RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Salah Paham Besar


__ADS_3

"Dia hanya temanku dan aku tidak pernah memiliki hubungan apapun setelah menikah dengan mu," ucap Ryan jujur.


"Oh berarti sebelum menikah denganku kalian ada hubungan?" tanya Dinda semakin kecewa.


"Iya.. Kami ada hubungan dan sampai sekarang," jawab Vika dengan entengnya.


"VIKAAAAA," gertak Ryan sambil menggebrak meja.


"Apa baby? Aku sudah muak kalau harus menjadi kedua," ucap Vika membuat Ryan murka.


"Sekali lagi bicaramu ngawur akan gue seret lo keluar dan gue bakal perkara kan ini," ancam Ryan serius.


"Astaga gue lupa kalau Ryan kan pengacara handal, mana gue udah bicara terlalu jauh lagi.. Duh harusnya kan jangan banyak-banyak dulu, bertahap.. Istrinya sih ngapain pakai acara datang segala, semuanya kan jadi rusak," batin Vika diam seribu bahasa.


"Aku kecewa sama kamu mas, sungguh kecewa.. Kamu dan mas Rio sama saja," ucap Dinda berlinang air mata dan berlari ke luar gedung.


"Sayang.. Tunggu dulu ini semua salah paham," teriak Ryan mengejar istrinya.


"Ah setidaknya sekarang hubungan mereka renggang, waktunya gue pepet Ryan terus," gumam Vika berlenggang pergi dari kantor Ryan dengan bahagia.


Ryan terus saja mengejar istrinya tanpa menghiraukan pandangan karyawannya yang melihat mereka dengan tatapan bingung.


"Dinda.. Stop," ucap Ryan menarik tangan Dinda.


"Lepas mas," ucap Dinda berlinang air mata.


"Gak akan.." bantah Ryan.


"Lepas mas.. Urus saja selingkuhan mu itu," sindir Dinda mencoba menepis tangan Ryan.


"Vika bukan siapa-siapa bagiku, mari kita selesaikan ini di rumah," ucap Ryan lalu menggandeng tangan Dinda menuju mobil.


Setibanya di rumah Ryan dan Dinda bergegas masuk karena mereka ingin segera menyelesaikan salah paham ini.


"Sayang.." sapa Ryan setelah mereka di dalam kamar.


"Katakan seperlunya sekarang," ucap Dinda dingin.


"Jujur sayang.. Bahkan aku berani bersumpah pocong sekalipun, aku tidak ada hubungan apapun dengan Vika.. Dia temanku dulu," ucap Ryan memohon.

__ADS_1


"Teman atau mantan? Yang benar kalau ngomong," sindir Dinda.


"Ya jujur saja.. Memang aku dan Vika dulunya pernah menjalin kisah namun tak berlangsung lama, dia pergi meninggalkanku tanpa ada alasan yang jelas," ucap Ryan jujur.


"Sekarang dia sudah kembali kan mas? Kamu, harusnya bahagia dong nyatanya tadi saling berhadapan bahkan kamu memangku dia," sindir Dinda tersenyum sinis.


"Kami tidak sengaja bertemu waktu itu dan dia datang kesini karena ingin mengajak makan siang, aku menolaknya eh malah dia berbuat kelewatan.. Aku sudah mengusirnya berulang kali namun dia kekeh gak mau, ketika aku ingin menelpon sekuriti kamu sudah datang duluan," ucap Ryan menjelaskan.


"Oh jadi, kedatanganku ini menganggu momen pagi kalian? Tadi belum puas mas? Maaf ya," ucap Dinda ketus.


"Gak.. Kamu gak salah, kamu datang di waktu yang tepat, berkatmu kini aku bisa terbebas dari dia," sanggah Ryan.


"Bisa terbebas atau terbebani karena bingung mau mencari alibi apa," sindir Dinda.


"Tatap mataku sayang," pinta Ryan mendongakkan wajah Dinda.


"For what?" tanya Dinda ketus dan menatap suaminya itu dengan air mata membasahi pipi.


"Tatap mataku dan rasakan degup jantungku, aku serius tidak bohong padamu dan aku serius mengatakan semua ini, percayalah tidak pernah terbesit di pikiranku untuk mengkhianati kamu apalagi sampai menyakiti kamu, jangan percaya omongan Vika.. Semua yang di katakan nya dusta, tolong percayalah," pinta Ryan sambil mereka berhadapan dan tangan Dinda ada di dada Ryan.


"Sulit untuk mempercayai semua ini, apa yang aku lihat sungguh jelas dan nyata mas, siapapun yang melihat tadi sudah pasti akan berpikir sama denganku, kalau boleh jujur.. Aku mengecek ponselmu dan mendapati dia mengirim pesan padamu untuk mengajak makan siang, awalnya aku gak mau percaya dan meyakinkan diri bahwa kamu setia denganku, tidak mungkin kamu menyakitiku namun semua terpatahkan dengan adegan kalian yang menjijikan, semua sirna sudah," ucap Dinda lirih.


"Dengan mudahnya kamu mengatakan itu sedangkan di belakangku kamu main gila," sindir Dinda.


"Berulang kali aku katakan jika aku tidak aneh-aneh di belakangmu, apa perlu bukti?" tanya Ryan penuh harap.


"Bukti yang akan kamu rekayasa mas?" sindir Dinda.


"Tidak.. Buktinya aku akan perlihatkan langsung padamu," jawab Ryan mantap.


"Bukti apa?" tanya Dinda.


"Bukti CCTV.. Apalagi di ruangan ku bisa mendengarkan apa saja percakapan yang ada," ucap Ryan penuh harap.


"Aku gak yakin itu mas," jawab Dinda pesimis.


"Ayolah.. Aku gak mau kalau masalah ini, berlarut-larut, aku ingin masalah ini segera selesai," ucap Ryan meminta.


"Mari kita selesaikan di pengadilan," ajak Dinda membuat Ryan syok.

__ADS_1


"Apa? Pengadilan? Buat apa? Rumah tangga kita akan baik-baik saja sampai seterusnya," tolak Ryan.


"Itu bagimu belum tentu bagiku," jawab Dinda tegas.


"Ayo kita buktikan semuanya," ajak Ryan.


"Gak perlu lah mas buat apa toh semua sudah terjadi, KDRT dan perselingkuhan tidak bisa termaafkan," ucap Dinda tegas.


"Tapi aku tidak melakukan keduanya," bantah Ryan.


"Terserah kamu deh mas, aku pusing memikirkannya.. Capek ngomong sama orang yang gak mau salah," ucap Dinda pasrah.


"Memang aku gak salah sayang," rengek Ryan.


"Jangan membela diri sendiri, oh iya habis ini anak-anak pulang jadi aku gak mau kalau kita terlihat habis bertengkar.. Pergilah bekerja dan nikmati waktumu bersamanya," usir Dinda.


"Gak akan.. Anak-anak biar aku yang jemput," ucap Ryan langsung di cegah oleh Dinda.


"Biarkan aku saja karena setelah itu aku mau ke rumah ibu untuk menenangkan pikiran," tolak Dinda lalu mengambil kunci mobil.


"Jangan tinggalkan aku sendirian, disini kita masih sebentar menempati," rengek Ryan.


"Bermohon lah sama dia mas," sindir Dinda.


"Gak akan pernah, ayo sayang kita selesaikan ini segera dan kita memulai dari awal," ucap Ryan memohon sambil bersimpuh di kaki Dinda.


"Kamu kenapa sih mas? Bangun," tanya Dinda terkejut lalu membantu Ryan berdiri.


"Aku tidak berselingkuh dan sampai kapanpun akan begitu, aku hanya cinta padamu saja," ucap Ryan dengan jujur dan memegang kedua bahu Dinda.


"Don't touch me," bantah Dinda menepis tangan Ryan.


"Ayolah sayang jangan begini terus," pinta Ryan namun di cuekin oleh Dinda dan dia lebih memilih menjemput anaknya.


"Sial.. Ini semua berkat Vika, awas saja kau," gumam Ryan sangat murka dan mengepalkan tangannya.


Di perjalanan Dinda tak hentinya menangis karena meratapi nasibnya yang selalu malang, Dinda selalu saja di sakiti oleh yang di sayangnya.


"Mas Rio... Mas Ryan, kalian ternyata sama saja, sempat gue berpikir bahwa kamu adalah sosok suami idaman yang bisa menjadi contoh kedua anakku, itulah mengapa alasanku menerima pinangan mu mas, tapi ternyata baik kamu dan juga mas Rio ternyata sama saja..harta sudah membutakan mata kalian," batin Dinda menangis histeris sambil menyetir.

__ADS_1


__ADS_2