
"Pak ini anak anda, saya harap setelah ini tidak berbuntut panjang," ucap Mei harap-harap cemas.
"Tenang saja Sus.. Ketik nomor rekening anda disini dan saya akan transfer sisanya," ucap Rio menyerahkan hpnya dan suster Mei mengetik nomor rekeningnya dengan gemetar.
"Sudah pak," ucap suster Mei gugup.
"Oh ok, ini sisanya ya Sus silahkan di cek," ucap Rio mengirim sisa imbalan dan sedetik kemudian ada notifikasi transferan masuk.
"Iya Pak sudah masuk, kalau begitu saya permisi dulu takutnya nanti ada yang curiga," ucap suster Mei pergi dengan tergesa-gesa.
Lalu Rio masuk ke dalam mobil dan menghubungi Deny supaya menghidupkan CCTV, tak lupa ia transfer sisa imbalan.
"Demi kamu nak papah sampai harus merogoh kocek 1,5 miliar.. Demi papah bisa mendapat keturunan dan menikahi tante Sisil, semoga nanti ketika sama Papah dan tante Sisil kamu jadi anak yang penurut ya boy," gumam Rio mencium bayinya dengan penuh kasih sayang.
Lalu tiba-tiba anak Dinda yang perempuan sangat rewel dan kebetulan tidak ada suster yang jaga karena ini jam istirahat. Dinda yang merasa perasaannya tidak enak bergegas masuk ke ruangan bayi, ia terkejut anaknya yang satu hilang.
"ANAKKU? DIMANA ANAKKU?? SUS... SUSTER.. SUSSSSS," teriak Dinda menangis histeris.
Semua suster langsung berbondong-bondong menghampiri ruangan bayi, mereka terkejut mendengar teriakan salah satu ibu pasien.
"Susss anak saya dimana? huhuhu.." ucap Dinda lirih dan berlinang air mata.
"Tadi masih ada disini bu, saya yakin," ucap suster Ika yang kebetulan menggantikan suster Mei yang istirahat.
"Siapa yang jaga di sini?" tanya Dinda penuh penekanan.
"Sebenarnya suster Mei namun dia sedang istirahat jadi saya yang sementara menggantikan," ucap Ika merasa bersalah.
"Tapi anda yakin Sus kalau tadi anak-anak saya disini?" tanya Dinda lemas dan Ika menjawab dengan anggukan kepala.
Seketika tubuh Dinda lemas dan kemudian dia pingsan.
##FLASHBACK ON##
__ADS_1
"Suster Ika bisakah tukar jam istirahat? Saya ada perlu yang sangat penting nih," pinta Mei memohon.
"Bukannya kamu baru masuk ya?" tanya Ika heran.
"Iya Sus makanya itu saya harus keluar sebentar, ada masalah yang penting, suster tinggal jaga saja kok semua sudah saya handle," ucap Mei memohon.
"Hmm baiklah, tapi sebentar ya saya mau ke kamar mandi dulu," ucap Ika setuju lalu pergi ke kamar mandi.
"Kesempatan yang bagus, gue harus manfaatin momen singkat ini, maafin gue ya suster Ika karena sudah berbohong," gumam Mei lalu mengambil anak Dinda yang laki-laki dengan perasaan was-was.
nasib baik sedang berada di pihaknya, semua berjalan mulus dan tidak ada saksi yang mengetahui. Imbalan yang ia dapat nantinya akan di gunakan untuk melanjutkan kuliah dan membuka usaha.
*****
Setelah suster Mei selesai melaksanakan tugasnya dan mendapatkan bonus fantastis, ia menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah selesai ia ingin kembali ke ruang bayi namun ternyata di persimpangan jalan bertemu Diki-kepala rumah sakit baru yang kebetulan teman SMA nya.
"Mei.." sapa Diki seraya melambaikan tangan.
"Ada yang ingin gue bicarakan," ucap Diki serius.
"Apa itu?" tanya Mei penasaran.
"Gue baru terima surat pengunduran dirimu dan jujur gue kaget kenapa semua ini tiba-tiba Mei? Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Diki penasaran.
"Maaf jika gue membuat surat pengunduran diri secara tiba-tiba tapi gue sudah memikirkannya secara matang," jawab Dinda berbohong.
"Ini salah satu rumah sakit terbaik dan merupakan rumah sakit kalangan elite loh Mei.. Gak semua pelamar bisa lolos, kamu salah satu yang beruntung dan sekarang kamu membuang kesempatan emas itu, coba pikirkan lagi," bujuk Diki.
"Maaf tapi gak bisa, gue harus secepatnya resign dan pergi dari sini," jawab Mei seperti menyembunyikan sesuatu.
"Hmm maaf nih bukan maksud gue ikut campur atau apa, tapi kalau boleh tau apa alasanmu mengajukan resign?" tanya Diki dengan hati-hati.
"Ya ada pokoknya, gue gak bisa jelasin.. Gue ingin terbebas," jawab Dinda membuat Diki bertanya-tanya.
__ADS_1
"Memang selama ini hidupmu kurang nyaman?" tanya Diki penasaran.
"Ya nyaman.. Cuma akhir-akhir ini ada yang menggangu hidup gue dan ini salah satu alasan gue resign mendadak, gue udah gak sanggup lagi Dik," ucap Mei sendu.
"Siapa yang sudah menganggu mu?" tanya Diki penasaran.
"Ada pokoknya, maaf ya gue harus balik kerja lagi, see you next time Diki," ucap Mei sebagai salam perpisahan.
"Kalau lo berubah pikiran segera kabari gue, akan gue bantu lo masuk lagi kesini, gue gak ikhlas menyetujui surat resign mu, gue yakin karirmu akan bagus disini," ucap Diki menepuk bahu Mei pelan dan Dinda hanya tersenyum manis lalu bergegas pergi.
"Gue sangat bersyukur sekali bisa masuk di rumah sakit ini, memang yang di katakan Diki itu semuanya benar, namun gue harus menepati janji.. Gue gak mau kalau akhirnya gue ikut terlibat di permasalahan mereka," batin Mei.
##FLASHBACK OFF##
Kini suster Mei sudah kembali ke ruang jaga dan ia gugup karena banyak sekali orang yang berkumpul di sana, sebelum masuk ia mengatur nafas se netral mungkin agar tidak ada yang mencurigainya.
"Selamat siang sus," sapa Mei ramah dan pura-pura tak tahu.
"Siang.. Kebetulan suster Mei ada di sini, Sus ada kasus, bayi laki-laki dari pasien Ny. Dinda hilang," ucap suster Ika merasa bersalah.
"APA?? Kok bisa sih Sus? Tadi sebelum saya tinggal semua bayi di sini komplit kok dan mereka sedang tertidur," Akting suster Mei sungguh apik.
"Makanya itu Sus kami semua heran, padahal saya meninggalkan ruangan ini hanya sebentar tetapi tiba-tiba Nyonya Dinda menangis histeris menyadari kalau bayinya hilang," ucap suster Ika sedih.
"Haduh gimana ya Sus, kita setelah ini terkena masalah dong, sudah di cek seluruh penjuru ruang rumah sakit? Apa sebelumnya tidak ada hal yang mencurigakan?" tanya Mei sok polos.
"Sudah Sus bahkan satpam pun kami suruh menutup seluruh gerbang keluar dan masuk, siapa tau pelakunya masih disini namun sayangnya tidak ada yang mencurigakan, reputasi rumah sakit nantinya akan tercemar," ucap suster Ika sedih.
"Oh iya Sus kita kan belum liat jejak CCTV, coba kita cek dulu semoga kita bisa mengetahui pelakunya, jujur saya gak mau kalau nantinya dapat peringatan dari rumah sakit apalagi sampai di pecat, susah masuk di rumah sakit sebesar ini sus," ucap suster Nia.
"Ahh sialan!!! Kalau mereka sampai cek CCTV bisa-bisa terbongkar dong kalau gue yang ambil bayinya, haduh kenapa bodoh banget sih gue.. Rumah sakit ini kan full CCTV," batin Mei panik namun semaksimal mungkin tidak di perlihatkan pada kawannya.
Ketika mereka menuju ruang kontrol, dewi fortuna sedang berpihak pada suster Mei. Petugas yang jaga mengatakan bahwa CCTV sedang rusak dan akan di perbaiki. Setidaknya untuk kali ini suster Mei bisa bernafas lega dan aman.
__ADS_1