang menang dan kalah, itu sudah resikonya jadi kalau anda ada di pihak yang kalah harusnya menerima itu dong bukan malah menyalahkan orang lain," sindir Dinda.
"Anda tau apa soal bisnis? Anda ini hanya seorang ibu rumah tangga jadi lebih baik diam dan terima hukuman atas suamimu itu, anda taunya hanya meminta uang uang dan uang saja haha," ucap orang misterius.
"Jangan mendekat atau saya akan berteriak," gertak Dinda berjalan mundur. Ketika orang misterius itu hampir mendekati Dinda dan posisi Dinda sudah di pojok, Rio datang di waktu yang tepat dan langsung memukul orang misterius itu secara membabi buta tanpa kenal ampun, setelah orang misterius meminta ampun datanglah polisi beserta para warga.
"Kamu gak papa Din?" tanya Rio memastikan.
"Gak papa mas, makasih sudah datang," jawab Dinda gemetaran karena menahan rasa takut.
"Tenanglah kamu sudah aman, dimana anak-anak?" tanya Ryan memeluk Dinda supaya lebih tenang.
"Anak-anak sudah aku suruh turun ke bawah mas dan aku suruh ke rumah ibu, aku tadi membuatkan mereka tali dari selimut dan sprei Farel.. Mereka awalnya gak mau meninggalkan aku sendirian namun aku berusaha meyakinkan mereka mas, yang penting mereka selamat," ucap Dinda menangis histeris di pelukan mantan suaminya.
__ADS_1
Ryan yang sudah membaca pesan dari istrinya langsung seketika pulang dan berapa hancur hatinya melihat sang istri di peluk mantan suaminya, Ryan merasa gagal melindungi istri dan kedua anaknya..
"Kenapa dari sekian banyak nomor di ponselmu kamu memilih menghubungi dia?" batin Ryan sakit lalu berdehem agar Dinda dan Rio sadar bahwa ada Ryan yang melihat itu.