
Sesampainya di rumah Dinda langsung rebahan untuk merilekskan pikirannya sejenak. Hanya berargumen seperti itu saja Dinda merasa capek sekali.
"Akhirnya rebahan juga.. Gila gila.. Hanya adu mulut saja bisa secapek ini, memang siapa sih keluarga Fera itu? Pengaruhnya sebesar apa coba? Jadi kepo deh gue," gumam Dinda sambil memijat keningnya.
Ting... Suara chat masuk ponsel Dinda.
"Sayang jangan lupa makan siang, jaga kesehatan ya," isi chat dari suaminya.
"Andai kamu tau mas kalau istrimu ini habis kayak preman di sekolahan, aku yakin kamu akan pulang sekarang juga," gumam Dinda lalu membalas chat Ryan.
"Iya mas ini mau makan siang sama anak-anak, mas jangan lupa makan siang juga ya," jawab Dinda.
"Kamu gak di kantor?" tanya Ryan.
"Gak mas.. Pengen pulang cepat nih kangen sama anak-anak, udah lama gak makan siang sama mereka," alibi Dinda.
"Kamu gak lagi menyembunyikan sesuatu kan sayang?" tanya Ryan penasaran.
"Gak ada mas.. Memang salah ya pengen makan siang sama anak-anak?" tanya Dinda meyakinkan Ryan dan untungnya percaya.
"Gak salah sih yasudah sana makan dulu ini aku juga mau makan siang, see you sayang," jawab Ryan lalu mereka melanjutkan aktivitas masing-masing.
"Waktunya makan siang dan gue belum sempat masak, order online aja kali ya.." gumam Dinda lalu order makanan via online.
Ketika Dinda sedang menunggu orderan makanannya datang, ada nomor tidak di kenal yang menelponnya.. Awalnya Dinda acuh namun nomor asing itu terus menerus menelponnya, takut hal penting akhirnya Dinda angkat.
"Halo selamat siang, maaf ini dengan siapa?" tanya Dinda ramah.
"Selamat siang.. Ini dengan saya, mamahnya Fera.. Akhirnya anda mengangkat telepon saya juga," ucap mamah Fera membuat Dinda kaget.
"Anda tau nomor saya darimana?" tanya Dinda.
"Itu tidak penting dan ini merupakan hal mudah bagi saya.. Ingat ya bu saya mau mengingatkan untuk tidak macam-macam dengan saya.. Lebih baik anda meminta maaf pada saya dan juga anak saya dan akan saya anggap kasus ini selesai," gertak mamah Fera.
__ADS_1
"Anak anda yang salah kenapa kami yang harus meminta maaf? Anda jadi orang tua aneh sekali.. Selalu membenarkan masalah yang menimpa anak anda," sindir Dinda.
"BERANI SEKALI ANDA MENGATAKAN ITU.. BAIK MULAI SEKARANG TIDAK AKAN ADA KATA DAMAI DIANTARA KITA, CAMKAN ITU BAIK-BAIK.. ANDA BERANINYA MEMBUAT SAYA MURKA," pekik mamah Fera emosi.
"Anda juga beraninya menganggu waktu pribadi saya bahkan sampai cari tahu nomor ponsel saya," jawab Dinda berusaha santai.
"Jangan harap besok anda bisa bersikap sok seperti ini, saya pastikan besok anda akan menangis dan menangis," ancam mamah Fera kebakaran jenggot lalu menutup panggilan.
"Dasar aneh.. Dia yang salah tapi dia sendiri yang murka, sabar Dinda.. Tunggu suamimu pulang kerja dan ceritakan semua masalahnya," gumam Dinda mencoba menenangkan diri.
Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu.
"Mommy?" panggil Vanessa.
"Ya sayang, masuk aja gak di kunci kok," jawab Dinda berusaha tenang.
"Hai mommy... Makanannya udah datang tuh, yuk makan mom," ajak Vanessa.
Di sana Dinda dan juga kedua anaknya makan dengan nikmat dan tenang, Dinda gak mau kebahagiaan kedua anaknya terganggu dan Dinda ingin mereka memiliki memori masa kecil yang menyenangkan.
***
Malam hari telah tiba dan suaminya sudah pulang dari kerja.. Tak lupa Dinda memasak untuk makan malam keluarga kecilnya sembari Ryan membersihkan badan.
"Farel.. Vanessa.." panggil Dinda.
"Ya mommy?" jawab keduanya kompak.
"Yuk makan, udah siap nih," ajak Dinda dan kedua anaknya meletakkan mainan lalu menuju meja makan. Beberapa menit kemudian Ryan menyusul dan mereka makan malam dengan tenang.. Dinda berusaha menahan segala uneg-unegnya agar kedua anaknya tidak tau bahwa mommy nya sedang tidak baik-baik saja, sebisa mungkin Dinda menunjukkan sikap ceria.
"Ada apa dengan Dinda? Seperti ada yang di sembunyikan.. Mau nanya tapi masih ada anak-anak, nanti aja deh di kamar," batin Ryan melihat gesture Dinda dan yang sedang di perhatikan merasa jika suaminya ingin menanyakan sesuatu.
Setelah acara makan malam selesai kini kedua anaknya kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Disusul juga dengan Dinda dan Ryan.
__ADS_1
Ceklek.. Suara pintu terkunci.
"Sayang ada yang ingin aku tanyakan," ucap Ryan sembari duduk di sofa kamar.
"Aku tau mas dan ini aku akan bercerita," jawab Dinda juga ikutan duduk di sofa sambil Ryan menunggu cerita Dinda.
"Apa yang menganggu pikiranmu? Aku perhatikan kamu sedang menyembunyikan sesuatu," tanya Ryan.
"Iya mas kamu benar aku memang menyembunyikan sesuatu dan ini menyangkut anak-anak.. Tadi aku datang ke sekolahan mereka dan niatnya mau mediasi namun respon yang mereka berikan sungguh mengecewakan mas jadi antara aku dan salah satu orang tua murid sepakat masalah ini ditempuh di jalur hukum," ucap Dinda membuat Ryan kaget.
"Loh memangnya masalah apa sayang?" tanya Ryan kaget sekaligus penasaran.
"Kemarin malam anak-anak cerita padaku kalau Vanessa mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan oleh salah satu temannya.. Setiap sedang sesi pelajaran salah satu temannya selalu usil dengan Vanessa dan mengajaknya bicara, kalau Vanessa tidak meladeni bisa-bisa temannya itu bersikap nekat mas seperti waktu itu Vanessa di lempar penghapus.. Kejadian itu tidak hanya sekali dia kali namun sudah berulang kali, ketika aku tanya bagaimana respon gurunya, aku sungguh sakit hati mas.. Gurunya hanya menegur temannya saja dan setelah itu seperti tidak ada apa-apa.. Saking kesalnya Vanessa mengadu pada mamahnya Fera tapi apa yang Vanessa dapatkan? Vanessa hampir saja dicubit.. Untung saja ada Farel yang melindungi, dan lagi-lagi respon gurunya hanya diam saja mas.. Ini gak bisa di biarkan dong makanya aku nekat ke sekolahan dan bertemu dengan mereka termasuk kepala sekolah, Lagi-lagi kekecewaan yang aku dapat mas.. Gurunya mengatakan bahwa itu adalah hal lumrah karena anak-anak suka usil dan untuk masalah hampir di cubit, jawaban gurunya enteng sekali loh mas.. Dia mengatakan bahwa tidak menegur atau apa malah menyuruh Vanessa dan Farel duduk di ayunan sambil menunggu jemputan, semua itu dilakukan karena gurunya takut sama mamahnya Fera kata gurunya dia mempunyai pengaruh besar, mamahnya Fera pun sudah aku ajak bicara baik-baik namun dia malah meremehkan yasudah semuanya membuat aku geram jadinya aku teruskan saja ke jalur hukum, tadi juga sudah aku viral kan kok mas," ucap Dinda menggebu-gebu.
"Benarkah seperti itu? Apa yang kamu lakukan benar sayang.. Kejahatan tidak bisa dimaafkan begitu saja, aku akan mendukungmu secara penuh dan nanti aku yang akan jadi pengacaranya..aku gak terima kedua anakku di perlakukan seperti itu," ucap Ryan emosi.
"Justru itu masalahnya mas.. Kata mamah Fera dia itu punya baking pengacara andalan dan apa kamu tau siapa dia? Yang di maksud adalah kamu mas. Ryan Hadiningrat," ucap Dinda membuat Ryan tambah terkejut.
"Ha?? Siapa nama orang tuanya Fera?" tanya Ryan kaget.
"Mana aku tau mas, lihat saja besok.. Apa dia tidak ada menghubungimu?" tanya Dinda heran.
"Gak ada.. Tidak ada masalah tentang anak sekolah tuh di jadwal kasus ku, mungkin dia hanya menggertak saja biar kamu mundur," ucap Ryan dan Dinda mengiyakan.
"Memang kok mas, tadi saja dia sampai menelpon dan mengatakan kalau aku harus minta maaf sama mereka agar kasusnya dianggap selesai," ucap Dinda geram.
"Kamu gak mau kan?" tanya Ryan memastikan.
"Jelas menolaknya lah mas.. Masalah mas Rio saja bisa aku menangkan apalagi hanya masalah kayak gini, dia gak tau seberapa hebatnya suamiku ketika menyelesaikan kasus," ucap Dinda membuat Ryan tersipu.
"Kamu kenapa malah menggodaku? Mulai nakal nih," tanya Ryan sambil mengedipkan mata.
"Jangan mulai mas.. Ingat besok kita berperang dengan mamahnya Fera," tegur Dinda namun tak di gubris oleh Ryan lalu keduanya berakhir dengan memadu kasih.
__ADS_1