
Rasanya kalian pasti eneg kan kalau hanya membahas Sisil terus? Nah episode ini author bakal menceritakan bagaimana asyiknya perdebatan antara nenek-nenek dalam menjaga cucunya.
Tak terasa kini anak-anak Dinda sudah semakin besar dan aktif, banyak sekali keingintahuan yang ditunjukkan Gibran pada keluarganya. Salah satunya ketika diajak ke kebun binatang, hampir semua binatang di sana Gibran tanyakan membuat orang tua serta neneknya pusing. Tak cuma itu saja, urus mengurus Gibran pun sering mengalami perdebatan yang sangat seru. Contohnya ketika Gibran masih bayi, ada satu hari dimana Gibran setiap malam selalu menangis tetapi tidak mengeluarkan air matanya, Dinda dan Ryan waktu itu sampai panik karena harus begadang setiap harinya, hingga akhirnya Dinda menyerah dan menceritakan pada ibunya, begitu pun dengan Ryan yang juga menceritakan pada mamahnya. Singkat cerita kedua nenek itu mengunjungi cucunya berbarengan.. Sri menyuruh Dinda untuk membawa anaknya ke dukun bayi agar dipijat karena Sri khawatir cucunya kecapekan atau terkena sanding kala, namun berbeda dengan ibunya Ryan yang menginginkan sang cucu diperiksa ke dokter spesialis anak.
Dinda dan Ryan dibuat bingung dengan perdebatan sengit itu hingga akhirnya Dinda mengambil saran dari ibunya, karena mau bagaimana pun bisa saja anaknya itu kecapekan atau terkena gangguan dari makhluk lain mengingat beberapa hari sebelumnya Dinda dan Ryan mengajak Gibran keluar untuk makan malam. Setelah pulang barulah Gibran menangis terus menerus.
"Mah.. Bu.. Dinda sudah putuskan untuk memilih saran dari Ibu, mengingat beberapa hari yang lalu Dinda dan mas Ryan tak sengaja mengajak Gibran makan malam posisi magrib dan memang setelah pulang dari sana Gibran langsung rewel," ucap Dinda dengan hati-hati.
"Bisa saja anakmu merasa tidak nyaman atau malah ada virus," sanggah mamahnya Ryan.
"Sudah mah kita coba dulu saran dari ibunya Dinda jika nanti tidak berhasil baru dibawa ke spesialis anak," ucap Ryan memberi pengertian dan mamahnya hanya mendengkus kesal.
"Baiklah tapi ingat ya mamah gak mau ikutan kalau nanti Gibran kenapa-napa," ucap mamahnya dan mereka semua mengangguk.
Dan benar saja setelah dibawa ke dukun bayi kini Gibran kembali tenang dan tertidur pulas, Dinda dan Ryan sangat bersyukur karena bisa beristirahat dengan tenang dan nyenyak.
Kejadian selanjutnya ketika Dinda memutuskan untuk kembali bekerja, kedua nenek berebut untuk menjaga cucunya dan tidak setuju jika Gibran di rawat oleh baby sitter.
"Pokoknya mamah gak setuju kalau anak kamu pakai jasa baby sitter, ingat Din ibu masih mampu dan kuat menjaga cucu-cucu ibu, apa kamu lupa siapa yang merawat Vanessa dan Farel ketika bayi sampai sekarang?" protes Sri.
"Iya mamah juga gak suka ya kalian pakai baby sitter, mamah juga sanggup loh jaga dan rawat Gibran," protes mamahnya Ryan.
Mendengar kedua neneknya Gibran saling berargumen membuat Dinda menggeleng kepalanya pelan. Dinda hanya tidak mau merepotkan mereka diusia yang sudah semakin senja dan langkah terakhir yang Dinda ambil adalah nenek-nenek Gibran boleh datang kesini untuk menjaga namun bergantian, seminggu ibunya Dinda dan seminggu mamahnya Ryan.
__ADS_1
***
"Din.. Mamah lihat makin hari Gibran makin aktif ya? Anaknya gak bisa diam, mamah kadang capek menjaganya," keluh mamah Ryan sambil memegangi pinggangnya.
"Tuh kan mah apa yang Dinda katakan dulu? Biarkan Gibran pakai jasa baby sitter saja," ucap Dinda.
"Iya deh pakai aja baby sitter tapi mamah yang harus tetap mengawasi," ucap mamahnya Ryan.
"Sama aja dong mah.. Lebih baik mamah di rumah," ucap Dinda dengan selembut mungkin.
"Gak.. Mana bisa sehari saja mamah gak ketemu Gibran, makanya pindah aja ke rumah mamah.. Rumah mamah kamarnya kan banyak," ucap mamahnya Ryan.
"Enggak deh mah, disini kan rumah yang dibelikan mas Ryan untuk kami, kalau kami pindah nanti kosong rumahnya," ucap Dinda.
"Enggak mah soalnya Dinda gak yakin nantinya penghuni rumah bisa merawatnya atau gak," tolak Dinda dan mamahnya hanya mendengkus kasar.
"Kamu boleh pakai jasa baby sitter tapi ibu saranin carilah yang sudah banyak pengalamannya dan umurnya pun seumuran ibu ini," ucap Sri menasehati.
"Maaf nih besan kalau carinya seumuran kita mana bisa kerja cepat? Pastinya malah semua nanti keteteran," protes mamahnya Ryan.
"Kita cari amannya besan.. Kalau cari baby sitter yang masih muda takutnya ada hal lain yang terjadi di rumah ini" tegur Sri.
"Maksud anda nantinya anak saya bermain api dengan baby sitter, gitu??" tanya mamahnya Ryan tersinggung.
__ADS_1
"Ya bukan begitu juga besan.. Maksud saya kalau nantinya cari baby sitter yang masih muda malah nanti kerjanya lama, belum lagi kalau udah pegang hp bisa lupa akan pekerjaan, apalagi kalau nantinya mereka bisa menjaga penampilannya mah ibu gak papa la kalau ternyata mereka sengaja membuka celah?" ucap Sri membuat mamahnya Ryan juga Dinda kaget.
"Kenapa pikiran anda bisa sejauh itu sih besan? Ya kita carinya lewat yayasan yang kredibel dan berkompeten dong.. Jangan asal cari di media sosial jadinya kalau nanti baby sitter nya bermasalah bisa langsung kita bawa dan adukan ke yayasannya," tanya mamahnya Ryan heran dengan pola pikir Sri.
"Memang bisa to Din?" tanya Sri memastikan.
"Iya bu bisa kok sekarang banyak yayasan yang membuka peluang untuk para baby siter juga pembantu mencari pekerjaan dengan gaji layak dan majikan yang pantas," ucap Dinda menimpali.
"Oh begitu toh.. Kehidupan orang kaya enak sekali ya," ucap Sri membuat mamahnya Ryan tertawa.
"Besan ini gimana sih.. dari dulu kan memang ada yayasan untuk baby sitter juga art dan biasanya mereka digaji di atas rata-rata," ucap mamahnya Ryan heran.
"Maaf besan saya gak tau, saya pikir nanti Dinda mencarinya lewat media sosial," ucap Sri tertunduk malu.
"Sudah sudah jangan terlalu di permasalahkan ya mah, bu.. Maafkan ibu saya mah karena memang ibu tidak mengetahuinya, nanti biar Dinda dan mas Ryan yang memutuskan bagaimana baiknya," ucap Dinda merelai.
"Jangan lupa kamu pakai juga ART," ucap mamahnya Ryan.
"Kan sudah ada satu besan kenapa harus tambah lagi?" tanya Sri heran.
"Mana mampu satu ART mengurus segalanya, sudah Din kamu cari saja lagi nanti biar mamah yang bayar per bulannya," ucap mamahnya Ryan tak mau dibantah dan Dinda hanya mengangguk setuju karena Dinda tidak mau terjadi pertikaian karena hal sepele.
Meskipun begitu Sri merasa kurang suka dengan keputusan besannya itu yang terkesan mengatur rumah tangga Dinda juga Ryan.. Memang semuanya itu demi kebaikan mereka tapi ya tidak harus dipaksakan seperti ini juga.
__ADS_1
Halo readers maaf ya kalau episode kali ini agak kurang menarik, jujur saja author lagi blank parah tapi harus tetap publish bab karena kejar target.. Sekali lagi maaf ya kondisi author lagi kurang bersahabat dan besok deadline nya setor bab uu