RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Kabur (2)


__ADS_3

"MASALAH LALU YASUDAH ITU MASA LALU JANGAN DIUNGKIT TERUS, LAGIAN KAMU KAN SUDAH MEMAAFKANNYA!!! BAHAS YANG TERJADI BARUSAN," bantah Rio.


"Sama saja mas intinya aku yang selalu salah di sini, sudahlah keluar aja sana mas dan istirahatlah di kamar mewah dan empuk mu itu biarkan aku berada disini, aku juga butuh menenangkan diri.. Berdebat denganmu sudah sia-sia bagiku, lebih baik pergilah," usir Sisil dan Rio terkejut akan hal itu. "Apa sekarang Sisil sudah gak ada rasa lagi padaku? Biasanya dia tetap meladeni amarahku meskipun sampai berhari-hari namun sekarang? Apa karena pria itu yang membuat Sisil berubah?"


Setelah memastikan suaminya pergi dan masuk ke kamarnya kini Sisil bergegas merapikan pakaian yang ada dan memasukkannya dalam tas kecil. Waktu yang dimiliki Sisil tidak banyak, jam segini semua orang sudah berada di kamarnya masing-masing jadi ini kesempatan emas bagi Sisil untuk kabur, setelah selesai berkemas kini Sisil memesan taksi online.


Ketika taksi online sudah tiba Sisil pun langsung bergegas keluar secara mengendap-endap sambil melihat sekeliling dan akhirnya ia bebas juga dari keluarga yang penuh akan drama. Kebetulan satpam yang jaga sedang berada di kamar mandi jadi Sisil bisa leluasa membuka gerbang tanpa ada yang tahu.


"Maaf mas bukan maksudku durhaka terhadapmu namun jika semua ini diteruskan rasanya sungguh sakit, aku merasa jika hanya mencintai sendirian mas, aku juga berhak bahagia dan memilih kehidupanku sendiri, selamat tinggal mas biarkan aku dengan duniaku sendiri," batin Sisil sembari berlinang air mata.


Keesokan harinya Rio mendatangi kamar tamu yang dipakai Sisil karena sampai jam 7 pagi istrinya tak juga keluar untuk sarapan. Betapa kejutnya Rio mendapati Sisil tidak ada dikamar dan beberapa baju di lemari pun juga gak ada. Pagi hari Sisil sudah membuat seisi rumah heboh.


"SISIL.... BERANINYA KAMU KABUR DARIKU, JANGAN BILANG KAMU SEKARANG SUDAH BERPALING DENGAN PRIA ASING ITU!!!!" teriak Rio sambil melempar semua barang yang ada dikamar.


Mendengar putranya berteriak histeris di pagi hari membuat kedua orang tuanya penasaran dan langsung menghampiri Rio.


"Rio ngapain kamu di kamar tamu terus teriak-teriak gak jelas?" tanya Suganda.


"Iya nih ini masih pagi bukannya bersiap kerja malah teriak gak jelas," ucap Mayang menimpali.


"Sisil mah, pah," jawab Rio geram.


"Kenapa lagi dengannya?" tanya Mayang.

__ADS_1


"Dia beraninya kabur dari rumah," jawab Rio membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Apa?? Jangan bercanda deh mana mungkin Sisil nekat kayak gitu," tanya Mayang tak percaya.


"Lalu hubungannya kamu ke kamar tamu dengan Sisil kabur itu apa?" tanya Suganda berusaha tenang.


"Satu-satu dong kalau nanya," protes Rio.


"Jadi semalam kami bertengkar hebat ya penyebabnya karena Sisil tidur di kamar ini mah, pah apalagi ketika Rio ingin mengetuk pintu Rio sempat dengar Sisil sedang teleponan dengan seseorang tapi sayangnya kurang jelas apa yang dibicarakan, lalu Rio menanyakan kenapa memilih tidur disini dan menuduh jika Sisil sedang teleponan dengan pria itu eh malah Sisil marah besar dan mengatakan jika sudah capek dengan semua ini, Sisil merasa jika ucapan permohonan Rio waktu itu hanya semu semata padahal penyebab Rio semarah ini kan karena ulahnya, kenapa dia bisa-bisanya membawa pria asing ke rumah suaminya, itu kan dia seperti bunuh diri dong mah, pah," ucap Rio membela diri.


"Kamu sama seperti mamah mu yang menyelesaikan masalah selalu dengan emosi dan kata-kata yang terkadang menyakiti hati," tegur Suganda dan keduanya kaget karena disalahkan atas hal ini.


"Pah kenapa jadi mamah sih? Salahnya dia sendiri sudah tau punya suami dan tinggal disini eh dengan beraninya membawa pria asing, ya jelas kami marah dong pah gimana sih," protes Mayang sebal.


"Halah ngapain hadapi Sisil pakai adab segala, dia memang orangnya keras kepala dan menang sendiri jadi ya jalan satu-satunya tegur dia ya dikerasin pah,"jawab Mayang lagi-lagi gak mau salah.


"Makanya itu yang jadi menantu kita bukan Dinda melainkan Sisil kan sifatnya 11/12 dengan kalian, coba kalau masih Dinda yang jadi menantu? Bisa tekanan batin dia," ucap Suganda menyindir.


"Pah udah jangan berantem di depan Rio, malah bikin kepala makin pusing aja.. Rio mau cari Sisil dulu," ucap Rio tak mau memperkeruh suasana.


"Mau cari kemana?" tanya Mayang.


"Ke kantornya ini kan hari kerja gak mungkin Sisil libur," jawab Rio sangat yakin dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Kasihan anak kita ya pah, punya istri baik dan bisa memiliki anak malah diceraikan eh sekarang dapat istri suka bikin masalah malah bikin pusing kepala," ucap Mayang menyesali.


"Ini juga atas persetujuan mamah juga kan?" sindir Suganda.


"Kenapa jadi mamah terus sih?" protes Mayang.


"Mamah dan bu Ira yang menyetujui dan menyuruh Rio untuk mencari rahim pengganti untuk Sisil, andai gak ada ide gila itu pasti hidup anak kita baik-baik saja," jawab Suganda penuh penekanan dan menyesal.


Mayang yang mendengar penuturan suaminya hanya diam saja karena memang benar jika dirinya tidak setuju mana mungkin Rio akan hidup menderita seperti ini. "Maafkan mamah ya meskipun waktu itu mamah sempat menentang kalian tapi karena kalian terus memaksa ya mau gimana lagi? Mamah hanya bisa pasrah,"


***


Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mengingat hari ini masih terlalu pagi dan jalanan belum terlalu macet. Rio sudah tidak sabar untuk bertemu Sisil dan menanyakan langsung apa maksudnya kabur dari rumah.


Tiba di kantor Sisil, Rio pun bergegas mendatangi sekuriti dan menanyakan apakah Sisil sudah berangkat sembari memperlihatkan foto, sayangnya hingga jam 9 pagi tak ada tanda-tanda kehadiran Sisil di tempat kerjanya, merasa sia-sia akhirnya Rio memilih pergi ke kantor karena ada meeting penting dengan keuntungan yang besar.


Tanpa disadari oleh Rio, sebenarnya Sisil sudah berangkat awal namun sengaja meminta tolong satpam untuk merahasiakan kedatangannya, untung alasan Sisil masuk akal sehingga satpam pun setuju.


"Maaf mas lebih baik aku menghindari mu dulu sampai nanti kamu menyadari semuanya, aku harap masalah ini bisa mendewasakan mu, kamu pernah gagal dan melepaskan orang sebaik Dinda hanya demi aku, namun sekarang aku gak mau kamu mengorbankan kebahagiaan dan kebebasan mu dengan tetap bersamaku," batin Sisil melihat Rio dari kaca ruangannya sambil berlinang air mata.


"Ehem.. Liatin suaminya mulu, kangen ya?" ejek Ronald membuat Sisil kaget.


"Apaan sih, enggak kok," bantah Sisil sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


Melihat Sisil menangis seketika Ronald iba dan memeluk Sisil dengan lembut, "menangis lah sampai perasaanmu tenang dan keluarkan semua uneg-unegmu, ada aku disini yang siap menjadi pendengar setia mu,"


__ADS_2