RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Aldo Syok (2)


__ADS_3

"Do.. Aldo?" panggil Dinda menepuk bahu Aldo pelan.


"Kenapa Din? Kenapa kamu tega denganku?" tanya Aldo lirih.


"Tega seperti apa?" tanya Dinda tak mengerti.


"Kamu tega membiarkan aku berimajinasi dan berpikir jika sampai sekarang kamu masih sendiri, setiap aku ajak ketemu kamu selalu oke, apa aku salah jika menilai kamu bukan istri orang?" tanya Aldo.


"Tidak... Pemikiran mu tidaklah salah, memang harusnya aku yang tau diri dan menjaga jarak agar semua ini tidak terlalu jauh, maafkan aku, setidaknya kali ini kita miss komunikasi, ketika bertemu kamu tidak menanyakan terlebih dahulu statusku dan di satu sisi juga salahku karena terlalu mudah diajak olehmu jadinya semakin mempermudah pemikiran mu bahwa aku masih sendiri, padahal aku ini sudah pernah gagal menikah," ucap Dinda.


"Kenapa disini rasanya sakit sekali Din, sangat sakit dan perih," ucap Aldo menunjuk dadanya.


"Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku, namun ini memang kenyataan yang sebenarnya," ucap Dinda merasa bersalah.


"Ini juga salahku karena terlalu membiarkan hatiku semakin mencintai dirimu," jawab Aldo sedih.


"Maafkan aku," ucap Dinda lagi.


"Aku gak tau lagi harus bersikap bagaimana sekarang ini, jujur saja hatiku belum siap menerima kenyataan sepahit ini," ucap Aldo menundukkan kepala.


"Tenangkan lah pikiranmu disini, mumpung suasana sepi, biarkan aku balik ke kantor," pamit Dinda namun tak ada jawaban dari Aldo. Dinda tetap nekat memesan ojek online dan bergegas kembali ke kantor. Ia tak mau semakin lama disini akan semakin menambah luka di hati Aldo.


Akhirnya Dinda tiba di kantornya dan langsung kembali ke ruang kerjanya dengan tergesa-gesa. Sebenarnya Dinda sedih karena meninggalkan Aldo seorang diri di pantai dengan kondisi sedang patah hati, tapi mau gimana lagi? Ia tidak mau ada kesalahan pahaman yang berbuntut jauh melebihi ini. Dinda berharap jika suatu saat Aldo bisa menerima ini semua dengan lapang dada dan mulai hari ini Dinda akan menjaga jarak dengan Aldo.


"Fio.. Ke ruangan saya sekarang," panggil Dinda via telepon kantor.


"Baik bu," jawab Fio lalu berjalan menuju ruangan Dinda. Setelah Fio mengetuk pintu, Dinda mempersilahkan masuk dan duduk.

__ADS_1


"Selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu?" sapa Fio.


"Ini bukan masalah pekerjaan," jawab Dinda membuat dahi Fio mengernyit.


"Maksudnya bu?" tanya Fio.


"Ini masalah Aldo, benar dugaan mu jika sampai sekarang Aldo belum mengetahui statusku yang sebenarnya, tadi kami pergi sebentar ke sebuah pantai dekat sini dan asal kamu tau, di sana Aldo mengutarakan isi hatinya, awalnya saya kira Aldo hanya bergurau saja namun ternyata salah, Aldo serius mengatakan itu," jawab Dinda.


"Lalu ibu memberitahu status ibu yang sebenarnya kan?" tanya Fio memastikan.


"Iya.. Saya langsung mengatakan jika saya sudah punya suami dan pernah gagal menikah, Aldo sepertinya tengah terguncang dengan fakta yang ada, berulang kali dia mengatakan jika hatinya sungguh sakit bahkan perih," ucap Dinda.


"Berarti ibu meninggalkan pak Aldo sendirian di sana? Ibu gak tau bahaya?" tanya Fio.


"Bahaya bagaimana sih??" tanya Dinda tak paham.


"Astaga mana mungkin?" sanggah Dinda.


"Bukan saya ikut campur atau apa bu, namanya orang sakit hati, mata dan pikirannya gelap bu, ia bisa melakukan apa saja," ucap Fio yang cukup logis.


"Benar juga katamu, lalu saya harus bagaimana Fio? Apa yang harus saya lakukan? Saya gak mau terjadi apa-apa dengannya dan nantinya saya terkena masalah, duh gimana ini?" tanya Dinda cemas.


"Usul saya, ibu samperin lagi kesana dan pastikan teman ibu tidak berbuat nekat," jawab Fio.


"Ayo temani saya kesana, saya gak mau nantinya ada salah paham," ajak Dinda lalu mereka berdua menuju pantai tempat dimana Dinda dan Aldo bertemu.


Setibanya di sana, suasana pantai sangat hening bahkan tak ada tanda-tanda seseorang berada disana, Dinda semakin khawatir dan terus mencari dimana Aldo berada, ia yakin pasti Aldo masih ada di sekitar sini. Benar saja, selisih beberapa meter dari tempat terakhir bertemu, ada mobil Aldo terparkir disana, Dinda bergegas menghampiri dan memastikan apakah temannya itu baik-baik saja.

__ADS_1


Sayangnya, disana hanya ada mobilnya saja, manusianya entah kemana, perasaan Dinda semakin gelisah bahkan pikiran buruk langsung masuk begitu saja, apalagi tepat dimana Aldo memarkirkan mobil adalah pantai yang gelombangnya sangat kencang bahkan Dinda baru sebentar disana pakaiannya sudah hampir basah kuyub karena ombak pantai.


"Fio.. Gimana ini? Kemana perginya Aldo?" tanya Dinda panik.


"Tenang bu, gak mungkin pak Aldo terjun bebas kesana," jawab Fio berusaha menenangkan padahal dia sendiri juga khawatir dimana posisi Aldo sekarang.


Tak mau terlambat, Dinda memberanikan diri melihat kebawah untuk memastikan apakah ada Aldo disana, awalnya Fio melarang keras dengan alasan dibawah sana sangat berbahaya bahkan licin, namun Dinda tak mau berdiam diri begitu saja, ia harus memastikan temannya baik-baik saja.


Dinda dan Fio turun dengan hati-hati bahkan beberapa kali Dinda terpeleset karena bebatuan sebagai pijakan sangat licin dan berlumut, baik Dinda maupun Fio, keduanya saling menolong satu sama lain. Ombak yang sangat deras semakin menyulitkan langkah mereka untuk lebih jauh lagi, Fio kali ini menolak dengan tegas jika harus berjalan lebih jauh, ia tidak mau ada resiko bahkan mengancam keselamatan keduanya. Dinda yang tetap bersikukuh pun tetap melaju ke depan meninggalkan Fio yang berulang kali berteriak memanggil namanya.


Jatuh bangun Dinda lalui hingga akhirnya, bugh.. Dinda terpeleset dan hampir saja dimakan ombak besar yang siap menggulung nya hingga jauh. Cengkraman tangan yang sangat kuat berhasil menyelamatkan nyawa Dinda dan dia adalah Aldo.


Aldo datang di saat yang tepat, andai dia lengah sedikit saja, sudah pasti Dinda tak terselamatkan.


"Al..Aldo," ucap Dinda lirih.


"Ya.. Its me, ngapain sampai kesini? Punya nyawa seribu?" sindir Aldo terus membawa Dinda ke tempat yang aman.


"Aku sampai terjun kesini karena mencari mu," pekik Dinda kesal.


"For what? Sejak kapan lo tiba-tiba peduli sama gue, Din?" sindir Aldo tersenyum mengejek.


"Ya gue gak mau aja kalau lo sampai berbuat gila, seperti terjun dari pantai misalnya, kan nantinya gue juga yang kerepotan karena dapat masalah, karena gue orang terakhir yang bersamamu," ucap Dinda.


"Siapa juga yang mau cariin gue di dunia ini? Semuanya terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing, sepertimu juga, yang sekarang ternyata sudah berkeluarga bahkan menikah sampai 2 kali, bodohnya aku sampai gak tau itu," ucap Aldo tersenyum tipis.


Melihat Dinda kembali dengan selamat apalagi bersama Aldo membuat Fio bernafas dengan lega, setidaknya dua orang yang sedang bersitegang itu selamat dan baik-baik saja.

__ADS_1


"Ah andai mas Aldo sukanya dengan gue, udah pasti gue akan jaga cinta tulusnya, secara mencintai wanita yang sama hingga bertahun-tahun dan memendamnya seorang diri itu sudah menunjukkan bagaimana setianya seorang Aldo," batin Fio.


__ADS_2