
"Anda tidak merasakan apapun pak?" tanya Rio penasaran sambil menahan gejolak di tubuhnya.
"Merasakan pusing pak," jawab Ryan sembari memegang kepala.
"Kok jadi gue yang kayak gini? Apa tadi gue salah kasih minuman ya? Jangan bilang kalau ketukar," batin Rio semakin gusar.
"Biar saya bantu anda pak, mari berdiri," ucap Ryan ingin membantu Rio namun ada seseorang yang sudah terlebih dahulu mendekati mereka.
"Biarkan ini menjadi urusan saya pak, tadi beliau sudah mem booking saya beserta kamarnya," ucap ladies yang langsung memapah Rio ke kamar.
"Mbak tunggu dulu.. Berarti pak Rio sudah memesan anda sebelum kedatangan saya?" tanya Ryan terkejut.
"Benar sekali.. Dia menyuruh saya jika nanti salah satu dari kalian sudah oleng maka segera bawa ke kamar," ucap Ladies yang tanpa di sadari direkam oleh Ryan.
"Oh begitu.. Baiklah, berarti saya pulang dulu," ucap Ryan yang dijawab anggukan oleh ladies nya. Lalu Rio dan ladies tadi sudah berada di kamar dan ya sudah tak perlu ditanya di sana mereka ngapain.. Orang dewasa dalam satu ruangan tertutup sudah jelas melakukan hal yang mengandung unsur dewasa.
Karena rasa di tubuhnya semakin panas dan sangat bergejolak, Rio hanya pasrah saja dibawa ke kamar yang ia sendiri pemesannya.
Merasa ingin segera semuanya tertuntaskan kini Rio langsung menindih wanita sewaannya dan mereka melakukan adegan ranjang dengan panasnya meskipun Rio melakukan semua itu dibawah kesadarannya.
"Selamat menikmati ulah yang sudah kamu perbuat pak Rio.. Saya tidak tahu apa motif anda menjebak gue lagi namun esok hari semuanya akan terkuak, janganlah macam-macam pak karena gue dua langkah di depan anda," batin Ryan lalu mengambil sampel minuman Rio untuk di tes kandungan apa yang ada di dalamnya, meskipun Ryan sudah yakin jika minuman itu mengandung obat perangsang namun kalau tidak ada bukti bisa saja Rio nanti mengelak nya.
***
Keesokan paginya Rio bangun tidur dan mulai sedikit-sedikit mengingat kejadian semalam, ia merasa sungguh sial karena niat hati ingin menjebak Ryan malah dia sendiri yang terjebak.
"Woi bangun," ucap Rio kasar pada wanita sewaannya.
"Dasar pemalas, ah ngapain juga gue urusin dia mendingan cabut lalu kerja, yang penting dia udah gue bayar sebelumnya," gumam Rio lalu memakai kembali pakaiannya dan beranjak pergi.
Sampai di Rumah kini Rio tiduran di kamar, entah kenapa ia merasa sangat capek sekali.. Padahal tadi ketika sekamar dengan wanita sewaannya Rio merasa kesal dan ingin segera berangkat ke kantor.
"Ada apa dengan diri gue? Kenapa sekarang gue sangat berantakan seperti ini? Mana diri gue yang selalu memiliki tujuan hidup? Semuanya sirna dengan sekejap," batin Rio sedih dan tak terasa meneteskan air mata.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
"Rio yuk sarapan dulu," ajak Mayang dari luar kamar sembari mengetuk pintu.
"Mamah.. Ah gue lupa sampai gak sarapan," gumam Rio menyeka air matanya.
"Iya mah bentar lagi Rio turun, mau mandi dulu," teriak Rio dari dalam kamar lalu Rio memutuskan mandi setelah itu sarapan.
"Jangan sampai mamah dan papah tau kalau gue habis nangis," gumam Rio berulang kali bercermin demi melihat penampilannya agar tidak menimbulkan kecurigaan orang tuanya.
"Udah oke.. Waktunya sarapan," gumam Rio lalu turun menuju meja makan.
"Mah Pah.." sapa Rio ramah lalu duduk.
"Darimana saja kamu sampai gak ingat pulang?" tanya Suganda dengan ketus.
"Pah biarkan Rio sarapan dulu," tegur Mayang.
"Bisa kan dijawab sambil makan," sindir Suganda.
"Bisa kok pah.. Jangan berantem dong ini masih pagi," pinta Rio lalu sarapan dengan perasaan was-was.
"Dari rumah teman pah ada party di sana," jawab Rio sedikit gugup.
"Tumben sekali ada party kamu sampai, menginap di rumah teman kamu, beneran kamu menginapnya di rumah teman?" sindir Suganda tak percaya.
"Beneran pah.. Memang salah ya kalau Rio menginap di rumah teman," ucap Rio tak mau di salahkan.
"Tidak ada.. Hanya heran saja, papah pikir kamu main gila di belakang istrimu," tebak Suganda yang membuat Rio tersedak.
"Uhuk.. Uhuk.. Papah ini ngomong apa sih? Ngaco deh," protes Rio lalu minum.
"Kalau itu tidak benar kenapa kamu sampai tersedak?" tanya Suganda mengintimidasi.
"Ya karena pertanyaan papah itu ngaco jadinya Rio kaget.. Bisa-bisanya papah memiliki pikiran seperti itu," protes Rio kesal dan berusaha bersikap tenang.
"Pah.. Sudah ah jangan mendesak Rio terus kasihan dia lagi sarapan," tegur Mayang.
__ADS_1
"Jadi gak nafsu lagi mah, Rio ke kamar dulu," pamit Rio meletakkan sendok dan garpu lalu, masuk ke kamar.
"Tuh lihat pah dia jadi marah kan," ucap Mayang kesal.
"Biarkan saja dia marah malah yang seharusnya marah itu papah.. Yang tanya kan papah kenapa dia yang marah," ucap Suganda acuh.
"Tapi pertanyaan papah kelewatan," tegur Mayang.
"Lalu bagaimana pertanyaan untuk Rio supaya tidak terdengar kelewatan? Kenapa tidak mamah saja tadi yang menanyakan," ucap Suganda kesal.
"Setidaknya tanya padanya dengan lembut pah," jawab Mayang.
"Papah bukan manusia lembut jadi jangan memaksa," tegur Suganda tak suka.
"Yasudah.. Yang penting anak kita sudah pulang, udah itu lebih dari cukup," ucap Mayang tak mau berdebat dengan suaminya.
"Kalau nanti di luar sana dia berbuat ulah apalagi sampai merugikan nama baik keluarga kita jangan harap papah akan menoleransi," gertak Suganda dengan menatap tajam.
"Jangan berpikir buruk terus pah," tegur Mayang.
"Lebih baik memikirkan hal buruk sebagai bentuk antisipasi ketimbang terlalu berpikir positif nanti adanya kita yang kecewa lagi," ucap Suganda berpikir logis.
"Mamah yakin Rio tidak mungkin aneh-aneh," ucap Mayang begitu yakin.
"Semoga saja itu benar," sindir Suganda tersenyum sinis.
"Pah.." pekik Mayang geram.
"Papah malas masih pagi hari gini udah darah tinggi," ucap Suganda beranjak dari kursi lalu pergi menggunakan mobil.
"Papah mau kemana? Kenapa gak papah maupun Rio semuanya bikin mamah pening," gumam Mayang sembari memijat kepalanya, ia merasa pusing merasakan kedua laki-laki yang ia sayangi.. Rio suka membuat ulah sedangkan suaminya suka memancing emosi anaknya. Apa ya papah tuh gak bisa menanyakan sama anak tuh baik-baik.
Di lain sisi Suganda melakukan mobilnya tak tentu arah tujuannya, ia hanya ingin pergi sejenak dari suasana rumah yang menurutnya sudah tidak hangat dan nyaman lagi, karena anak semata wayangnya memiliki ide gila untuk mencari rahim pengganti Sisil kini semuanya berantakan, tak ada lagi keharmonisan di keluarganya.
"Biang kerok semua ini bukan hanya Rio namun Sisil juga turut andil besar dalam perubahan hidup Rio.. Jika nanti Sisil sudah bebas dan masih berulah sama maka aku akan memaksa Rio untuk menceraikan Sisil.. Sudah muak rasanya memiliki menantu namun seperti orang asing, jarang berjumpa apalagi mengobrol, punya menantu bisanya hanya fota-foya saja apalagi anak semata wayangnya makin hari tingkahnya makin berandalan," gumam Suganda sangat geram dan terus melajukan mobilnya.
__ADS_1