
Dering HP Rio berbunyi dan alangkah terkejutnya dia siapa yang menelponnya, bak gayung di sambut.. Rio dengan sangat bahagia mengangkat panggilan Dinda.
"Hai Dinda apa kabar? Tumben sekali kamu menghubungi duluan," sapa Rio bahagia.
"Kabar baik mas, langsung saja ya.. Posisimu sekarang dimana mas?" tanya Dinda serius.
"Ya di kantor memangnya kenapa? Kamu mau main kesini? Dengan senang hati aku akan menyambutnya," tanya Rio penuh percaya diri.
"Tidak.. Tadi Sisil datang ke rumah dan membawa Farel pergi, aku pikir ada kamu juga mas," ucap Dinda mengejutkan Rio.
"Apa? Jangan bercanda Din, tadi Sisil masih di rumah kok, ngapain dia ajak Farel pergi?" tanya Rio terkejut.
"Mas untuk apa aku membuat sensasi dan melibatkan anakku, maaf mas aku bukan istrimu yang penuh drama itu, coba hubungi dia sekarang posisinya dimana, jangan sampai aku melangkah lebih jauh ya mas," gertak Dinda.
"Ya sebentar.. Nanti kalau ada kabar aku hubungi balik," ucap Rio lalu memutus panggilan.
"Sial!! Sisil ini kenapa sih? Sikapnya berubah 180 derajat dan itu dalam sehari, besok apalagi drama yang di buatnya," gumam Rio kesal lalu berulang kali menghubungi Sisil namun tak kunjung di angkat.
Di lain tempat Sisil dan Farel sedang menikmati momen makan siang bersama di sebuah resto mewah, Farel makan begitu lahap dan dengan mudahnya langsung dekat kembali dengan Sisil.
"Enak gak makanannya?" tanya Sisil lembut.
"Enak mah ini enak sekali," ucap Farel sambil mengunyah.
"Good.. Kalau kurang nanti tambah lagi sampai Farel kenyang," ucap Sisil puas.
"Mamah bolehkan kalau nanti Farel bungkusin buat adik Farel?" Pinta Farel dengan polosnya.
"Tentu saja boleh dong, untuk mommy sekalian pun boleh," ucap Sisil sedikit kesal.
"Terima kasih mamah," jawab Farel senang lalu melanjutkan makan.
"Bisa-bisanya ya ni anak request untuk keluarganya, gini terus tekor dong jatah bulanan gue, lu pikir makan disini murah apa," batin Sisil kesal.
Setelah selesai makan dan membungkus makanan kini mereka memutuskan pulang, Sisil tidak mau rencana awalnya ini langsung gagal.. Setidaknya ia harus melakukan semua ini senatural mungkin.
Di dalam mobil baik Farel dan Sisil saling tanya dan mereka semakin akrab.
"Farel apa mamah boleh tanya sesuatu?" tanya Sisil membuat Farel penasaran.
"Apa mah?" tanya Farel.
__ADS_1
"Mommy sama pak Ryan apakah punya hubungan khusus?" tanya Sisil hati-hati.
"Hubungan khusus apa ya mah? Farel gak paham, setahu Farel sih mamah dan om pengacara ada rencana mau menikah," ucap Farel membuat Sisil terkejut.
"Me... Menikah? Serius?" tanya Sisil syok.
"Serius mah tapi Farel gak tau kapan, om pengacara yang selalu ajak mommy menikah," ucap Farel dengan polosnya.
"Tapi Farel setuju gak kalau nanti mommy menikah dengan om pengacara? Otomatis om pengacara jadi daddy Farel loh," tanya Sisil.
"Ya setuju lah mah kan om pengacara itu baik, jadi nanti Farel punya orang tua doble dong, asik," ucap Farel kegirangan.
"Iya benar banget jadi nanti kasih sayang dan perhatian untuk Farel dan Vanessa doble," ucap Sisil sambil mengusap rambut Farel.
"Haha Dinda Dinda akhirnya lu kepincut juga sama pengacara mu sendiri, waktu itu sok mengelak lagi, dasar munafik," batin Sisil tersenyum smirk dan mereka sudah tiba di rumah Dinda.
Dinda yang mendengar suara mobil langsung keluar dan memeluk anaknya sangat erat.
"Akhirnya kamu pulang juga, mommy sampai khawatir," ucap Dinda memeluk Farel.
"Farel baik-baik saja mom tadi cuma makan habis itu pulang," ucap Farel melepas pelukan.
"Gue hanya antisipasi karena gue takut lu jadiin Farel korban rencana busuk mu," sindir Dinda ketus.
"Eitss gue gak akan melibatkan anak kecil di masalah kita, memang gue pengen habisin waktu sama Farel, tuh lihat anakmu masih utuh bahkan kekenyangan, gue juga gak lupa membelikan mu dan Vanessa makanan, itu Farel sendiri yang pilih," ucap Sisil lalu menyerahkan bungkusan makanan.
"Thanks.." jawab Dinda dingin.
"Yasudah kalau gitu gue pergi dulu ya, next time kalau gue kangen gue akan main lagi kesini," ucap Sisil membuat Dinda terkejut.
"Ngapain? Cukup sekali ini saja ya," gertak Dinda tak suka.
"Mamah boleh main lagi kan?" tanya Sisil pada Farel.
"Boleh dong mah," jawab Farel mengangguk.
"Lihat tuh yang bersangkutan gak papa kenapa kamu yang repot," cibir Sisil tersenyum smirk dan Dinda hanya diam saja sambil menahan emosi.
Setelah kepergian Sisil kini Dinda mengintrogasi Farel secara intens.
"Farel bolehkah mommy tanya? Tapi jawab jujur ya?" tanya Dinda serius.
__ADS_1
"Tanya apa mom?" tanya Farel.
"Tadi kamu kemana saja sama mamah Sisil?" tanya Dinda serius.
"Ya makan mom setelah itu pulang," jawab Farel enteng.
"Just that?" tanya Dinda masih tak percaya.
"Yes mom.." jawab Farel menganggukkan kepala.
"Apa Farel happy pergi sama mamah Sisil?" tanya Dinda penasaran.
"Happy mom, mamah Sisil baik kok," jawab Farel dengan polosnya.
"Tapi Farel tetap sayang sama mommy kan?" tanya Dinda memastikan.
"Of course mom," jawab Farel.
"Thanks a lot.. I'm happy hear that, sekarang Farel boleh istirahat dan makanan dari mamah Sisil di makan nanti sore ya habis mandi," ucap Dinda lembut dan Farel pergi ke kamar.
Di saat Dinda sedang berpikir keras rencana apa yang di susun Sisil tiba-tiba Rio memanggil.
"Halo ada apa mas?" tanya Dinda to the point.
"Bagaimana dengan Farel? Apa dia sudah di rumah?" tanya Rio khawatir.
"Sudah mas dan sekarang istrimu sudah perjalanan pulang," jawab Dinda dingin.
"Ah syukurlah.. Aku kira Sisil membawa Farel kemana," ucap Rio lega.
"Hanya makan siang saja, yasudah mas aku mau lanjutin kerja, orderan lagi banyak," ucap Dinda tak mau lama telponan.
"Oh iya iya, yasudah salam ya buat kedua anak kita," ucap Rio mengalah dan mematikan telpon, disaat Rio ingin meletakkan hpnya, ada chat masuk dari Sisil yang membuatnya sangat terkejut.
"Mas jangan berharap lagi dengan mantan istrimu itu karena dia sudah menemukan pelabuhan hatinya, fokuslah dengan apa yang ada di depan mata kamu sekarang mas.. Ingat mas lawan mu kebal hukum," isi chat Sisil yang langsung membuat Rio kesal dan langsung menelpon Sisil.
"Apa maksudmu mengatakan seperti itu, ha?" tanya Rio kesal.
"Santai aja napa mas, nanti kalau kamu sudah selesai kerja akan Sisil jelaskan secara detail, jangan kaget ya.." jawab Sisil mengejek dan semakin membuat Rio kesal.
Lalu Rio bergegas pulang dan menanyakan semua ini kepada Sisil.
__ADS_1