RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Liburan (2)


__ADS_3

Aamiin... Semoga saja mas, kita mau begini terus?" tanya Dinda.


"Iya dong.. Aku mau terus begini seharian," pinta Ryan.


"Ngapain kayak gini sampai Labuan Bajo mas? Kan bisa di lakukan di rumah," tanya Dinda kesal.


"Momennya yang berbeda sayang, besok kalau sudah pulang kita lakukan lagi di rumah kan suasananya berbeda," ucap Ryan sambil menatap Dinda.


"Mas.. Keterusan kan jadinya," rengek Dinda.


"Sah-sah aja dong mau setiap jam ataupun menit juga bebas kan, kita udah sah loh," ucap Ryan dengan entengnya.


"Iya iya mas.. Yasudah sekarang kita mandi, nanti anak-anak menunggu," ucap Dinda beranjak bangun namun di tahan oleh Ryan.


"Apalagi mas Ryan?" tanya Dinda setengah kesal.


"Kita mandi bareng.." bisik Ryan membuat Dinda bergidik ngeri lalu mau gak mau Dinda menuruti keinginan suaminya untuk mandi bersama dan Ryan kembali meminta hak nya.. Ia merasa ketagihan ketika berada di dekat Dinda.


Setelah selesai mandi bersama kini keduanya sudah rapi dan siap untuk melakukan trip.


"Mommy.." seru Farel mengetuk pintu.


"Tuh kan mas Farel sampai nyamperin kesini, mas Ryan sih pakai acara nambah lagi," gerutu Dinda sambil berjalan membukakan pintu.


"Ya gimana lagi sayang habisnya nagih, aku seperti kecanduan," jawab Ryan dengan entengnya dan seketika membuat Dinda malu.


"Hai sayang.. Wah udah siap aja nih," sapa Dinda menyapa Farel.


"Udah daritadi mommy.. Kenapa mommy keluarnya lama sekali sih?" protes Farel.


"Maaf ya sayang habisnya papah Ryan susah di bangunin, jadi mommy belum keluar deh," jawab Dinda berbohong.


"Where's papah?" tanya Farel.


"Tuh.." tunjuk Dinda lalu Farel menghampiri Ryan yang sedang menyisir rambut.


"Papah.." sapa Farel cemberut.


"Hai sayang.. Kenapa cemberut gitu?" sapa Ryan lalu berjongkok agar setara dengan Farel.


"Papah kenapa susah bangunnya? Kasihan mommy harus nungguin papah bangun dulu, kita kan mau jalan-jalan.." protes Farel manyun.


"I'm sorry boy.. Papah kecapekan jadinya tidur papah nyenyak sekali, yok sekarang kita jalan-jalan," ucap Ryan menahan kesal karena bisa-bisanya Dinda menjadikan dirinya alasan tidak keluar kamar.

__ADS_1


"Breakfast dulu pah, itu penting," tegur Farel.


"Oh iya papah sampai lupa saking semangatnya mau jalan-jalan sama kalian, ayo kita sarapan," ajak Ryan lalu menggandeng Farel.


"Oh iya dimana Vanessa?" tanya Dinda sembari mereka berjalan.


"Vanessa udah di meja makan mom, dia lapar, karena mommy dan papah gak keluar-keluar makanya Farel samperin biar kita bisa segera sarapan," jawab Farel membuat Dinda merasa bersalah.


"Maafin mommy ya.." ucap Dinda merasa bersalah dan memasang wajah sedih.


"Kasihan Dinda.. Karena menuruti hasrat ku sampai membuat kedua anaknya menunggu untuk makan bersama, aku egois sekali," batin Ryan merasa bersalah karena semua ini karena ulahnya.


"No problem mommy.." jawab Farel.


"Papah juga minta maaf ya boy karena papah jadinya kalian terlambat sarapan," ucap Ryan merasa bersalah.


"Khusus papah harus ada hukuman," ucap Farel membuat Ryan tertegun.


"Apa itu boy?" tanya Ryan penasaran.


"Papah harus membelikan Farel dan Vanessa apapun yang nantinya kami inginkan, tak hanya itu saja.. Papah wajib suapin kami," protes Farel membuat Ryan tersenyum bahagia. Ia pikir hukumannya akan membuatnya malu atau kerepotan, ternyata hanya sesederhana itu.


"Siap bos.. Laksanakan," jawab Ryan semangat.


Di meja makan Vanessa sudah menunggu dengan wajah cemberut karena perutnya daritadi keroncongan..


"Hai Vanessa sayang.." sapa Dinda mencium kepala anaknya.


"Mommy.. Kenapa lama sih? Huh.." protes Vanessa cemberut dan memalingkan muka.


"Maafin mommy.. Bangunnya kesiangan sayang, maaf ya," bujuk Dinda.


"Tau gak kalau Vanessa udah kelaparan," ucap Vanessa kesal.


"Mommy tau.. Maafkan mommy, sekarang sarapan yuk," ucap Dinda membujuk.


"Sudah gak selera lagi," ucap Vanessa marah.


"Jangan begitu sayang, sarapan itu penting," bujuk Dinda penuh perhatian.


"Vanessa kesal sama mommy dan papah," protes Vanessa lalu memalingkan muka lagi.


"Vanessa sayang.. Anak papah, maafin kami ya karena bangun kesiangan, Vanessa kan tau betapa banyak tamu undangan kemarin jadinya mommy dan papah capek, besok tidak terulang lagi deh.. Sebagai permintaan maaf dari papah, nanti Vanessa dan Farel boleh belanja apapun dan sekarang makannya papah suapin ya," bujuk Ryan dengan lembut.

__ADS_1


"Serius pah boleh belanja apapun?" tanya Vanessa goyah.


"Tentu dong.. Kakakmu udah tau," jawab Ryan.


"Serius kaka udah tau? Kenapa gak kasih tau adek sih, hih kakak juga bikin kesel," cecar Vanessa ngambek lagi.


"Kakak aja baru tau tadi kok itu pun kakak yang memintanya," ucap Farel geram.


"Oh gitu.. Yasudah deh pah, Vanessa gak marah lagi.. Tapi janji ya boleh belanja apapun?" tanya Vanessa memastikan.


"Boleh sayang.. Yok sarapan," ajak Ryan lalu mereka sarapan dengan tenang, sesekali Ryan menyuapi kedua anaknya secara bergantian.


"Bahagianya aku sekarang, memiliki suami yang sangat pengertian dan tulus menerima anak-anak apalagi statusku yang janda, sampai keluarganya menerima aku dan anak-anak dengan baik, apa ini buah kesabaran ku selama ini?" batin Dinda sembari melihat suami dan kedua anaknya yang sedang makan.


"Mommy kenapa liatin kita terus?" tanya Farel membuyarkan lamunan Dinda.


"Eh.. Eng..enggak kok siapa yang lihatin kalian?" bantah Dinda salah tingkah.


"Tadi mommy lihatin ke arah sini terus tuh," ucap Vanessa menimpali.


"Bohong itu dosa mommy.." tegur Farel.


"Iya deh mommy jujur, memang mommy melihat kalian makan kelihatannya enak sekali," ucap Dinda masih berbohong.


"Jelas enak dong kan ini pertama kalinya bagi Farel dan Vanessa bisa sarapan bareng sama papah Farel yang sekarang jadi papah kami, jadi rasanya makan bersama kali ini komplit" ucap Farel dengan utuh.


"I..Iya sayang," jawab Dinda terbata karena ia berusaha menahan air matanya agar tidak lolos ke pipi. Ia tersentuh dengan kata-kata Farel yang seolah menusuk hatinya.. Dinda baru menyadari bahwa kedua anaknya sangat mendambakan sosok papah. Dinda menjadi manusia yang paling egois di dunia karena hanya mementingkan dirinya saja tanpa memikirkan bagaimana kasih sayang anaknya yang tidak utuh.. Meskipun Dinda selalu mencurahkan semua rasa sayangnya namun tetap saja, kedua anaknya membutuhkan sosok papah.


Melihat sang istri menahan rasa sedih kini Ryan berusaha menghibur.. Ia tidak mau kesedihan istrinya di ketahui oleh kedua anaknya apalagi ini sedang liburan.


"Hai anak-anak papah, lihat tuh mommy gak habisin makanannya.. Yok kita suapin mommy bareng-bareng," ucap Ryan membuat kedua anaknya semangat.


"Ayok.. Jangan bilang mommy mau diet," ucap Vanessa lalu menyuapkan makanan ke mulut Dinda.


Dinda yang mendapat serangan dari kedua anak dan suaminya merasa kaget, bisa-bisanya mereka ingin menyuapi secara bersamaan.


"Ini apaan sih?" tanya Dinda kaget.


"Kami ingin menyuapi mommy.. Ayo buka mulut," ucap Farel mendekatkan sendok ke mulut Dinda.


"Mommy bisa makan sendiri, ini kebanyakan," tolak Dinda namun sayang sekali dia kalah jumlah.. Kini Dinda hanya bisa pasrah di suapin oleh mereka bertiga dengan porsi di sendok full dan menggunung.


"Mas aku bukan kuli yang sekali makan langsung seabrek," protes Dinda geram.

__ADS_1


"Makanya jangan menampakkan kesedihan di depan anak-anak, kamu mau di cecar pertanyaan oleh mereka? Siap memberi jawaban? Apalagi ini sedang liburan.. Stop bersedih," tegur Ryan dengan lembut.


__ADS_2