
"Tapi tetap saja perbuatan mu tadi tidak mencerminkan karyawan yang baik, itu perbuatan buruk dan saya kecewa akan hal itu," ucap Ronald membuat Sisil terbelalak namun Maya tersenyum senang.
"Yes.. Tuh kan kali ini Sisil gak bakalan bisa mengelak lagi, gak papa deh hampir mati karena tercekik yang penting hasilnya setimpal, pengorbanan gue kan jadinya gak sia-sia," batin Maya kegirangan.
"Ya memang saya mengakui salah dengan bertindak diluar batas," jawab Sisil pasrah.
"Haha rasain lu hari ini gak bisa berkutik," batin Maya senang.
"Dan untuk saudara Maya apakah memang benar pekerjaan yang dilimpahkan ke Sisil itu ada sebagian milik anda?" tanya Ronald.
"Ya saya kurang tau pak mereka tidak memberikan pada saya ya jadinya saya pikir Sisil yang kurang fokus," jawab Maya seadanya.
"Tapi saya yang merevisi jadinya saya tau kalau itu pekerjaan siapa," protes Sisil.
"Kalau itu buat gue ngapain gak diberikan lagi? Nyatanya situ mau kan merevisinya?" tanya Maya.
"Ya makanya itu gue bingung.. Sana tanya dong sama pasukan mu," suruh Sisil dan Maya hanya melengos saja.
"Sudah kalian lebih baik diam, kalau gini kan saya jadi pusing mau ambil keputusan apa lagian kalian ini tidak bisa menghargai saya sebagai atasan kalian," tegur Ronald dan keduanya pun seketika diam.
"Baiklah saya sudah punya keputusan dan nantinya apapun itu terima lah dengan baik dan bijak karena ini demi kebaikan bersama agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini di dalam kantor dan agar menjadi pembelajaran kalian kedepannya," ucap Ronald membuat Sisil dan Maya deg-degan.
"Dengan berat hati saya mengambil keputusan bahwa saudara Sisil per hari ini sampai satu minggu ke depan dirumahkan dan untuk saudara Maya akan ada sanksi disiplin dengan membersihkan ruangan tempat kerja anda dan teman-teman selama seminggu, semoga keputusan ini bisa diterima dengan lapang dada" ucap Ronald lagi dan Sisil terbelalak tak percaya, kenapa Ronald hari ini kejam padanya. Begitu pun dengan Maya yang tak ikhlas harus membersihkan ruangan kerja.
"Ini serius? Jangan bercanda deh," tanya Sisil tak percaya.
"Iya nih pak masak iya saya harus membersihkan ruangan sebesar ini seorang diri, seminggu pula," protes Maya.
"Jika saudara Maya keberatan silahkan bertukar posisi dengan saudara Sisil," tegur Ronald dan Maya dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Gak pak.. Saya masih mau bekerja, baik saya terima ini," ucap Maya dan kini keduanya sudah keluar dari ruangan Ronald.
__ADS_1
Sisil pun langsung bergegas mengambil tas juga ponselnya dan berlalu pergi, banyak karyawan yang melihat kepulangan Sisil dan mengira jika dirinya di pecat. "Aduh gimana nih kalau Sisil dipecat siapa yang bakal bantuin gue kerjain ini semua? Mana pekerjaan Maya selalu amburadul kalau gak ada Sisil bisa kerepotan nih, mana mau Maya merevisi pekerjaannya malah yang ada dia bakal membuat drama dengan menyalahkan kami,"
Ronald yang melihat kepergian Sisil merasa bersalah namun mau bagaimana lagi dia harus bersikap adil didalam kantor. Mau bagaimanapun Sisil adalah karyawannya ketika jam kerja.
***
Jam pulang kantor pun tiba, kini Ronald segera menyambangi rumah Sisil.
"Eh nak Ronald udah lama gak main kesini," sapa Ira sambil membukakan pintu.
"Iya tante maaf soalnya di kantor ada banyak pekerjaan, gimana keadaan tante?" tanya balik Ronald.
"Ya beginilah tante kadang suka sakit-sakitan tapi alhamdulillah masih sakit biasa jadi gak perlu perawatan yang lebih, maklum lah udah berumur," jawab Ira dan Ronald hanya tersenyum saja.
"Pasti cari Sisil ya? Sebentar tante panggilkan," tanya Ira.
"Iya tante," jawab Ronald lalu Sisil keluar.
"Kita perlu bicara dan gue gak mau ada kesalahpahaman," pinta Ronald serius.
"Soal apa?" tanya Sisil masih cuek.
"Soal kamu yang sementara dirumahkan, percayalah gue gak ada maksud menyalahkan mu," ucap Ronald.
"Sudahlah lagian mau gimana pun tetap aja kan gue dirumahkan," jawab Sisil malas.
"Kalau boleh jujur, sebenarnya tujuan gue melakukan ini supaya kamu bisa istirahat dan menenangkan pikiran, keduanya agar gue bisa tau apakah benar pekerjaan yang selalu dilimpahkan ke kamu itu sebenarnya pekerjaan Maya namun dia enggan melakukannya, besok dan sampai seminggu ke depan semuanya bakal terlihat kok siapa yang benar dan salah, mana mungkin aku membela yang salah justru aku malah membantumu supaya bisa rileks sejenak karena masalah rumah tanggamu," ucap Ronald sangat perhatian dan Sisil sungguh terharu.
"Jangan bercanda lagi deh, gue malas dengernya nih," ucap Sisil.
"Enggak.. Ini benar, mana mungkin gue bohong.. Ini semua agar kamu bisa mengistirahatkan pikiran juga badan dari masalah yang sedang menimpamu, kalau lama-lama kamu paksa buat kerja yang ada jadinya bakal gak baik, pekerjaan kamu numpuk di satu sisi suasana hatimu mudah emosi," jawab Ronald serius.
__ADS_1
"Gue gak nyangka lo mikirin gue segitunya, jadi seminggu ini gue gak perlu lagi kucing-kucingan dari mas Rio," ucap Sisil tersenyum senang.
"Nah itu juga yang gue pikirkan, takutnya nanti suamimu nekat datang dan masuk ke kantor buat pastiin apakah kamu kerja atau gak, dia kan bisa saja beralasan sama satpam kalau ada meeting di sana," ucap Ronald membuat Sisil setuju.
"Benar juga," jawab Sisil mengangguk.
"Makanya jangan salah paham dulu ya," pinta Ronald.
"Gue yang seharusnya minta maaf karena tadi gue sempat mikir kalau lu ada di pihak mereka," ucap Sisil menyesal.
"Enggak lah.. Justru gue mau tau gimana mereka kalau gak ada kamu," jawab Ronald membuat Sisil bahagia.
"Nanti tolong pantau mereka ya terutama Maya, entah kenapa dia selalu saja cari musuh denganku," pinta Sisil dan Ronald hanya mengacungkan jempol.
"Eh nanti kalau mamah tau gue dirumahkan malah dia kepikiran dan banyak tanya-tanya apa yang membuat gue sampai kena sanksi berat ini," ucap Sisil kebingungan.
"Udah tenang aja, besok dan seminggu ke depan kamu tetap pamit ke mamah mu pergi bekerja setelah itu kamu nantinya ke apartemen gue aja, nanti gue titipin kuncinya ke resepsionis," ucap Ronald membuat Sisil sungkan.
"Ke apartemen? Ah enggak deh, mending nantinya gue cari tempat lain," tolak Sisil.
"Lalu mau kemana? Emang yakin kalau nanti gak akan ketahuan suamimu? Dia pebisnis loh bisa tiap hari dia di jalanan untuk meeting dengan klien," ucap Ronald mempengaruhi Sisil.
"Eh iya ya dia kan kalau kerja sering tuh keluar kantor," gumam Sisil yang didengar Ronald.
"Nah makanya itu besok ke apartemen gue aja, gue yakin bakalan aman," ucap Ronald meyakinkan.
"Hmm iya deh tapi gak ngerepotin nih?" tanya Sisil.
"Haha kamu ini kayak sama siapa aja, mana ada ngerepotin, jelas enggak lah malahan gue seneng bisa bantu kamu," jawab Ronald membuat Sisil semakin kagum dengan temannya itu. Tak pernah sekali pun Ronald pamrih dalam membantunya.
"Makasih ya lu selalu ada buat gue dan selalu bantu gue," ucap Sisil yang refleks menggenggam kedua tangan Ronald. Mendapat perlakuan seperti itu rasanya bagai melayang dan merasa jika cintanya suatu saat akan terbalaskan.
__ADS_1
"Selangkah demi selangkah Sisil bakalan jadi milik gue," batin Ronald.