
"Kalau mereka menerima mengapa sampai sekarang tidak ada yang datang menjenguk mas?" cecar Dinda dan Ryan kebingungan menjawabnya.
"Mereka masih ada keperluan yang harus di urus sayang.. Nanti jika sudah selesai mereka akan datang kesini dengan sendirinya, jangan terlalu di pikirkan ya.. Kita fokus dengan kesembuhan mu juga anak kita," ucap Ryan.
"Benar apa kata suamimu.. Sekarang yang terpenting kesembuhan mu dan anakmu," ucap Sri membenarkan.
"Bu coba kupas buah apel itu untuk Dinda agar dia semakin sehat," perintah Tono.
"Oh iya ibu sampai lupa.. Ibu kupas apel dulu ya," ucap Sri lalu mengupas buah apel.
"Kamu beneran gak minta makan apa gitu?" tawar Ryan lagi.
"Aku rasa kamu sudah tau jawabannya kan mas," jawab Dinda sedih.
"Baiklah aku coba konsultasi ke dokter dulu," jawab Ryan mengalah dan menemui dokter.
"Suamimu mau kemana?" tanya Tono penasaran.
"Ke ruangan dokter untuk konsultasi pak," jawab Dinda memasang wajah sedih.
"Konsultasi tentang apa?" tanya Tono.
"Dinda mau kalau anak kami dibawa kesini agar Dinda bisa lebih leluasa mengawasi dan menjaganya, Dinda takut kejadian masa lalu terulang lagi pak," jawab Dinda sedih.
"Astaga Dinda.. Kamu yang benar saja dong itu sama saja kamu menyiksa anakmu sendiri, anakmu masih butuh perawatan khusus, kalau dipaksa dibawa kesini bagaimana nanti anakmu bisa cepat sembuh? Jangan egois Din.. Kasihan anakmu, biarkan dia ditangani oleh dokter dan ibu yakin anakmu tidak akan mungkin diculik karena dia anaknya Ryan bukan anak dari Rio," tegur Sri geram.
"Tapi sama saja Dinda ada rasa trauma bu," jawab Dinda sedih.
Tanpa mereka sadari ada yang mendengar pembicaraan mereka dan dia memiliki niat jahat untuk membawa anak Dinda pergi.
Namun secara kebetulan Ryan melihat ada seseorang yang mencurigakan di pintu kamar rawat inap istrinya, Ryan tidak mengenali siapa orang itu dan mulai bersikap waspada.
"Siapa dia dan apa urusannya dengan istriku?" gumam Ryan curiga lalu mendekati orang tersebut, merasa ada yang memergokinya orang misterius itu bergegas lari sekencang nya.
"Woi mau lari kemana lo," pekik Ryan yang membuat Dinda dan kedua orang tuanya kaget.
"Kenapa mas? Ada apa?" tanya Dinda panik.
__ADS_1
"Tadi ada yang mengawasi mu dibalik pintu ini sialnya dia tau kedatangan ku dan langsung kabur, mulai hari ini aku akan perketat keamanan," ucap Ryan serius.
"Astaga.. Ada masalah apalagi to kok gak ada habisnya," ucap Sri khawatir dan panik.
"Sudah bu jangan bikin suasana makin rumit, serahkan saja semuanya sama Ryan.. Dia yang lebih tau mana yang terbaik," ucap Tono membuat suasana agar kondusif.
"Tapi pak apa bapak gak dengar kalau tadi Ryan bilang ada yang mengawasi Dinda, jika anak kita saja diawasi bagaimana dengan anak mereka," ucap Sri berpikir logis.
"Deg.. Kenapa gue baru kepikiran bagaimana Farel dan Vanessa di rumah?" batin Dinda gelisah.
"Mas.." panggil Dinda dengan suara lemas.
"Iya sayang? Jangan panik ya aku akan berusaha agar semuanya aman," jawab Ryan.
"Farel dan Vanessa.. Gimana keadaan mereka sekarang mas? Apakah mereka aman?" tanya Dinda gelisah.
"Farel dan Vanessa ada di rumah kedua orang tuaku sayang, itu penyebab kenapa mereka belum bisa datang kesini, kamu tenang saja anak-anak aman," ucap Ryan mencoba menenangkan.
"Syukurlah.. Maaf mas jika aku sempat salah paham dengan keluargamu," jawab Dinda merasa bersalah.
Setelah berdiskusi dengan pihak keamanan, Ryan merasa lega karena setidaknya orang mencurigakan tadi sulit untuk bergerak.
"Andai boy gak bikin gue kecewa udah pasti gue menyuruh anak buahnya turun tangan dan menjaga ruangan Dinda," batin Ryan menyesal.
Sebelum Ryan kembali ke ruangan Dinda, terlebih dahulu Ryan mengunjungi kamar bayi untuk menengok anaknya. Merasa ada yang janggal Ryan masuk secara diam-diam dan benar saja, anaknya sedang digendong orang tak dikenal dan akan dibawa keluar. Dia sudah menyiapkan tas besar untuk menempatkan anak Ryan dan Dinda.
"Feeling gue memang selalu benar.. Untung saja gue mampir kesini dulu coba kalau langsung balik ke kamar Dinda, dia bisa dengan leluasa nya menculik anak gue," batin Ryan emosi dan mengagetkan penculik itu.
"KEMBALIKAN LAGI ANAK GUE KE TEMPATNYA ATAU GUE PATAHKAN TANGAN DAN KAKIMU," ancam Ryan membuat penculik terkejut.
"Berani membuat gue seperti itu maka anakmu akan mati," jawab penculik sembari memegang pisau.
"Sialan dia membawa senjata, gue harus main cantik agar anak gue tidak celaka," batin Ryan berpikir keras.
"Oke gue gak akan mencelakai mu asalkan kembalikan anak gue ke tempatnya dan gue akan membiarkanmu lepas," ucap Ryan mengiming-imingi.
"Cih mana gue percaya, lo itu licik.. Nyatanya lo membuat gue babak belur di tangan bos besar," ucap penculik geram.
__ADS_1
"Siapa bos besar mu? Boy? Siapa suruh kalian mengusik anak-anak gue, kan bos besar mu udah memperingatkan," tanya Ryan menduga.
"Siapa lagi kalau bukan dia.. Karena mu sekarang anak buah bos besar hancur, mereka dirawat di rumah sakit.. Bos besar murka dan menghajar kami tanpa ampun, lo penyebab semua ini makanya akan gue balas dengan anakmu yang sedang sekarat," gertak penculik berbalik arah menghadap Ryan.
"Oh rupanya itu kau.. Oke gue udah menandai mu," jawab Ryan tersenyum smirk dan penculik merasa bingung.
"Maksudmu?" tanya penculik bingung.
Merasa penculik di posisi lengah kini Ryan mengambil alih anaknya dan menjatuhkan pisau di lantai, penculik pun merasa kaget akan aksi dadakan Ryan dan hanya bisa diam membisu. Tanpa menunggu lama Ryan meletakkan bayinya ke dalam box bayi lagi dan menyeret penculik keluar ruangan.
Tak lupa juga Ryan mengkonfirmasi bahwa ada penyusup di rumah sakit kepada sekuriti via telepon, tak berselang lama sekuriti datang tergopoh-gopoh sambil mengamankan penculik.
"Maaf Pak Ryan kami tidak tau jika penculik sudah berada di kamar bayi," ucap sekuriti merasa bersalah.
"Besok lagi jika kerja kalian lambat maka akan saya pastikan kalian di pecat, sama saja kelambatan kalian ini mengancam keselamatan pasien," ancam Ryan geram.
"Jangan pak jangan buat kami kehilangan pekerjaan," pinta sekuriti.
"Seret dia ke ruangan kalian dan akan saya beri pelajaran, berani sekali dia bermain api denganku, kita lihat bos besar mu pasti semakin murka terhadapmu," ucap Ryan tersenyum smirk dan penculik dibawa ke ruangan sekuriti.
Di sana Ryan langsung mengajar penculik secara membabi buta dan tidak ada kata ampun.. Sekuriti merasa iba melihat penculik terus merintih kesakitan namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena memang dia biang kerok semua ini.
Setelah puas menghajar penculik kini Ryan video call boy.
"Hai man.. Akhirnya lo hubungi gue duluan," sapa Boy senang.
"Gue sengaja menghubungi duluan karena ingin menunjukkan sesuatu, lihatlah siapa dia," ucap Ryan mengarahkan kamera pada penculik.
"Loh.. Kenapa dia bisa ada di sana? Apa yang dia lakukan?" tanya Boy kaget.
"Dia ingin menculik anak gue yang ada di rumah sakit, jika gue terlambat sedetik saja sudah pasti anak gue dibawa lari oleh anak buah mu ini.. Tadi dia datang ke kamar bayi membawa tas besar ya bisa saja untuk menempatkan anak gue dan dia sudah siap membawa pisau, beraninya dia mengarahkan pisau ke tubuh anak gue.. Rupanya anak buah mu ini cari mati," ucap Ryan menggebu.
"Berikan ponselmu padanya," titah Boy.
"Ha..halo bos," sapa penculik ketakutan.
"BERANI SEKALI LO MENGUSIK HIDUP RYAN.. APA KARENA LO INGIN BALAS DENDAM, IYA? LO GAK TERIMA TADI DIHAJAR HABIS-HABISAN? INGAT KALAU GAK ADA RYAN MANA BISA LO HIDUP ENAK SAMPAI SEKARANG!!! DIA YANG UDAH MEMBANTUMU BANYAK HAL TERMASUK BIAYA OPERASI IBUMU ITU!! LO PIKIR DARIMANA WAKTU ITU GUE BISA DAPAT DUIT SEGITU BANYAKNYA KALAU BUKAN DARI RYAN!!! DASAR MANUSIA TAK TAU TERIMA KASIH!!!" pekik Boy murka dan penculik kaget dengan penjelasan bos besarnya. Ia hanya diam mematung saking kagetnya.
__ADS_1