
Setelah selesai makan siang kini Vika kembali mencecar pertanyaan yang sama,
"Kita udah selesai makan nih jadi sekarang bisa dong dijawab ada hubungan apa antara lo dengan cewek yang pernah gue tolong? Mengapa lo bisa makan bareng dengannya setiap hari, apa kalian tinggal serumah?" cecar Vika beruntun hingga membuat telinga Ryan pegal mendengarnya.
"Memang ini penting banget ya?" tanya Ryan.
"Penting dong.. Kan lo sebegitu memperlihatkannya," jawab Vika penasaran.
"Ya harus bahkan malah wajib memperhatikannya dong, karena dia kan sekarang menjadi istri gue," jawab Ryan dengan entengnya dan membuat Vika kaget luar biasa.
"I..Istri? Kalian udah me..menikah?" tanya Vika sangat kaget sampai mengatakan dengan terbata-bata.
"Ya.. Dia istri gue dan akan selalu menjadi milik gue, jadi jangan lagi bersikap berlebihan ya, gue adalah pria beristri dan gue sangat mencintai istri gue.. Memang kita pernah memiliki hubungan di masa lalu namun itu sudah berlangsung lama berkahir, gak perlu dibahas siapa yang duluan meninggalkan karena itu sudah tidak penting lagi buat gue, jadi tolong bersikaplah layaknya teman, gue cabut dulu karena ada janji dengan klien," tegur Ryan lalu meninggalkan Vika seorang diri di resto.
"Ryan.. Mau kemana?" pekik Vika kesal.
"Maaf gue harus pergi, tadi kan gue udah jelasin kalau bentar lagi ada janji temu dengan klien, lagian makan siang kita sudah selesai kan? Gue rasa udah cukup," jawab Ryan membuat Vika menahan kesal.
"Sial... Dia ninggalin gue sendirian, kenapa gue sampai gak update kabar kalau Ryan udah nikah sih, gue udah keduluan dong sama dia.. Andai dulu hp gue gak hilang pasti udah gue pepet terus si Ryan, sial..sial.. sial.." gumam Vika sambil memukul meja cukup keras.
"Kak maaf ini fasilitas resto harap jangan di rusak," tegur waiters.
"Maaf maaf.." jawab Vika menahan malu.
"Iya kak gak papa," jawab waiters lalu kembali berkerja.
"Gimana nih gue deketin Ryan? Dia udah nikah.. Pasti sudah kalau di deketin apalagi kayaknya Ryan sayang banget sama istrinya, gak nyangka ya orang yang waktu itu gue tolong kini jadi istrinya Ryan," gumam Vika sambil memikirkan cara.
Ketika Vika sedang berpikir, seketika ada sekretaris Ryan yang berjalan menuju resto, ide gila Vika langsung muncul dengan menjadikan sekretarisnya kambing hitam antara Ryan dengan istrinya,
"Itu kan sekretarisnya Ryan? Kebetulan sekali dia lewat.. Gue bisa jadikan dia senjata untuk memuluskan rencana gue," gumam Vika tersenyum smirk lalu memanggil sekretaris Ryan.
"Hai.. Sini," panggil Vika melambaikan tangan.
__ADS_1
"Ada apa bu?" tanya sekretaris heran.
"Boleh kita berbicara sebentar," ucap Vika memohon.
"Waktu saya tidak banyak bu, saya sudah di tunggu pak Ryan untuk bertemu klien," tolak halus sekretaris Ryan.
"Sebentar saja.. Toh kalau Ryan berangkat juga kelihatan dari sini kan," jawab Vika enteng.
"5 menit ya bu.. Saya gak mau kena omelan pal Ryan," jawab sekretaris memberi waktu.
"Gila sok banget sih, baru juga jadi sekretaris udah belagu gitu.. Kalau bukan untuk memuluskan rencana mana mau gue di negoisasi gini," batin Vika menahan kesal.
"Baiklah.. Langsung saja ya, kamu kan sudah tau kalau saya ini temannya bos mu, nah tujuan saya memanggilmu untuk menanyakan dimana rumah Ryan yang sekarang? Soalnya terakhir aku datang ke rumahnya kata pembantunya kalau Ryan sudah tinggal di rumah lain," ucap Vika mengorek informasi.
"Oh kalau sekarang saya kurang tau dimana rumah pak Ryan karena beliau ingin menjaga keamanan keluarga kecilnya agar lebih privasi, tidak semua orang di beritahu dimana rumah baru pak Ryan.. Saya pun juga gak tau bu," ucap sekretaris jujur.
"Ah kamu jangan bohong.. Kamu kan sekretarisnya," cecar Vika.
"Serius kamu gak tau? Gak bohong?" tanya Vika memastikan.
"Tidak bu.. Lagian kenapa anda tidak menanyakan langsung pada pak Ryan? Bukannya tadi kalian habis lunch?" tanya sekretaris memutar keadaan.
"Iya.. Tapi waktu kita terlalu singkat jadi saya belum bisa bertanya lebih jauh," jawab Vika.
"Ya kalau begitu bukan salah pak Ryan kan bu, ada kesempatan bertanya langsung ke orangnya malah anda sia-siakan," sindir sekretaris dengan elegan dan tenang.
"Ini sekretaris daritadi bikin kesel gue aja, jawabannya sok berpendidikan," batin Vika kesal.
"Yasudah kalau begitu makasih infonya," jawab Vika malas bertanya lagi.
"Baik bu.. Kebetulan ini tepat 5 menit, kalau, begitu saya permisi dulu," pamit sekretaris lalu bergegas pergi dengan terburu-buru.
"Dasar sekretaris sok jual mahal.. Urusan bosnya sok-sokan di privasi, untungnya apa coba? Dia kan akhirnya tetap saja jadi sekretaris, mana mungkin nantinya akan diangkat jadi istri," gumam Vika dengan kesal.
__ADS_1
"Katanya teman tapi rumahnya saja gak tau, aneh memang.. Pantas saja pak Ryan seperti menjaga jarak, ternyata dia memiliki maksud untuk mendekati pak Ryan. Jangan bermimpi," gumam sekretaris sambil geleng-geleng kepala.
Vika tak gentar mendekati Ryan, ia menunggu sampai Ryan pulang kerja.. Pasti nantinya ada petunjuk dimana rumah Ryan.
"Ini udah jam 5 sore kenapa Ryan belum juga keluar? Apa gue datangnya telat?" gumam Vika sambil terus fokus memantau kantor Ryan.
"Lah itu sekretarisnya.. Lalu Ryan dimana? Apa gue telpon aja ya," gumam Vika lalu menelpon.
"Halo Vika ada apa?" tanya Ryan.
"Nothing.. Udah pulang kerja?" tanya Vika memastikan.
"Ini mau pulang, ada apa ya?" tanya Ryan penasaran.
"Gak ada apa-apa hanya memastikan saja, yasudah take care Ryan," ucap Vika membuat Ryan semakin penasaran.
"Ni anak kenapa sih aneh banget," gumam Ryan lalu mengemasi barangnya dan menuju mobil.
"Itu dia pangeran berkuda putihku, tunggulah kejutan dari putrimu ini, mari kita buntuti," gumam Vika bersemangat dan tidak membiarkan Ryan meloloskan jejak.
Ryan tidak menyadari kalau ada seseorang yang mengikutinya, ia terlalu fokus dengan rasa bahagia karena hari ini bisa pulang cepat.
"Hai istri dan kedua anakku, sambutlah kejutan dariku yang hari ini dan seterusnya akan pulang awal," gumam Ryan memandang foto keluarga kecilnya yang bahagia.
Ketika tiba di gerbang perumahan, Vika sengaja menjaga jarak karena ia tidak mau terlihat menonjol.
"Wow... Ini perumahan mewah dan juga elite, enak sekali jadi istri Ryan bisa diberi fasilitas mewah seperti ini, pantas saja Ryan gak mau siapapun tau kediaman barunya, orang tempatnya bagus banget gini, gue aja suka," gumam Vika kagum, setelah Ryan agak menjauh kini giliran Vika masuk ke perumahan.
"Rumah pojok sendiri komplek B, oke Ryan mulai sekarang bersiaplah menerima kejutan-kejutan yang tak terduga," gumam Vika merasa puas karena pengintaian nya hari ini membuahkan hasil.
"Kok gue seperti ada yang ikuti ya? Tapi siapa? Gak ada mobil ataupun kendaraan yang mencurigakan," gumam Ryan memiliki firasat tak baik dan menengok kanan kiri berulang kali untuk memastikan.
Tanpa disadari oleh Ryan, setelah Vika mengetahui dimana kediaman Ryan, ia langsung tancap gas pulang, sepersekian detik berselisih dengan Ryan menengok belakang.
__ADS_1