RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Kedatangan Vika


__ADS_3

Pagi harinya Ryan sudah berada di kantor karena dia ada janji temu dengan klien pukul 9 pagi.


"Selamat pagi pak.." sapa sekretaris ramah.


"Pagi.. Gimana keadaanmu? Masih trauma?" tanya Ryan peduli.


"Sudah tidak pak karena yang saya dengar pelakunya sudah tertangkap jadi saya senang mendengarnya," ucap sekretaris.


"Syukurlah.. Memang pelakunya sudah di tangkap dan dia beraninya mengusik ranah pribadi saya," ucap Ryan geram.


"Itu dia pak yang membuat saya kaget, darimana dia bisa tau alamat rumah bapak?" tanya sekretaris bingung.


"Makanya itu.. Saya langsung pindah rumah dan maaf ya kali ini saya tidak mau siapapun tau dimana rumah baru saya, kalau mau bertemu diluar jam kerja nanti bisa ketemu di rumah lama saya atau rumah mertua saya," ucap Ryan mencoba memberi pengertian.


"Baik pak saya menghargai privasi anda, semoga nanti di rumah baru kehidupan bapak juga keluarga bisa lebih bahagia," harapan sekretaris.


"Aamiin.. Oke..Apa saja jadwal saya hari ini?" tanya Ryan fokus pada pekerjaan.


"Oh iya Pak maaf saya sampai lupa, jadwal anda nanti bertemu dengan klien pukul 9 pagi di kantor dan jam 2 siang di kafe Louis, hanya itu saja pak" ucap sekretaris lalu menutup buku janji temu.


"Baiklah.. Paling gak bisa pulang awal, saya juga harus beres-beres, thanks.." jawab Ryan merasa senang.


"Sama-sama Pak kalau begitu saya permisi dulu," pamit sekretaris dan tidak terasa kini Ryan sudah harus janji temu dengan kliennya.


Setelah membahas permasalahan yang di hadapi kliennya cukup alot kini Ryan bisa bernafas lega karena sudah waktunya jam makan siang.


"Ryan ada di ruangan?" tanya Vika pada sekretaris.


"A..Ada kok bu, sudah ada.." jawab sekretaris terpotong oleh Vika.


"Tidak ada janji temu maupun obrolan sebelumnya, saya mau langsung masuk saja," jawab Vika langsung nyelonong masuk.


"Bu.. Tapi bu.." teriak sekretaris mengejar Vika namun sayang, Vika sudah terlebih dahulu masuk ke ruangan Ryan.


"Vika? Ada apa kesini?" tanya Ryan kaget.


"Hai Ryan.." sapa Vika mendekat ke Ryan.


"Maaf Pak saya mau mencegah namun beliau sudah nyelonong masuk dulu," ucap sekretaris merasa bersalah.


"Gak papa.. Kamu boleh makan siang," jawab Ryan memahami dan sekretaris pamit pergi.


"Makasih pak.. Permisi," pamit sekretaris lalu berjalan keluar.


"Apa dia gak tau ya kalau pak Ryan sudah punya istri? Kalau nantinya tau apakah masih mengejar-ngejar pak Ryan? Laki-laki di dunia banyak kenapa memilih suami orang?" batin sekretaris tak habis pikir.

__ADS_1


"Ada apa Vika?" tanya Ryan.


"Aku mau mengajakmu makan siang, kebetulan sekali aku lewat sini, katanya resto seberang kantormu terkenal enak," alibi Vika.


"Oh iya memang enak kok gue sering ke sana," jawab Ryan membenarkan.


"Yasudah ke sana yuk," ajak Vika menggandeng tangan Ryan namun berhasil di tepis.


"Oke kita ke sana tapi tolong jangan asal gandeng ya, ini di kantor," tegur Ryan kesal.


"Maaf.." jawab Vika lalu mereka menuju resto.


Di sana tak henti-hentinya Vika menempel terus pada Ryan hingga membuatnya risih.


"Vika ini kenapa sih kok gatel banget," batin Ryan risih.


"Mau pesan apa Ryan?" tanya Vika sambil menempelkan tubuhnya di tubuh Ryan.


"Bisa geser dikit gak? Duduk di sebrang kan juga bisa malah lebih luas? Aku gak enak kalau di lihatin banyak orang," bisik Ryan geram.


"Kenapa sih? Biarin saja dong memang salah ya?" tanya Vika tak tahu malu.


"Lo atau gue yang geser?" gertak Ryan lalu membuat nyali Vika ciut.


"Thanks.." jawab Ryan bisa bernafas lega.


"Aku pesan sirloin steak sama minumnya jus alpukat," ucap Ryan menyebutkan pesanannya.


"Oke aku juga sama," jawab Vika lalu memanggil waiters dan mengatakan pesanannya.


"Oh iya waktu itu gue belum sempat tanya ya," ucap Vika kelupaan.


"Yang mana?" tanya Ryan bingung.


"Waktu lo minta bantuan gue buat bantuin temen mu itu, memang dia ada hubungan khusus denganmu ya kok lo sampai segitunya bantu dia, jarang-jarang loh lo lakuin itu," tanya Vika penasaran.


"Oh itu.. Iya dia menang ada hubungan khusus denganku, btw thanks ya udah bantu dia dengan cepat sehingga pelakunya terungkap," ucap Ryan dingin.


"Sampai sekarang masih berhubungan dengannya?" tanya Vika penasaran.


"Ya masih lah dan akan terus begitu," jawab Ryan sangat meyakinkan.


"Gak.. Gue harus pisahin Ryan dengan cewek itu, Ryan itu milik gue.." batin Vika menahan amarah.


"Lalu kenapa lo jarang makan siang bareng dia? Kalau memang kalian ada hubungan khusus harusnya lunch bareng dong," sindir Vika membuat Ryan mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Harus ya dan apakah harus lo mengetahuinya? Setiap pagi tanpa absen kami sarapan bersama dan makan malam pun begitu, dia yang selalu memasaknya," ucap Ryan membuat Vika kaget.


"Loh kok kalian bisa makan bareng setiap hari?" tanya Vika penasaran.


Ketika Ryan akan menjawab, datanglah pesanan mereka dan akhirnya Ryan memutuskan untuk makan lebih dahulu.


"Permisi kak.. Ini pesanan anda," ucap waiters sambil menata makanan di meja.


"Baik.. Makasih mbak," ucap Ryan ramah.


"Sama-sama Pak Ryan.. Senang sekali anda kembali makan siang di sini, suatu kehormatan bagi kami," ucap waiters sopan dan ramah.


"Terima kasih.. Saya memang suka makanan disini, enak dan kebetulan lokasinya dekat dengan kantor," jawab Ryan merendah.


"Makasih pak.. Kalau begitu saya permisi, selamat makan," ucap waiters pamit lalu kembali bekerja.


"Ryan.. Kamu belum jawab pertanyaan gue," cecar Vika masih penasaran.


"Bisa gak kalau makan dulu? Waktu gue mepet nih, jam 2 ada janji temu dengan klien," pinta Ryan.


"Sibuk banget sih lo, kalau gini mana ada cewek yang mau," sindir Vika.


"Ada.." jawab Ryan singkat namun dingin.


"Percaya diri sekali dia.. Paling yang di maksud adalah gue hehe," batin Vika percaya diri.


"Jangan terlalu percaya diri dulu," sindir Vika tersenyum manis karena ia merasa Ryan sedang membicarakan dirinya.


"Vika.. Minta tolong sekali.. Gue ingin makan jadi bisakah kita diam sejenak? Gue ingin menikmati makanannya sebelum lanjut kerja, atau gue take away aja deh," gertak Ryan sudah kesal.


"Eh jangan dong.. Gitu aja ngambek, yaya kita makan dulu," ucap Vika kesal lalu mereka makan dalam diam. Di dalam hati dan pikiran Vika masih bertanya-tanya bagaimana jawaban Ryan nantinya.


Setelah selesai makan siang kini Vika kembali mencecar pertanyaan yang sama,


"Kita udah selesai makan nih jadi sekarang bisa dong dijawab ada hubungan apa antara lo dengan cewek yang pernah gue tolong? Mengapa lo bisa makan bareng dengannya setiap hari, apa kalian tinggal serumah?" cecar Vika beruntun hingga membuat telinga Ryan pegal mendengarnya.


"Memang ini penting banget ya?" tanya Ryan.


"Penting dong.. Kan lo sebegitu memperlihatkannya," jawab Vika penasaran.


"Ya harus bahkan malah wajib memperhatikannya dong, karena dia kan sekarang menjadi istri gue," jawab Ryan dengan entengnya dan membuat Vika kaget luar biasa.


"I..Istri? Kalian udah me..menikah?" tanya Vika sangat kaget sampai mengatakan dengan terbata-bata.


"Ya.. Dia istri gue dan akan selalu menjadi milik gue, jadi jangan lagi bersikap berlebihan ya, gue adalah pria beristri dan gue sangat mencintai istri gue.. Memang kita pernah memiliki hubungan di masa lalu namun itu sudah berlangsung lama berkahir, gak perlu dibahas siapa yang duluan meninggalkan karena itu sudah tidak penting lagi buat gue, jadi tolong bersikaplah layaknya teman, gue cabut dulu karena ada janji dengan klien," tegur Ryan lalu meninggalkan Vika seorang diri di resto.

__ADS_1


__ADS_2