RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Rio Murka


__ADS_3

Hari ini Rio dan Mayang sangat ingin menikmati momen bersama Farel dan Vanessa.. Apapun dan dimana pun keinginan anak-anak akan diwujudkan oleh Rio asalkan lokasinya masih bisa dijangkau dan tidak memakan waktu, mau gak mau Rio harus mematuhi aturan dari Dinda bahwa sebelum jam 6 sore harus ada di rumah.


Jam makan siang pun telah tiba.. Rio mengajak anak-anaknya untuk makan siang di resto steak.


"Anak-anak papah... ini kan udah jam makan siang, kita makan siang di sana dulu ya," ajak Rio menunjuk resto yang menjual steak.


"Asik.. Oke pah," jawab Farel setuju.


"Vanessa gimana?" tanya Rio.


"Adik lagi tidur pah, biasa kalau lagi jalan-jalan suka tidur di mobil," bisik Farel lalu Rio melihat anak perempuannya dari kaca mobil dan benar saja.. Vanessa sedang tertidur pulas.


"Oh iya ya.. Mungkin adik capek," ucap Rio.


Setibanya di resto kini Vanessa di bangunkan oleh Rio karena ia mau anaknya tetap makan siang.


"Vanessa.. Sayang.. Bangun nak," ucap Rio dengan lembut sambil menggoyangkan tubuh Vanessa pelan namun yang dibangunkan tak kunjung membuka mata.


"Sini pah biar Farel bangunkan aja," ucap Farel.


"Memang berhasil?" tanya Rio.


"Lihat saja nanti," ucap Farel lalu Rio memberi ruang untuk Farel membangunkan adiknya.


"Adik ayo bangun dong.. Mau makan enak gak?" tanya Farel setengah berteriak, tak butuh waktu lama kini Vanessa sudah membuka mata dengan lebar.


"Kok bisa gitu?" tanya Mayang heran.


"Iya boy kok kamu bisa bangunkan pakai cara itu?" tanya Rio heran.


"Bisa dong.. Adik kalau soal makanan selalu cepat tanggap pah, nek.. Jadi jurus cepat membangunkan Vanessa ya tadi," ucap Farel sambil tertawa cekikikan sedangkan Vanessa masih menata kesadaran.


"Kak.. Jangan jelek-jelekin aku ya," tegur Vanessa dengan mata masih berkedip-kedip dengan suara lirih.


"Gak ada tuh.. Dimana letak kakak jelekin kamu," ucap Farel tak mau salah.


"Sudah.. Sudah yang terpenting Vanessa sudah bangun, yuk masuk nanti gak dapat meja loh," ajak Rio lalu kedua anaknya berlari dengan cepat.


"Tungguin nenek dong," pinta Mayang kewalahan dan kedua cucunya hanya menengok ke belakang sambil tersenyum cekikikan lalu berlari masuk.


"Sabar mah namanya juga anak-anak," ucap Rio.


"Ya sabar makanya mamah kalau ketemu mereka gak pernah marah karena waktu ini gak bisa mamah rasakan setiap hari," sindir Mayang membuat Rio merasa sedih.


"Maafin Rio ya mah," gumam Rio lirih.


Di meja makan kedua anaknya sungguh aktif menanyakan beberapa menu yang belum pernah ia coba hingga membuat waiters pun kewalahan menjawab. Sebagai rasa tak enak hati, Ryan memesan menu yang di ucapkan anaknya tadi.. Waiters pun langsung ceria dan tambah bersemangat.


"Sudah ya anak-anak papah jangan tanya terus nanti mbaknya bingung loh jawabnya kan kalian kembar, sekali tanya langsung 2 suara," tegur Rio.


"Gak mungkin bingung ya kan mbak kan kita tanyanya teratur," ucap Vanessa tak mau salah.


"Sudah sudah.. Pesannya itu saja ya mbak, makasih," ucap Rio lalu waiters kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Selagi menunggu makanannya datang, Rio menanyakan beberapa hal yang mengganjal hatinya..


"Farel.. Vanessa.. Bolehkah papah tanya?" tanya Rio hati-hati.


"Boleh dong pah," jawab keduanya kompak.


"Tadi kalian kemana? Kok mamah bilangnya kalian di rumah padahal di sana gak ada orang," tanya Rio penasaran.


"Memang kami di rumah pah tapi rumahnya udah gak disitu lagi," ucap Farel membuat Rio kaget.


"Loh? Kalian pindah? Dimana?" tanya Rio kepo.


"Iya pindah tapi gak tau dimana tempatnya, lupa pah pokoknya bagus banget di sana," ucap Farel membuat Rio makin penasaran.


"Memang kenapa kalian pindah?" tanya Mayang penasaran.


"Gak tau.. Kata papah Ryan di sana sudah gak aman dan nyaman buat di tepati," jawab Farel.


"Jadi yang meminta pindah itu papah Ryan?" tanya Rio geram dan kedua anaknya mengangguk.


"Apa Ryan gak mau kalau anak-anak dekat dengan gue ya? Kalau sampai beneran awas aja," batin Rio kesal.


"Kalian juga sampai pindah sekolah kan? Kenapa sayang?" tanya Mayang penasaran.


"Hmm itu.. Lebih baik tanya jangan ada adik," ucap Farel membuat Rio dan Mayang heran.


"Kenapa?" tanya keduanya berbarengan.


"Memang apa yang terjadi boy? Apakah serius sekali?" tanya Rio penasaran dan Farel mengangguk. Rio dan Mayang semakin dibuat penasaran, lalu Mayang mempunyai ide untuk mengelabuhi Vanessa yaitu dengan meminjamkannya hp.


"Oh iya Vanessa sayang.. Nih nenek pinjamkan hp takutnya kamu bosan nunggu makanannya lama," ucap Mayang menyodorkan ponsel mahalnya.


"Wah makasih nenek," jawab Vanessa kegirangan dan menekan tombol youtube. Di sana Vanessa sangat fokus dengan konten yang ia tonton.


"Adikmu sudah nenek buat fokus dengan ponsel, sekarang Farel bisa ceritakan semuanya pada nenek dan papah," ucap Mayang dengan lembut.


Sebelum menceritakan semuanya, Farel memastikan dulu apakah nantinya Vanessa akan mendengar semua ini atau tidak, ketika Farel sudah cukup yakin jika adiknya fokus dengan ponsel, kini Farel mulai menceritakan kejadian yang di alaminya.


"Jadi gini Pah dan nenek, beberapa waktu lalu Farel dan Vanessa diculik orang ketika pulang sekolah," ucap Farel sambil menatap keduanya bergantian.. Rio dan Mayang langsung kaget dengan omongan Farel.


"Diculik?? Siapa yang menculik kalian?" tanya Mayang khawatir.


"Mah.. Biarkan Farel menceritakan semuanya dulu," tegur Rio dan Mayang mengalah.


"Yang menculik itu salah satu orang tua murid.. Sebelumnya mamah sempat bertengkar dengan mamahnya Fera karena Fera selalu saja menganggu Vanessa bahkan ketika Vanessa mengadu pada mamahnya Fera malah Vanessa hampir kena cubit, untung saja ada Farel yang sigap melindungi Vanessa.. Coba kalau enggak? Dari situ Farel dan Vanessa cerita sama mamah dan mamah merasa gak terima lalu datang ke sekolahan bertemu bu guru dan mamahnya Fera eh malah mamahnya Fera marah-marah ke mamah.. Mamahnya Fera gak mau di salahkan jadi mamah pun terpancing emosi dan ya jadinya Farel dan Vanessa diculik oleh papahnya Fera," ucap Farel membuat Rio murka sedangkan Mayang panik.


"Tapi kalian tidak di apa-apa kan? Kalian baik-baik saja kan?" tanya Mayang khawatir.


"Gak papa kok nek nyatanya sekarang bisa bertemu nenek dan juga papah.. Kalau Vanessa sampai sekarang masih ada trauma, kemarin saja habis dibawa ke rumah sakit karena terguncang," ucap Farel lagi-lagi membuat Rio dan Mayang kaget.


"Vanessa sampai dibawa ke rumah sakit?" pekik Mayang dan Rio langsung memberi kode untuk diam sambil melirik Vanessa yang fokus nonton hp.


"Maaf.. Habisnya mamah kaget, cucu mamah dalam bahaya bisa-bisanya mantan istrimu diam saja," cibir Mayang sebal.

__ADS_1


"Biarkan ini jadi urusan Rio mah kalau memang Vanessa nantinya kambuh lagi traumanya maka mau gak mau hak asuh anak-anak akan Rio upayakan agar jatuh ke tangan Rio, ini sudah mengancam keselamatan anak-anak Rio mah.. Ini gak bisa di biarkan, pokonya harus diusut tuntas," ucap Rio tak terima.


"Iya.. Mamah kali ini mendukungmu, pokoknya kasus kan ini sampai selesai dan pastikan mereka jera," ucap Mayang setuju.


"Farel tau dimana rumah mamahnya Fera?" tanya Rio penasaran namun sayang baik Farel maupun Vanessa tidak ada yang mengetahuinya.


Pukul 5 sore anak-anak sudah dibawa pulang oleh Rio, memang sengaja ia mengajak anaknya pulang awal karena Rio ingin membahas kasus penculikan yang baru terjadi.


"Hai sayang tumben udah pada pulang?" tanya Dinda sembari memeluk kedua anaknya.


"Iya mom.. Katanya ada yang mau dibahas sama mommy," jawab Vanessa membuat Dinda heran.


"Ada apa mas?" tanya Dinda.


"Anak-anak papah silahkan ke kamar dulu ya bersihkan badan," perintah Ryan dan kedua anaknya setuju, kini tinggal Dinda, Rio dan juga Mayang yang berada di ruang tengah.


"Ada yang mau aku tanyakan tapi mohon jawab dengan jujur Din," ucap Rio serius dan Dinda panik sendiri, pertanyaan apa yang akan di lontarkan untuknya.


"Apa itu mas?" tanya Dinda kikuk.


"Apa benar anak-anak barusan mengalami penculikan di sekolahan yang lama?" tanya Rio membuat Dinda kaget.


"Mas Rio tau darimana?" tanya Dinda penasaran.


"Anak-anak sendiri yang mengatakannya, apa itu benar?" tanya Rio memastikan.


"Iya mas itu benar, kejadiannya ketika pulang sekolah.. Kebetulan aku jemput nya telat" ucap Dinda malas menjelaskan.


"Siapa pelakunya?" tanya Rio serius.


"Aku gak tau namanya mas," jawab Dinda jujur.


"Motifnya? Apa kamu tau?" tanya Rio.


"Tau.. Hanya sebuah kesalahpahaman saja, dia menggunakan kuasanya yang notabene preman pasar," ucap Dinda.


"Kalau mereka preman pasar kenapa bisa sekolah di sana? Bukannya sekolah anak-anak yang lama cukup elite ya?" tanya Rio.


"Ya kalau itu aku kurang tau mas tapi yang jelas semuanya sudah selesai dan kini anak-anak tidak bertemu lagi dengan mereka, itu yang terpenting," jawab Dinda.


"Kenapa kamu gak memberitahu tentang ini," ucap Rio marah.


"Masalahnya kan sudah selesai mas lagian waktu itu mana kepikiran aku buat cari pertolongan orang luar, yang ada ya aku dan mas Ryan menghadapi bersama.. Keluargaku aja tak beritahu beberapa hari setelah kejadian kok," ucap Dinda tersinggung.


"Tapi aku ini ayah biologis mereka jadi apapun yang terjadi pada mereka aku berhak tau, aku ini ayahnya.. Ayah kandung malahan tetapi kenapa kamu mengatasi masalah besar ini pada ayah tirinya? Apa karena dia seorang pengacara jadinya kamu anggap aku ini gak becus gitu?" cibir Rio kesal.


"Gak pernah sekalipun aku memiliki pikiran jelek tentangmu mas jadi apapun yang terjadi pada anak-anak ya aku dan mas Ryan wajib menghadapinya apalagi ini gak ada sangkut pautnya dengan profesi suamiku, jadi jangan apa-apa diungkit profesi suamiku mas.. Sampai sekarang aku dan mas Ryan tidak memperpanjang kasus ini," ucap Dinda kesal.


"Tapi kamu tetap saja menyembunyikan masalah ini dariku, kenapa emangnya? Kamu takut kalau nantinya bakal aku ambil alih hak asuhnya?" sindir Rio.


"Karena aku rasa tidak perlu jika masih bisa di selesaikan dengan orang sedikit, lebih sedikit orang yang tau itu lebih baik," ucap Dinda.


"Aku akan usahakan hak asuh anak jatuh ke tanganku karena kamu sudah mengancam keselamatan anak-anak, kali ini aku gak mau tinggal diam," gertak Rio membuat Dinda ciut.

__ADS_1


__ADS_2