RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Aktifnya Si Kembar


__ADS_3

Tak terasa kini Farel dan Vanessa sudah semakin besar dan banyak rasa keingintahuan yang ada di otaknya.. Dinda merasa beruntung karena bisa merasakan menjadi seorang ibu yang langsung diberi anugerah dua anak sekaligus.


"Mommy mommy.." panggil Farel.


"Iya Farel sayang ada apa?" tanya Dinda lembut.


"Mommy tau gak kalau tadi di sekolahan Farel dapat nilai bagus loh mommy, nih lihat mom," tunjuk Farel dengan bangganya.


"Wah nilai 10 itu sempurna sayang, kamu hebat," puji Dinda bangga.


"Iya dong mom kan Farel mau selalu membuat mommy bangga dan sayang sama Farel," jawab Farel.


"Mommy selalu bangga dan sangat sayang sama Farel dan juga Vanessa.. Gak pernah mommy membedakan kalian dan mommy selalu berusaha bersikap adil," ucap Dinda.


"Meskipun nanti nilai Vanessa jelek mommy tetap bangga?" tanya Farel.


"Mau nilai kalian nantinya bagus atau pun jelek mommy tetap bangga karena itu semua hasil kerja keras kalian, hasil pikiran kalian, hasil kemampuan kalian.. Ya memang alangkah lebih bagusnya nilai kalian selalu bagus," jawab Dinda berusaha bijak.


"Mommy kenapa jadi orang baik sekali sih? Gak pernah Farel melihat kejahatan di hidup mommy," tanya Farel dengan polosnya.


"Mommy bukan orang baik namun mommy berusaha menjadi orang baik sayang, mommy masih banyak belajar dan terus memperbaiki diri setiap harinya, mommy berharap setiap harinya hidup mommy bermanfaat untuk semua orang termasuk kalian," jawab Dinda.


"Kalau ada yang jahat sama mommy?" tanya Farel.


"Jahatnya seperti apa dulu nih," ucap Dinda.


"Ya kalau misalnya barang mommy diambil teman atau dicuri, itu kan perbuatan gak baik mom.. Apa nanti mommy langsung marah?" tanya Vanessa penasaran.


"Haha.. Kalau untuk itu ya mommy sebisa mungkin tidak marah, mommy akan tegur dulu secara baik-baik.. Ingat ya anak-anak mommy.. Jangan langsung menuduh atau pun menghardik teman, apapun masalahnya lebih baik tanyakan dulu atau ditegur dengan baik," ucap Dinda berusaha memberi contoh baik.


"Iya mommy.." jawab keduanya kompak.


"Nah sekarang mommy mau tanya, berapa nilai Vanessa? Sini mommy mau lihat," ucap Dinda.


"Masih bagus kak Farel mom," jawab Vanessa sedih lalu memberikan buku tugasnya.


"Nilai Vanessa 80? Itu nilai yang bagus loh sayang, jangan sedih gitu.. Anak mommy pintar-pintar," puji Dinda.


"Tapi kan kak Farel dapat 100 mom," ucap Vanessa.


"Ya karena kakak mengerjakannya bener dan gak sambil mainan apalagi ngobrol sama teman," jawab Farel membuat Vanessa kesal.


"Ih kak Farel.. Siapa yang ngobrol dan main?" protes Vanessa mendelik kesal.


"Tadi tuh kamu ngobrol sama Fera sampai ditegur bu guru," adu Farel.


"Kakak..." pekik Vanessa mencubit lengan Farel.

__ADS_1


"Sakit dek," pekik Farel kesal.


"Sudah sudah jangan bertengkar dong, ayo Vanessa minta maaf sama kak Farel," suruh Dinda dan Vanessa menurut.


"Maaf kak.." ucap Vanessa mengulurkan tangan.


"Iya.. Jangan di ulangi ya, itu sakit loh," ucap Farel sambil memegang lengan.


"Iya kak," jawab Vanessa mengangguk mengerti.


"Nah begitu dong sama saudara jangan saling bertengkar ya itu tidak baik.." ucap Dinda dan kedua anaknya mengangguk patuh.


"Untuk Vanessa, sini duduk di pangkuan mommy," suruh Dinda sambil menepuk bahunya.


"Iya mommy," jawab Vanessa lalu duduk di pangkuan Dinda.


"Apa benar yang dikatakan kak Farel kalau tadi Vanessa di tegur bu guru karena keasyikan ngobrol?" tanya Dinda lembut.


"I..Iya mommy.. Maaf," jawab Vanessa ketakutan dan menangis.


"Sssttt... Jangan menangis sayang kan mommy hanya tanya, mommy senang kalau Vanessa jawabnya jujur.. Besok lagi jangan di ulangi ya, kalau lagi mengerjakan sesuatu ya fokus dulu sama itu," tegur Dinda.


"Iya mommy.. Habisnya Fera usil mom kalau nanti Vanessa gak nengok dia terus saja ganggu Vanessa," keluh Vanessa.


"Begitu? Kenapa Vanessa tidak bilang sama bu guru?" tanya Dinda.


"Apa sikapnya itu tidak dikasih tau sama mamahnya?" tanya Dinda penasaran.


"Tidak mom.. Bagi mommy nya yang nakal itu temannya," jawab Vanessa membuat Dinda terkejut.


"Kok bisa begitu sayang? Kamu pernah di tegur mamahnya Fera?" tanya Dinda.


"Pernah mom karena Vanessa mengadu sama mamahnya kalau Fera terus usil, malah Vanessa yang dimarahi bahkan mau di cubit namun berhasil dicegah sama kak Farel, iya kan kak?" keluh Vanessa.


"Astaga.. Kenapa kalian tidak bicara sama mommy? Ini gak bisa di biarkan," tanya Dinda kesal dan mulai emosi.


"Karena Vanessa dan kak Farel gak mau menambah beban pikiran mommy, jadi kak Farel suruh Vanessa diam saja yang penting mamahnya Fera gak jadi cubit Vanessa," jawab Vanessa berlinang air mata.


"Bu guru tau kalau Vanessa mau di cubit mamahnya Fera?" tanya Dinda.


"Tau mom malah bu gurunya diam aja, harusnya di cegah ya mom.. Setelah Farel cegah malah bu guru suruh kami duduk di ayunan sambil menunggu jemputan," jawab Farel semakin membuat Dinda syok.


"Ok besok mommy akan berbicara dengan bu guru juga mamahnya Fera, besok lagi kalau ada masalah di sekolah segera kabari mommy ya.. Kalau kalian tidak bilang gimana mommy tau?" tegur Dinda dan kedua anaknya mengangguk patuh.


"Yasudah sekarang kalian tidur.." perintah Dinda.


***

__ADS_1


Keesokan harinya Dinda bertemu dengan bu guru.


"Selamat pagi bu," sapa Dinda ramah.


"Selamat pagi bu.. Ada yang bisa saya bantu?" tanya bu guru.


"Ada bu makanya itu saya kesini," jawab Dinda.


"Begitu.. Apa itu bu?" tanya bu guru.


"Tadi malam kedua anak saya bercerita tentang kegiatannya di sekolah dan kenapa tadi malam kedua anak saya bercerita dengan muka sedih bahkan sampai nangis, setelah saya desak akhirnya mereka mengaku bahwa beberapa waktu lalu ada kejadian di sekolahan ya bu?" tanya Dinda membuat bu guru bingung.


"Kejadian apa bu?" tanya bu guru tak paham.


"Apakah anda masih ingat kalau anak saya Vanessa selalu dijahili oleh temannya yang bernama Fera?" tanya Dinda memastikan.


"Oh iya bu saya tau dan saya sudah menegur Fera secara langsung," jawab bu guru.


"Begitu.. Lalu setelah itu apakah anda mengatakan perbuatan Fera pada orang tuanya?" tanya Dinda.


"Tidak bu karena saya pikir itu hal lumrah bagi anak-anak," jawab bu guru dengan entengnya.


"Hal lumrah? Haha.." jawab Dinda tertawa.


"Iya kan bu, Anak-anak di usia segitu memang sering bertikai jadi ya wajar," jawab bu guru membenarkan argumennya.


"Kalau tentang Vanessa hampir di cubit mamahnya Fera, apakah anda tau?" tanya Dinda.


"Oh itu saya tidak tau, mengapa Vanessa sampai mau dicubit mamahnya Fera?" tanya bu guru berbohong.


"Tidak tau? Padahal anak saya Farel mengatakan bahwa bu guru mengetahuinya dan respon anda malah menyuruh kedua anak saya duduk di ayunan sambil menunggu saya jemput," sindir Dinda.


"Jujur saja bu langsung saja apa tujuan ibu bertemu dengan saya?" tanya bu guru kesal.


"Ya saya ingin komplain bu, bisa-bisanya anak saya selalu di ganggu temannya tetapi anda sebagai guru menganggap itu hal wajar, belum lagi tentang Vanessa yang hampir di cubit, itu anak saya mengadu loh sama mamahnya tapi malah anak saya yang di salahkan dan anda sebagai guru juga membiarkan, ini sekolahan loh bu.. Tempat anak-anak menuntut ilmu bukan tempat adu tinju, kalau dari pihak sekolahan tidak bisa mengambil tindakan tegas lebih baik kedua anak saya keluar dari sekolah ini dan pastinya akan saya viral kan," gertak Dinda membuat gurunya ketakutan.


"Jangan bu saya mohon jangan viral kan kasus ini, bagaimana nanti reputasi saya dan juga sekolahan? Saya tulang punggung keluarga bu," pinta bu guru memohon.


"Anda menyuruh saya memikirkan bagaimana nasib anda juga sekolahan namun anda tidak pernah sekalipun memikirkan bagaimana psikis anak saya, apakah anda memikirkan itu?" sindir Dinda dan bu guru hanya diam.


"Saya tidak mau terlibat masalah dengan siapapun bu makanya saya membiarkan semua ini agar saya tetap bekerja, saya sangat butuh pekerjaan ini," pinta bu guru.


"Tapi sayangnya saya tidak peduli akan hal itu karena anda sendiri pun berbuat demikian, sekarang pertemukan saya dengan kepala sekolah dan juga mamahnya Fera," tantang Dinda.


"Kenapa harus sampai memanggil kepala sekolah bu?" tanya bu guru gugup.


"Beliau yang berhak memutuskan apapun yang berada di lingkup sekolah dan beliau juga harus tau apa yang sebenarnya terjadi di bawah naungannya," jawab Dinda.

__ADS_1


__ADS_2