
Tepat hari ini Sisil resmi bebas dari penjara setelah mendapat beberapa kali remisi karena dia berperilaku baik di dalam tahanan. Sisil akhirnya bisa menghirup udara bebas lagi..
Tak ada suami maupun keluarga yang menjemput tak lantas membuatnya sedih, ia memaklumi itu karena kebebasan yang ia peroleh ini secara bertahap dan seharusnya Sisil bisa bebas 1 bulan lagi namun pihak kepolisian memberi kelonggaran baginya dan ya hari ini Sisil bisa beneran bebas tanpa perlu lagi menyamar menjadi Astuti.
Rumah pertama yang di kunjungi nya ialah rumah sang suami tercinta, Rio Suganda. Sisil sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi suaminya ketika mengetahui jika sekarang dirinya sudah bebas.
"Mas Rio aku datang.. Akhirnya kita bisa bermadu kasih lagi mas," gumam Sisil sumringah lalu mencegat taksi untuk mengantarkannya ke rumah Rio.
Setelah tiba di rumah sang suami, Sisil langsung menunjukkan kartu sakti yang diberikan kepolisian dan sopir taksi pun langsung memahami dan tancap gas pergi, sebenarnya sopir taksi tadi cukup kaget mengingat Sisil dari keluarga berada namun statusnya mantan narapidana.
"Dih cantik-cantik kok mantan napi hii.. mending gue langsung tancap gas aja deh ketimbang urusannya panjang, ya kalau ini beneran rumahnya dia kalau ternyata rumah korbannya? Ah gak mau ikutan," batin sopir taksi bergidik ngeri dan tancap gas pergi.
"Dih belum ucapin makasih main nyelonong aja, apa karena kartu sakti ini ya?" ucap Sisil heran dan sesaat ia fokus dengan tujuannya yaitu menemui sang suami.
Ting tong... Suara bel rumah Rio. Betapa kagetnya ART ketika membukakan pintu siapa tamu yang bertandang ke rumah majikannya.
"Non.. Non Sisil?" ucap ART terbata.
"Benar bi ini Sisil.. Sekarang Sisil udah bebas, mas Rio ada di rumah kan?" tanya Sisil dan ART hanya mengangguk saja.
Lalu Sisil bergegas menemui sang suami yang kebetulan sedang bercengkrama di ruang keluarga bersama orang tuanya, awalnya suasana riang gembira namun ketika mereka melihat kehadiran Sisil suasana langsung mendadak mencekam dan tegang. Rio lantas berdiri dan menghampiri Sisil.
"Hai mas Rio.. Halo mah, pah," sapa Sisil dengan penampilan lusuhnya.
"Kamu kabur lagi?" tanya Rio.
"Tidak mas hari ini aku bebas," jawab Sisil.
"Mana mungkin? Harusnya kamu bebas satu bulan lagi," sanggah Rio tak percaya.
"Beneran mas.. Ini buktinya aku punya kartu sakti," ucap Sisil menunjukkan kartu.
"Jangan bilang kamu suap polisinya?" tuduh Rio.
"Astaga kenapa kamu gak percaya sih mas kalau aku beneran bebas, tanya sana sama pihak kepolisian nya sendiri," tantang Sisil dan Rio langsung menghubungi kantor polisi dimana Sisil ditahan, benar saja Sisil hari ini bebas karena mendapat remisi.
"Gimana? Aku bohong?" sindir Sisil.
"Enggak.. Bener mah, pah Sisil udah bebas," ucap Rio lirih dan kedua orang tuanya kaget.
__ADS_1
"Sepertinya kalian tidak suka dengan kebebasanku ini ya?" tanya Sisil sedih.
"Maybe.." jawab Rio asal dan semakin membuat Sisil merasa sedih, ia pikir dengan dirinya bisa bebas lebih awal membuat orang sekitarnya senang dan bersyukur namun nyatanya terbalik.
"Aku sudah menyerahkan ATM ku padamu mas lalu kenapa kamu masih saja dingin padaku?" tanya Sisil kecewa.
"Jumlah saldo yang ada di ATM mu tidak menutup hutang yang aku miliki," ucap Rio dingin.
"Lalu salahku gitu mas?" tanya Sisil.
"Tentu saja.. Seharusnya kamu jangan hidup boros, jangan merasa jadi ratu disini, sekarang kehidupan kita berbeda jauh," ucap Rio membuat Sisil kaget.
"Ha? Kok bisa gitu mas? Kamu kali yang gak becus urus perusahaan," cibir Sisil.
"Tutup mulutmu itu atau aku akan berbuat nekat padamu," gertak Rio mulai emosi.
"Lagian hutang itu hutangmu kenapa jadi aku yang kena sasarannya, aneh.." cibir Sisil.
"Yang terpenting aku peringatkan padamu jika mulai hari ini kehidupan kita tidak sama seperti dulu, jadi kalau kamu merasa tidak kuat silahkan angkat kaki," ucap Rio serius.
"Aku akan menemanimu mas," ucap Sisil yakin.
"Akan aku buktikan," jawab Sisil yakin lalu masuk kamar untuk membersihkan badan.
Sudah lama sekali Sisil tidak merasakan kemewahan yang dulunya menjadi miliknya, sudah lama pula ia tidak mencium bau harum pengharum ruangan serta air bersih yang bebas mengalir, di penjara mau mandi saja harus menunggu jatahnya air hidup itu pun tidak banyak apalagi kondisi kamar mandi di tahanan sangat memprihatinkan dan baunya sungguh membikin perut mual.
"Setidaknya mulai hari ini dan seterusnya gue bisa menikmati fasilitas ini lagi, bye bye bau busuk dan krisis air," batin Sisil sambil berendam di bath up.
Sementara itu di ruang keluarga sedang fokus membahas Sisil yang sudah bebas dari penjara.
"Kamu gimana sih Rio.. Istri bebas sampai gak tau," protes Mayang.
"Memang tidak ada pemberitahuan dari polisi?" tanya Suganda penasaran.
"Gak ada informasi apapun yang Rio terima pah, mah.. Nyatanya Sisil pulang kesini saja Rio sampai memastikan ini dulu ke kepolisian," ucap Rio kesal.
"Kok bisa ya Sisil selalu mendapat remisi?" tanya Suganda heran.
"Mana Rio tau pah.. Dia datang aja bikin kepala Rio tambah pusing," ucap Rio memegang kepalanya.
__ADS_1
"Makanya punya istri baik tuh jangan asal lepas, demi Sisil kamu korbankan Dinda dan anakmu," protes Mayang.
"Mah jangan dibahas lagi," protes Rio.
"Habisnya mamah kesal banget sama kamu kenapa dengan bodohnya melepas Dinda," ucap Mayang kesal.
"Mah sudahlah yang lalu biar berlalu.. Kasihan Rio sedang ada masalah di kantor malah kita menambahi beban, harusnya kita cari jalan keluarnya bersama," ucap Suganda bijak.
"Jalan keluarnya ya Rio cerai dari Sisil dan pulihkan lagi perusahaan, dah itu kuncinya.. Mau kamu pulihkan perusahaan sampai gimana pun kalau kamu masih sama Sisil ya percuma, hartamu cepat habis," ucap Mayang yang tak sengaja di dengar Sisil.
"Anak kita pernah gagal mah jangan buat dia jatuh ke lubang yang sama lagi," tegur Suganda.
"Mamah yakin kali ini Rio tidak akan begitu," ucap Mayang sangat yakin.
"Mah pah udah deh bahas yang lebih penting dulu, perusahaan harus segera di selamatkan secepatnya, Rio gak ikhlas jika nantinya di akusisi oleh Boy," pinta Rio frustasi.
Mendengar perusahaan akan di akusisi Sisil langsung kaget, apakah sampai segitu parahnya kondisi perusahaan suaminya itu.
"Astaga apa benar mas Rio mau bangkrut? Memang berapa banyak sih hutangnya? Padahal saldo gue pun udah jadi korbannya tapi masih saja gak nutup," gumam Sisil yang tak sengaja menabrak vas bunga hingga pecah.
Pyar... Suara vas bunga pecah, Rio dan kedua orang tuanya refleks menoleh ke asal suara.
"Siapa di sana?" tanya Rio yang menuju sumber suara.
"Aku mas, maaf.." jawab Sisil menampakkan diri.
"Sejak kapan kamu disitu?" tanya Mayang.
"Daritadi mah ketika mamah menyuruh mas Rio menceraikan Sisil dan memulihkan perusahaan," sindir Sisil dan Mayang kaget akan jawaban menantunya itu.
"Tuh dengarkan mah makanya jangan asal bunyi.. Perhatikan juga perasaan Sisil," tegur Suganda kesal dan Mayang menunduk malu.
"Udahlah jangan ribut dong.. Rio pening nih," pinta Rio merelai.
"Silahkan mas kalau kamu mau gugat aku di pengadilan jika itu membuat mamah dan papah kamu bahagia, aku memang tidak bisa memberikan keturunan seperti Dinda namun setidaknya penyebab aku kehilangan rahim bukan karena kesalahanku namun karena aku menolong mamah mu," ucap Sisil lalu beranjak pergi. Rio sempat mengejarnya namun ditahan oleh Mayang.
"Biarkan dia pergi sesuka hatinya.. Nanti juga dia bakal pulang, mana bisa dia hidup di jalanan," ucap Mayang mencegah Rio mengejar Sisil.
"Tapi mah?" ucap Rio terpotong.
__ADS_1
"Buktikan perkataan mamah ini, lihat 1-2 hari apakah Sisil akan kembali kesini atau tidak," ucap Mayang dengan serius dan Rio hanya bisa menuruti kemauan mamahnya.