
Keesokan paginya Rio langsung bertandang ke kantor Dinda untuk melihat keadaan mantan istrinya secara langsung.
"Selamat pagi pak ada yang bisa saya bantu?" sapa Fio ramah.
"Pagi.. Ada mbak, saya mau ketemu Dinda, apa dia sudah datang?" tanya Rio memastikan.
"A..ada perlu apa pak?" tanya Fio gugup.
"Katakan pada Dinda kalau saya mau bertemu dengannya," ucap Rio.
"Baik Pak, dengan siapa saya berbicara?" tanya Fio penasaran.
"Rio.. Lebih tepatnya Rio Putra Suganda, mantan suami Dinda," ucap Rio tegas.
"Ma.. mantan suami?" gumam Fio terkejut lalu bergegas memberitahu Dinda.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk," jawab Dinda sembari memijat kening.
"Maaf Bu saya menganggu, ada yang mencari anda," ucap Fio.
"Siapa?" tanya Dinda penasaran.
"Beliau bilang kalau mantan suami ibu," ucap Fio membuat Dinda terkejut.
"Mas Rio?" tanya Dinda memastikan.
"Benar bu," jawab Fio mengangguk.
"Ngapain dia pagi-pagi datang kemari, yasudah saya akan segera turun," ucap Dinda heran.
5 menit kemudian Dinda menemui Rio di ruang tamu kantor.
"Dinda.." sapa Rio sumringah.
"Ya mas, ada perihal apa sepagi ini datang kemari? "tanya Dinda to the point.
__ADS_1
"Saya mendengar berita yang kurang mengenakan tentang usahamu, apakah itu benar?" tanya Rio peduli.
"Ya begitulah mas.. Apa yang kamu dengar itu benar, lalu hubungan dengan kedatangan mu apa?" tanya Dinda heran.
"Jujur saja aku turut sedih dengan musibah yang sedang menimpamu, aku turut prihatin.. Semoga usahamu segera bangkit kembali," support Rio.
"Makasih mas," jawab Dinda dingin.
"Apakah kamu sudah menelusuri masalah ini? Kok aku merasa ada yang janggal," tanya Rio.
"Sudah mas.. Lagi aku dalami, aku gak mau gegabah karena aku gak tau bagaimana musuhku di luar sana, takutnya ia sangat kuat," ucap Dinda berfikir logis.
"Kamu benar, aku sangat setuju, apakah aku boleh membantu?" pinta Rio.
"Tidak perlu mas, makasih.. Kamu urus saja permasalahan kantormu," ucap Dinda dingin.
"Kamu yang lebih penting Dinda, jika kamu, hancur bagaimana nanti anak-anak?" tanya Rio
"Tidak perlu risau mas karena sudah banyak orang yang peduli denganku juga anak-anak, fokuslah dengan kehidupanmu sendiri mas, jangan ikut campur terlalu dalam," sindir Dinda.
"Sudahlah mas semenjak menikah denganmu memang hidupku banyak masalahnya, sampai kita bercerai pun masalah juga masih datang," sindir Dinda.
"Jangan berasumsi seperti itu," bantah Rio.
"Ya terserah apa katamu saja mas aku lagi capek debat, kalau sekiranya sudah selesai lebih baik pergilah.." usir Dinda.
"Aku janji akan membantumu sebisaku Din," ucap Rio serius.
"Makasih.. Tapi maaf aku tidak perlu," tolak nya.
"Aku ini ayah biologis Farel dan Vanessa, jadi apapun yang terjadi padamu aku harus bertanggung jawab, karena nantinya akan berdampak pada mereka," desak Rio.
"Tidak perlu.. Aku bisa menempatkan situasi dan posisi dengan sangat baik," tolak Dinda.
"Mengapa sangat sulit untukmu menerima kebaikan dariku?" tanya Rio kesal.
"Bukannya aku menolak tapi aku membatasi supaya kita tidak ada komunikasi yang lebih, aku menghargai posisi istrimu yang sedang di rumah mas, kalau dia tau kamu begitu peduli kepadaku pastinya dia cemburu.. Kalau peduli itu untuk anakmu maka aku tidak masalah mas, jadi jangan lagi pasang badan untuk membantuku," ucap Dinda dengan tegas.
__ADS_1
"Aku melakukan ini murni ingin membantu, tidak ingin melihatmu seperti ini Dinda.. Lagian aku mengetahui kondisi usahamu sekarang karena Sisil, dia yang memberitahunya," terang Rio membuat Dinda terkejut.
"Apa mas? Sisil? Darimana dia mengetahui ini? Aku tidak pernah loh berhubungan dengan istrimu itu, ini mencurigakan," cibir Dinda.
"Oh iya kenapa gue gak tanya ya Sisil dapat info ini darimana, benar kata Dinda kalau ini mencurigakan," batin Rio menerka.
"Kenapa mas? Baru nyadar kalau istrimu itu tau darimana? Jujur ya mas ini sangat aneh, Sisil yang notabene tidak menyukaiku bahkan tidak pernah berkomunikasi apalagi bertutur sapa, bisa-bisanya dia mengetahui ini, harusnya sebelum kamu kesini itu cari informasinya yang detail," sindir Dinda.
"Din aku langsung memikirkan bagaimana kamu menghadapi ini semua sendiri, aku hanya memikirkan itu tanpa tanya terlebih dahulu darimana informasi yang Sisil dapatkan," ucap Rio khawatir.
"Sudahlah mas lebih baik kamu pulang saja, kehadiranmu membikin kepalaku tambah pusing," usir Dinda sambil menghela nafas.
"Biarkan aku menemani dan menghadapi masalah yang kamu hadapi," pinta Rio.
"Kamu bukan superhero yang harus datang dan menyelesaikan semua masalah yang menimpaku mas, cukup sudah.. Jangan terlalu ikut campur lagi, kita ini sudah bukan suami istri.. Tolong hargai arti sebuah batasan," gertak Dinda tegas.
"Aku mengerti.. Tapi sungguh aku tidak tega melihatmu terpuruk seperti ini," ucap Rio sedih.
"Urusin saja masalah perusahaan mu yang hampir gulung tikar mas, itu jauuuhhh lebih penting daripada kamu mengurusi usahaku," tegur Dinda kesal.
"Kamu.. kamu tau darimana Din?" tanya Rio kaget.
"Meta yang memberitahu bagaimana kondisi perusahaan mu sekarang," ucap Dinda membuat Rio terkejut.
"Me..Meta? Jangan bilang Meta yang dulunya sekretaris ku," tanya Rio terkejut.
"Benar sekali," jawab Dinda dingin.
"Bagaimana bisa kamu kenal dengan Meta? Dia sudah resign dari perusahaan," tanya Rio penasaran.
"Dia teman SMA ku mas dan beberapa bulan yang lalu kami mengadakan reuni, di sana dia mengeluh bagaimana perusahaan tempatnya dia bekerja, aku sempat terkejut karena dia bekerja di perusahaan mu apalagi tau posisi perusahaan hampir gulung tikar, tapi aku sadar kalau sekarang posisiku hanyalah mantan istri, jadinya ya aku cukup tau saja sambil mendoakan yang terbaik untuk perusahaan mu," ucap Dinda dengan tenang.
"Bisa-bisanya ya Meta membuka aib perusahaan, semua ini karena dia dan juga Sisil.. Mereka sepupu Din," ucap Rio membuat Dinda lebih terkejut.
"Se..sepupu?" tanya Dinda syok.
"Iya.. Mereka sepupu jauh, awalnya aku juga gak tau karena aku pun bingung dengan silsilah keluarga Sisil, dia merekomendasikan Meta sebagai sekretaris dengan dalih kalau sekretaris ku yang dulu tidak becus bekerja apalagi dia membuat kesalahan fatal, jadi ya aku langsung memecatnya dan menerima Meta jadi sekretaris.. Awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai di suatu hari perusahaan makin lama makin merugi dalam jumlah yang besar padahal profit perusahaan menanjak naik, itu kan aneh.. Lalu aku meminta bagian audit untuk membawa laporan bulanan, bagaimana aku tidak terkejut kalau selama ini Meta memanfaatkan stempel tanda tanganku untuk mencairkan dana dan kamu tau Din, semua dana itu langsung beralih ke Sisil.. Jadi mereka berdua dari awal sudah merencanakan untuk menguras semua hartaku, sekarang aku sedang mengurus sisanya dengan uang yang ada," ucap Rio dengan raut penuh penyesalan dan Dinda yang mendengarnya menjadi tambah terkejut.
__ADS_1