RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Membuat Dinda Mengerti


__ADS_3

Sudah sepekan Ryan mendiamkan Dinda, bukan berarti Ryan sudah tak cinta lagi, namun Ryan ingin mengajarkan pada istrinya bahwa sikapnya tempo hari sangat membuat dirinya malu bahkan kecewa. Apa salah seorang suami bersikap seperti itu pada istrinya yang jelas-jelas secara terang-terangan Aldo menyukai istrinya sejak lama? Suami mana yang tak cemburu apalagi Aldo sudah memiliki rasa dari mereka sekolah. Bisa dibayangkan betapa besar rasa sayang Aldo pada Dinda, istrinya??


"Andai waktu itu suasananya tidak di kafe, sudah habis dia!" batin Ryan masih kesal.


Meskipun Dinda sedang dimarahi oleh suaminya namun Dinda tidak ikut bersikap sama, dirinya tetap menyiapkan keperluan sang suami berikut sarapannya.


Bagi Dinda mau semarah apapun suami padanya, tak boleh baginya untuk lalai melaksanakan tugas sebagai istri, setiap hari Dinda berharap jika suaminya akan luluh. Memang.. Setelah kejadian di kafe Aldo tempo hari, baik Dinda maupun Aldo sudah tak lagi berkirim pesan.


Selesai sarapan, Ryan langsung mengajak anak-anaknya pergi ke sekolah tanpa berpamitan dulu pada Dinda, meskipun rasanya sedih tapi Dinda bisa menerima itu semua.


"Ayo anak-anak, waktunya sekolah, hari ini papah antar ya," ajak Ryan yang disambut riang anaknya.


"Yee.. Serius pah? Oke oke yuk," tanya Farel memastikan dan bersiap.


"Mamah gak ikut kita?" tanya Vanessa.


"Mamah berangkat siang sayang, kebetulan di kantor kerjaan sedikit," alibi Dinda, dirinya gak mau pertengkaran orang tuanya diketahui oleh anak-anak, bagi Dinda, anak-anak harus melihat orang tuanya selalu akur dan harmonis.


"Yaudah mah kalau gitu Vanessa berangkat dulu," pamit Vanessa.


"Farel juga pamit dulu ya mah," pamit Farel.


Melihat papahnya hanya diam saja dan langsung berjalan keluar membuat Vanessa penasaran, "Pah.. Tunggu,"


"Apa sayang? Ada yang ketinggalan?" tanya Ryan.


"Gak ada, papah tuh yang lupa, kenapa gak pamitan sama mamah," protes Vanessa membuat Ryan kaget.


"Emang papah belum pamitan ya? Kayaknya udah deh," tanya Ryan mencari alasan.


"Belum.. Tadi hanya kakak dan Vanessa aja yang pamitan, sana pah pamitan dulu sama mamah," pinta Vanessa, mau gak mau Ryan menghampiri istrinya.


"Saya pamit kerja dulu," ucap Ryan dingin.


"Ya mas, hati-hati," jawab Dinda kikuk.


Hingga sore hari tiba, suaminya tak juga pulang ke rumah, padahal Dinda sengaja pulang lebih cepat agar bisa menyelesaikan masalah ini, Dinda gak mau masalah yang sudah terjadi beberapa hari lalu semakin berlarut-larut. "Mana mas Ryan? Jam segini belum pulang?"


Untungnya tak perlu menunggu lama, suami yang sudah dinantikan nya datang juga.


"Assalamu'alaikum," ucap Ryan ketika membuka pintu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Dinda lengkap namun Ryan hanya diam saja.


"Kok baru pulang mas?" tanya Dinda.


"Sibuk," jawab Ryan ketus tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dinda.


"Mas.." rengek Dinda memeluk suaminya dari belakang.


"Tolong jangan begini terus mas, aku gak bisa terus menerus begini, tolong akhiri semuanya mas, kita kembali seperti dulu lagi yang selalu canda tawa dan harmonis," rengek Dinda.


"Nanti suamimu ini membuatmu malu lagi," sindir Ryan menyingkirkan tangan Dinda perlahan.


"Gak!! Perkataan waktu itu tolong lupakan mas, aku menyesal sungguh menyesal sudah mengatakan itu, bukan maksudku seperti itu mas, aku gak mau kalau kalian tidak di relai malah jadinya adu kekuatan di sana dan kamu nanti juga yang akan malu, nama besarmu sebagai pengacara akan tercoreng, itu mas yang aku pikirkan, jangan salah paham dulu, aku paham mas bagaimana cemburunya waktu Aldo terang-terangan mengatakan menyukaiku dari lama, jujur aku pun juga gak tau mas kalau Aldo bisa seperti itu, aku pikir pertemuan yang terjadi ya murni pertemuan bisa layaknya teman, ternyata Aldo salah mengartikan itu semua, lagian kami tidak berduaan kok mas, selalu ada Fio," ucap Dinda menjelaskan.


"Mau ada Fio atau pun berduaan yang penting semuanya sudah terjadi dan kamu gak pernah mengatakannya, seolah kamu menutupi itu semua," protes Ryan.


"Maaf mas, aku pikir itu pertemuan biasa," jawab Dinda lirih.


"Pertemuan biasa kok seperti itu? Pertemuan biasa ya kayak suamimu ini, bertemu dengan klien membahas pekerjaan, sama-sama diuntungkan, itu baru pertemuan biasa," sindir Ryan.


"Iya mas sekali lagi minta maaf," ucap Dinda.


"Lagian kamu ini jadi orang jangan terlalu baik! Mana tau selama kalian bertemu bagi Aldo kamu memberi peluang untuk mendekatimu!" tegur Ryan.


"Gak tau, beri aku waktu," jawab Ryan berjalan masuk ke kamar.


Sebenarnya Ryan sudah memaafkan Dinda ketika istrinya mengakui kesalahan, namun rasanya gak asik kalau tidak mengerjai istrinya, jadi Ryan pura-pura masih marah.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Dinda menunggu suaminya dikamar dengan wajah sedih, aslinya Ryan tak tega melihat istrinya seperti itu.


"Mas.. Masih marah ya sama aku?" tanya Dinda.


"Menurutmu?" tanya balik Ryan.


"Tolong mas maafkan aku, janji mas gak akan mengulangi lagi dan aku janji akan menceritakan apapun padamu, aku gak mau kita terus menerus seperti ini mas," rengek Dinda berlinang air mata.


"Salahmu sendiri!" protes Ryan.


"Ya mas aku memang salah, tapi tolong maafkan," rengek Dinda.


"Kalau gak mau?" tanya Ryan memancing.

__ADS_1


"Jahat banget!" gumam Dinda yang didengar Ryan.


"Aku denger loh, kalau jahat ngapain mau menikah denganku?" sindir Ryan.


"Mas.. Bisa gak masalah ini jangan disangkut pautkan sama pernikahan! Antara kita menikah dengan kejadian Aldo jaraknya sangat jauh mas," protes Dinda.


"Berarti kalau kejadiannya sebelum menikah, kamu memilih Aldo ketimbang aku?" tanya Ryan semakin membuat Dinda kesal.


"Mas.. Jangan mulai rese ya, aku gak suka pertanyaan ini!" protes Dinda.


"Aku juga gak suka," jawab Ryan santai.


"Kenapa mas Ryan tanya terus?" tanya Dinda.


"Untuk mengerjaimu, haha," ejek Ryan.


"Mas..." pekik Dinda mencubit lengan suaminya hingga Ryan berteriak kencang.


"Sakit Dinda sayang," rengek Ryan.


"Makanya jangan ngeselin dong mas!" protes Dinda.


"Ngeselin gini tapi sayang kan?" tanya Ryan.


"Ish PD banget!" protes Dinda.


"Gak sayang nih?" tanya Ryan memastikan.


"Ya sayang dong mas, kalau gak sayang kenapa mau menikah, mas Ryan ini aneh pertanyaannya," jawab Dinda spontan dan berhasil membuat Ryan tertawa.


"Ya siapa tau sekarang sayangmu berpindah ke pemilik kafe itu," sindir Ryan.


"Gak mas, dia hanya teman dan sampai kapanpun tetap jadi teman, jangan lagi membandingkan mas Ryan dengan Aldo, aku gak suka mas, kalian memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, kalian tidak sama, jadi stop membandingkan dirimu dengannya, aku sayang sama mas Ryan dan hanya itu jawabanku sampai esok tua," ucap Dinda membuat hati Ryan meleleh.


"Sekarang istriku pandai merayu, butuh duit berapa emangnya?" ejek Ryan.


"Ish mas Ryan nih, gak usah banyak-banyak, 2x lipat kayak biasanya aja," jawab Dinda malu-malu.


"Dasar wanita, memuji karena ada maksud tertentu," protes Ryan tapi tetap mentransfer uang yang diminta Dinda.


"Protes tapi kok masih di transfer mas?" tanya Dinda heran.

__ADS_1


"Because I love you," jawab Ryan mencium kening Dinda dan memeluk dengan erat.


Akhirnya ya Dinda dan Ryan bisa baikan lagi, gini kan adem bacanya, ya kan readers?


__ADS_2