
Kini mereka sudah berada di sebuah aquarium raksasa yang isinya terdapat banyak sekali ikan, mulai dari yang kecil hingga besar. Sebenarnya Rio takut karena disini juga ada ikan hiu, namanya hewan buas kan bisa kapan saja memangsa yang ada didekatnya namun pendamping menjamin jika ikan hiu tidak akan menerkam karena usianya masih muda.
Wajah bahagia tergambar jelas di wajah kedua anaknya, Farel dan juga Vanessa seperti merasa bebas berada disini. Beberapa kali Rio menangkap bahasa tubuh anaknya yang terlihat lebih nyaman juga bahagia berada diluar rumah. Hanya saja, Rio akan menanyakannya nanti ketika dalam perjalanan pulang, biarkan saja sekarang ini anak-anaknya merasa bahagia dulu.
Tak terasa 30 menit telah berlalu, kini mereka sudah berada di luar lagi dan berganti pakaian, untung saja perlengkapan yang digunakan tadi waterproof jadinya mereka tidak basah. Setelah selesai meng-upload video mereka ke ponsel masing-masing, kini waktunya untuk isi perut. "Kalian lapar? Mau makan dimana?" tanya Rio.
"Terserah deh pah, ngikut aja," jawab Farel.
"Ke tempat steak yang dulu pernah kesana yuk pah, Vanessa pengen makan itu," ajak Vanessa lalu mereka meluncur ke sebuah restoran steak yang terkenal.
Tiba di restoran, mereka memesan makanan sesuai keinginan lalu memakannya dengan lahap, lagi-lagi Rio dibuat heran dengan gaya anaknya makan, tak biasanya Farel juga Vanessa seperti tidak pernah makan dua hari.
"Apa yang sudah terjadi dengan anak-anakku?" batin Rio menerka-nerka.
***
Makan pun telah selesai apalagi waktu juga sudah menunjukkan pukul 7 malam, tak mau terlibat masalah dengan ayah tiri anak-anaknya, Rio memutuskan untuk mengajak mereka pulang. Didalam perjalanan, mereka menolak diantarkan pulang ke rumah, hingga akhirnya Rio kembali ke sebuah resto cepat saji yang kebetulan ada di sisi jalan. Tujuan Rio kesana untuk mendengar apa saja keluh kesah anaknya, Rio yakin banyak yang disembunyikan oleh keduanya. "Yasudah kalau kalian belum mau pulang, mampir kesini dulu ya, papah tiba-tiba haus," ajak Rio yang pura-pura haus.
Di resto cepat saji, mereka tidak memesan banyak menu, hanya ice cream, french fries, burger. Maklum, belum lama juga mereka habis makan.
"Papah boleh tanya? Tapi kalau kalian tidak nyaman menjawabnya tidak apa-apa, jangan dipaksa," tanya Rio.
"Boleh pah.. Apa tuh?" tanya Vanessa sambil menyendok kan es krim ke mulutnya.
__ADS_1
"Tadi Farel juga Vanessa menolak untuk papah antar ke rumah, kalau boleh tau karena apa ya?" tanya Rio penasaran. Tiba-tiba saja Vanessa langsung meletakkan sendok es krim begitu juga dengan Farel yang langsung meletakkan friench fries ke tempatnya. Suasana mendadak hening, Rio sampai kebingungan juga berpikir apakah ia salah bicara?
"Kalian baik-baik saja kan? Papah gak salah bicara kan? Tadi papah sudah bilang kalau kalian gak nyaman menjawab yaudah gakpapa, papah gak akan memaksa," tanya Rio.
"Pah.. Andai papah tau gimana sedihnya kami setelah mamah punya adik baru," ucap Farel dengan wajah sedih.
"Semenjak mamah punya adik baru, perhatian untuk kami berkurang, bahkan kami jarang sekali jalan-jalan apalagi hanya untuk makan diluar seperti ini, papah Ryan banyak sekali alasannya, yang katanya kasihan adik nanti kena angin lah, takut adik kenapa-napa lah," timpal Vanessa.
"Lalu mamah hanya diam saja?" tanya Rio memastikan.
"Mamah selalu gak ada ketika papah Ryan menyampaikan alibi itu, pernah suatu waktu mamah mendengar alasan papah Ryan, lalu mereka berantem pah, sejak saat itu kalau papah Ryan gak ngebolehin yaudah kami diam aja, kami gak mau mamah sedih,"
"Astaga.. Bukannya selama ini papah Ryan baik sama kalian? Mamahmu sendiri yang bilang begitu ke papah," tanya Rio memastikan.
"Mamah kalian kan memang dari dulu sudah ada usaha, kalian dulu memaklumi nya kok," jawab Rio.
"Ya karena dulu mamah masih menyempatkan waktu buat kami, sekarang enggak pah, sarapan saja yang membuat bibi," keluh Farel.
"Mungkin mamah gak sempat kalau buat sarapan, gak papa bibi yang membuat kan bibi di sana bekerja," jawab Rio berusaha memberi pengertian.
"Tapi kami kangen momen sama mamah, kenapa sih kami yang harus jadi korbannya?" keluh Vanessa yang membuat Rio merasa tertampar. Benar kata anak perempuannya, kedua anaknya lah yang sebenarnya menjadi korban.
Rio bingung harus menjawab bagaimana, semua ini karena salahnya yang sudah terlalu egois dan terpengaruh ucapan Sisil, kini penyesalan tinggal penyesalan. Ingin membalikkan keadaan juga tak bisa, Dinda sudah bahagia dengan pria pilihannya begitu juga dengan Sisil yang baru menikah dengan lelaki pilihannya juga. Untuk kedua kalinya Rio harus melepaskan wanita yang ia cintai jatuh ke pelukan orang lain, Rio mengaku kalah. Ia lemah dalam hal percintaan.
__ADS_1
Suasana di mobil mobil mendadak hening, Farel juga Vanessa sekuat tenaga menahan tangis agar papahnya tak mengetahui bahwa saat ini hati mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka tidak mau menambah beban papahnya, Farel tau jika selama ini papahnya sudah berusaha mengajak bertemu namun selalu terhalang oleh papah sambungnya, entah kenapa semakin kesini papah Ryan semakin berbeda. Apa kasih sayang pada Farel juga Vanessa telah berkurang dan kini teralihkan pada anak kandungnya sendiri?? Urusan dengan orang dewasa memanglah rumit!
"Maafin papah ya karena sudah membuat kalian hidup sedih seperti ini, papah gak bermaksud mengorbankan kalian, ini diluar kendali papah dan papah harap suatu saat ketika kalian sudah dewasa nanti, kalian akan mengerti ini, untuk saat ini maafkan papah yang gak bisa menjelaskan secara rinci, jika kelak kalian membenci papah, mohon jangan lakukan itu, papah sudah sangat menyesal telah dipisahkan oleh kalian apalagi papah harus melakukan berbagai cara supaya bisa bertemu dan bermain dengan kalian, izinkan papah menebus kesalahan yang sudah papah buat," rengek Rio.
"Iya pah kami tau kok," jawab Farel sedih namun Vanessa tak menjawab sama sekali, ia memilih diam namun matanya terlihat merah, menandakan ia sedang menahan tangis.
"Vanessa.. Are you okay, baby?" tanya Rio.
"I'm okay papa," jawab Vanessa tersenyum.
"Don't lie," protes Rio.
"Pah.. Jangan paksa adik seperti itu, lebih baik kita ke rumah papah yuk," ajak Farel.
"Kalian mau menginap? Boleh sama mamah dan papah Ryan?" tanya Rio memastikan.
"Papah gak suka kalau kami menginap?" tebak Farel.
"No.. Papah justru happy kalian mau menginap di rumah papah, tau gak kalian? Oma dan opa sangat rindu sekali sama kalian, nanti kalau mereka tau kalian menginap udah pasti mereka akan happy," jawab Rio dengan antusias.
"Kami juga kangen sama opa dan oma," jawab Farel.
"Izin dulu ya sama mamah, takutnya nanti malah jadi kesalahan," tegur Rio lalu menghubungi mantan istrinya, hingga beberapa kali panggilan tak juga dijawab. Rio pikir Dinda sedang sibuk atau sudah tertidur, setidaknya Rio mengirim pesan pada Dinda jika anak-anak minta menginap. Entah dibaca jam berapa yang penting sudah beri kabar.
__ADS_1