
Sesuai janji kini Dini sudah datang ke kantor Dinda dan menjalani akting sebagai pembeli.
Dinda sudah mengetahui keberadaan temannya itu lewat CCTV yang langsung terhubung ke ruang kerjanya. Ia tersenyum senang setidaknya Dini menepati janjinya.
"Bu.. Ada yang mencari, katanya teman sekolah ibu waktu SMA," ucap Fio-karyawan yang di rekomendasikan oleh kakaknya.
"Saya sudah tau, suruh tunggu sebentar dan panggilkan Meta, dia pun juga temannya," ucap Dinda dengan tenang lalu Fio menurut.
"Semoga ada sedikit informasi yang berarti," gumam Dinda turun menemui Dini.
"Hai.. Itu dia bos gue sekarang," ucap Meta melambaikan tangan pada Dinda dan Dini tersenyum manis.
"Maaf ya lama, tumben main kesini," sapa Dinda pura-pura.
"Gue mau jadi reseller dong, boleh gak?" tanya Dini penuh harap.
"Boleh dong, kenapa tidak via chat saja kan sekarang adminnya itu Meta, jadi malah nantinya langsung di proses sama Meta dan Fio," ucap Dinda ramah.
"Datang langsung dan ketemu agennya kan lebih enak," ucap Dini terkekeh.
"Bilang aja mau main wuu pakai acara alasan segala," ucap Meta dan semuanya tertawa.
"Maaf nih Din bukannya gak sopan tapi gue harus kembali kerja karena ada urusan yang urgent," ucap Dinda memberi kode.
"Ah baiklah nanti setelah gue dapat barangnya bakal langsung balik kok, semangat Dinda," ucap Dini memberi semangat.
"Thanks.. Meta tolong di handel ya," ucap Dinda sambil menepuk pelan bahu Meta.
Setelah melihat kepergian Dinda dan memastikan berada di ruangannya kini Dini mulai merencanakan aksinya.
"Met serius lo jadi admin? Apa lo gak malu?" tanya Dini memprovokasi.
"Ya malu sih tapi mau gimana lagi? Perusahaan sedang pailit dan gajiku nunggak 2 bulan" ucap Meta sedih.
"Serius perusahaan mu separah itu? Bukannya itu perusahaan besar dan benefit ya?" tanya Dini heran.
__ADS_1
"Ya.. Ya pasti benefit makanya itu gue sempat bangga bisa menjadi karyawan di sana," ucap Meta sedih.
"Memang gak ada link sesama sekretaris ya? Kok lo langsung tertuju di sini," tanya Dini.
"Ya ada tapi harus nunggu lama sedangkan tabungan gue menipis," jawab Meta.
"Berarti sembari lo kirim CV ke perusahaan, lo kerja dulu disini?" tanya Dini dan Meta mengangguk.
"Din kita kan udah lama saling kenal dan bisa di bilang kita ini bestie, gue mau minta bantuan lo bisa?" tanya Meta serius.
"Apa itu?" tanya Dini penasaran.
"Bantu gue hancurin usahanya Dinda," bisik Meta dengan mantap.
"APA?" pekik Dini kaget dan mulutnya langsung di bekap Meta sambil mendelik kesal.
"Jangan teriak-teriak dong, lebay banget sih," bisik Meta kesal.
"Sorry.. Habisnya gue kaget sama ide gila mu itu," jawab Dini tak habis pikir.
"Dinda orang baik, kenapa kamu tega mencelakainya?" tanya Dini heran.
"Memang baik sih tapi gue kesal karena dia selalu di atas gue lagian ya ini gue juga di suruh sama seseorang, dia sanggup memberikan berapapun asalkan Dinda hancur," ucap Meta sungguh-sungguh.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Dini penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan istri dari bos tempat gue bekerja, dia dendam sama Dinda, karena Dinda sekarang suaminya tidak lagi memperhatikannya, lagian istri bos itu sepupu jauh gue," ucap Meta tersenyum smirk.
"Jadi Dinda kenal dengan bosmu?" tanya Dini kaget.
"Betul.. Bos gue sampai jatuh cinta dengannya, entah Dinda yang sok jual mahal atau apa, dia selalu acuh dengan bos gue.. Kabarnya sih Dinda bakalan menikah tapi entah dengan siapa, ya sebelum pernikahan itu terjadi sepupu gue minta Dinda hancur," ucap Meta penuh dendam.
"Biarkan Dinda menikah dan hidup bahagia toh setelah menikah nanti suami sepupumu bakal mundur dengan sendirinya," ucap Dini menasehati.
"Gak bisa.. Gue udah janji mau bantu dia dengan iming-iming duit yang banyak, gue gak mau sia-siakan ini dong.. Ayo kita partner," ajak Meta tak mau di bantah.
__ADS_1
"Gue fikirin dulu deh soalnya beresiko banget, ingat Met.. Dinda bisa sampai di titik ini pasti tidak mudah dan banyak mengalami pasang surut kehidupan apalagi dia memulai usaha ini pasca jadi janda.. Tolong pikirkan lagi, setidaknya masih ada kan sisi empati mu?" tanya Dini.
"Ah bodo amat yang penting gue dapat duit gede dan bisa hidup enak, capek Din jadi orang susah terus yang ada kita terus di hina, Dinda sebentar lagi kan nikah tuh ya nanti kalau gue buat hancur masih bisa di handel sama suaminya, gak mungkin dong dia pilih suami sembarangan.. Dinda nanti tinggal minta suntikan dana habis itu jalan lagi deh usahanya, udah gak usah terlalu baik gitu.. Yuk ikutan," ajak Meta memaksa.
"Gue pikirkan baik-baik dulu..oh iya gue mau beli skincare yang paket Bronze dulu ya gue ambil 2," ucap Dini tak mau memperpanjang urusan dengan Meta.
"Ok, dasar bestie gak asik, gak bisa diajak maju," sindir Meta lalu mengambilkan orderan Dini dan mendaftarkan jadi member.
"Thanks Meta kalau gitu gue cabut dulu, titip salam buat Dinda ya," pamit Dini lalu melakukan motor matic nya.
"Dasar.. Susah banget sih ajak orang, apa bisa ya gue handel sendiri?" gumam Meta sambil naik ke ruang kerjanya.
"Hai Meta kenapa melamun gitu? Dini udah pulang?" tanya Dinda membuyarkan lamunan.
"Eh.. U.. udah.. Dini udah pulang kok," jawab Meta gugup.
"Oh yasudah, apa dia beneran jadi member?" tanya Dinda memastikan.
"Ja.. jadi kok tadi gue udah daftarin, dia ambil 2 paket Bronze, aslinya gak boleh ya Din kan peraturannya kalau mau jadi reseller minimal ambil 5 paket Bronze, tapi berhubung Dini teman kita jadi ya gue kasih deh," ucap Meta tanpa merasa bersalah.
"Meta.. Lain kali kalau mau ambil keputusan harus izin dulu denganku ya, jangan asal kasih.. Peraturan tetap peraturan, meskipun Dini itu teman tapi kalau urusan bisnis berbeda ya.. Bisnis tetap bisnis," tegur Dinda dan membuat Meta kesal.
"Ok.. Sorry," jawab Meta ketus lalu kembali kerja.
"Baru hari pertama udah bikin masalah, niat kerja gak sih? Tanya Dini aja deh tadi ngobrolin apa," batin Dinda lalu kembali ke ruangannya.
"Dasar songong, belum jadi bos aja belagu gitu.. Dini kan bestie gue jadi terserah gue dong mau jualin berapa paket, masih untung ada yang mau beli," cibir Meta kesal.
Lalu Dinda menelpon Dini, sebelum itu ia memastikan keadaan aman tanpa ada satu pun yang mendengarkan, apalagi ruangannya kedap suara.
"Halo Din, gimana tadi?" tanya Dinda to the point.
"Ya semua sesuai dugaan gue Din, Meta berencana menghancurkan usahamu.. Jadi harap hati-hati, gue gak tau dia menyusun strategi apa tapi dia mengatakan dengan mantap kalau dia akan menghancurkan usahamu," ucap Dini memberitahu.
"APA? SERIUS DIN? TEGA SEKALI DIA.." pekik Dinda tak percaya.
__ADS_1