
Rasa sesak yang ia rasakan semakin membuatnya tersiksa, ia tak tau harus mengeluarkan semua uneg-uneg pada siapa.
Lagi-lagi Dinda ak berangkat ke kantor karena moodnya belum bisa stabil, ia memutuskan ke sebuah kafe sekedar melepas penat yang saat ini ada di otaknya. Kebetulan sekali suasana kafe sepi, jadi Dinda bisa menikmati hawa sejuk kafe ini beserta melamun kan masalahnya. Kebetulan ada Rio di kafe itu sedang membeli sarapan, ketika ingin balik pulang, Rio seperti melihat bayangan mirip Dinda, untuk memastikan, Rio bergegas menghampiri meja Dinda.
"Permisi.." sapa Rio yang melihat orang mirip Dinda sedang mengaduk-aduk minumannya dengan tatapan kosong. Karena Dinda tidak melepas maskernya, jadi Rio tak berani langsung berspekulasi jika wanita yang ada di depannya itu Dinda.
"Eh.. Iya ada apa? Loh mas Rio?" jawab Dinda kaget.
"Berarti bener kalau kamu Dinda? Tadi aku mau pulang dan gak sengaja lihat orang mirip kamu makanya aku samperin," jawab Rio lega karena dugaannya benar.
"Iya mas, aku lagi suntuk makanya datang ke kafe pagi hari, mas Rio ngapain kesini?" tanya Dinda.
"Beli sarapan, kafe ini kan salah satu tempat favoritku apalagi omelette nya," jawab Rio menunjukkan paper bag berisi makanan.
"Oh iya.. Hampir aja aku lupa mas, ini salah satu kafe favoritmu ya, btw.. Kok datang sendirian mas?" tanya Dinda.
"Haha kamu ini mengejek apa gimana? Sampai sekarang aku masih duda, jadi ya kemana-mana sendirian, gak kayak kamu Din udah ada pengganti," jawab Ryan terkekeh.
"Gak juga mas nyatanya aku sering kemana-mana sendiri, suami sibuk banget kerjanya," jawab Dinda.
"Suamimu lagi naik daun jadi wajar kalau sibuk," ucap Rio yang tak tahu jika rumah tangga Dinda sedang tidak harmonis.
"Ya bisa dibilang begitu mas, awal-awal memang mas Ryan menyempatkan waktu buat keluarganya tapi sekarang? Ah begitulah," jawab Dinda malas.
"Jangan bilang kalian habis bertengkar?" tebak Rio.
"Ya bisa dibilang begitu mas," jawab Dinda.
"Kalau boleh tau apa masalahnya? Semoga saja aku bisa bantu memberi solusi," tanya Rio.
"Pelik mas.. Aku sampai bingung mau memulai darimana, semua kejadian waktunya bersamaan," jawab Dinda terlihat sedih.
"Ceritakan masalah yang membuatmu sangat menganggu saja," ucap Rio.
"Semuanya mas, semua menganggu waktu dan pikiranku, tak ada yang bisa dianggap sepele," ucap Dinda.
"Berarti masalah kalian parah?" tebak Rio.
__ADS_1
"Iya mas.. Mungkin bisa dibilang di ujung tanduk," jawab Dinda membenarkan, sebisa mungkin Dinda tidak menjatuhkan air mata didepan Rio.
"Jika kamu belum siap bercerita ya tidak apa-apa, aku gak akan memaksa, aku menghargai privasi mu," ucap Rio mengerti.
"Makasih mas.. Yaudah kalau mau pulang ya pulang dulu sana mas, nanti omelette keburu dingin," ucap Dinda.
"Dimakan bersama saja, kamu belum sarapan kan? Kebetulan aku beli 2," ucap Rio menyerahkan omelette pada Dinda.
"Jangan dong, ini kan punyamu mas, aku bisa pesan kok memang aku sengaja gak pesan makan soalnya belum lapar," ucap Dinda menolak.
"Kita makan bareng, gak papa kan? Lagian kalau aku bawa pulang juga sama aja nanti udah dingin, mendung makan disini," kekeh Rio.
"Hmm baiklah.. Nanti aku ganti omelletenya," ucap Dinda sungkan.
"Ganti dengan izinkan aku bertemu anak-anak, rencana aku ingin mengajak mereka liburan, benar kan mereka sedang libur sekolah?" tebak Rio.
"Iya mas, kok tau?" tanya Dinda penasaran.
"Diam-diam aku meminta wali murid anak-anak untuk memberikan informasi tentang kegiatan sekolah mereka, jadi kalau ada libur atau kegiatan lainnya aku tahu," jawab Rio.
"Sejak anak-anak pindah sekolah yang baru, aku gak bisa melepas anak-anak begitu saja, aku ini ayah kandungnya jadi aku juga harus ikut andil dalam pendidikan dan tumbuh kembangnya," jawab Rio yang membuat Dinda terharu.
"Kenapa kamu segitunya mas? Apa kamu gak percaya sama suamiku?" tanya Dinda memastikan.
"Bukan gak percaya, maaf jika pikiranmu mengarah ke sana, aku lebih mantap jika mengetahui semua dengan sumbernya langsung, lagian Ryan kan bapak sambung mereka, sebaik-baiknya bapak sambung gak akan bisa menggantikan tempat ayah kandung di hati anak-anak," jawab Ryan sambil mengunyah.
"Makasih mas sampai sekarang masih peduli dengan anak-anak, tak lupa kamu selalu memberikan jatah bulanan mereka," ucap Dinda tulus.
"Itu kewajiban ku, gak usah kamu bilang makasih," ucap Rio.
"Uangnya selalu utuh mas, suamiku gak suka kalau anak-anak pakai uang darimu, jadi aku berinisiatif menabungnya," ucap Dinda berkaca-kaca.
"Kenapa begitu? Itu uang sudah pasti halal kok," tanya Ryan tersinggung.
"Mungkin mas Ryan mau menunjukkan padamu jika dia mampu menghidupi anak-anak dengan baik," jawab Dinda.
"Syukurlah kalau ada pikiran begitu, ya gak papa kamu apakan uangnya itu terserah kamu, yang penting setiap bulan aku gak lupa mengirimkannya untuk mereka," ucap Rio sedikit kesal.
__ADS_1
"Maaf ya mas.." ucap Dinda tak enak hati.
"Gak apa.. Memang begitu kan watak suamimu, belagu, sok bisa," sindir Rio.
"Jangan menjelekkan dia mas, gitu-gitu suamiku," protes Dinda.
"I know.. Hanya mengutarakan isi hati saja," jawab Rio sedikit kesal.
"Namanya manusia pasti ada baik dan buruknya mas, jika aku hanya memandang keburukan saja mungkin sampai sekarang pun aku masih membencimu mas, membenci kelakuanmu dengan Sisil waktu dulu, menjadikan aku rahim pengganti" sindir Dinda.
"Maaf atas kejadian masa lalu itu andai bisa diulang, aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kita," ucap Rio mendadak sedih.
"Iya mas.. Semua sudah terlanjur," jawab Dinda kikuk.
"Kamu bahagia dengan rumah tanggamu yang sekarang? Tolong jawab jujur," tanya Rio.
"Bahagia mas, walaupun terkadang ada badai menerjang, namanya juga rumah tangga gak mungkin kan adem ayem terus," jawab Dinda berbohong. Bahagia?? Rasanya sekarang Dinda sudah lupa dengan rasa itu, entah kapan terakhir kali Dinda merasakannya. Masalah demi masalah apalagi ditambah anak yang dari Ryan masih kecil, membuat emosi dan tenaga juga pikiran Dinda terkuras habis. Ia harus bisa membagi waktu antara bekerja, menjadi ibu dan istri yang baik. Semua saling berbenturan, Dinda terkadang kewalahan namun tak bisa untuk memilih salah satunya, sungguh pilihan yang sulit.
"Kalau kamu butuh teman curhat, kapan pun aku siap, anggap saja aku ini sedang mengugurkan dosa-dosaku padamu dimasa lalu," ucap Rio.
"Iya mas.. Kalau boleh aku tanya, misal nih, istrimu ada pekerjaan dadakan diluar kota lalu perasaanmu mendadak gak enak dan akhirnya memutuskan untuk menghampiri, ketika tiba di sana tiba-tiba ada wanita yang mengaku kliennya masuk ke kamar hotel dengan ekspresi sudah biasa, wajar gak jika suami itu marah besar?" tanya Dinda.
"Ya wajar namanya juga suami istri, apalagi ada orang lain di dalam ruangan privasi, kamar kan termasuk ranah privasi meskipun hotel loh ya tetap aja kamar, kalau aku lebih baik tanya dulu siapa orang itu dan sudah sejauh apa mereka dekat, jika memang terbukti klien ya bisa ditegur dengan cara halus namun jika pura-pura klien baru diberi pelajaran," jawab Ryan.
"Yang satu mengaku klien tapi yang pihak ketiga itu seolah getol banget deketin milik orang," ucap Dinda.
"Jujur saja.. Ini masalah rumah tangga kalian kan?" tebak Rio.
"Iya.. Ini masalah rumah tanggaku, sampai sekarang aku masih mengganjal dipikiran, apa benar dia klien atau pura-pura klien," jawab Dinda jujur.
"Kalau begitu besok aku akan mengantarkan mu ke tempat suamimu bekerja, kita lihat sama-sama apa benar yang suamimu katakan, urusan anak-anak biar nanti sama mamahku," ucap Rio siap membantu.
"Nanti yang ada bertengkar mas ditambah aku kesana sama kamu," tolak Dinda.
"Itu urusan gampang, yang penting masalahmu selesai dulu, diam-diam nanti selidiki," ucap Rio enteng.
Diam-diam selidiki? Lalu hasilnya nanti bagaimana ya??
__ADS_1