
Saking gak sabarnya, Dinda segera menelpon Fitri.
"Ish.. Lo bisa sabar gak sih?" protes Fitri kesal.
"Sorry.. Habisnya lo kelamaan sih, gercep dikit dong," jawab Dinda sudah tak sabar.
"Ini udah termasuk gercep loh, sabar dulu napa, tenang aja suami lo gak macam-macam kayak apa yang lo pikirkan, hapus tuh pikiran kotor lo," ucap Fitri memberitahu.
"Kok bisa lo ngomong gitu?" tanya Dinda.
"Ya bisa lah emang bener kok, suami lo disini sama teman cowoknya semua, kamarnya pun pisah, gak percaya makanya kesini dan cek sendiri biar puas, dah dulu ya gue harus segera balik!" ucap Fitri lalu mematikan panggilan.
Perasaan Dinda masih kurang puas mendengar penuturan temannya jika Ryan ada di hotel bersama teman-temannya, entah kenapa perasaannya mengatakan hal yang lain, mungkin kebetulan saja Fitri melihat Ryan ketika lagi sendiri.
"Bisa saja kan mas Ryan ada yang nungguin dikamar sana, mana ada kerja ke luar kota kok tiba-tiba dan mana kebetulan sama kepergok nya mas Ryan pergi ke butik sama wanita yang namanya Indah itu, ish," gerutu Dinda tak tenang hatinya.
Lagi-lagi Dinda menghubungi suaminya untuk memastikan adakah wanita lain disana dan sekaligus mencocokan informasi yang diberikan Fitri.
__ADS_1
Hingga tiga kali berdering, panggilan Dinda tak juga terjawab, pikiran buruk semakin menguasai otak dan hatinya. "Kamu kemana mas? Kenapa lama sekali angkat teleponnya, sedang apa kamu disana mas?" gumam Dinda gelisah.
Dilain sisi, Ryan sedang berbincang dengan temannya diluar kamar, baru saja Ryan selesai membeli kebutuhan untuk mandi, karena sebelum berangkat sempat ada tragedi di rumah tangganya membuat Ryan tak fokus menyiapkan barang keperluannya.
"Darimana pak?" tanya Riki.
"Dari supermarket depan hotel, kelupaan beli perlengkapan mandi," jawab Ryan memperlihatkan belanjaannya.
"Barang penting bisa sampai lupa pak, mikirnya istri di rumah ya pak? Pasti berat ninggalin istri di rumah sama anak-anak," goda Riki yang tak tau jika rumah tangga Ryan sedang ada masalah.
"Ya begitulah, Rik.. Ini kan pertama kali bekerja diluar kota setelah menikah, mana mendadak lagi, untung istriku percaya loh," jawab Ryan terkekeh.
"Ya kalau semua sifat perempuan seperti istriku gak ada tantangan di dunia ini dong," ucap Ryan.
"Iya Pak nanti hidupnya lurus-lurus aja," jawab Riki membenarkan.
"Kalau cari istri jangan hanya dari cantiknya aja, Rik, memang sih semua orang termasuk kita sebagai pria memandang perempuan dari tampangnya, ya aku gak munafik sih dulu sangat menyukai istriku memang berawal dari wajahnya yang cantik alami di tambah kasus yang sempat aku tangani waktu itu membuat aku semakin tau bagaimana sisi lain istriku ini, dia wanita yang kuat, mandiri bahkan tak ada kata menyerah untuk memenangkan sebuah kebenaran," puji Ryan terhadap Dinda. Dari dulu, Ryan memang tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada karyawan bahkan teman kerjanya, bagi Ryan mereka adalah teman dalam bekerja jadi tidak harus dibebani dengan curhatannya, apalagi Ryan memang tidak suka jika ada pihak luar turut ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Jadi jika didepan banyak orang, memang Ryan selalu memuji bagaimana istimewa istri dimatanya ya meskipun akhir-akhir ini ada yang sedikit menganggu pikirannya, yaitu tentang Vika. Sempat mendekam dipenjara dalam waktu lama dan ketika bebas pun baru kali ini mereka berjumpa dalam perjumpaan yang tak sengaja namun sukses mengalihkan sedikit perhatian Ryan.
__ADS_1
"Paket komplit dong pak apalagi istri bapak sudah memberikan keturunan," puji Riki.
"Iya, Rik.. Kehidupanku sangat bahagia setelah menikah dengannya, ada saja hal yang membuatku jatuh cinta pada istriku," ucap Ryan.
"Baru kali ini saya tau seorang pengacara kondang bisa bucin sama perempuan biasa seperti bu Dinda, menang sih pak saya akui bu Dinda cantik bahkan lebih tepatnya menarik, jadi apapun yang ia lakukan bahkan ia gunakan semuanya terlihat menarik," puji Riki.
"Mulai berani puji istri orang didepan suaminya nuh," sindir Ryan. Padahal jika diperhatikan lagi, omongan Riki memang ada benernya, tak salah jika dia memiliki pemikiran seperti itu pada istrinya karena memang banyak hal baik dari diri Dinda. Tapi entah kenapa ia tak suka ada orang lain terang-terangan memuji istrinya hingga segitunya.
"Gak pak.. Maafkan saya, jangan pecat saya pak, cicilan saya masih banyak," jawab Riki salah tingkah karena sudah keceplosan memuji istri atasannya.
"Bercanda, Rik.. Mana tega aku pecat orang hanya karena masalah begini, selagi kesalahan yang dibuat tidak fatal ya bisalah diberi kesempatan," jawab Ryan menepuk pelan bahu Riki.
"I..iya Pak sekali lagi saya minta maaf, saya terlalu terbawa suasana ketika berbicara dengan anda, bawaannya santai jadi saya merasa sedang berbincang dengan teman," ucap Riki.
"Gak masalah.. Saya masuk dulu ya mau mandi," pamit Ryan lalu masuk ke kamar hotel nya. Memang Ryan tak langsung cek ponsel mahalnya itu melainkan ke kamar mandi untuk bebersih, ia sudah tidak tahan lagi karena badannya lengket dan selepas cek in belum juga ganti baju.
Setelah semuanya beres, barulah Ryan bermain ponselnya sambil rebahan di tempat tidur. Notifikasi yang muncul paling atas adalah panggilan dari sang istri, Dinda. Merasa jika sudah mengabaikan panggilan sang istri membuat Ryan cemas, bisa saja disana Dinda berpikir yang bukan-bukan tentangnya.
__ADS_1
"Ini harus segera dibereskan," gumam Ryan menelpon Dinda hingga 4 kali dan nihil.. Semuanya tak terjawab. Kalau tadi Ryan sedang diluar kamar karena berbincang dengan karyawannya bernama Riki, kali ini Dinda berbeda, Dinda berada dibawah sedang bermain dengan anak-anak nya dan memang sengaja tidak membawa ponsel. Panggilan yang diabaikan oleh Ryan saja sudah membuat mood Dinda buruk, tak mau badmood nya berangsur lama akhirnya Dinda memanggil anak-anak nya dan mengajak bermain. Dia harus terlihat tegar dan seolah tak ada apa-apa ketika didepan anak-anak nya, mereka masih terlalu kecil untuk memahami ini semua. Jangan sampai kenangan ketika mereka kecil melukai perasaan dan pikiran mereka, Dinda hanya mau masa kecil anak-anaknya di penuhi kebahagiaan.
"Dinda sayang.. Maafkan aku yang gak angkat panggilan darimu, aku gak bermaksud mengabaikan mu sayang, baru saja aku pulang dari supermarket untuk membeli perlengkapan mandi, karena sebelum berangkat ke luar kota kan kita sempat berdebat dan pikiranku jadi gak fokus, hilang sudah semua ingatan untuk membawa apa saja ketika luar kota nanti, maafkan suamimu ini ya.. Secepatnya aku akan pulang," isi chat Ryan yang berharap segera centang biru namun sayang sekali hingga sejam kemudian tak kunjung ada balasan.